Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Jika Mencintaimu Dilarang, Aku Masih Bisa Menciummu di Bawah Payung
0
Suka
1,230
Dibaca

Dominic Sahid—Niko: Aku telah terbiasa hidup dalam susah payah, sendiri derita. Namun, yang satu ini sungguh luar biasa meleburkanku menjadi abu: perginya Kattleya, tanpa pamit, tanpa aba-aba. Padahal, kukira, Kattleya memiliki perasaan yang sama—atau paling tidak, serupa. Ketika bertemu lagi, dengar-dengar, Kattleya sudah menikah. Kehidupan apa yang dia jalani sampai harus menikah di usia 18 tahun?

Kattleya: Apa dia masih tidak mengerti, padahal aku pergi di hari pertunangannya? Aku membawa perasaanku menjauh, menyembunyikannya. Begitu bertemu lagi, aku sadar, ternyata, selama ini, aku merindukannya.

*

Kattleya mencintai Niko, tapi, Sunny Sahid—anak 'majikan' papanya juga menginginkan pria itu. Akibatnya? Kattleya selalu dipukuli, papanya menyuruhnya untuk tahu diri.

Dominic pun mencintai Kattleya, tapi, Sunny adalah adik tirinya. Dominic tidak mungkin mengkhianati keluarga Sahid yang telah mengubah nasibnya dari sebatang kara miskin, menjadi CEO perusahaan rokok terbesar di negeri ini.

*

"Dia minta disuntik mati. Dia bahkan menolak diselamatkan jika dirinya mengalami henti jantung."

Chapter 1: Rahasia yang Dibawa Kattleya Ke Mana-Mana

“Kamu ngapain, sih? Minggir!” Gadis berpakaian pelayan memberi perintah, setelah Dominic tiba-tiba masuk ke kabin suite ini, lalu mengunci pintu, saat dirinya sedang membersihkan ranjang, karena sekitar satu jam lagi, Moon Cruise ini bersandar di Benoa Bali setelah tiga hari mengarungi lautan.

Dominic Sahid berjalan ke arah jendela kabin, membuat kening Kattleya mengerut dan ketika pria itu melempar kuncinya ke laut lepas, Kattleya memekik histeris. “Nik! Gila, ya?”

Niko tersenyum senang, menyadarkan bokong pada panel di bawah jendela, menikmati ekspresi Kattleya. “Aku gila karena menemukanmu, Le,” aku Niko sambil menahan senyum. “Gimana bisa kita ketemu di sini? Padahal, setahun ini aku mencari kamu ke mana-mana dan nggak ketemu.”

Sebentar, Kattleya diam, menakar kesungguhan dalam kata-kata Niko. Lantas, dia berpaling, menatap hitam malam di luar jendela. Tak lama, dia menatap telepon pararel di nakas samping tempat tidur, menerjangnya. Namun, kakinya tidak lebih panjang dari kaki jenjang Niko, jadi, dia kehilangan telepon itu karena Niko merebut, memasukkan ke laci nakas dan memutar kuncinya, memasukkan batang logam itu itu ke saku celana.

“Nik!”

Niko terkekeh, gemas sekali melihat marah di wajah cantik itu—setelah sekian lama tidak.

Tidak habis akal, Kattleya berlari kecil ke arah pintu, kemudian dia menggedor-gedor dari dalam. “Buka! Siapa pun, tolong buka. Ada orang aneh di sini! Aku—“

Upayanya terpangkas oleh genggaman Niko di tangannya. Niko menarik tangan itu hingga Kattleya menghadapnya, lantas dengan suara dan tatapan lembut itu, Niko berkata, “Serius, kamu nggak kangen aku, Le? Aku menyesal kehilangan kamu, jadi, percuma kamu berusaha kabur lagi—nggak akan bisa.”

Dalam jarak sedekat itu, tertawan wajah tampan itu, Kattleya beku menatapnya, sembari menyadari, Niko tidak berubah, termasuk aromanya. Aroma vanilla-musky yang lembut dan maskulin sekaligus—aroma yang dia rindukan.

Perlahan, Kattleya mengendurkan tangannya dari genggaman pria itu, menundukkan tatapannya, menyerah.

“Jadi, bisa kita ngobrol, Le?”

#

Pelayan lainnya mengetuk pintu, lalu masuk mendorong troli makanan, menyuguhkan minuman dan camilan. Niko yang pesan, tentunya, setelah yakin, Kattleya tidak akan melarikan diri darinya—lagi.

Pelayan itu sempat melirik Kattleya yang berpakaian sama sepertinya, tapi, kenapa dia di sini? Bersama Dominic Sahid. Pelayan itu tersentak mendapati Niko memandangnya tajam, kemudian buru-buru pamit pergi.

“Kamu ke mana saja?” tanya Niko, mengangkat gelas miliknya dari meja, meminumnya. Keduanya duduk berhadapan di sofa dengan meja rendah di tengah-tengah.

Kattleya tidak langsung menjawab. Dia mengambil gelas bagiannya, lantas berdiri, membawanya menatap pemandangan malam hari dari jendela kapal pesiar, memunggungi Niko. “Nggak ke mana-mana, cuma menenangkan diri.”

“Karena aku bertunangan?” Niko berdiri, melangkah santai menghampiri cinta pertamanya itu.

Kattleya meneguk minumannya, cuma sedikit, sisanya ditaruh ke atas panel bawah jendela. “Gimana kabar Sunny?” tanya Kattleya, mengalihkan pembicaraan. Haruskah dibahas soal alasannya pergi? Tidak usah dijawab pun, Niko pasti bisa menebaknya. Kattleya tahu, Niko hanya berusaha memastikan.

“Jangan bahas dia.”

“Kamu yang mulai.”

