Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seperti biasa, pagi hari enaknya santai di rumah dengan makanan dan minuman yang sudah tersedia di rumah akan tetapi waktu weekend ini hanya bisa di lakukan oleh Kaixa sebagai hiasan untuk kedua pasangan yang sedang bermesraan. Naufal Kaixa Nugraha, nama lengkapnya yang sangat keren akan tetapi namanya tidak sekeren dirinya yang hanya sebagai jomblo ngenes di cerita ini. Walaupun begitu Kaixa---nama panggilan, sangat menikmati hidup ini walaupun tidak punya pasangan akan tetapi ia tidak merasa hidup ini.
Pada waktu ini kedua sahabatnya yang bernama Faiz dan Delta datang ke rumah Kaixa untuk mengadakan makan bersama. Sebagai jomblo abadi ia hanya bisa melihat mereka berdua bermesraan.
"Makanya Kai, lo jangan jadi jomblo terus. Ngenes kan kalau jadi hiasan di rumah lo sendirikan," ucap Faiz mengejek Kai.
"Bener tuh kata Faiz, lo gak mau punya kayak kita kita nih, benar kan sayang," ucap Delta sambil menggoda kekasihnya. Sementara itu Kaixa hanya mengumpat dalam hati nya melihat kedua temannya yang super duper ngeselin ini.
"Sudah gue bilang, gue gak mau cari pacar sebelum gue mencari dan menyayangi adik gue," ucap Kai dengan nada sendu. "Mulai deh, lo melankolis lagi, Kitakan jadi sedih," ucap Faiz yang tersentuh.
"Ih, apaan sih," sahut Faiz lagi yang mendapatkan satu pukulan dari kekasihnya—Mari.
"Jangan cengeng, gue gak suka," ucap Mari tidak suka. Faiz hanya bisa mengusap air mata nya dari sela sela matanya.
Semua menatap Kaixa dengan penuh rasa bersalah sampai akhirnya tidak ada satupun yang berkomentar dan diam dalam pikiran masing-masing. Namun Mari berusaha mencairkan suasana dengan bermanja dengan Faiz.
"Sayang, minta dong?" tanya Mari dengan rayuan mautnya.
Faiz langsung menoleh dan menatap Mari dengan tatapan biasa "Minta apa sayang?" tanya balik Faiz. "Aku mau jalan jalan bosen tahu di rumah Kai terus menerus, apalagi selalu membuatnya sedih," rengek Mari.
"Gimana kalau kita jalan jalan ke puncak," sahut Ranika—kekasih Delta. Semua menatap satu sama lain meminta jawaban yang pasti, "Aku setuju," teriak Mari.
"Gue juga setuju, gimana Kai?" tanya Faiz yang di barengi dengan tatapan Delta kepada Kaixa.
"Ya udah kalau kalian udah pada bosen di sini, kita siap siap saja. Dan untuk hari ini gue yang traktir," ucap Kaixa yang merubah tatapan wajah mereka bertambah sumringah.
Mereka akhirnya bersiap siap untuk pergi ke puncak, kebetulan mereka sekarang ada di rumah Kaixa dan sekarang tinggal duduk manis saja di mobil menunggu sopir pribadi mereka yang sedang mengambil sesuatu.
Rupanya Kai sedang mengambil bunga mawar kesukaan adiknya. Entah apa yang ia lakukan akan tetapi Kai membawanya ke puncak untuk pengganti kekosongan hatinya di kala kedua temannya tengah asik berpacaran.
"Kai! Buruan ke buru malam nanti sampai nya!" teriak Mari yang sudah tidak sabar.
Mendengar teriakkan itu Kai buru buru sadar dari lamunannya dan kembali berlari menuju mobil karena teman temannya sudah lama menunggu. "Sorry lama." Saat di cek rupanya mereka semua sudah ada di dalam mobil bagian belakang.
"Bagus banget kalian, tidak perlu di suruh kalian udah paham ya," ucap Kai seolah menyindir. Akhirnya Kai masuk kedalam mobil dan langsung menaruh bunga mawar itu di sisi kirinya.
