Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
KATALOG SURGA MURAH
"Nasi garam lagi, Din? Kamu nggak mau cari kerja beneran?"
Aku tidak berhenti mengunyah. Rasa asin yang menyengat di lidah jauh lebih baik daripada rasa pahit di hatiku. Aku menatap layar ponsel yang retak di pojok kiri atas. Foto Clarissa muncul di feed Instagram-ku. Dia sedang menyesap sampanye di sebuah yacht di Monaco.
"Cari kerja itu susah, Bu. Ibu pikir jadi pelayan kafe cukup buat bayar utang Bapak?" jawabku ketus.
Ibu menghela napas panjang, meletakkan piringnya yang bahkan lebih kosong dari milikku. "Setidaknya itu halal. Daripada kamu cuma melamun melihat hidup orang lain."
"Ibu nggak tahu rasanya jadi aku. Teman sekelasku dulu, si Clarissa itu, dia bahkan nggak tahu cara pegang sapu. Sekarang? Dia keliling dunia sementara aku makan nasi sisa kemarin."
"Rezeki orang sudah diatur, Din."
"Kalau gitu, pengaturnya nggak adil!"
Aku bangkit, membawa ponselku ke kamar yang pengap. Aku benci kamar ini. Aku benci bau apek kasur busaku. Aku benci hidupku.
Tanganku lincah menggeser layar, berniat mencari barang diskonan di aplikasi marketplace oranye. Tiba-tiba, sebuah iklan pop-up muncul. Warnanya hitam pekat, kontras dengan warna aplikasi yang biasanya cerah.
[Toko Tukar Nasib: Semua Orang Bisa Jadi Siapa Saja]
"Iklan sampah apa lagi ini?" gumamku.
Aku mengkliknya. Isinya hanya satu produk. Sebuah ikon siluet manusia dengan tanda tanya di tengahnya.
Produk: Nasib Clarissa Aditama (Edisi Terbatas).
Harga: Rp1.000.
Deskripsi: Dapatkan kekayaan, kecantikan, dan semua fasilitas hidup subjek. Transaksi bersifat final.
Aku tertawa sinis. "Clarissa Aditama? Ini pasti prank atau virus."
Namun, rasa penasaranku menang. Toh, saldonya cuma seribu rupiah. Apa ruginya? Aku menekan tombol 'Beli Sekarang'.
[Metode Pembayaran: Potong Umur/Saldo Digital]
"Cuma seribu, kan?" bisikku. Aku memasukkan PIN e-wallet-ku.
[Pemberitahuan Sistem: Transaksi Berhasil!]
[Pemberitahuan Sistem: Memproses Pertukaran Jiwa dan Garis Tangan...]
Kepalaku tiba-tiba berdenyut hebat. Pandanganku kabur. Aku merasa tubuhku ditarik paksa melewati lubang jarum yang sangat sempit. Suara Ibu memanggil dari luar terdengar makin jauh, tergantikan oleh suara instrumen klasik yang lembut.
"Mbak Dina? Eh, maksud saya, Non Clarissa? Anda sudah bangun?"
Aku membuka mata. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar hampir membutakanku. Aku tidak lagi mencium bau apek. Wangi mawar segar dan aroma kopi mahal memenuhi udara.
"Ini... di mana?" suaraku terdengar berbeda. Lebih merdu, lebih halus.
"Di kamar Anda, Non. Jadwal hari ini adalah fitting baju untuk pesta yayasan," seorang wanita berseragam rapi berdiri di samping tempat tidur.
Aku menoleh ke arah cermin besar di depan tempat tidur. Aku berteriak, tapi tanganku langsung menutup mulut. Wajah yang terpantul di sana bukan lagi wajahku yang kusam. Itu wajah Clarissa. Hidung mancung yang sempurna, kulit porselen, dan rambut yang berkilau.
"Non? Anda baik-baik saja?"
Aku menyentuh sprei sutra di bawahku. Ini nyata. Seribu rupiahku benar-benar membeli surga.
"Aku... aku baik-baik saja. Jam berapa sekarang?"
"Jam sepuluh pagi, Non. Oh ya, Dokter Hardi sudah menunggu di bawah untuk suntikan rutin Anda."
Aku mengernyit. "Suntikan rutin? Vaksin?"
Pelayan itu tampak ragu sejenak, lalu menunduk. "Suntikan penguat, seperti biasa. Kata Tuan Besar, Anda jangan sampai melewatkan satu dosis pun agar kondisinya tetap stabil."
"Kondisi apa?"
"Lho, Non lupa?"