Mereka bertatapan. Dua pasang mata yang lama tak bertemu. Senyum terbit di bibir keduanya, mencairkan canggung, pada akhirnya.

“Aku harus kerja lagi, Nik. Kamu langsung ke Jakarta?”

“Aku ikut kamu saja.”

Dahi Kattleya mengernyit.

“Kamu nggak berniat menjauh lagi dari aku, kan?”

“Kenapa aku harus menjauh?” Gadis itu tertawa kering, menyembunyikan gusar hatinya yang mungkin kentara, dari pertanyaan baliknya.

“Karena aku menyakiti kamu.”

Kattleya tertawa lagi. “PD banget, sih? Kebetulan momennya pas saja. Aku memutuskan pergi dan kamu tunangan.” Lagi, Kattleya mengelak, dari pembahasan ini, juga dari perasaannya sendiri. “Sudah, aku masih harus siap-siap.”

Kattleya berbalik, tapi, Niko merengkuh bahunya dari belakang, memeluknya erat. “Diam sebentar seperti ini, Le. Aku kangen kamu.”

Dalam dekapnya, tubuh Kattleya menegang. Namun, hatinya tak bisa menyangkal, bahwa dirinya pun mendambakan pertemuan kembali, setelah lelah sendiri memikul rahasia di pundaknya, ke mana-mana.

#

“Cowok tadi, siapa?” Pelayan yang tadi mengantarkan makanan untuk Niko dan Kattleya, menyeret koper seperti Kattleya, menyeimbangi langkahnya, lalu menyikut Sang Gadis, penasaran ingin tahu. Dia teman baru Kattleya, baru kenal di atas pesiar. Kattleya tidak bekerja tetap di pelayaran, hanya sesekali. Jika ada job yang waktunya cocok dengan jadwal sekolah.

Kattleya menunduk, menyembunyikan senyum, membuat temannya tambah penasaran. Namun, pada akhirnya, karena tidak bisa menahan buncah di dadanya, Kattleya menceritakan semuanya di pesawat.

“Dia cinta pertamaku. Namanya, Niko.”

“Kalian nggak sengaja ketemu?”

“Ya, kami baru ketemu lagi setelah setahun. Aku yang menghilang darinya, setelah dia tunangan.”

Temannya menepuk-nepuk pundak Kattleya, menunjukkan empati.

Kattleya menyentuh telapak tangan di pundaknya itu, tersenyum ikhlas. “Gapapa, kok. Sejak awal, dia memang ditakdirkan untuk orang lain.”

“Tunangannya?”

Kattleya mengangguk. “Kamu tahu? Tunangannya adalah putri dari keluarga pemilik perusahaan rokok terbesar di negeri ini. Dia temanku sejak kecil—meski nggak bisa dibilang teman juga, sih, karena awalnya, Papa yang menyuruhku dekat-dekat dengannya supaya aku ketularan kaya.” Kattleya tertawa miris, lalu, tatap berubah menerawang, mengenang semua itu.

Jordan, papa Kattleya, adalah teman SMA Ivory Sahid, Nyonya dari keluarga kaya itu. Sebenarnya, Ivory hanya menganggap Jordan adalah benalu, tapi, Jordan tidak peduli dan terus menempel padanya.

Sunny, putri tunggal keluarga itu, selalu menyukai Kattleya, tak peduli apa pun kata orang. Dia selalu mengajak Kattleya main, ke kantin bersama hingga memohon pada Jordan agar Kattleya tinggal bersamanya saja dalam singgasana istananya.

Tentu saja, Jordan mengizinkannya. Sambil mengusap-usap tangan seolah tangannya gatal, dia meminta ikut tinggal di sana juga. Jadilah, suatu hari, keluarga Sahid resmi memelihara parasit di rumahnya.

Kattleya tidak betah dan selalu berusaha kabur, tapi, Jordan selalu bisa menarik kerah belakangnya, menahannya untuk tetap tinggal. Kata Jordan, miskin boleh, bodoh jangan.

Malam itu, waktu Kattleya muntah-muntah karena dipaksa mencicipi ikan mentah—sashimi, datanglah seorang anak laki-laki sepantaran dengannya, duduk di sebelahnya, memijat-mijat leher Kattleya agar gadis itu dapat memuntahkan semua isi perutnya hingga lega.

Dialah Dominic, yatim piatu yang baru dipungut oleh Ray Sahid, ayah Sunny, sekaligus pemilik kerajaan Sahid. Orang-orang bilang, Niko adalah anak hasil perselingkuhan Ray, tapi, tes DNA tidak menunjukkan seperti itu.

Niko adalah anak sebatang kara paling beruntung di dunia karena dia yang akan menjadi pewaris kerajaan bisnis, alih-alih Sunny. Kenapa? Tentu saja, karena Sunny perempuan. Guru Spiritual Ray Sahid bilang, kerajaannya akan lebur di tangan perempuan, jadi, Ray tidak ingin mengambil resiko itu.

Manusia di bumi yang paling tidak terima dengan keputusan itu ialah Ivory, ibu kandung Sunny. Segala jalan telah ditempuh untuk merebut mahkota pewaris, tapi, satu-satunya cara yang tersisa hanyalah, menjadikan Niko sebagai menantu. Terdengar ruwet, tapi, Ray Sahid menyetujuinya, sebagai tebusan dari rasa bersalahnya kepada darah dagingnya, Sunny.

Sunny sendiri, tidak pernah menganggap Niko sebagai kakak laki-laki. Sebagai sosok yang selalu melindungi dan menemaninya, praktis, Sunny jatuh kepadanya. Namun, dirinya tidak sampai terobsesi, hingga suatu hari, dia melihat Kattleya sangat bahagia bersama Niko, kemudian, perasaan iri muncul di dalam hatinya.

