Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namanya Ronaldo. Keren, kan? Panggilannya Aldo.
Tapi Ronaldo yang ini bukan Christiano Ronaldo, si pesepak bola idaman para ibu-ibu di seluruh penjuru dunia. Bukan, bukan yang itu pokoknya.
Ini Aldo yang sejak sejam yang lalu jadi perbincangan heboh dan panas di sebuah meja kafe di bilangan Setia Budi, Bandung.
Sophie baru tahu nama keren itu waktu teman-teman Aldo—yang sepertinya urat malunya sudah putus total—meneriakkan nama itu gila-gilaan seperti menyerukan nama Idol Korea dengan volume yang sanggup meruntuhkan atap kafe, sesaat setelah si cowok turun dari panggung kecil di depan ruang kafe.
Aldo baru saja selesai menyumbang satu lagu dalam acara live music kafe tersebut.
Sambil menaruh kembali gitar ke atas kursi setelah ia mainkan tadi, seraya memamerkan senyum tipis cowok dengan tinggi diatas rata-rata itu yang... duh, mampu bikin cewek-cewek di kafe mendadak langsung diserang amnesia jangka pendek berjamaah.
“Kenapa lelaki tu kacak sangat, ya?” (Kenapa cowok itu ganteng banget, sih)
Gumam Nora memecah konsentrasi Sophie.
Nora ini rekan kerja Mama Sophie yang paling muda di Kuala Lumpur. Radar visualnya terhadap cowok ganteng seperti Aldo itu lebih tajam daripada radar cuaca BMKG.
“Sudahlah, pergi je tegur dia. Daripada kau kecoh sendiri, terus je minta nombor dia!” (Sudah, samperin aja. Daripada kamu heboh sendiri, langsung aja minta nomornya!)
“Betul tu, Nora. Bila lagi kau boleh datang ke Indonesia lepas ni? Kalau bukan sekarang, baik kau minta nombor dia!” (Iya, Nora. Kapan lagi kamu bisa ke Indonesia lagi nanti, kalau nggak sekarang kamu minta nomornya!)
“Kalau kau tak nak minta, biar aku je yang minta!” (Kalau kamu nggak mau minta, aku aja deh yang minta!)
Meja mereka mendadak riuh rendah. Ocehan dalam bahasa Melayu berebutan memenuhi udara, berkejaran dengan dentum musik dan keramaian kafe yang makin malam makin nggak masuk akal penuhnya.
Sophie, yang sejak tadi memilih jadi penonton, cuma bisa menikmati kehebohan "panggung komedi" dadakan teman-teman Mamanya itu sambil sesekali tertawa cekikikan.
Padahal awalnya, Sophie betul-betul ogah diajak ikut trip ke Bandung sama sang Mama.
Membayangkan harus menghabiskan empat hari terkurung bersama rombongan pegawai asuransi senior—rekan-rekan kerja Mama dari Kuala Lumpur—sempat terasa seperti hukuman sosial bagi Sophie.
Sebagai mahasiswa semester tiga yang masih masih terbiasa santai, Sophie langsung membayangkan suasana kaku, obrolan serius mengenai pekerjaan Mama serta guyonan orang-orang dewasa yang Sophie nggak pernah paham, serta rasa canggung yang bakal nggak ada habisnya, yang akan tercipta jika Sophie bersedia ikut pergi trip ke Bandung dengan teman-teman kerja Mama nya ini.
Tapi, ternyata dugaan Sophie salah total.
Teman-teman Mama ternyata lebih seru—dan ternyata luar biasa"gesrek"— sangat jauh melampaui ketakutan Sophie sebelumnya. Membuat Sophie jadi menikmati trip 4 hari ke Bandung nya ini.
Dan dari semua anggota rombongan yang Mama Sophie boyong ke Bandung, ada Nora, salah satu teman Mama yang usianya paling muda, dan juga yang paling heboh.
Dia kegirangan sendiri waktu lihat Aldo, sambil menutup wajah karena malu diledek teman-temannya sekaligus merona karena tidak kuasa menahan diri akan pesona Aldo yang mengenakan topi baseball berwarna hitam serta kaos polos berwarna senada di tubuhnya yang tegap dan bidang.
Karena dari hebohnya Nora ini orang bakal mengira dirinya baru saja ketemu member Westlife, Sophie jadi ikut penasaran hingga cewek itu diam-diam mencuri lirikan ke arah sosok Aldo diseberang meja.
Dan untuk satu detik yang terasa janggal, hatinya seakan berhenti berdetak.
Ealah, kok iya ganteng!
