Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku menikmati sensasi membobol rumah asing dalam sunyi dan tak terlihat. Namun, aku benci ketika aksiku tidak berjalan sebagaimana keinginanku. Karena itulah kuukir linggis karatan kesayangan dengan tulisan: “pembawa keberuntungan”.
Waktu favoritku tepat jam dua pagi. Bukan jam tiga, karena para peronda berkeliling di jam segitu. Jam dua paling pas. Tidak terlalu awal. Tidak terlalu pagi.
Segalanya selalu kupersiapkan dengan cermat. Aku memantau rumah targetku hampir setiap hari hingga berminggu-minggu. Bahkan, aku sering menyewa seseorang sebagai mata-mata, menyamar jadi pembantu pura-pura. Termasuk malam ini.
Di balik pohon mangga bersemut, bermenit-menit aku menanti waktu terbaik. Kulirik jam digital KW di lengan: dua-nol-nol. Kututup wajah dengan topeng wol kusam. Inilah saatnya.
Rumah bertingkat dua di hadapanku minimalis. Pekarangannya luas, bisa menampung dua mobil. Kupandangi rumah itu, yang katanya menyembunyikan seonggok harta.
Itu benar. Aku tidak mengada-ngada. Ada sekotak perhiasan di sana. Sepupuku, N, sudah membuktikannya. Aku tak ingat pasti kapan tepatnya. Tapi aku memilih rumah itu karena pemiliknya: seorang langganan di lokalisasi tempat N jadi primadona.
Gosip tentang laki-laki itu sampai padaku. Tentang pekerjaannya, rumah bagusnya, semuanya. Bahkan sampai tentang istrinya yang sakit-sakitan. Berbekal itu, aku menyuruh N melamar jadi pembantu gadungan di sana.
N diterima tanpa kendala. Dalam waktu kurang dari sebulan, dia berhasil memberiku pegangan demi keberhasilan proyek ini. Masih kuingat tawa sumbang N saat kujanjikan jatah lebih atas dedikasinya. Bodoh. Mau-maunya dia percaya.
Mataku menyisir sekitaran, memastikan situasi aman. Tampak bulan purnama berwarna aneh: merah seperti disiram selai stroberi. Aku mengernyit tak peduli, lalu melangkah ringan. Kuraba dinding pagar beton, menyusurinya menuju titikku memanjat. Setibanya di sana, aku mendongak, memilih dahan pohon mana yang cocok untuk kupijak.
Aku mulai memanjat. Mudah bagiku untuk menjajaki pagar beton. Namun dahan yang kuinjak patah. Aku tergelincir, tapi sigap mencengkeram dahan lain yang lebih kokoh. Kuatur napas sambil mengernyit. Kejadian ini seolah pernah kualami. Berdetik-detik aku berusaha mengingatnya, tapi tak dapat. Maka aku turun sambil tak mau memikirkannya.
Aku tiba di depan jendela sebelah pintu belakang. Bentuknya memanjang dengan kosen kayu kokoh. Kupejam mata. Kuelus sisi-sisinya. Teksturnya tak terasa karena jemariku berlapis sarung tangan kuli.
Ini dia. Sensasi yang kunanti mulai menguasai tubuhku. Dadaku sesak. Sekujur wajahku panas. Kugenggam erat linggis. Kutarik napas dalam-dalam. Lagi. Aku butuh sensasi ini lebih intens lagi.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Detik ketiga puluh, kubuka mata. Waktunya beraksi.
Dengan cekatan, kusisipkan ujung linggis pada sela jendela—tepat pada lokasi cantolan pengunci. Aku mencungkil jendela itu dengan hati-hati, meminimalkan bunyi. Saat celahnya melebar, kuambil obeng pipih dari saku, mengarahkan ke lubang pengunci, lalu mengetuk pangkalnya dengan linggis. Cantolan pengunci copot nyaris tak terdengar.
Jendela terbuka.
Kumasuki rumah itu. Kutarik napas dalam-dalam agar fokus. Seketika tercium aroma pekat selai stroberi. Sontak aku berbalik badan. Kudorong jendela dan menyembulkan kepala keluar. Kuhirup dalam udara segar, mengenyahkan sisa aroma manis pembuat mual.