“Di sini, orang lain sebenarnya adalah Niko, bukan Sunny. Tapi, Ray Sahid menjadikannya sebaliknya. Dia orang tua yang kejam, bukan?”

Temannya mengangguk setuju. “Jadi, kamu merelakan Niko untuk Sunny?”

Kattleya mengendikkan bahu. “Itu alasanku pergi di hari pertunangan mereka.”

“Terus, tadi, Niko bilang apa?”

“Dia memintaku menunggunya di bandara.”

“Terus?” Temannya mencodongkan tubuh ke arah Kattleya, berharap Kattleya akan mengatakan hal-hal sesuai harapannya. “Kalian memutuskan bersama?”

Mengibaskan tangan, Kattleya tertawa. “Nggak. Nggak mungkin.”

“Kenapa?” Temannya tampak kecewa. “Kalian serasi!”

Bibir Kattleya terasa getir saat dirinya berusaha tersenyum dalam percakapan ini. “Apa boleh? Apa boleh aku bahagia?”

#

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Niko terus melirik arloji di pergelangan tangannya, berulang kali memeriksa sekitar, berharap menemukan wajah yang sangat dia kenal.

Pesawat Kattleya harusnya sudah mendarat 35 menit yang lalu, sementara Niko telah menunggu sekitar satu jam. Bodohnya dia, tidak meminta nomor ponsel gadis itu. Pikirnya, di Jakarta mereka akan bertemu, tapi, apa ini?

Cowok itu memandang paper bag di tangannya, tak sabar ingin memberikan jepit rambut untuk Kattleya yang dibelinya di toko pernak-pernik bandara ini. Dia sengaja membelinya, karena sewaktu di kapal pesiar, Niko lihat Kattleya cukup terganggu dengan poni rambutnya.

Akan tetapi, ditunggu sampai matahari terbit dari selatan pun, Niko tidak pernah melihat Kattleya. Pun hari-hari berikutnya, Niko gagal menemukannya di mana pun, seolah gadis itu lesap di perut Bumi.

#

Dua hari kemudian....

Di depan cermin, sesosok bayangan diri terpantul: Kattleya, mengenakan topi, kacamata hitam dan syal hitam semuram dirinya. Orang gila mana, berpakaian seperti itu, di negeri tropis ini?

Seseorang keluar dari bilik toilet di belakangnya dan ketika orang itu mencuci tangan di sebelahnya, Kattleya berpaling menyembunyikan wajah karena orang itu menatapnya keheranan.

Pasca pergi orang itu, tersisa diirnya sendiri di toilet, perlahan, Kattleya mengendurkan lilitan syal, melepas topi dan kacamata hitam. Tampaklah lebam-lebam biru di sudut bibir dan bawah matanya. Dia bahkan belum bisa makan karena sepertinya, gusinya robek hingga terasa sakit sekali setiap mencoba membuka mulut.

Kemarin, sewaktu menunggu Niko di lobi bandara, seseorang berjaket kulit menodongkan pisau ke arahnya, mengancamnya untuk naik minibus yang terparkir di sana. Kattleya terpaksa patuh, karena di kiri-kanannya dia pun melihat orang-orang suruhan papanya itu, mengepungnya.

“Siapa bilang kamu bisa kembali, Le? Sudah Papa bilang, pergilah yang jauh dan jangan pernah berpikir untuk kembali!”

Jordan, papanya, yang menyuruh orang-orang itu. Tak cukup mengancamnya, dia pun menyeret Kattleya memasuki gedung kosong dan menganiayanya di sana, hingga kondisinya menjadi seperti sekarang.

Apa yang Jordan takutkan dengan kembalinya Kattleya? Tentu saja, dia takut Sunny dan Ivory marah karena dirinya dianggap tidak becus mendidik anak. Setelah tahu Kattleya menyukai Niko, sepasang ibu dan anak itu melakukan segala macam cara untuk memisahkan keduanya.

#

“Apa ini?” Ivory melempar beberapa lembar foto ke wajah Niko, membuat cowok itu menunduk untuk melihat apa yang Ivory ributkan.

Ternyata, dirinya dan Kattleya. Terpampang jelas di sana, saat dirinya di restoran kapal pesiar, sedang memperhatikan Kattleya yang mengantar makanan. Bahkan, saat Kattleya masuk ke kamar kabin lalu Niko mengikutinya, semuanya tertangkap kamera. Semuanya pasti perbuatan Barbara—asisten pribadi Ivory yang kini berdiri di belakang nyonyanya itu, di ruang kerja ini.

Niko mendecih, menekan ujung lidah ke gusi. “Mama menguntitku?”

Ivory mengangkat bahu. “Apa bisa dibilang menguntit? Aku cuma mengawasi anjing peliharaanku yang tampaknya sudah mulai memberontak.”

“Aku cuma menemuinya. Apa salahnya?”

“Kenapa Sunny tidak diberitahu?” Ivory membentak. “Kamu lupa? Sunny juga sahabatnya. Jika tidak ada apa-apa di antara kalian, kenapa harus disembunyikan dari Sunny? Kenapa cuma anakku yang terlihat bodoh dan tidak tahu apa-apa?”

Niko tampak ingin mengatakan semuanya, tapi akhirnya, dia hanya meletakkan semua foto itu ke atas meja, lalu pergi begitu saja. Ivory memandanginya dari belakang, berkata kepada asistennya, Barbara, “Tetap awasi dia. Sedikit saja dia melewati batas–kau tahu apa yang harus dilakukan, kan? Tidak perlu menunggu perintahku.”

#

Kattleya melepas kemeja sekolahnya, menggantungnya di paku yang menancap di tembok depan kamar mandi, menukar pakaian dengan setelan celana hitam dan kaos polo berlogo perusahaan minimarket tempatnya bekerja paruh waktu.

