Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Kaca Retak
0
Suka
7,229
Dibaca

Pukul dua pagi di sebuah gang sempit, lampu jalan yang redup berkedip-kedip seolah-olah sedang sekarat. Hujan baru saja berhenti, menyisakan genangan air kotor yang memantulkan bayangan gedung-gedung tua yang menjulang tinggi seperti monster. Suara tetesan air dari atap seng beradu dengan keheningan mencekam. Di antara tumpukan sampah basah dan bau anyir, tergeletak sesosok tubuh.

Namaku Arion. Jurnalis investigasi. Aku berdiri mematung di samping jasad itu, merasakan bulu kudukku merinding. Ini bukan adegan film horor, ini nyata. Jasad itu adalah seorang pejabat tinggi, dikenal sebagai sosok yang licin dan kebal hukum. Namanya Gunawan. Tubuhnya terbaring telungkup, dengan luka sayatan yang dalam dan brutal di punggungnya. Darah segar menggenang di bawahnya, bercampur dengan air hujan. Di samping kepala Gunawan, sebuah amplop cokelat tergeletak. Ada tulisan tangan yang rapi di sana: "Untuk Arion."

Tanganku gemetar saat mengambil amplop itu. Di dalamnya, ada sebuah flashdisk dan sebuah foto. Foto itu, sebuah foto polaroid, menampilkan diriku. Aku sedang menatap kosong, wajahku pucat, dengan tetesan air hujan membasahi jaket yang kukenakan. Foto itu diambil dari jarak dekat, seolah-olah seseorang berdiri tepat di sampingku. Tapi aku tidak ingat pernah berada di tempat ini.

Aku memasukkan amplop itu ke dalam saku, lalu menghubungi polisi. Suara sirene meraung, memecah keheningan malam. Tak lama kemudian, Inspektur Bayu tiba. Ia adalah rekan lamaku, seorang polisi senior yang terkenal dengan ketegasannya. Wajahnya yang lelah terlihat lebih muram saat melihat pemandangan itu.

"Ini... Gunawan?" tanyanya padaku.

Aku mengangguk, masih terkejut. "Dia mati. Dibunuh."

Bayu menunduk, memeriksa luka-luka Gunawan. Matanya menyiratkan kebingungan. "Cara membunuhnya... kejam sekali. Ini bukan pembunuhan biasa, Arion. Ini pesan."

Kami berdua tahu, ini bukan kasus perampokan atau pembunuhan acak. Ini teror. Aku tidak bisa berhenti memikirkan foto di dalam amplop. Apa maksudnya? Siapa yang mengirimkannya? Mengapa namaku ada di sana? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, seperti kaset rusak. Aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di balik semua ini.

Beberapa hari kemudian, aku memutar flashdisk yang kudapat. Di dalamnya ada beberapa dokumen rahasia, termasuk laporan keuangan palsu, bukti korupsi, dan video-video yang memperlihatkan Gunawan menyuap hakim dan jaksa. Gunawan memang pantas mati, tetapi cara kematiannya terlalu kejam.

Aku memutuskan untuk tidak menyerahkan flashdisk itu kepada polisi. Bukan karena aku tidak percaya pada Bayu, tetapi karena aku merasa ada yang salah. Seolah-olah, pembunuh itu ingin aku yang menangani kasus ini. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.

Malam itu, aku mencoba tidur. Namun, mataku tetap terbuka. Aku terus memikirkan wajah Gunawan. Dan kemudian, aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Sebuah kilasan aneh di dalam pikiranku. Aku melihat diriku, mengenakan jaket yang sama, sedang berjalan di gang itu. Mataku kosong, langkahku berat. Aku tidak ingat ini, tapi kilasan itu terasa begitu nyata.

Aku mencoba untuk menepisnya, menganggap itu hanya mimpi buruk. Tapi itu bukan mimpi. Itu adalah ingatan yang terkubur dalam. Aku merasa takut. Takut pada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Pagi harinya, aku kembali ke kantor polisi. Aku berbohong pada Bayu tentang isi amplop itu. Aku bilang hanya ada beberapa catatan yang tidak penting. Bayu menatapku curiga, tapi dia tidak bertanya lebih jauh.

"Kamu terlihat pucat, Arion. Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja, Bayu. Hanya kurang tidur."

"Kasus ini... sangat aneh. Semua jejak pembunuhnya bersih. Seperti hantu."

Kata-kata Bayu membuatku merinding. Hantu. Ya, memang seperti hantu. Hantu yang mengambil foto diriku di tempat kejadian, hantu yang meninggalkan bukti y...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp17.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Kaca Retak
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Pancajiwa
Nikodemus Yudho Sulistyo
Cerpen
Ulang Tahun
Amelia Purnomo
Novel
Bronze
The Haunting Truth
Edelmira (Elmira Rahma)
Novel
Princesse
nesya ekda
Novel
Gold
Fantasteen Hana dan Piano La
Mizan Publishing
Flash
LAKNAT : CURSED ONES (SHOWCASE)
Donny Sixx
Flash
Nasi Goreng Tengah Malam
Freya
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Flash
PUKNYARTINGI
Iena_Mansur
Cerpen
Bronze
Panti Jompo Harum Melati
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
ZOMBI DAN MEREKA YANG TAK BISA MATI 2 BANGKITNYA DIA PADA SENJA
Meliana
Cerpen
BAGONG
Endah Wahyuningtyas
Cerpen
Rumah Istimewa
Sucayono
Novel
Bronze
Lenting
A.R. Rizal
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kaca Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panti Jompo Harum Melati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mawar Kematian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 03
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Ku Maafkan Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Kota Fajar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Balik Kaca
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rig Minyak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Penunggang Kuda Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sang Kolektor Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dinding Tertawa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jalan Buntu 404
Christian Shonda Benyamin