Berdetik-detik berlalu hingga rasa mualku lenyap. Pikiranku kembali jernih. Dalam remangnya dapur, otakku mengingat denah seadanya pemberian N. Aku mengerjap, membiasakan mata dalam cahaya minim, lalu melangkah pelan.
Dapur dan meja makan terlewati. Aku tiba di ruang tengah. Di depan susunan sofa dan meja kopi, TV besar berdiri pada sebuah rak, dikelilingi bingkai-bingkai foto. Aku tergerak mengintip salah satunya, sebagaimana kebiasaanku demi menambah pacuan adrenalin.
Kuambil sebuah bingkai. Berkat cahaya dari sela-sela ventilasi, aku bisa melihat fotonya meski kurang jelas. Potret keluarga bahagia—ayah, ibu, dan putrinya. Aku meringis menyaksikan senyum merekah di wajah mereka.
Dadaku nyeri. Refleks kuremas ujung bingkai itu. Nyaris aku melemparnya kalau saja tak mengingat tujuanku ke sini. Setelah mendesah agar lebih tenang, aku meletak bingkai itu seperti sedia kala.
Sepeninggal dari sana, tangga menyambutku. Kupandangi bordes yang diterangi lampu kuning kecil. Tangga ini satu-satunya menuju lantai dua. Jika hal buruk terjadi, aku hanya bisa kabur lewat sini. Tapi aku tak gentar. Aku tak perlu kabur kalau mengikuti rencana.
Langkahku ringan saat menyusuri tangga. Meski si pemilik rumah pergi sekitar jam sepuluh tadi, aku tetap mengawasi ujung tangga. Aku tak boleh lengah. Segalanya harus sempurna.
Aku bergeming di ujung tangga. Kutengok kanan, di sana ada pintu yang mengarah ke kamar si anak. Lalu aku berpaling ke kiri, menatap pintu yang agak lebar.
Di sanalah hartaku berada.
Kudekati pintu itu. Tanganku hendak menyentuh handelnya, saat suara langkah samar membuatku bergeming. Sigap aku menoleh dan seketika terbelalak. Anak itu berdiri di sana, di ujung tangga, menatapku dengan mata membesar dan mulut menganga.
Aku tak sempat berpikir. Tubuhku bergerak berdasarkan naluri. Langkahku besar mendekatinya. Tanganku mengabah meraihnya. Anak itu tak sempat berteriak karena aku mencengkeramnya dan membekap mulutnya.
Dia gemetaran, berusaha berontak, tapi segera kuredam dengan mencengkeramnya lebih erat. Dia memukul-mukul lenganku. Tak terasa. Di tengah usaha tak berguna itu, kuperhatikan wajahnya dan terhenyak.
Riri …?
Aku tak percaya. Wajahnya persis putriku.
Dia Riri, kan?
Bukan.
Tapi wajahnya mirip ….
Tak mungkin. Riri kan sudah ….
Genggamanku mengendur. Pikiranku melayang. Namun rasa nyeri membuatku sadar. Aku terbelalak saat anak itu melompat menjauh dan tergelincir. Tanganku refleks hendak meraihnya, tapi kalah cepat.
Tubuh kecil itu meluncur. Kepalanya menyambar dinding sebelum tergeletak di bordes. Kusaksikan segalanya tanpa berkedip. Rahangku mengeras. Anak itu tak bergerak. Muncul cairan merah terang menggenangi sekitar kepalanya.
Pikiranku kosong. Perasaan aneh ini muncul lagi. Aku benar-benar merasa pernah mengalami situasi ini. Apa aku sudah tak waras?
Tidak. Sekarang bukan ini yang penting, tapi anak itu.
Seolah ada letupan dalam otakku, aku tersadar dengan insting mengambil alih. Kulompati dua anak tangga sekaligus. Nyaris aku tergelincir, tapi tanganku sigap menyambar susuran tangga.
Aku berlutut di sampingnya. Otakku nanar memandanginya dalam sorotan lampu kuning. Cairan merah itu mulai menggenangi lututku. Kusentuh ia dengan ujung jari dan merasakan teksturnya: selai stroberi.