Selagi mengancingkan kerah kaosnya, dia berhenti, sesaat memandangi foto besar seukuran dinding. Itu dirinya, mengenakan gaun pengantin, bersama seorang pria berdiri di sebelahnya—suaminya. Dia meneruskan langkah keluar rumah, menyimpan tekadnya untuk melakukan sesuatu pada foto tersebut.

Kattleya mengunci pintu lalu berjalan di lorong lantai tiga rumah susun. Pukul dua siang, melintasi lapangan yang berada di tengah-tengah bangunan, dia mengangguk ramah, menyapa sepasang kakek-nenek duduk di bale, meneduh dari sengat matahari di bawah pohon mangga. Mereka adalah tetangga sebelah unitnya, tempatnya saling berbagi masakan. Setiap kali ada promo Buy 1 Get 1 Free di minimarket, Kattleya selalu memberi satu gratis untuk mereka.

“Berangkat, Mbak Le?” sapa satpam di depan pos jaga, dengan baling-baling kipas mini berputar di tangan.

“Iya, Pak,” balas Kattleya.

“Tuh, udah dijemput.” Satpam itu menunjuk dengan dagu ke arah cowok berseragam SMA yang bersandar menunggunya di depan Ducati Dessert.

Cowok itu tersenyum semringah, melambai riang, tapi Kattleya malah membeku, menahan napas.

“Kuantar?” Niko menunjukkan helm di tangannya, mengangkat kedua alis dengan jenaka.

Jeda di antara kedua alis Kattleya mengerut, kesal. Tanpa ba-bi-bu, dia melewatinya, kedua tungkai kaki melangkah lebar-lebar. Niko mengejar. Cowok itu bertanya Kattleya mau ke mana, tapi karena wanita itu mengabaikannya, jadi, dia gegas menaruh helm ke atas motor besarnya, berteriak kepada satpam untuk menjaga motor itu untuknya, lantas berlari menyusulnya.

“Kamu mengorek informasi tentangku? Dominic Sahid tampaknya bisa melakukan apa pun yang dia mau, ya?” Kattleya mendumel sambil terus berjalan cepat, sementara Niko tergopoh-gopoh menyamai langkahnya. Niko tak tahu, Kattleya bersusah payah melupakan pertemuan di kapal pesiar karena setelah vonis menyerangnya, Kattleya berpikir segalanya benar-benar tidak mungkin.

“Kenapa kamu pergi begitu saja? Aku menunggu seharian di bandara.”

“Kamunya saja bodoh! Kalau aku nggak datang-datang, itu artinya, aku nggak mau ketemu!”

“Tapi, kamu sudah janji nggak akan pergi lagi, Le!”

Kattleya berhenti, sembari setengah mati menahan kaca bening di bola mata agar tidak pecah berhamburan. Dia harus mulai dari mana? Tentang Jordan yang menyuliknya atau tentang anggrek beracun di dalam tubuhnya? Gadis itu mengerang frustrasi, merasa tidak ada yang cukup baik untuk dijadikan alasan.

Akhirnya, Kattleya meneruskan langkah yang pendek-pendek, tapi semakin cepat, meninggalkan Niko yang termegap, ingin bicara, meski kehabisan kata. Niko berlari menyusul lagi, tapi kemudian sebuah motor pengemudi ojek daring datang. Kattleya naik lantas pergi. Sebentar, Niko kebingungan. Dia berpikir apa seharusnya dia mengejarnya? Ah, benar, motor! Cowok tegap-jangkung itu berlari mengambil motornya di depan rusun.

*

Tukang parkir minimarket yang tak hentinya mengagumi motor Niko, memberanikan diri duduk bersama pria itu di meja minimarket, berbasa-basi menyapanya dan mulai mengobrol. Kattleya di dalam, sedang mengelap pintu kaca, geleng-geleng kepala memerhatikan keduanya.

“Pulang sekolah, Mas?” tanya tukang parkir, diam-diam mengagumi penampilan remaja seusia itu yang tampak sangat tajir hingga terasa tidak nyata.

Niko mengangguk, meringis sungkan.

“Sekolah di Foxstrot?” Semua orang tahu seragam SMA Foxstrot, sekolah orang-orang borjuis bertema internasional.

Niko mengangguk lagi, tapi, tiba-tiba, dia mendapat ide. “Mas sudah lama jaga di sini?”

“Wah, sudah, Mas. Dari SD. Sampai sekarang, saya sudah punya anak lima. Gacor nggak, Mas?” jawabnya, menepuk-nepuk dada, berbangga diri.

Niko meringis lagi. Lalu, dia melirik Kattleya sekilas, mencodongkan kepala ke arah tukang parkir itu, bertanya, “Mas kenal sama Mbak itu?”

Tukang parkir menengok ke arah lirikan Niko, kemudian langsung paham. “Ah, Mbak Le? Kenal banget, Mas! Dia itu satu-satunya anak magang di sini. Dulu, dia masuk sini setelah mohon-mohon sama managernya, Mas. Tapi, saya lupa tahun berapa. Tahun kemarin apa, ya?” Pria itu menggaruk kepala, berharap ingatannya keluar dari dalam kepala, rontok bersama ketombe yang berjatuhan.

Tahun kemarin. Tahun di mana Kattleya pergi. Jadi, setelah pergi darinya, gadis itu bertahan hidup dengan bekerja paruh waktu?

“Dia ada pacar, Mas?”

Tukang parkir itu kaget. “Lah, gimana tah, Mas? Mbak Le sudah menikah!”

Gantian Niko yang kaget. Cowok itu sontak berdiri hingga betisnya mendorong kursi besi yang didudukinya. “Serius, Mas?”

Pintu minimarket dibuka pelanggan lain. Kattleya mengintip dari celah yang terbuka, menyipit tajam ke arah keduanya. Berisik!

