Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Kado Seharga Kelas Pekerja
1
Suka
20
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Layar biru itu terus menatapku, tiap detik selalu memperhatikanku tanpa berkedip. Setiap kali aku melihatnya ada perasaan gelisah dan cemas yang tak kunjung usai. Aku hampir kehilangan kewarasanku ketika terus memikirkan masa depan yang belum jelas, rasanya begitu samar.

Aku terus memaksa mataku untuk menatap si layar biru itu yang tidaklah lain laptop kesayanganku semasa kuliah. Sudah berbulan-bulan setelah kelulusan aku tak kunjung mendapatkan pekerjaan, ratusan lamaran beserta berkas lainnya yang aku ikut sertakan kepada perusahaan tak kunjung ada hilalnya.

Penolakan bagiku terasa makanan sehari-hari, setiap kali interview belum ada yang lolos hingga tahap berikutnya, aku hanya bisa pasrah mengingat diriku yang hanya menjadi beban keluarga.

Suara nada dering pengingat begitu jelas terdengar di telingaku, dan tanganku sigap merogoh ponsel yang ada dalam saku celanaku ternyata hari ulang tahun ponakanku sebentar lagi.

Raisa. Bocah kecil yang akan menginjak 5 tahun tepat di besok hari. Detik itu juga kecemasanku bertambah satu cabang lagi. Refleks mataku melirik kalender di pojok kanan bawah laptop. Ya, benar ternyata besok ulang tahunnya Raisa ponakanku tercinta. Kemudian, tanganku mengambil dompet berwarna hitam, aku membukanya dan melihat dua lembar uang sepuluh ribuan dan satu lembar lima ribuan. Aku terkapar lemas begitu melihatnya, seketika aku menyandarkan bahuku ke sisi tembok dekat meja belajarku dan memijat pelipisku. Itu adalah seluruh sisa uang finansialku saat ini juga sekaligus harga diriku.

Tutt..tuttt.

Nada dering handphone berbunyi.

"Hallo Om Aldi," suara kecil Raisa yang hangat."

"Hallo juga Raisa, ponakan kesayangan Om."

"Om Aldi, besok dateng kan ke pesta ulang tahun aku?" ucap Raisa menyeru dengan suara kecilnya.

"Tentu, om pasti datang. Sampai jumpa besok ya."

Seketika lampu langit kamar terasa remang, pikiranku mulai kalang kabut. Aku memaksa untuk menutup si Layar Biru itu dan berusaha menenangkan diri. Aku mulai menghela nafas panjang dan memeluk diriku sendiri di tengah bisingnya kepalaku.

"Bagaimana mungkin aku datang ke pesta ulang tahun dengan tangan kosong?" Ucapku sambil menatap langit-langit kamar yang terasa hampa.

Aku merebahkan diriku diatas kasur dan mencoba memejamkan mata, berharap hari besok ada suatu kejutan yang membahagiakan. Namun, sayangnya pikiranku terlalu berlarian kesana dan kemari memikirkan masa depan yang belum terjadi tentang bagaimana hari besok, dan khususnya acara pesta ulang tahunnya Raisa.

Musik mulai ku putar, telingaku menerima alunan lagu galau tentang kehidupan. Seketika, pandanganku mulai gelap dan aku terbangun tepat di hari yang ditunggu-tunggu oleh Raisa.

*****

Sinar matahari masuk melewati celah di gorden kamarku, silau namun hangat. Aku duduk di tepi kasur sambil mengumpulkan kesadaran yang masih terasa berat, hari ini ulang tahun Raisa.

Aku bergegas mandi setelah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebelum melangkah keluar rumah, aku memastikan kembali isi dompet hitamku. Dua puluh lima ribu rupiah jumlahnya, tak bertambah sepeser pun.

Langkah kakiku membawa menyusuri jalanan kompleks menuju minimarket di depan gang. Aku mulai membuka pintu minimarket, mendorongnya pelan. Seketika aku disuguhkan oleh pemandangan rak-rak berisi makanan dan lemari pendingin minuman. Aku melirik ke arah freezer es krim. Nampaknya es krim Neopolitan akan jadi kado kali ini, lantas aku mengambil Neopolitan itu membawanya ke pangkuan tanganku.