Batin Sophie nyeletuk tanpa diperintah.
Sedetik kemudian, Sophie merutuki dirinya sendiri dalam hati atas reaksi cerobohnya yang untung saja tidak cewek itu suarakan.
Ada sesuatu pada cara Aldo membetulkan letak topinya yang membuat Sophie mendadak kehilangan fokus.
Tapi, dengan gerakan secepat kilat, Sophie mengalihkan pandangan sebelum ada yang menyadari kalau dia pun nyaris terseret arus pesona cowok itu.
"Ala, Nora! Sekurang-kurangnya bila kita balik ke KL nanti, kau dah boleh mula rapat-rapat!” (Ayo dong, Nora! Minimal kalau nanti kita pulang ke KL, kamu sudah bisa pedekate!)
"Ish, macam dia terus nak dekat dengan aku je!” (Ih, kaya dia langsung mau aja sama aku!)
“Peninglah. Belum cuba dah banyak sangat takutnya!” (Pusing, deh. Belum dicoba udah banyak saja takutnya!)
Wajah Nora makin merah semu. Dia menutup wajahnya rapat-rapat sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan gemas di bawah meja, seperti remaja ingusan yang baru pertama kali naksir orang.
Mama Sophie, yang sepertinya mendadak jadi lupa umur karena berada di tengah euforia cinta para juniornya, akhirnya memutuskan untuk turun tangan juga.
"Macam ni je lah," ujar Mama tenang namun penuh otoritas. "Daripada korang bising dari tadi asyik suruh minta nombor tapi tak ada seorang pun yang berani pergi, biar aku je yang gerak minta nombor dia! Rasa-rasanya kalau dengan aku, dia takkan boleh tolak. Sebab muka aku kan nampak garang sangat! Macam mana?” (Gini aja deh, daripada kalian ribut banget daritadi minta nomor tapi nggak ada satupun yang maju, saya aja yang gerak! Kayanya kalau sama saya, dia nggak bakal bisa nolak. Karena muka saya kan kelihatan galak banget! Gimana?)
Tawaran Mama ini langsung disambut antusiasme gila-gilaan hingga membuat meja mereka mendadak jadi pusat perhatian berkat ledakan kebisingan rekan-rekan Mama yang makin memekik kelewat heboh.
Sebelum Sophie sempat mengerjapkan mata untuk memroses apa yang akan terjadi, sosok Mama sudah berdiri dan berderap melangkah penuh percaya diri—seperti sedang menuju meja makan gratis—ke meja di depan mereka.
Nora dan yang lain memekik kegirangan sekaligus menahan tawa, menyaksikan pemandangan sureal didepan mereka; seorang ibu-ibu berbadan besar dengan tampang segalak guru BP berniat meminta nomor telepon seorang cowok tak mereka kenal di meja seberang.
Dan ketika sosok Mama Sophie dengan pedenya muncul melancarkan aksi nekatnya, ledakan tawa seketika pecah di meja Aldo.
Teman-teman Aldo kini mulai bersiul-siul menggoda Aldo sambil berlomba-lomba mendorong bahu cowok itu
Bukannya malu karena sekarang meja gerombolan Mama jadi sorot perhatian meja Aldo, Sophie malah jadi ikut terpingkal-pingkal.
Kedua meja itu kini malah saling melempar siulan dan candaan yang memicu tawa lebih keras.
Setelah melalui diskusi, godaan, serta obrolan tak tertangkap dari meja Nora, Mama kemudian kembali berderap pergi sambil melambaikan secarik kertas ditangannya kearah meja Aldo dengan gerakan minimalis namun jenaka.
Tak lupa, dengan begitu percaya dirinya, Mama mengirimkan gerakan melempar ciuman 'cup cup ahh!' ke gerombolan Aldo sambil mengedipkan sebelah mata dengan genit, membuat Aldo lagi-lagi dihujani ledekan telak dari teman-temannya.
Teman-teman Mama yang menyaksikan itu melotot lebar sambil menutup mulut bersamaan sebelum akhirnya ikut meledak dalam tawa.
Sementara Sophie, cewek itu cuma bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ya Allah, emak gue...
“Dah dapat ni! Senang je kan? Kau ni, banyak sangat fikir!” ujar Mama sambil melempar dramatis secarik kertas berisi deretan nomor yang bikin Nora menjerit tertahan sambil menutup mulut. Mama hanya bisa menggelengkan kepala.
Lalu pandangan Mama beralih ke Sophie disebelahnya.
"Masa tadi si Aldo itu ngira Mama minta nomor itu buat kamu, Nak."