Tukang parkir berdeham, Niko mendaratkan bokongnya di kursi dengan tenang. Dengan gerakan jari, tukang parkir itu mengisyaratkan agar Niko mendekat agar bisa mendengarnya berbisik. Niko menurut, kepalang penasaran.

“Dia itu rajin banget, Mas. Lembur terus. Sakit saja, dia masih masuk kerja. Tapi, waktu itu, dia tiba-tiba cuti seminggu. Dengar-dengar sih, dia nikah tuh, Mas. Memang, dia nggak ngundang-ngundang, sih. Teman kerjanya saja nggak ada yang diundang, apalagi saya, ya kan?”

“Berarti, cuma rumor dong, Mas?”

“Ada fotonya, Mas. Saya nggak tahu dari mana, tapi, waktu teman-temannya ngomongin itu, saya juga ada tuh.”

Niko menatap Kattleya yang menata barang di rak. Sekonyong-konyong, gelisah melanda. Perasaannya tak keruan. Kattleya pergi untuk menikah? Dengan siapa?

#

Kattleya bersedekap, mengetuk-ngetukkan sepatu, di depannya masih duduk Niko dan segala berantakannya. Berserakan di atas meja: dua botol kopi kosong, mangkok stryofoam dari mie instan dan beberapa bungkus jajanan yang belum dibuka. Ini sudah jam pulang kerja, berarti Niko menungguinya seharian. Tidak ada kerjaan? Pewaris Sahid Group satu ini benar-benar santai, ya?

Ketika Niko menggeliat, menguap dengan mata masih memejam, Kattleya panik, tidak ingin kepergok memandanginya. Namun, telat, bola mata cokelat itu telah menangkapnya dan senyum bulan sabit terbit di wajahnya. “Kamu di sini sejak kapan? Memandangiku?” selidiknya, mata berbinar-binar.

Kattleya memandang ke segala arah, menghindari menatapnya, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Niko mengejarnya, berhasil menggenggam pergelangan tangannya. “Kumohon, Le, banyak yang mau aku tanyakan. Kamu serius, mau begini sama aku?”

“Lepas, nggak?” Kattleya memelotot, Niko melepas cengkeramannya, lalu mengangkat tangan tanda menyerah—tidak akan berani menyentuhnya lagi. Kattleya bersedekap, mendengkus kesal, tapi masih tetap cantik. “Apa sih, maumu? Siapa suruh menunggu—“

Omelan Kattleya tidak selesai karena merasakan getar dari dalam tas. Niko mengamati wanita itu merogoh ponsel, menjawab telepon, lalu berubah menjadi panik karena kabar dari entah siapa.

“Ada apa?” tanya Niko setelah Kattleya selesai menelepon, menyadari sesuatu yang serius.

Kattleya tidak menjawab, sibuk menggulirkan layar ponsel, lantas matanya sibuk mencari-cari ke sekitar dan raut cemasnya kian kentara karena tidak menemukan apa pun kecuali bocah SMA di depannya. Mulanya, wanita itu tampak ragu, tapi, dia tidak punya pilihan lain.

“Hei, bisa tolong antar aku ke suatu tempat?”

#

Ducati Dessert X menepi di sebuah bangunan kuno khas zaman kolonial Belanda. Kattleya turun, mengembalikan helm, langsung berlari masuk ke dalam. Ketika melewati pintu katup dua besar yang atasnya melengkung, wanita itu bagai masuk ke dalam mulut raksasa. Sebesar itu bangunannya, hingga Niko bertanya-tanya, tempat apa itu. Tak ada plang nama. Satu-satunya cara menemukan jawaban adalah dengan menyusul Kattleya.

Hidung Niko mengernyit. Aroma khas menyambut, begitu kedua tapak kaki menginjak teras bangunan itu. Aroma obat—aroma rumah sakit, dan benar saja, di dalam sana, orang-orang dengan pakaian perawat hilir-mudik. Pasien duduk layu di kursi roda, ada yang berjalan tertatih dengan menyeret tiang infus dan Kattleya berbicara pada seseorang di nurse station, sebelum akhirnya berlari mendalami lorong.

Niko berlari mengikutinya, terus memandangnya demi tidak kehilangan jejak. Ketika Kattleya masuk ke sebuah ruang rawat, Niko memelankan ayunan langkah, memutuskan untuk melihat dari situ saja.

PRANG! Suara pecah dari dalam. Satu-dua perawat segera datang memeriksa. Niko minggir, membiarkan mereka masuk. Tak lama, dua perawat itu keluar, satu memarahi, satu menunduk menyesal. “Kamu yang taruh vas bunga di sana? Apa yang ada di pikiranmu, sih? Benda pecah belah atau apa pun yang bisa membahayakan tidak boleh berada di sini! Cepat ambil P3K!”

Niko kaget. P3K? Jangan-jangan Kattleya....

“Sus, pasien di dalam—“

“Mas siapa, ya?” Suster itu malah bertanya balik, tak lupa nada galaknya.

“Dia adikku, Sus,” jawab Kattleya, muncul tiba-tiba. Niko ingin tertawa saat Kattleya bilang dia adalah adiknya, tapi, luka di dahi wanita itu cukup mengkhawatirkan.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

Perawat yang tadi dimarahi, datang dengan kotak P3K. Namun, suster galak menyadari kondisi yang lebih serius. “Mbak, darahnya mengucur terus, kita jahit saja, ya?”

Kattleya ingin menolak, tapi pada akhirnya dia mengangguk, lebih karena pandangannya menjadi goyang. Jadi, dia mengikuti suster itu ke ruangan lain untuk menerima perawatan. Sepeninggal mereka, Niko mengintip ke dalam ruang rawat. Seorang wanita berusia awal 20  tampak tenang berbaring di ranjang yang nyaman—bukan brangkar, tapi, kedua tangannya diikat. Tunggu....