"Kita akan jalan jalan adik kecil," ucap Kai seolah olah di samping nya ada adiknya, melihat hal yang dilakukan oleh Kai membuat mereka teramat sedih.
Akhirnya mereka meninggalkan kediaman Kai untuk pergi menuju puncak. Sepanjang perjalanan mereka tidak berhenti mengoceh, bertengkar saling iseng bahkan bernyanyi yang membuat perjalanan hari ini terasa begitu cepat.
Sore berganti malam, akhirnya mereka sampai di puncak malam hari, walaupun suasana malam hari di gunung angin nya sangat dingin akan tetapi tidak menutup kemungkinan rasa kesenangan mereka.
Baik Mari dan Ranika sama sama antusias dengan apa yang mereka saksikan, tiada henti hentinya menjerit-jerit meneriakan nama kekasih mereka masing-masing. Sementara para cowok tengah melihat aksi cewek mereka.
Kai mulai berjalan ke arah tebing di sana sambil memegang bunga yang ia bawa tadi, beberapa kali ia mencium bunga itu seolah olah ia mencium adiknya itu. Dan saat ia sampai di sana ia menjerit sekeras-kerasnya mengeluarkan semua keluh kesah nya.
Merasakan hal yang demikian, kedua sahabatnya mendekati dirinya berusaha menguatkan hati sahabat itu agar tetap tegar. Setelah merasa tenang akhirnya Kai melempar Bunga itu ke tebing sebagai penghormatan terakhir kepada sang adik.
Meratapi kepergian bunga itu di sudahi dengan teriak Kau "Yosya!!! Karena hari ini gue lagi baik hati, kalian boleh main dan makan sepuasnya disini," ucap Kai mempersilahkan.
Ranika dan Mai mulai mencoba permainan malam di sana, sementara para cowok termasuk Kai mempersiapkan makan malam untuk para cewek yaitu bakar jagung.
"Para cewek pada kemana?" tanya Kai.
"Mereka tengah main di sana toh," tunjuk Faiz ke arah itu. Delta dan Kai menatap itu.
"Kok mereka mainnya bertiga harusnya berdua kan," ucap Kai mulai aneh. "Masa sih, mereka mainnya bertiga perasaan berdua deh," ucap Faiz menyakinkan diri.
"Serius gue lihat mereka bertiga, sumpah," ucap Kai lagi dengan menunjukkan tangannya membentuk angka 2.
Mereka berdua baik Delta dan Faiz melihat ke arah yang di mana tempat Mari dan Ranika bermain. Di sana mereka melihat ada sosok orang ketiga di sana di antara mereka. Merasa bulu kuduk mereka berdiri seolah-olah ada kehadiran makhluk halus di sana.
Kai mempercayai makhluk di sana itu ada adik nya. Dan Kai senang akan hal itu akhirnya ia memilih mengabaikan hal itu semua, dirinya memang jomblo abadi akan tetapi ada adik yang selalu ada di sekitar dirinya walaupun sudah berbeda alam.
"Kakak senang, kami bahagia di sana. Semoga kita bertemu suatu saat nanti," ucap Faiz dalam hati.
Mereka melanjutkan aktivitas nya membakar jagung, dan membiarkan mereka melakukan aksinya, sampai akhirnya para cewek menghampiri para cowok "Sayang! Sayang, aku takut," ucap mereka berdua memeluk pasangan masing-masing.
"Ada apa?" tanya Kai.
"Disana ada, sosok cewek yang ikut main sama kami," ucap Mari. Kai terkejut dengan apa yang di samping Mari awalnya itu hanya iseng belaka, ternyata malah menjadi kenyataan.
"Jangan takut, mungkin ia itu adik aku yang ingin main sama kalian. Tapi sebelum itu lebih baik kita makan jagung ini," ajak Kai mengalihkan pembicaraan mereka.
Mereka hanya berteriak kegirangan dan mulai menikmati malam ini, walaupun bukan malam Minggu melainkan malam Senin. Dan juga besok itu adalah waktu sekolah namun mereka tidak menghiraukan yang penting sekarang menikmati malam ini dengan penuh sukacita.
***