Mata Sophie melebar kaget seketika. "Serius, Ma? Tapi Mama bilang kan, bukan Sophie yang minta?"
Mama tidak langsung menjawab. Anehnya Mama hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.
"Anaknya baik, kok. Anak UI juga, seumuran sama kamu."
Sophie mengerutkan kening. Berusaha mencari korelasi antara pertanyaan Sophie dan jawaban Mama nya barusan.
Apa hubungannya satu kampus dengan permintaan nomor telepon buat Nora?
Logic, Mom. Logic.
Pekikan Nora kembali menarik perhatian, termasuk Mama dan Sophie.
"Menurut korang, aku nak chat dia bila ya? Masa nanti balik apartmen atau tunggu balik ke Kuala Lumpur je?” (Menurut kalian, nanti aku chat kapan ya? Pas nanti pulang ke apartemen atau pas balik ke Kuala Lumpur saja?)
“Masa balik apartmen je! Kalau tunggu balik Kuala Lumpur, kelamaan! Nanti dia dah lupa kau tu siapa. Lagipun aku yakin lelaki tu sebenarnya minat juga dekat kau. Buktinya dia bagi je nombor dia tu.” (Pas balik ke apartemen saja! Kalau tunggu balik ke Kuala Lumpur, kelamaan! Nanti dia jadi lupa kamu tuh siapa. Lagipula aku yakin laki-laki itu sebenernya naksir juga sama kamu. Buktinya dia kasih juga nomornya itu.)
Nora mengangguk antusias, lalu secara impulsif mencium kertas itu. Tindakan konyolnya kembali menciptakan derai tawa heboh di meja mereka.
"Oh iya, Sophie" Mama menoleh lagi, "Nanti jangan lupa ingetin potongan harga pas bayar ke kasir. Kan mereka tadi bilang kalau kita isi kuesioner survei, bakal dapat diskon 20%."
Sophie mengacungkan jempolnya mantap sambil mengangguk, "Sip, Ma. Tadi Sophie udah isi survey nya kok, dan langsung dapet WhatsApp dari mereka buat ditunjukin ke kasir."
Mama tersenyum puas sebelum kembali tenggelam dalam euforia rekan-rekannya.
Sementara Sophie kembali menikmati sisa malam itu, membiarkan musik dan udara Bandung yang sejuk membungkus ketenangannya malam itu.
Malam semakin larut saat gerombolan Mama akhirnya memutuskan untuk mengakhiri acara nongkrong mereka untuk kembali ke apartemen mereka di bilangan Dago Atas.
Sebelum pergi, Nora dengan keberanian yang sudah dikumpulkan sejak tadi, melambaikan tangan tinggi-tinggi ke arah meja Aldo.
"Aldoooo, saya pulang duluan yaaaa!"
"CIEEEEEEE ALDO, BALES DONG NYET!"
"ALDOOOO, KAPAN LAGI DITAKSIR CEWEK DARI NEGARA TETANGGA!"
"DOOO, EMAK LO BANGGA BANGET INI NTAR BISA BESANAN SAMA TETANGGANYA UPIN IPIN!"
Ledakan ledekan tak berkesudahan dari teman-teman Aldo kembali membahana memenuhi setiap sudut kafe.
Aldo lagi-lagi cuma bisa senyum salah tingkah tanpa mampu bersuara. Responnya sudah cukup terwakilkan dari reaksi memalukan para teman-temannya yang lebih heboh dan bergerilya dari si pemeran utama sejak tadi
Sementara itu, Sophie cuma bisa menggeleng sambil terkekeh pelan menyaksikan adegan konyol itu sambil berujar ke Mama nya,
"Ma, Sophie bayar dulu ya," ujar Sophie meminta kartu ATM Mamanya ke kasir.
Sophie kemudian membiarkan rombongan Mama nya kembali ke mobil sementara ia menyelesaikan urusan admnistrasi ke kasir kafe.
Ketika langkah Sophie melewati meja Aldo, mata Sophie secara tidak sengaja bersitatap dengan cowok itu.
Untuk sesaat, bulu kuduk Sophie meremang saat mata mereka bertemu—mengunci selama beberapa detik—sebelum Sophie membuang muka secepat kilat.
Setelah membayar, Sophie bergegas menuju mobil, mengabaikan siulan samar dari meja Aldo saat langkahnya kembj melewati meja cowok itu.
Dan tepat saat langkahnya hanya beberapa tapak menuju mobil Mama yang sudah menunggu Sophie di pelataran kafe, ponsel di saku Sophie bergetar.