Niko menyipit, berusaha mengenali. Kattleya? Kattleya ada dua?

*

Tepat senja redup, Kattleya keluar dari ruang rawat. Niko berdiri menghampiri, setengah meringis, menatap plester di dahi wanita itu. “Mau ikut aku ke Singapura?” tanya cowok itu, tiba-tiba saja. “Wajah wanita sangat penting, tidak boleh ada bekas luka. Aku kenal dokter terbaik di Singapur—“

Kattleya berhenti melangkah, terdiam menatapnya. “Bukannya kamu mau tanya hal lain? Berhenti bicarakan yang tidak-tidak.”

Niko tertegun, membiarkan gadis itu duduk, lalu barulah dia menyusul duduk di sebelahnya. “Jadi, dia siapa?”

“Dia kakakku,” jawab Kattleya, akhirnya. “Kamelia. Sangat mirip denganku, bukan?”

Niko benar-benar tidak pernah berpikir Kattleya punya kakak.

“Sejak kecil, Kamelia memiliki kelainan jantung, makanya, dia di sini. Pihak Dinas Sosial memisahkannya dari Papa. Malangnya dia, sudah kelainan jantung, begitu dewasa, demensia.”

“Demensia?”

“Faktor trauma kepala,” jawab Kattleya, seolah paham maksud Niko. Demensia adalah penyakit lansia, pasti Niko bingung kenapa Kamelia bisa terkena, padahal masih muda.

Niko mengangguk-angguk. Demensia dini.

“Banyak yang terjadi setahun terakhir, Nik. Kamelia baru menikah, tapi, saat mau pulang dari resepsi, dia mengalami kecelakaan dan suaminya mati.”

“Ah, jadi, foto yang dilihat teman kerjamu—“

“Foto?” Kattleya mengerutkan dahi, lalu, dia ingat, tadi Niko tampak mengobrol dengan tukang parkir di minimarket. “Ah, ya, dia Kamelia. Orang-orang menyangka itu aku, ya?”

Kattleya tertawa, karena foto sumber rumor itu terpajang besar-besar di rumahnya. Beberapa hari setelah kecelakaan itu, Kattleya menerima paket foto itu dari studio dan merasa harus memajangnya, berharap nanti Kamelia sembuh dan mengingat pernikahan itu.

“Belakangan, aku bingung harus menaruh foto itu di mana, karena—“

Kattleya menjeda, bersiap mengatakan sesuatu yang lebih pahit.

“Karena Kamelia tidak akan sembuh. Dia minta disuntik mati.”

“Suntik mati?”

“Ya. Dia bahkan menolak diselamatkan jika dirinya mengalami henti jantung.” Kattleya merasa sesak ketika harus mengingat kembali keputusan Kamelia.

“Separah itu?” Niko tak menduga situasinya seserius ini. “Demensia itu ... cuma kayak nenek-nenek yang pikun saja, kan?”

Kattleya menggeleng, sudah menduga, seperti kebanyakan orang, Niko akan salah paham soal penyakit yang diderita kakaknya. “Dalam kasus Kamelia, pembuluh darahnya sudah rusak dan fungsi otaknya menurun. Dia bisa terkena serangan jantung kapan saja.”

Niko terdiam, lebih karena tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Kattleya. Kata-kata penguat pasti sudah sering didengarnya.

“Sejak kecil hingga remaja, sama sepertiku, dia mengalami kekerasan dari Papa dan dia terjebak pada masa-masa itu. Dia menganggap dirinya masih anak-anak dan meringkuk ketakutan setiap saat. Kamu tahu apa yang hebat?

 “Dia juga bisa merasakan sakit yang dulu diterimanya. Dia sering sesak napas, padahal paru-parunya baik saja. Rasa sesak itu diingatnya seperti saat dulu dia dikurung dalam gudang sempit. Dia melihat kakinya berdarah, padahal tidak terluka sedikit pun. Dulu, Papa selalu menyayat-nyayat kakinya dengan silet setiap dia berusaha kabur. Tubuhnya berada di sini, tapi, jiwa dan ingatannya tertinggal di masa-masa menyakitkan itu. Sehebat itu trauma membekas dalam dirinya.”

Pada titik ini, Kattleya meremas-remas tangannya sendiri, hingga Niko takut wanita itu melukai dirinya sendiri. Terpikir untuk menggenggam tangannya, tapi, dia membuang jauh-jauh niat itu.

“Mulanya, dia mampu mengatasi segalanya—trauma itu, rasa sakit itu, tapi, suatu hari, dia sadar dan dia ingat segalanya, Nik. Termasuk ingatan tentang pernikahannya. Tapi, setelah tahu suaminya meninggal, dia memutuskan untuk mati.

“Aku sempat marah padanya, tapi, dia bilang, aku tidak akan paham bagaimana rasanya tetap hidup, tapi berdampingan dengan kenangan-kenangan menyakitkan. Katanya, ‘lagipula, aku bisa mati kapan saja’.”

Katlleya membasahi pipinya dengan air mata. Niko memberanikan diri mengusap air mata itu, lalu membiarkan gadis yang sangat dicintainya itu menyandarkan wajah di telapak tangannya.

“Maaf, karena aku baru bisa menceritakan semua ini. Maaf karena pergi tanpa kabar, Nik. Saat kudengar kamu akan bersama Sunny, aku merasa ... hancur.”

Niko nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Selama ini, Niko pikir, cuma dirinya yang asyik sendiri—cinta sendiri. Niko sama sekali tak pernah mengira....

“Kamu juga tidak memperjuangkanku dan menyetujui pertunangan itu. Aku jadi merasa bertepuk sebelah tangan,” canda Kattleya, sekalian menyindir.

