Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebelum kenal Ratih, aku menganggap rice cooker sebagai tempat menyimpan kabel yang belum tentu masih berfungsi.
Kulkas di kontrakanku lebih parah. Isinya air putih, saus sambal, dan setengah jeruk nipis yang sudah mengeras. Kalau lapar, aku tinggal jalan ke pecel lele depan gang. Kalau hujan, pesan lewat aplikasi. Kalau tanggal tua, mi instan pakai telur, lalu merasa sudah cukup bertanggung jawab terhadap tubuh sendiri.
Sekarang kulkasku penuh.
Ada ayam yang sudah dibumbui, sayuran dalam kotak bening, buah yang dipotong kecil-kecil. Semuanya ditempeli stiker tanggal. Bahkan air putih pun dipindahkan Ratih ke botol kaca karena, katanya, botol plastik bekas tidak baik dipakai terus.
Teman-teman kantor bilang aku beruntung.
Aku juga merasa begitu.
Setidaknya sampai hari Kamis itu, waktu aku sempat salah paham sama dia.
Aku kenal Ratih lewat aplikasi kencan. Di fotonya dia memakai kaus hitam, kalung kecil, dan lipstik merah tua.
Waktu pertama kali makan bersama, dia cerita bahwa ibunya pandai memasak.
“Aku masih belajar,” katanya. “Kata Ibu, masakan yang enak itu bisa bikin orang betah. Bikin orang ingat terus.”
“Kalau aku gampang. Asal lauknya boleh nambah.”
Dia tertawa.
Waktu itu aku tidak mencari hubungan serius. Umurku sudah tiga puluh, ibuku sudah rajin mengirim foto anak teman pengajiannya, dan aku masih mengang...