"Mbak, jadinya es krim ini satu ya. Berapa?" tanyaku sambil meraba erat uang dalam saku.

"Totalnya 23.000 rupiah Kak," jawab penjaga toko minimarket datar.

Aku keluar dari minimarket dengan kantong plastik kecil di tangan kanan. Di dalam saku celana, jemariku menjepit selembar uang dua ribu rupiah yang terasa dingin sisa seluruh kekayaanku. Langkahku kembali berjalan maju menuju rumah kakakku Kak Ayu, rumah dimana tempat Raisa mengadakan pesta ulang tahunnya. Berharap es krim Neopolitan ini tidak meleleh. Aku berlari sekencang mungkin hingga tubuhku mengeluarkan keringatnya.

​Sepanjang jalan, dadaku bergemuruh. Ada rasa malu yang mendesak-desak di dada. Bagaimana kalau di sana banyak saudara yang lain? Bagaimana kalau kado Rp23.000 ini justru memalukan di antara tumpukan kado bermerek lainnya? Aku mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir kabut pikiran itu saat kakikku berhenti di depan pagar rumah Kak Ayu yang sudah dihias balon warna-warni.

*****

Setibanya disana, aku melihat pemandangan yang indah di halaman belakang tepat taman bermain keluarga yang dihias oleh balon dan pernak-pernik berkilauan. Raisa nampak anggun memakai gaun pesta berwarna pink muda dengan pita ditengahnya warna merah memakai mahkota cantik yang menggemaskan seperti princess. Di sampingnya, Kak Ayu sedang menyiapkan kue ulang tahun bertema princess yang dilumuri krim warna putih dan mutiara kecil. Tepat diatasnya terdapat lilin dengan angka lima.

Raisa melihat kedatanganku, menyambutku dengan hangat. Jari jemari kecilnya yang lucu meraba tanganku dan memeluk tubuhku lalu mengajakku bertemu dengan Ibunya.

"Om Aldi datang!" teriak suara gemasnya yang berlarian menghampiriku.

"Eh, udah sampai rupanya. Itu bawa apa Dek?" Tanya kakaku sambil menunjuk kantong plastik kecil ditangan kananku.

"Ini kado dariku kak. Cuma bisa bawa eskrim, maaf ya kak," ucapku sambil menahan rasa tangis yang ingin jatuh dari sudut mataku.

"Ya ampun Dek, gausah repot-repot. Kakak paham kok," ucapnya sambil menepuk pundakku pelan.

"Hehe, ya sudah kak ini cepat masukkan ke freezer takut nantinya cair."

Kak Ayu memasukkan krim dingin lembut itu ke dalam freezer. Sementara disisi lain kakak keduaku, Kak Hendra datang dengan membawa boneka barbie yang mewah, lucu dan menggemaskan.

Aku melihat langsung pemandangan Raisa yang melompat kegirangan ketika menerima kado dari Kak Hendra. Sementara, diriku hanya membawa satu kotak eskrim seharga 23.000 rupiah. Sebenarnya aku tidak menyesali diriku yang masih menjadi pengangguran, hanya aku malu saja belum bisa memberikan yang terbaik untuk orang-orang disekitarku.

Sejenak aku melihat langit biru yang diterangi oleh teriknya matahari, membuatku berangan-angan ingin membelikan Raisa sebuah boneka beruang yang besar. Tapi realitanya, aku hanya bisa memberikan dia kado sebuah es krim Neopolitan seharga kelas pekerja.

​"Ayo semuanya, kumpul! Kita tiup lilinnya sekarang!" seru Kak Ayu memecah lamunanku.

​Raisa langsung berdiri di depan kue princess-nya yang megah. Kami semua berkumpul mengelilingi meja, menyanyikan lagu ulang tahun diiringi tepuk tangan yang meriah.

Setelah berdoa, Raisa meniup lilin angka lima itu sampai padam. Tepuk tangan kembali riuh.