Di luar dugaan, suasananya tidak menjadi komedi, melainkan, gelap. Niko menarik diri dari menghadap Kattleya, menjadi tertunduk dan memainkan jemari.

“Hei, aku bercanda.” Kattleya meraih jemari itu, menggenggamnya. “Aku tahu kamu tidak punya pilihan lain.”

Niko menoleh, menunjukkan matanya yang merah dan basah. Dengan bibir gemetar, dia balas menggenggam tangan gadis itu. “Maaf, Le. Maaf karena membuat kamu merasa tidak kuperjuangkan. Aku janji. Aku akan cari cara supaya bisa memperbaiki semuanya.”

Sekuat tenaga, Kattleya menarik ujung bibirnya yang gemetar membentuk senyum, hanya agar Niko tidak tahu dirinya ragu. Bisakah Niko melanggar ketentuan Ray Sahid dan melawan Ivory?

#

“Mas, Mbak Sunny menunggu sejak tadi siang,” info Derry, begitu Niko sampai di lobi rumah, sementara Niko menyerahkan jaket dan kunci motor pada wanita berbaju pelayan yang menerima dengan kepala tertunduk.

“Biarkan saja, Der,” jawab Niko, lelah. Seharian ini, dia benar-benar mengikuti Kattleya bagai anak anjing mengekor pada majikannyadan bukan cuma fisiknya, pikirannya pun terasa melayang-layang setelah semua rahasia terungkap.

“Ada yang mau kubicarakan, Der. Kamu ada waktu?”

Derry mengangkat bahu. “Aku nggak ngapa-ngapain sekarang.”

Maka, Niko masuk ke dalam bilik lift, Derry mengikutinya lalu menekan tombol ROOF yang berarti rooftop lantai 4,5. Mega mansion keluarga Sahid di atas tanah 1260 meter persegi itu memiliki total 4,5 lantai atau empat lantai dan satu lantai paling atas dihitung setengah karena tinggi bangunannya hanya separuh dari empat lantai lainnya. Jika dihitung, jumlah lantai yang aktif hanya tiga, sebab selain atap, lantai satu berfungsi sebagai garasi dan carport untuk Rolls Royce Phantom, Lamborghini, Buggati Chiron Superstar, motor-motor besar termasuk Ducati Dessert milik Niko dan beberapa kendaraan biasa yang digunakan para karyawan dan pelayan untuk bekerja.

Ray Sahid  sekaligus presiden Sahid Group, menempati keseluruhan lantai empat. Di lantai itu, kamar utama, kamar asisten pribadi, ruang kerja, perpustakaan hingga lounge hanya bisa diakses oleh keluarga dan karyawan. Niko memiliki lantai tiga dan setiap tingkatan di rumah itu menunjukkan kasta dalam keluarga Sahid. Tentu saja, karyawan dan pelayan di lantai dua—lantai paling bawah—jika garasi tidak dihitung.

Lift terbuka di rooftop, langkah sepatu kets bergema bersamaan Niko memasuki lorong panjang yang tidak ada barang, kecuali mesin espreso dan gambar wajah Ray Sahid sebesar baliho di dinding dengan tanaman Canna kesukaannya dalam guci porselen yang diletakkan pada kiri dan kanan, mengapit foto besar itu.

Selagi Derry menyeduh kopi, Niko memasukkan kedua tangan ke saku celana, menghela napas memandang dari jendela setengah bulan. Dari luar, tampak dinding rooftop bercat hitam, tapi tidak membuat rumah itu suram, melainkan menambahkan esensi klasik.

Derry kemudian memberi secangkir untuk Niko, berdiri bersisisan di sebelahnya. Setelah menyeruput, Niko mengatakan maksud pembicaraan ini. “Aku akan mengekspos penjualan narkotika dan perdagangan manusia, Der. Selama ini—“

“DOMINIC!”

Kedua pemuda di lorong menoleh ke arah sumber suara. Sunny Sahid keluar dari lift, berlari ke dalam pelukan Niko. Wanita berambut lurus sehalus sutra itu mengunci tubuh Niko begitu erat, tak menyerah meski Niko berusaha lepas.

“Aku menunggumu! Kamu sibuk apa, sih, akhir-akhir ini?”

 “Lepas,” pinta Niko, merasa sesak.

“Tidak!”

“Sunny, Tuan Putri, tolong, bisa lepas?”

Mendengar Niko melembut, senyum Sunny mengembang secerah namanya, lalu dilepaskannya cowok itu. Cewek itu mengedip-ngedip manja, bahkan cukup menggemaskan bagi Derry, tapi di mata Niko, Sunny seperti cacingan.

“Ada yang mau kuberi tahukan padamu, Sunny.”

Sunny mengangguk-angguk, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, mengira akan mendengar kata-kata manis.

“Aku mencintai Kattleya dan aku akan bersamanya. Jadi, bisakah kita akhiri pertunangan kita?”

#

“Pergilah ke Swiss,” perintah Jordan, sambil melempar sebuah buku tabungan bank ke atas meja belajar. Kattleya yang masih berbaring di ranjang—baru membuka mata, membelakangi papanya itu.

“Papa berbakat jadi pencuri, ya? Kenapa bisa masuk rumahku?” Gadis itu duduk, menyugar rambut panjangnya yang berantakan. Tadi, selagi tidur, Kattleya mendengar pintu dibuka lalu dia pura-pura masih tidur, tapi, telinga dan instingnya waspada. Benar dugaannya, Jordan yang menyusup. Untuk ke sekian kalinya, Kattleya merasa tidak akan pernah bisa lari dari papanya sendiri.

“Rumah sakit yang bisa memberikan eutanasia, itu di Swiss, kan?” Jordan tak mengindahkan kata-kata anaknya itu dan teguh pada tujuan utamanya. “Pergilah, bawa dia. Uangnya cukup untuk tinggal di sana. Jangan pernah kembali.”