"Aku baru bangun tidur, kepalaku agak pusing. Kondisi apa maksudmu?"
Pelayan itu mendekat, suaranya mengecil menjadi bisikan yang gemetar.
"Kondisi jantung Anda, Non. Bukankah dokter bilang sisa waktunya tidak akan sampai akhir tahun?"
HARGA SEBUAH KEMEWAHAN
Duniaku serasa runtuh tepat saat aku baru saja mulai menikmatinya. Ruang tamu mewah ini tiba-tiba terasa seperti peti mati yang dilapisi emas.
"Apa maksud kamu sisa waktuku tidak sampai akhir tahun?" suaraku bergetar hebat.
Dokter Hardi, pria paruh baya dengan kacamata berbingkai perak, menghela napas sambil menyiapkan jarum suntik. "Clarissa, tolong jangan membuat ini semakin sulit. Kita sudah membicarakan ini berkali-kali. Kardiomiopati restriktif stadium akhir itu bukan candaan."
"Tapi... tapi saya merasa sehat!" seruku sambil mundur menjauh dari jarum itu.
"Itu karena obat-obatan yang saya suntikkan setiap hari. Tanpa ini, jantungmu akan berhenti memompa dalam hitungan jam. Ayo, duduklah."
"Nggak! Aku nggak mau!"
Aku berlari keluar dari ruangan itu, mengabaikan panggilan pelayan dan dokter. Aku masuk ke kamar mandi di lantai bawah dan mengunci pintunya. Napas memburu. Dadaku mulai terasa sesak—benaran sesak, seolah ada tangan raksasa yang meremas jantungku.
"Sial! Sial! Sial!" aku memaki sambil merogoh saku gaun tidur sutraku. Ponsel. Di mana ponselku?
Ponsel Clarissa ada di sana. Model terbaru, tentu saja. Aku segera membukanya. Tidak ada sandi, hanya pemindai wajah. Aku mencari aplikasi marketplace yang tadi.
"Harus ada cara untuk membatalkan ini," isakku.
Aku menemukan aplikasi itu. Warnanya tetap hitam pekat. Aku masuk ke menu 'Pesanan Saya'.
[Status Pesanan: Selesai]
[Opsi: Jual Kembali / Tukar Tambah]
Aku menekan tombol 'Jual Kembali'.
[Pemberitahuan Sistem: Produk 'Nasib Clarissa Aditama' telah mengalami penurunan nilai aset karena kondisi kesehatan kritis.]
[Harga Jual yang Disarankan: Rp50]
"Lima puluh perak?!" teriakku histeris. "Aku beli seribu, sekarang cuma laku lima puluh perak?"
Aku tidak peduli. Aku segera menekan tombol 'Konfirmasi Jual'.
[Pemberitahuan Sistem: Gagal. Tidak ada pembeli yang tertarik pada nasib dengan sisa waktu hidup < 3 bulan.]
Aku melempar ponsel itu ke lantai. "Nggak mungkin! Pasti ada orang yang mau! Hidup ini mewah! Rumah ini besar! Siapa yang nggak mau jadi kaya?"
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam dadaku. Aku tersungkur di lantai marmer yang dingin. Oksigen seolah hilang dari ruangan ini. Pandanganku mulai menggelap di tepiannya.
"Tolong..." rintihku.
Ponsel di lantai bergetar. Sebuah pesan masuk dari aplikasi misterius itu.
[Admin Toko Tukar Nasib: Apakah Anda puas dengan pembelian Anda? Berikan bintang 5 dan dapatkan bonus 'Kematian Tanpa Rasa Sakit'.]
"Gila! Kalian gila!" aku berteriak pada ponsel itu dengan sisa tenagaku.
Aku merangkak menuju ponsel, jari-jariku gemetar. Aku harus mencari nasib lain. Apa saja. Jadi pengemis pun tidak apa-apa, asal aku hidup. Aku membuka kolom pencarian dan mengetik: Nasib Orang Sehat.
Hasilnya muncul:
1. Nasib Buruh Pabrik (Sehat, tapi utang banyak) - Rp2.000
2. Nasib Petani Desa (Sehat, umur panjang) - Rp5.000
3. Nasib Dina (Masa Lalu Anda) - Rp10.000
"Apa?!" aku terbelalak. "Kenapa nasibku yang dulu jadi mahal sekali?"
[Pemberitahuan Sistem: Hukum pasar. Nasib yang paling diinginkan adalah nasib yang memiliki 'Masa Depan'. Anda saat ini tidak memilikinya.]