​Namun, tepat setelah kue dipotong, udara siang yang terik di halaman belakang mulai terasa menyengat. Anak-anak kecil teman Raisa yang hadir mulai rewel karena kepanasan, dan krim putih di kue ulang tahun itu perlahan tampak mulai meleleh.

Kak Ayu mendadak menepuk jidatnya. "Aduh panas banget siang ini, kue bolu nya juga udah mulai meleleh. Sebentar kakak ambil eskrim kamu dulu di freezer."

"Iya kak," ucapku sambil berusaha menahan rasa malu.

Kak Ayu kembali ke meja sambil membawa mangkuk-mangkuk kecil yang di dalamnya berisikan krim dingin Neopolitan. Tak lupa di sampingnya di taruh kue tart kecil sebagai pemanis."

Raisa melihat lumuran krim dingin yang enak itu. "Wah ada eskrim! Raisa suka rasa vanilla, coklat dan stroberi Asyik." Raisa kegirangan ketika melihat es krim segar itu dibawakan oleh ibunya. Seperti biasa, Ia menggelengkan kepalanya dan melompat kecil di tengah eskrim yang sudah meleleh di mulutnya.

"Makasih Om Aldi, Raisa suka es krimnya, enak dingin" Suara imut menggemaskannya kembali menghangati hatiku yang tengah membeku dalam rasa malu.

Anak-anak lain yang tadinya rewel, kini kembali berebutan meminta bagiannya satu per satu. Suasana pesta yang tadinya tampak lesu, kini kembali ceria berkat es krim seharga 23.000 rupiah itu. Bahkan, Kak Hendra pun ikut meminta es krim sambil membawa mangkuk kecil "Pas banget lagi gerah gini ada es krim. Kamu tahu aja ."

Aku tertegun di sudut halaman. Boneka Barbie mewah milik Kak Hendra kini tergeletak di atas kursi, sementara Raisa dan teman-temannya sedang tertawa riang, belepotan menikmati es krim yang kubawa.

​Kak Ayu berjalan mendekatiku, membawa satu mangkuk tersisa dan menyodorkannya kepadaku. "Kado itu bukan soal seberapa mahal harganya. Tapi soal apa yang paling dibutuhkan saat ini. Es krim kamu bikin pesta hari ini jadi segar," bisik Kak Ayu sambil tersenyum tulus.

Aku menerima mangkuk itu. Menyendok es krim dingin yang manis ke dalam mulutku. Rasa cemas, malu, dan rasa bersalah sejak semalam perlahan ikut mencair bersama es krim ini.

Langit siang di atas taman belakang rumah Kak Ayu masih sama teriknya dengan yang kulihat tadi. Namun saat ini, sinarnya tidak lagi membuat mataku perih. Aku tahu jalan ke depan masih panjang, mengingat si Layar Biru di kamarku sudah menantikku di hari besok. Tapi setidaknya untuk kali ini, aku berhasil memberikan kado yang terbaik yang kubisa untuk keponakanku.

Tamat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Novel
Derita Istri Muda
Novia dewi
Novel
Catatan SMA
Irvan Purnama
Novel
SAYANG TANPA JEDA
Vhira andriyani
Skrip Film
Suamiku Patriarki
awanbiru
Cerpen
Bronze
GERSANG
Lina Budiarti
Novel
Bronze
Dalam Kidung Zona Merah
ERZIN EL
Novel
Janji Allah~Novel~
Herman Siem
Flash
KOTO - Calling of Heaven
Donquixote
Novel
Carla's Last Mission
Tanya Fransisca
Novel
Dari tempatku berdiri
Martha Melank
Novel
Bronze
Dukkha dan Renjana
Diana Tri Hartati
Flash
Menunggu
Aralya Seraquin
Novel
Balada Mahasiswa: FRNDS
Gie Salindri
Novel
Arata Riswani
thisofayna
Rekomendasi
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Cerpen
Anastesi di Jari Jemari Kiri
Skaya
Cerpen
UMR PAS-PASAN
Skaya
Flash
Memendam Rasa
Skaya
Cerpen
Anak Jalanan
Skaya
Cerpen
Lensa yang Retak
Skaya
Flash
Have Fun, Muka Dua!
Skaya