Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Kata-Kata Mutiara
0
Suka
1,844
Dibaca

HARI PERTAMA, Pelarian dan pertemuan pertama.


Suasana di ruang tamu keluarga Purwanto pecah oleh denting kristal yang memekakkan telinga. Vas bunga kristal peninggalan almarhumah ibunya menghantam meja kaca dengan keras, lalu hancur berkeping-keping berserakan di lantai—serupa dengan hancurnya jalinan persaudaraan antara Purwanto dengan kedua adiknya, Purnomo dan Purwanti, yang luluh lantak dalam sekejap.

Di antara serpihan tajam yang berserakan itu, bukan hanya vas bunga kristal dan meja kaca yang pecah, melainkan juga rasa hormat yang terakhir kali mereka miliki sebagai manusia.

"Kamu kan udah dapet jatah tanah di kampung, Mas!" Teriak Purnomo, adik bungsunya, dengan telunjuk gemetar menahan amarah. "Kenapa rumah ini dan agen sembako yang jadi tumpuan hidup kita masih mau kamu kuasai juga?"

“Kamu tega, Mas! Aku nggak pernah ngira kamu punya sifat seburuk ini. Kamu bahkan nggak peduli dengan kondisi bapak yang udah tua dan sakit-sakitan!” Sambung Purwanti, dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Wajah Purwanto seketika merah padam. Emosinya memuncak, napasnya memburu, disulut oleh keserakahan yang membutakan hati nuraninya. Ia tak sudi menerima protes sekecil apa pun, apalagi penentangan terbuka dari adik-adiknya yang selama ini ia anggap harus tunduk padanya.

Purwanto membisu. Ia sudah muak dengan serbuan ocehan yang terus keluar dari mulut adik-adiknya. Baginya, warisan itu bukan lagi sebuah berkah, melainkan kutukan yang sanggup mengubah manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Tanpa sepatah kata pun, Purwanto menyambar kunci mobilnya lalu bergegas pergi. Ia butuh pelarian—ke mana pun, asalkan ke tempat di mana teriakan soal warisan tidak lagi mampu menjangkaunya.

Purwanto menempuh perjalanan selama berjam-jam yang t...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Kata-Kata Mutiara
Setiyarini
Cerpen
Pawang dan Gajah Berair Mata
Fazil Abdullah
Flash
PEREMPUAN YANG BERSAMAKU
Embart nugroho
Cerpen
Bronze
Detak Terbalik Tragedi Jam Antik
muhamad jumari
Novel
Bronze
Tembung Lakar
Keefe R.D
Cerpen
Senyap di Malam
ASEP SAEPULOH
Novel
Deal with The Devil
bileikha
Flash
Ritual Gelap
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Kala
Sendang Ayuningrum
Cerpen
Bronze
Pena Tanpa Akhir
Nyaa ko
Novel
Nini Curug
Kala Senja
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Novel
Bronze
PKL DI DESA GOSAN
Nunung Hartati
Cerpen
Bronze
Gelapnya Terowongan Tersembunyi
tia htp
Novel
Hidup Dengan Mayat ~Novel~
Herman Siem
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kata-Kata Mutiara
Setiyarini
Cerpen
Bronze
RENCANA TERAKHIR
Setiyarini
Flash
Bronze
Detak yang menolak lupa
Setiyarini
Flash
Lintah Dayat
Setiyarini
Cerpen
Bronze
Pandawa Korporat di antara Sengkuni dan Kurawa
Setiyarini
Cerpen
Bronze
KEJUTAN DI MALAM ISTIMEWA
Setiyarini
Novel
Kabut di Rumah Sutra
Setiyarini