Aku memeriksa saldo e-wallet-ku di ponsel Clarissa. Nol. Kosong. Clarissa sangat kaya, tapi semua uangnya ada di rekening bank yang aku tidak tahu PIN-nya. Aplikasi ini hanya menerima saldo digital khusus.
Pintu kamar mandi digedor dari luar.
"Non Clarissa! Buka pintunya! Dokter harus memberikan suntikannya sekarang!"
"Pergi!" teriakku, meski suaraku hanya terdengar seperti bisikan parau.
Aku kembali menatap layar ponsel. Ada satu notifikasi baru di keranjang belanja. Seseorang baru saja memasukkan 'Nasib Clarissa Aditama' ke dalam keranjang mereka.
"Ada yang mau beli?" mataku berbinar. "Ayo, beli! Siapa pun kamu, tolong beli!"
Aku melihat profil calon pembeli itu. Foto profilnya... aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Itu adalah Sarah, musuh bebuyutanku di kampus dulu yang selalu menghinaku karena miskin.
"Dia mau jadi aku? Dia mau jadi Clarissa?" aku tertawa kecil di tengah rasa sakitku.
Tapi kemudian aku sadar. Jika dia membeli nasibku sekarang, aku akan berpindah ke mana? Ke nasib Sarah? Sarah yang sehat tapi penuh dengki? Atau aku akan terjebak dalam kehampaan?
[Pemberitahuan Sistem: Calon pembeli sedang melakukan negosiasi harga.]
Sebuah pesan muncul di layar. Itu dari Sarah.
"Clarissa, aku tahu kamu sedang sekarat. Semua orang di lingkaran kita tahu. Aku mau membeli nasibmu hanya untuk satu hari. Aku ingin merasakan tidur di ranjangmu sebelum kamu mati. Deal?"
OBRAL NYAWA TERAKHIR
Aku menatap pesan Sarah dengan sisa kesadaran yang menipis. Dadaku terasa seperti terbakar, detak jantungku mulai tidak beraturan—melompat-lompat liar seperti ikan yang dikeluarkan dari air.
"Satu hari?" gumamku, air mata menetes ke layar ponsel. "Dia cuma mau satu hari?"
Aku mengetik balasan dengan jari yang kaku. Ambil semuanya, Sarah. Ambil selamanya. Aku nggak butuh rumah ini. Aku cuma mau hidup.
[Pemberitahuan Sistem: Pembeli menolak tawaran 'Selamanya'. Pembeli hanya menginginkan 'Paket Wisata 24 Jam'.]
"Sialan kamu, Sarah!" aku mengerang, batuk darah mulai menodai lantai marmer putih. "Tolonglah... beli semuanya..."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi lain muncul. Seseorang sedang melihat-lihat 'Nasib Dina'—nasibku yang asli. Harganya naik lagi menjadi Rp15.000.
"Kenapa harganya naik terus?" aku bertanya pada ruang kosong.
[Pemberitahuan Sistem: Permintaan tinggi. Banyak pengguna 'Tingkat Atas' yang mulai bosan dengan kerumitan hidup mereka dan mencari nasib 'Kosong' untuk memulai kembali.]
Aku melihat daftar orang yang mengincar nasib lamaku. Nama-namanya membuatku sesak napas. Direktur perusahaan teknologi, aktor papan atas, bahkan seorang menteri. Mereka semua ingin menjadi Dina. Dina yang miskin, Dina yang makan nasi garam, tapi Dina yang punya waktu empat puluh tahun lagi untuk hidup.
"Aku mau balik jadi Dina!" teriakku sambil menekan ikon nasibku sendiri.
[Pemberitahuan Sistem: Saldo Anda tidak mencukupi. Saldo saat ini: Rp0. Harga Nasib Dina: Rp15.000.]
"Gunakan aset Clarissa! Jual permatanya! Jual tasnya!"
[Pemberitahuan Sistem: Aplikasi ini hanya menerima transaksi berbasis nilai eksistensial. Harta fisik tidak berlaku.]
Pintu kamar mandi mulai retak. Dokter Hardi dan beberapa penjaga keamanan mencoba mendobrak masuk.
"Clarissa! Jangan konyol! Kamu bisa mati dalam hitungan menit!" suara dokter itu terdengar panik.
Aku mengabaikan mereka. Mataku terpaku pada layar. Sarah masih menunggu. Jika aku menjual 24 jam nasibku pada Sarah, aku akan mendapatkan Rp100 dalam bentuk saldo digital. Itu tidak cukup untuk membeli kembali nasibku.
Lalu aku melihat sebuah fitur di pojok bawah: [Lelang Darurat].
