Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Kaki Emas Sudrun
1
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Cepat oper ke sini Zak!" Teriak Sabri.

"Kalau mau cepat, kamunya terbang ke sini." Zakiul marah karena Sabri, asal dikasih bola enggak pernah benar eksekusinya. Kalau engga terbang di atas mistar, paling di serobot lawan bolanya

"Heh, kok malah dioper ke Sudrun? Mana bisa dia nendang!" Maki Sabri kesal.

Belum lagi ocehannya selesai, Sudrun langsung menendang tepat ke rusuk sebelah kiri gawang, mengecoh Badri yang sudah memberi kode agar tidak menyerang ke gawangnya.

"Gol!!!!" Teriak penonton di pinggir lapangan, sambil tertawa terpingkal.

"Eh, Drun, sini kamu!" Genta yang badannya paling bongsor dan emosian langsung maju, menarik kerah baju Sudrun. "Kenapa nendang kesitu?"

"Nendang kemana?" tanya Sudrun polos.

"Sontoloyo! Itu gawang kita!"

"Hah? salah ya?"

"Itu namanya bunuh diri, tau!"

"Oh..."

"Ganti, ganti! Aku mau ganti bocah sontoloyo ini. Aku enggak mau dia ada di tim aku, bikin spaning aja!"

Tanpa ba-bi-bu, Sudrun langsung melepas bajunya karena warnanya sama dengan tim lawannya sekarang, kuning menyala seperti partai pohon beringin yang banyak hantunya di pabrik Badri.

Tapi dasar si Genta sedang sial, baru tiga menit Sudrun bergabung di tim lawan, lagi-lagi kaki lincahnya malah membuat gol.

Genta ngamuk, tetapi mau mengumpat Sudrun sekarang di pihak lawan.

"Hei, Bocah! Jangan buat gol lagi, kasih kesempatan temanmu yang lain! Jangan main borong!" maki Genta gusar.

"Lah, salah saya apa, Bang?"

"Salah Mbahmu!"

"Kenapa dengan mbahku, Bang?"

"Ah, sudahlah, minggir!"

Sudrun berlari ke pinggir, menunggu peluit pertandingan dimulai lagi setelah golnya barusan.

***

Sudrun memang nyentrik, tapi kakinya Sudrun selalu membawa hoki.

Ibunya pernah bilang, "Drun, kamu itu bukan bocah lemah. Wajahmu dan tubuhmu saja yang memelas, tapi kakimu itu kaki emas." Sudrun tetap tidak tahu apa maksud ucapan ibunya, tetapi setiap kali ia mendapat operan bola, hasilnya selalu saja jadi gol.

Sore itu, lapangan tanah liat di belakang pabrik tua ramai. Angin menghembuskan bau tanah kering bercampur peluh anak-anak kampung yang bertelanjang dada. Pertandingan antar RT itu sebenarnya tidak memperebutkan piala apa pun, hanya gengsi dan taruhan es lilin rasa kacang hijau di warung Mak Seno. Namun, bagi Genta, kalah berarti harga dirinya diinjak-injak.

"Drun, dengerin aku ya," bisik Karno, kapten tim merah tempat Sudrun sekarang bergabung. Ia merangkul bahu Sudrun yang kurus hingga tulang selangkanya menonjol. "Gawang Genta itu yang ada sarang tawonnya di tiang bambu sebelah barat. Gawang kita yang ada tumpukan batu bata di sebelah timur. Kamu paham, kan?"

Sudrun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi tadi pas aku masukin ke yang ada sarang tawonnya, itu gawang sendiri ya, Mas Karno?"

"Iya, Bocah! Itu namanya bunuh diri!" Karno menepuk jidatnya sendiri.

"Ingat, nanti kalau dapat bola, tendang ke arah sarang tawon. Jangan ke tumpukan batu bata!"

"Siap, Mas! Yang ada sarang tawonnya kan," ulang Sudrun.

Pluit tiupan Badri yang terbuat dari peluit plastik hadiah chiki kembali berbunyi. Pertandingan dilanjutkan.

Genta yang sudah marah seperti kepiting rebus langsung memimpin serangan. Badannya yang besar membuat anak-anak lain segan menempel. Sekali dorong, Karno si kapten terpental, tak ada peluit pelanggaran. Genta menggiring bola dengan garang, niatnya cuma satu melesakkan bola keras-keras ke gawang tim merah sampai jaring rakitannya jebol untuk membalas kekonyolan tadi.