Sambil membuka pintu, Sophie meraih ponselnya, mengira itu hanya pesan otomatis dari sistem kuesioner pelanggan yang tadi sempat ia isi.
Namun, langkah Sophie seketika terhenti total saat ia membaca sederet kalimat dari nomor asing di layar ponsel Sophie.
+62812-xxxx-xxxx: Salam kenal, Sophie. Namaku Aldo. Ronaldo Alexander.
Sophie membeku. Tangannya menggantung di pintu mobil bahkan sebelum ia membukanya.
Sophie cepat-cepat masuk ke mobil.
Ia lalu menekan tombol di pintu mobil untuk menurunkan kaca jendela, agar Sophie dapat melempar pandangan ke arah meja tempat Aldo duduk dari kejauhan.
Benar saja, di kejauhan, Aldo tengah duduk membelakanginya, namun kepalanya berputar kebelakang punggungnya, untuk mengunci pandangan tepat ke arah mata Sophie dengan tatapan hangat.
Tatapan asing namun menenangkan, yang sejak tadi tidak ditunjukkan cowok itu kepada siapapun bahkan saat Nora melambaikan tangan dengan heboh untuk pamit pulang pada Aldo.
Dengan jari yang mendadak kaku, Sophie mengetik balasan.
Sophie : Hi, Aldo. Salam kenal, ya. Tapi bukan aku yang minta nomor kamu. Itu tadi Mamaku minta buat temannya, namanya Nora.
Send.
Sophie melihat Aldo di kejauhan, memastikan cowok itu benar mendapat balasan pesan Sophie.
Sophie dapat melihat kepala cowok itu menunduk, seakan menatap ponselnya, dan menegaskan keraguan di benak Sophie batas sosok cowok itu.
Sedetik kemudian ketika kepala Aldo menoleh lagi untuk memandang Sophie dari kejauhan, ponsel Sophie berdenting lagi.
+62812-xxxx-xxxx: Aku tahu, kok. Tapi aku memang mau ngobrolnya sama kamu. Tadi aku minta nomor kamu ke Mamamu, nggak dikasih. Katanya kalau berani harus usaha sendiri.
Sophie termenung. Ritme jantungnya mulai tidak beraturan. Belum sempat ia mencerna, pesan baru masuk lagi.
+62812-xxxx-xxxx: Terus aku bujuk orang kasir buat liat nomor kamu di data survei tadi. Maaf ya kalau lancang.
Sophie tertegun, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Berusaha sekuat apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya saat ini.
Matanya kembali membaca sederet kalimat dari Aldo lagi, memastikan bahwa Sophie saat ini tidak berhalusinasi karena bisa saja kegiatannya hari ini benar-benar membuat Sophie luar biasa lelah, jadi kepalanya mampu menciptakan momen-momen aneh yang tidak pernah Sophie duga akan datang sebelumnya.
Namun, lagi-lagi ponselnya mengeluarkan suara denting notifikasi lagi.
Sophie buru-buru membuka notifikasi pesan dari nomor asing yang sama lagi dengan kening berkerut.
+62812-xxxx-xxxx: Aku pikir aku baru punya keberanian minta nomor kamu langsung di UI, setelah cuma bisa ngelihatin kamu dari jauh sejak Ospek setahun lalu.
Tapi ternyata Tuhan malah bawa kesempatanku ini sampai ke Bandung dulu.
Lucu ya. Takdir bisa bikin keinginan manusia berbelok-belok dulu.
Tapi nggak apa-apa, yang penting sekarang aku sudah dapat momennya.
Momen akhirnya bisa dapet nomor cewek yang aku taksir sejak Ospek setahun yang lalu.
Salam kenal, Sophie Azalea.
Sophie membeku untuk kesekian kalinya dengan napas tercekat.
Di ujung kursi penumpang, Nora masih sibuk memandangi kertas nomor telepon itu dengan mata penuh binar serta senyum mengembang, tanpa tahu kalau nomor itu saat ini baru saja masuk memenuhi notifikasi ponsel Sophie.
Sementara itu, Mama sejak tadi ternyata mengamati kebisuan anak gadisnya disamping Mama.
Mama sejak tadi juga diam-diam mengulum senyum.
Dan kini, perlahan wajah Mama bergerak sedikit ke samping telinga anaknya, berbisik dengan cengiran lebar yang sudah tidak bisa Mama tahan lagi.
"Sekarang sudah tahu, kan, kenapa cowok yang namanya Aldo itu mau ngasih nomornya ke Mama?"