Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Akhirnya Joko kembali pada takdir Tuhan dengan satu harapan kecil yang selalu ia bawa dalam hidupnya.
“Semoga Tuhan menempatkannya di tempat yang terbaik.”
**********
Pagi itu, selepas salat subuh, ketika langit Jakarta masih berwarna abu-abu dan suara kendaraan mulai terdengar dari kejauhan, seorang driver ojek online duduk sendirian di seberang musala kecil. Namanya Joko.
Dengan jaket hijau yang sudah mulai pudar, helm yang catnya terkelupas di beberapa bagian, dan sebuah ponsel genggam yang menjadi sumber penghidupannya, ia menatap layar berkali-kali berharap ada satu pesanan masuk.
Jalanan mulai ramai. Orang-orang berangkat bekerja dengan pakaian rapi, membawa tas mahal, dan berjalan cepat seolah waktu adalah sesuatu yang harus dikejar setiap detiknya.
Bagi sebagian orang, Jakarta adalah kota penuh tekanan. Namun bagi Joko, Jakarta adalah tempat yang memberinya harapan.
Bagaimana tidak? Dengan hanya bermodalkan motor tua, helm, dan sebuah ponsel, seseorang masih bisa mencari nafkah. Setidaknya begitulah pikirnya ketika pertama kali memutuskan menjadi driver ojek online.
“Yang penting halal,” begitu kata Joko kepada istrinya ketika dulu mereka berdiskusi tentang pekerjaan.
Istrinya hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Yang penting pulang selamat.”
Kalimat itu selalu teringat dalam pikirannya setiap kali ia menyalakan motor.
“Bang?”
Sebuah suara membuyarkan lamunannya.
Joko menoleh. Seorang pemuda berdiri di sampingnya dengan seragam salah satu restoran mie pedas terkenal.
“Joko ya?” tanya pemuda itu sambil melihat layar ponselnya.
“Oh iya, Mas. Sesuai aplikasi, ya?”
Pemuda itu mengangguk.
Perjalanan pun dimulai.
*********
Pekerjaan menjadi driver ojek online terlihat sederhana bagi orang yang hanya melihat dari luar. Duduk di atas motor, menerima pesanan, mengantar makanan atau penumpang, lalu mendapatkan uang.
Namun, hanya mereka yang menjalaninya yang tahu bagaimana melelahkannya pekerjaan itu.
Bangun sebelum matahari muncul. Berkeliling kota tanpa kepastian. Menahan panas ketika siang datang. Menahan dingin ketika malam tiba.
Kadang Joko berangkat pagi dan baru pulang ketika anaknya sudah tertidur.
“Pak, kapan kita jalan-jalan?” tanya anaknya suatu malam.
Joko yang baru membuka pintu rumah hanya tersenyum.
“Nanti kalau bapak lagi banyak rezeki.”
Anaknya mengangguk polos.
Anak kecil memang belum mengerti bahwa kalimat “nanti” terkadang adalah janji yang paling sulit ditepati.
Di warteg dekat pangkalan, Joko sering berbincang dengan driver lainnya.
“Kerja keras harusnya pendapatan naik, ya,” kata salah satu driver sambil mengaduk kopi.
“Harusnya begitu,” jawab Joko.
“Tapi kenyataannya?”
Mereka tertawa kecil.
Potongan aplikasi, biaya bensin, makan harian, kuota internet, servis motor, sampai kebutuhan keluarga selalu datang bergantian.
Uang yang terlihat banyak di layar aplikasi sering kali tidak sama dengan uang yang tersisa ketika sampai rumah.
“Yang penting jangan lupa bersyukur,” kata Joko.
Temannya tersenyum.
“Lu mah selalu begitu, Jo. Lagi susah masih bisa ngomong baik.”
Joko hanya tertawa.
Baginya, hidup memang tidak selalu memberikan apa yang diinginkan. Tetapi selama masih bisa bangun pagi, bekerja, dan melihat keluarganya makan bersama, itu sudah cukup.
*********
“Duluan, bos!”
Seseorang melambaikan tangan lalu meninggalkan warteg.
Beberapa driver membalas sapaan itu, sementara sebagian lainnya hanya memperhatikan.
“Cepat banget akunnya,” ujar salah satu dari mereka.
“Baru datang, sudah dapat order lagi.”
Yang lain tertawa.
“Pakai HP mahal kali. Kalau punya begitu mungkin orderan juga ikut lancar.”
Tawa kecil memenuhi warteg.
Aroma kentang mustopa, ayam goreng, dan tumis kangkung bercampur menjadi satu. Tempat sederhana itu selalu menjadi rumah kedua bagi para driver.
Di sana mereka berbagi cerita.
Tentang pelanggan yang lucu.
Tentang jalanan yang macet.