Aroma manis sontak menguar. Aku mual dan refleks bertolak. Namun mata nanarku tetap menatap wajah anak itu. Tanpa sadar aku mendekat lagi. Tangan bergetarku mengabah untuk menyentuh pipinya. Tapi tak jadi. Logikaku menepisnya.
Dia bukan Riri. Dia anak yang tersenyum di foto tadi.
Tanganku mengepal erat. Mengapa aku begini? Apa aku merasa bersalah? Tidak. Bukan salahku dia jatuh. Tapi salahnya karena keluar dari kamar nyamannya. Ya. Salahnya karena melompat hingga tergelincir.
Kewarasanku kembali, tapi carian itu mengalir ke arahku. Aku termundur. Cairan merah itu mengejar seolah ingin menelanku. Aku tercekat saat tekstur lengketnya menyelimuti kaki, pinggang, dan menjalar cepat ke leher.
Mulut dan hidungku terbekap. Aku sulit bernapas. Satu detik. Dua. Detik ketiga, dengung seketika muncul. Semakin lama kian keras. Aku meringis. Mataku terpejam saat cairan itu hampir menelanku. Tapi kosong. Tekstur lengketnya tak lagi terasa.
Kubuka mata. Pemandangan familier menyambutku. Bau manis berganti apak. Derit kipas nyaris lepas menggantikan dengung. Dan yang paling mengganggu, adalah anak yang terbaring di kasur tipis itu.
Aku mengerjap, mengucek mata, berusaha mengenyahkan keganjilan ini. Tapi pemandangannya tak berubah. Tetap membuatku terkejut. Tetap membuatku tak bisa menahan air mata. Kini kuyakin kalau dia Riri. Tapi seharusnya ini tak mungkin terjadi. Ini sudah pernah terjadi. Saat segalanya tak berjalan dengan sempurna.
Riri tak bergerak. Tak bernapas. Aku tahu itu. Tapi tangan gemetarku bergerak sendiri, menuju pipinya dan mengelusnya. Kulit putriku sedingin es dan lebih kaku dari batu. Bahkan air mata tak sanggup membuatnya lembut seperti semula.
“Riri …. Nak …. Maafin Ayah. Kalau Ayah tak terlambat waktu itu. Kalau semuanya sempurna. Kamu …. Kamu ….”
Riri tak menjawab. Aku tahu itu. Tapi aku tak perlu jawaban. Aku perlu dia kembali. Dia yang tersenyum polos saat kuberi roti selai stroberi kesukaannya. Dia yang tak mengeluh walau tahu ayahnya seorang maling.
Aku mau memeluknya sambil mendongengkan kisah payahku menjelang tidur. Aku mau melihatnya tumbuh cerdas seperti ibunya. Aku mau ….
Derik kipas kian mengganggu. Kian keras seolah baling-balingnya akan lepas dan menghantamku. Dengung muncul lagi. Lebih nyaring. Kututup telinga. Bagian-bagian pikiranku seolah berhamburan.
Cahaya putih terang sekelabat menyergap. Aku memejam, menunduk, lalu suara itu muncul. Panggilan cemas familier. Pikiranku yang berkecai perlahan tersambung kembali. Rumah yang jadi targetku. Anak yang jatuh itu.
Ya. Seharusnya dia yang terbaring di sini, bukan Riri. Maka aku mengintip, tapi dia tak di sana. Tidak anak itu. Tidak juga Riri.
Ke mana dia?
Cahaya itu masih menerangi wajahku. Kali ini sorotannya tak stabil. Suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat. Apa yang punya rumah pulang? Apa aku ketahuan?
Lalu suara itu memanggilku lagi. Lebih jelas kali ini. Itu memang suara N. Dia seharusnya tak perlu ke sini. Aku meringis. Apa dia sudah gila?
Namaku dipanggil lagi, sementara langkah itu berhenti.
“Ayo pulang,” katanya.
Aku melirik sepatu N, lalu beralih ke sesuatu yang dia sodorkan padaku: roti selai stroberi. Aku tak peduli, terus beralih ke wajahnya. Ekspresi N tak bisa kupahami. Dia tersenyum, tapi tak terlihat bahagia. Lama aku memandangi wajah itu, hingga akhirnya aku sadar. Tidak ada bordes, aroma manis, maupun lampu kuning kecil di sini.[]