"Awas, Genta maju!" teriak anak-anak tim merah kocar-kacir.

Genta sudah berada di depan gawang tumpukan batu bata. Ia mengambil ancang-ancang, mengayunkan kaki kanannya sekuat tenaga. Bola meluncur deras. Tapi, tiba-tiba, Brak!

Bola menghantam tiang bambu dan memantul liar ke tengah lapangan. Di sana, Sudrun sedang berjongkok sambil membetulkan tali sepatunya yang kendor. Bola yang memantul keras itu tepat mengenai tempurung lutut Sudrun, memantul lagi melengkung secara ajaib, melintasi kepala anak-anak yang terpana, dan masuk dengan mulus ke pojok kanan gawang sarang tawon milik tim Genta.

Gol!

Suasana lapangan seketika hening. Hanya suara garengpung dari pepohonan yang terdengar melengking.

"Lho... kok gol lagi?" gumam Sudrun bingung melihat bola mendekam manis di gawang Genta.

"Asyik! Gol lagi! Keren kamu, Drun!" Karno dan kawan-kawan langsung merubung Sudrun, mengusap-usap kepalanya yang penuh keringat.

Di sisi lain, Genta berdiri membatu. Matanya melotot tajam ke arah Sudrun. Mukanya merah padam, bukan cuma karena capek, tapi karena malu yang menumpuk. Di mata Genta, Sudrun tidak sedang bermain sepak bola. Sudrun sedang mempermainkan hidupnya.

"Sengaja kamu, ya?!" bentak Genta sambil melangkah lebar memburu Sudrun. Tangannya yang kekar menguasai kerah kaus Sudrun yang sudah kusam.

"Enggak sengaja, Bang Genta! Demi Allah, tadi bola nabrak dengkul saya sendiri!" jawab Sudrun ketakutan.

"Bohong! Mana ada bola memantul sejauh itu kalau enggak dipasang ilmu!" Genta mengangkat kepalan tangannya. Anak-anak lain mundur, takut kena imbas amarah Genta yang terkenal suka main fisik.

"Tahan, Tahan!" Karno mencoba menengahi, walau ragu-ragu. "Namanya juga permainan. Sudrun kan emang begitu dari dulu, lugu."

"Lugu matamu!" sembur Genta. "Dia ini sengaja bikin aku keliatan tolol di depan anak-anak! Dia ngejek aku!"

Di tengah ketegangan itu, Pak RT Sastro berjalan melintas sambil menuntun sepeda ontelnya yang membawa rumput gajah. Melihat keributan di lapangan belakang pabrik, beliau berhenti dan menyandarkan sepedanya di pohon waru.

"Ada apa ini? Sore-sore kok malah mau jotos-jotosan?" suara berat Pak RT membubarkan lingkaran anak-anak.

Genta melepaskan cengkeramannya, tetapi matanya tetap menatap sengit ke arah Sudrun. "Ini, Pak RT! Si Sudrun mainnya licik. Masa dari tadi gol terus tanpa ngeluarin keringat? Dia ngerjain tim saya!"

Pak RT Sastro terkekeh pelan. Beliau membetulkan posisi pecinya, lalu menatap Sudrun yang masih gemetaran memegangi celananya.

"Drun, kamu tadi niatnya ngerjain Genta?" tanya Pak RT lembut.

Sudrun menggeleng cepat. "Enggak, Pak RT. Saya cuma ngikutin bola. Ibu bilang, kalau bola datang, disepak pakai kaki. Yaa... saya sepak aja. Tadi malah kena dengkul saya, padahal enggak saya minta"

Anak-anak lain tertawa kecil mendengar jawaban polos Sudrun, tetapi langsung diam saat Genta melirik tajam.

Pak RT mengangguk-angguk, lalu menepuk bahu Genta yang masih tegang. "Genta, kamu jago main bola. Badanmu besar, tendanganmu keras, lari kamu cepat. Tapi kamu tahu apa kekuranganmu?"

Genta cemberut, enggan menjawab.

"Kekuranganmu itu ada di sini," Pak RT menunjuk dadanya sendiri. "Kamu terlalu tinggi hati dan gampang emosi. Kamu mikir, karena kamu paling kuat, semua orang harus tunduk dan permainan harus berjalan sesuai maumu. Pas ada anak seperti Sudrun yang kelihatannya lemah, enggak paham taktik, tapi main dengan jujur dan tanpa beban, kamu malah merasa dihina."

Genta menunduk, dadanya masih naik turun, tapi kepalan tangannya pelan-pelan melonggar.

