Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Kata-Kata Mutiara
0
Suka
2,567
Dibaca

HARI PERTAMA, Pelarian dan pertemuan pertama.


Suasana di ruang tamu keluarga Purwanto pecah oleh denting kristal yang memekakkan telinga. Vas bunga kristal peninggalan almarhumah ibunya menghantam meja kaca dengan keras, lalu hancur berkeping-keping berserakan di lantai—serupa dengan hancurnya jalinan persaudaraan antara Purwanto dengan kedua adiknya, Purnomo dan Purwanti, yang luluh lantak dalam sekejap.

Di antara serpihan tajam yang berserakan itu, bukan hanya vas bunga kristal dan meja kaca yang pecah, melainkan juga rasa hormat yang terakhir kali mereka miliki sebagai manusia.

"Kamu kan udah dapet jatah tanah di kampung, Mas!" Teriak Purnomo, adik bungsunya, dengan telunjuk gemetar menahan amarah. "Kenapa rumah ini dan agen sembako yang jadi tumpuan hidup kita masih mau kamu kuasai juga?"

“Kamu tega, Mas! Aku nggak pernah ngira kamu punya sifat seburuk ini. Kamu bahkan nggak peduli dengan kondisi bapak yang udah tua dan sakit-sakitan!” Sambung Purwanti, dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Wajah Purwanto seketika merah padam. Emosinya memuncak, napasnya memburu, disulut oleh keserakahan yang membutakan hati nuraninya. Ia tak sudi menerima protes sekecil apa pun, apalagi penentangan terbuka dari adik-adiknya yang selama ini ia anggap harus tunduk padanya.

Purwanto membisu. Ia sudah muak dengan serbuan ocehan yang terus keluar dari mulut adik-adiknya. Baginya, warisan itu bukan lagi sebuah berkah, melainkan kutukan yang sanggup mengubah manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Tanpa sepatah kata pun, Purwanto menyambar kunci mobilnya lalu bergegas pergi. Ia butuh pelarian—ke mana pun, asalkan ke tempat di mana teriakan soal warisan tidak lagi mampu menjangkaunya.

Purwanto menempuh perjalanan selama berjam-jam yang t...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Kata-Kata Mutiara
Setiyarini
Novel
Bilfagil
Faiz el Faza
Cerpen
Perempuan Itu Bernama Mentari
Freya
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Gadis di Dalam Cermin
Irma Susanti Irsyadi
Cerpen
Bronze
AUL
Rian Nugraha
Novel
Gold
We Have Always Lived in the Castle
Mizan Publishing
Flash
Monster di Dalam Lemari
Nurai Husnayah
Flash
Bronze
Sehidup, Semati
Shabrina Farha Nisa
Novel
Nini Curug
Kala Senja
Novel
Bronze
Juwita
Ersi Safitri
Flash
Sembilan
Fajar R
Skrip Film
GHOST FAMILY
Herman Sim
Novel
Bronze
WINDY ... IS CALLING
Herman Trisuhandi
Cerpen
Bronze
GENDERUWO JEMBATAN BOYONG
Sri Wintala Achmad
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kata-Kata Mutiara
Setiyarini
Cerpen
Bronze
RENCANA TERAKHIR
Setiyarini
Flash
Bronze
Sial yang keluar, data yang hilang
Setiyarini
Flash
Bronze
Sandhyakala
Setiyarini
Flash
Bronze
Air mata di Hari Raya
Setiyarini
Flash
Bronze
Lintah Dayat
Setiyarini
Novel
Kabut di Rumah Sutra
Setiyarini
Cerpen
Bronze
Pandawa Korporat di antara Sengkuni dan Kurawa
Setiyarini
Flash
Bronze
Detak yang menolak lupa
Setiyarini
Cerpen
Bronze
KEJUTAN DI MALAM ISTIMEWA
Setiyarini