Tentang hidup yang kadang terlalu keras.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa hari itu adalah salah satu hari terakhir Joko menikmati suasana tersebut.
**********
Hari berganti.
Aroma makanan warteg yang biasanya membuat perut lapar perlahan tergantikan dengan bau obat dan karbol yang menyengat.
Joko duduk lemah di bangku Puskesmas.
Tubuhnya yang selama bertahun-tahun dipaksa melawan cuaca, debu, dan kurang istirahat akhirnya menyerah.
Batuk yang awalnya dianggap biasa mulai semakin sering datang.
“Bapak harus banyak istirahat,” kata petugas kesehatan.
Joko hanya tersenyum.
“Istirahat itu mahal, Bu.”
Petugas itu terdiam.
Karena ia tahu, bagi sebagian orang, sakit bukan hanya tentang rasa tidak nyaman. Sakit juga berarti kehilangan kesempatan mencari uang.
Seharian berlalu.
Joko belum pulang.
Ia takut istrinya khawatir. Takut dianggap tidak bertanggung jawab. Takut melihat wajah anaknya yang bertanya kenapa ayahnya belum membawa uang.
Ketika hendak mengambil motor di parkiran, sebuah kejadian yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Sebuah motor pasien terparkir terlalu dekat dengan motornya. Joko hanya berniat memindahkan sedikit agar bisa keluar.
Namun, dari sudut pandang orang lain, gerakannya terlihat mencurigakan.
Kesalahpahaman muncul.
Suara tuduhan terdengar.
Orang-orang mulai berkumpul.
Tidak ada yang benar-benar bertanya.
Tidak ada yang benar-benar mendengar.
Semua hanya mengikuti dugaan yang sudah terbentuk.
Dalam hitungan menit, Joko yang selama ini mengantarkan makanan untuk orang lain justru dianggap sebagai orang yang berniat buruk.
Jaket hijaunya yang menjadi simbol pekerjaannya berubah menjadi tanda kecurigaan.
Ia dibawa untuk menjalani proses hukum.
**********
Di balik ruang tahanan, Joko merasakan hari-hari yang berbeda.
Tidak ada suara notifikasi pesanan.
Tidak ada suara mesin motor yang ia kenal.
Tidak ada aroma makanan warteg yang biasa menemani istirahatnya.
Yang ada hanya dinding dingin dan pikiran yang terus berjalan.
Setiap malam ia memikirkan keluarganya.
“Istri makan apa hari ini?”
“Anak sekolah bagaimana?”
“Kalau aku tidak bisa pulang, siapa yang menjaga mereka?”
Pertanyaan itu terus berputar.
Bukan karena ia takut kehilangan kebebasan semata.
Tetapi karena ia takut kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ayah.
Joko selalu percaya bahwa hukum harus menjadi tempat mencari keadilan.
Namun, ia juga tahu bahwa manusia sering kali terburu-buru memberikan penilaian.
Kadang seseorang dihukum bukan karena kesalahannya, tetapi karena keadaan yang tidak berpihak kepadanya.
**********
Hari demi hari berlalu.
Kondisi Joko semakin menurun.
Tubuh yang dahulu kuat mengelilingi jalanan Jakarta kini semakin melemah.
Teman-teman drivernya mendengar kabar tentang keadaan Joko.
Mereka datang.
Bukan sebagai pelanggan.
Bukan sebagai rekan mencari orderan.
Tetapi sebagai sahabat yang ingin memastikan bahwa Joko tidak sendirian.
“Jo, sabar ya,” kata salah satu temannya.
Joko tersenyum kecil.
“Jaga keluarga saya kalau saya belum bisa pulang.”
Tidak banyak kata yang keluar.
Tetapi semua orang memahami maksudnya.
**********
Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha. Selebihnya adalah keputusan Tuhan.
Joko pergi meninggalkan dunia yang selama ini terlalu sibuk mengejar waktu.
Tidak ada lagi suara kendaraan.
Tidak ada lagi notifikasi pesanan.
Tidak ada lagi rasa lelah setelah seharian berada di jalan.
Di bawah rintik hujan, teman-teman seperjuangannya berdiri mengantar kepergian Joko.
Mereka tidak lagi berkumpul untuk membicarakan jumlah orderan.
Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.
Seorang driver yang selama hidupnya mengantarkan kebahagiaan kecil kepada banyak orang, kini akhirnya mendapatkan tempat untuk berhenti.
Ribuan kilometer telah ia tempuh.
Ratusan malam telah ia lewati.
Banyak luka telah ia simpan sendiri.
Dan setelah semua perjalanan panjang itu, Joko akhirnya bisa istirahat.
**********
Joko kembali pada takdir Tuhan dengan satu harapan.
“Tuhan itu Maha Baik. Semoga Tuhan menempatkannya di tempat yang terbaik.”