"Sepak bola itu bukan cuma soal siapa yang paling bongsor atau siapa yang bisa nendang paling keras," lanjut Pak RT Sastro. "Sepak bola itu soal kerja sama, lapang dada, dan menikmati permainan. Sudrun enggak punya niat jahat. Dia cuma menikmati momen di lapangan, makanya bolanya seolah-olah nurut sama dia. Kalau kamu terus-terusan main pakai emosi, bakatmu yang besar itu cuma bakal jadi beban buat dirimu sendiri dan teman-temanmu."

Pak RT lalu beralih menatap Sudrun. "Dan buat kamu, Drun, kaki emas yang dibilang ibumu itu bukan cuma soal kebetulan atau hoki. Itu artinya kamu punya kebersihan hati pas main. Tapi ingat, kamu juga harus belajar aturan mainnya. Jangan sampai karena kebingunganmu, teman-temanmu jadi rugi. Paham?"

"Paham, Pak RT," jawab Sudrun sambil tersenyum polos, memperlihatkan giginya yang sedikit gingsul. "Jadi... habis ini saya harus nembak ke mana lagi?"

Gelak tawa pecah di lapangan tanah liat itu.

Genta menarik napas dalam-dalam. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap Sudrun. Rasa kesal di dadanya belum sepenuhnya hilang, tetapi rasa malu karena dinasihati Pak RT membakar kesombongannya.

"Drun," panggil Genta pelan.

Sudrun agak melonjak kaget. "I-iya, Bang?"

Genta mengulurkan tangannya yang kasar. "Maaf soal tadi. Aku emosi."

Sudrun menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu, lalu tersenyum lebar. "Nggak apa-apa, Bang Genta. Saya juga minta maaf udah salah masukin gawang pas awal tadi."

"Ya udah! Lanjutin mainnya!" seru Pak RT dari tepi lapangan sambil kembali menuntun sepedanya. "Ingat, yang kalah bayar es lilin, tapi enggak boleh ada yang berantem!"

"Siap, Pak RT!" sahut anak-anak serempak.

Pertandingan dilanjutkan kembali. Kali ini, atmosfer di lapangan berubah. Tidak ada lagi teriak-teriakan penuh maki atau ancaman fisik. Genta mulai mengoper bola ke teman-temannya tanpa serakah ingin mencetak gol sendiri, sementara Sudrun berlari ke sana kemari dengan gaya canggungnya yang khas kadang hampir terpeleset, kadang kebingungan mengejar arah angin ke segala arah. Harusnya jadi gelandang serang, malah jadi gelandangan tidak jelas.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik atap seng pabrik tua, memancarkan warna jingga keemasan di atas lapangan berdebu, pertandingan berakhir dengan skor tipis. Namun sore itu, tidak ada yang benar-benar merasa kalah. Di warung Mak Seno, anak-anak berkumpul menyedot es lilin rasa kacang hijau bersama-sama.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Kaki Emas Sudrun
Hans Wysiwyg
Flash
Play Game
Fitri Handayani Siregar
Flash
Sleding Neraka
Sugiadi Azhar
Flash
Di Sebuah Gua
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
Jam Pasir
Afri Meldam
Flash
Ketika Gerimis Bermula
Cheri Nanas
Flash
Reverse # 4 : Cahaya Paling Terang
Yesno S
Flash
I like You Very Much, But I"m Afraid...
d Curly Author
Flash
Sial
Yuliani
Flash
Mystery Box
Dwi Kurnialis
Cerpen
Paradoks
Varenyni
Cerpen
Bronze
Sesaat Sebelum Bom Itu Meledak
Habel Rajavani
Flash
Bronze
SUPER MOON
Xielna
Flash
Brahma Menghancurkan Semesta
Nur Khafidhin
Flash
Bronze
Desa Naga Logam
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
Kaki Emas Sudrun
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pamit
Hans Wysiwyg
Flash
Laras
Hans Wysiwyg
Flash
KAMU ITU CANTIK CLARISA
Hans Wysiwyg
Flash
Tetangga Toko Sebelah
Hans Wysiwyg
Flash
Perahu Langit
Hans Wysiwyg
Flash
SUPERMAN IN-KUMBEN
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Flash
SEMANGKUK NASI UNTUK AYAH
Hans Wysiwyg
Flash
DINARA Tak Ada Lagi Jalan Pulang
Hans Wysiwyg
Flash
PAMIT
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
Mimpi Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Pulang
Hans Wysiwyg