Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
KASIH TAK SAMPAISebuah Kisah tentang Cinta Pertama, Surat-Surat yang Tak Pernah Berbalas, dan Takdir yang Memilih Jalan Berbeda
Di sebuah sudut Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, ada sebuah desa yang selalu menyimpan kesejukan dalam ingatan orang-orang yang pernah tumbuh di sana.
Desa Gisting.
Pagi-pagi di Gisting selalu datang dengan cara yang sederhana. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, embun masih bertahan di ujung daun, sementara suara burung bersahutan dari kebun-kebun penduduk. Dari kejauhan, hamparan perbukitan berdiri seperti pagar alam yang melindungi kehidupan masyarakat di bawahnya.
Di desa itulah seorang pemuda bernama Ghalib tumbuh.
Ghalib bukan anak orang kaya.
Ia hanya anak desa biasa yang dibesarkan oleh keluarga sederhana. Namun sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas, rajin, sopan, dan memiliki perangai yang membuat banyak orang tua menyukainya.
Wajahnya tampan.
Kulitnya bersih, sorot matanya teduh, tubuhnya tinggi dan tegap. Jika sedang tersenyum, ada kesan tenang yang membuat orang nyaman berbicara dengannya.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Ghalib sangat gugup jika berhadapan dengan perempuan.
Bukan karena ia membenci perempuan.
Bukan pula karena ia tidak mampu berbicara.
Justru dalam berbagai keadaan, Ghalib dikenal pandai berbicara dan memiliki pemikiran yang matang. Ia dapat berdiskusi dengan guru, berbicara dengan tokoh masyarakat, bahkan menyampaikan pendapat di depan banyak orang.
Tetapi ketika berhadapan dengan seorang gadis yang menarik hatinya, semua kecerdasannya seolah menghilang.
Lidahnya kelu.
Jantungnya berdebar.
Tangannya dingin.
Matanya tidak sanggup menatap lama.
Dan semua itu bermula dari satu nama.
Nur Hanny.
BAB 1 - Pertemuan yang Mengubah Masa Remaja
Ghalib pertama kali mengenal Nur Hanny ketika dirinya duduk di kelas satu...