Gadaikan sisa umurmu untuk mendapatkan saldo instan.
Tanpa berpikir panjang, aku menekannya.
[Gadaikan 2 bulan sisa umur Clarissa? Estimasi Saldo: Rp20.000]
"Iya! Ambil saja!" teriakku.
[Pemberitahuan Sistem: Transaksi Berhasil. Saldo Anda: Rp20.000. Sisa waktu hidup subjek: 1 minggu.]
Rasa sakit di dadaku mendadak hilang, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Aku merasa seperti kulit yang kosong. Tapi aku punya uang sekarang. Aku segera mencari 'Nasib Dina'.
"Mana? Mana?!" aku berteriak saat melihat statusnya.
[Nasib Dina: Terjual]
Jantungku rasanya benar-benar berhenti kali ini. "Siapa... siapa yang belinya?"
Aku melihat riwayat transaksi global.
Pembeli: User_99 (Status: Anonim)
Waktu: 2 detik yang lalu.
"Nggak... nggak mungkin..." aku menangis sejadi-jadinya. Aku kehilangan hidupku sendiri karena aku terlalu lambat.
Pintu kamar mandi akhirnya jebol. Dokter Hardi masuk dengan wajah pucat, tapi dia berhenti di ambang pintu. Dia tidak menatapku dengan iba. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat aneh. Dingin dan penuh perhitungan.
Dia mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang sama denganku. Layarnya berwarna hitam pekat.
"Clarissa," suaranya tidak lagi terdengar seperti dokter yang khawatir. "Atau harus kupanggil siapa sekarang? Dina?"
Aku terpaku. "Dokter... Anda tahu?"
"Aku adalah pengembang aplikasi ini, Dina. Kamu pikir dari mana kami mendapatkan stok nasib-nasib mewah ini? Kami membelinya dari orang-orang putus asa sepertimu, lalu menjualnya kembali saat mereka sudah hampir habis."
Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti jelly. "Tolong, Dok... kembalikan nasibku. Aku punya uang. Aku punya dua puluh ribu!"
Hardi tertawa, suara yang sangat kering dan mengerikan. "Dua puluh ribu itu cuma sampah. Kamu tahu siapa yang membeli nasib 'Dina' mu tadi?"
"Siapa?"
Hardi memutar ponselnya, memperlihatkan layar padaku. "Ibumu."
Aku terbelalak. "Ibu?"
"Dia menjual nasibnya sendiri—nasib 'Ibu yang Sabar'—hanya untuk membelikanmu jalan pulang. Dia pikir dengan membeli kembali nasibmu, kamu akan kembali ke rumah. Tapi dia salah satu hal tentang aplikasi ini."
"Apa?" aku bertanya dengan suara tercekat.
"Nasib yang sudah dijual tidak bisa dikembalikan ke pemilik asli tanpa biaya tambahan berupa... jiwa lain."
Hardi melangkah maju, jarum suntiknya kini berisi cairan berwarna hitam pekat, bukan lagi obat bening yang tadi.
"Ibumu sekarang ada di rumahmu yang dulu, tapi dia bukan lagi ibumu. Dia hanyalah cangkang kosong tanpa ingatan. Dan kamu? Kamu masih punya waktu satu minggu di tubuh mewah ini sebelum jantung ini meledak."
Aku mundur hingga punggungku menempel pada dinding wastafel. "Ada satu cara lagi, kan? Pasti ada satu cara!"
"Tentu saja," Hardi tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih. "Jual satu minggumu yang tersisa kepada seseorang yang sangat membutuhkan 'Kematian Mewah'. Harganya cukup untuk memulihkan ingatan ibumu, tapi kamu akan lenyap selamanya. Tidak ada surga, tidak ada neraka, hanya 'Terhapus' dari sistem."
Aku menunduk, menatap layar ponselku yang masih menyala. Di sana, di layar marketplace, sebuah notifikasi baru muncul. Bukan dari Sarah, bukan dari Hardi.
Itu adalah sebuah foto profil yang sangat familiar. Seseorang yang sedang tersenyum sinis di depan kamera ponselnya, bersiap menekan tombol 'Beli' pada sesuatu yang ada di keranjangnya.
Itu adalah wajahku yang asli. Wajah Dina. Tapi di balik matanya, aku melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat gelap.
"Lihat siapa yang menggunakan tubuhmu sekarang, Dina," bisik Hardi di telingaku.
Aku melihat 'Dina' di layar ponsel itu mulai mengetik pesan padaku.
"Barter?" tanya suara dari ponsel itu.