Kattleya menoleh, kemudian tatapan tajamnya bertemu dengan mata sendu milik Jordan. Sebentar, Kattleya merasa iba padanya. Baru kali ini, dari semua kekerasan yang dirinya dan kakaknya alami, baru kali ini dia menemukan Jordan selemah ini.

Tidak pernah Kattleya sangka dan duga sebelumnya, melihat sisi lain Jordan yang seperti ini. Gadis itu bahkan sampai berdiri, saking terkejut. Jordan berlutut, memohon sambil beruraian air mata. “Gunakan uang itu sebaik mungkin. Dari semua pekerjaan kotorku, cuma uang itu yang kutabung dengan benar, dengan tujuan menyelamatkan anak-anakku.”

Kattleya mengepalkan tangan, menahan semua kata-kata kotor agar tidak keluar dari kerongkongan. Sebenarnya, apa dirinya pernah punya hak atas hidupnya sendiri? Hidupnya disetel, soal perasaannya saja diatur, jika tidak patuh akan dipukul. Bahkan, anjing lebih baik dari ini.

“Ivory tahu kamu kembali, Le. Dia akan membawa Kamelia pergi untuk mengancammu. Kalau itu terjadi, baik Papa maupun kamu, tidak akan bisa melihat Kamelia lagi, seumur hidup.”

#

Kattleya harus pergi, lagi.

Dulu, dia membawa pergi rahasia hatinya.

Kali ini, pundaknya berat karena penyesalan: kenapa kukatakan? Jika tidak bisa kuteruskan.

Dia menunggu, di ruang tunggu bandara. Pihak Rumah Rehabilitasi akan mengirim Kamelia setelah Kattleya mendapat tempat tinggal di sana. Mungkin, dia pun akan bersekolah di sana atau entah bagaimana nanti, terpenting, Kamelia dulu. Dari semua yang harus dipersiapkan, perasaan Kattleya yang darurat harus dibenahi. Kapan dia akan siap melepas Kamelia untuk selamanya?

Gadis itu mendengkus, mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia akan pergi sekitar satu jam lagi. Selagi menunggu, ada satu hal yang masih diharapkannya: Niko. Tegakah dirinya pergi tanpa pamit? Meninggalkannya begitu saja untuk yang kedua kali.

“Berita sela. Satresnarkoba menggeledah sebuah lahan yang diduga menjadi tempat budidaya bunga poppy yang mengandung opium. Lahan ini ditemukan bersamaan dengan pabrik narkoba dan sekelompok pekerja imigran gelap. Pihak berwajib masih menyelidiki terkait temuan ini, namun, diduga kuat, lahan dan pabrik tersebut dikelola oleh Ivory Sahid.”

Gelas kertas dalam genggaman Kattleya, terjatuh dan tumpah di pangkuannya. Gadis itu memekik, berdiri, tersengat dinginnya kopi. Pelayan ruang tunggu segera menyambanginya, memberinya tisu, tapi, saat Kattleya menerimanya, dia hanya menggenggam, tubuhnya membeku karena seseorang yang baru saja memasuki ruang tunggu ini.

Dominic Sahid tersenyum, melambai kepadanya. Tetes-tetes air jatuh di punggung kaki, barulah Kattleya tersadar. Dia menyeka celana sekenanya, lalu menghampiri cowok itu.

“Aku lihat berita—“ Kattleya terbata, menunjuk ke arah televisi, tapi, kemudian sadar, Niko pasti sudah tahu, bahkan mungkin, Niko yang merencanakan semuanya.

“Aku akan cari cara supaya bisa memperbaiki semuanya,” janji Niko, hari itu.

“Kamu harus pergi?” tanya Niko, kali ini.

Kattleya mengangguk dan tersenyum getir—seperti menjilat mentega basi, tapi, haru merebak di matanya.

“Selamanya?”

“Tidak,” jawab gadis itu, lalu sebutir air mata lega meluncur turun. “Aku akan kembali.”

“Kalau terlalu lama, aku akan menyusulmu.”

“Aku tunggu,” sahut Kattleya, lalu tertawa kecil.

Karena, tidak ada lagi yang perlu kurahasiakan darimu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
RAYHAN MAHAWIRA
starss
Novel
Bronze
Sampai Tua Kita Bersama
Wahyu Hidayat
Cerpen
Bronze
Sastranala ☆
Zohreta Yuspiani
Cerpen
Jika Mencintaimu Dilarang, Aku Masih Bisa Menciummu di Bawah Payung
Autami Anita
Novel
Bronze
Ar&Gen (Not a Cinderella Story)
innaya amalia
Novel
Thawiyyah
Daud Farma
Novel
Forefer With You
Tya Aurellia
Novel
REMAINS UNSAID
Murasaki Okada
Skrip Film
Selepas Senja
Yunda pramukti
Cerpen
Bronze
instalasi hati 25%
Raja Alam Semesta
Cerpen
Bronze
Jatuh
Zia Arshavina
Cerpen
Bronze
The Famtrip Flores
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Yang Tersimpan Dalam Diam
cial shintar
Novel
Gold
Recalling The Memory
Bentang Pustaka
Flash
Salah Panggil
Nur Rama Data Kapentas
Rekomendasi
Cerpen
Jika Mencintaimu Dilarang, Aku Masih Bisa Menciummu di Bawah Payung
Autami Anita
Novel
No Summertime Sadness Here
Autami Anita
Flash
Komik Shinchan, Rokok Lintingan dan Kacamata Bertangkai Satu
Autami Anita
Flash
Bronze
Tempe Orek
Autami Anita
Novel
Bronze
Rosmariam
Autami Anita
Cerpen
Perempuan yang Lehernya Terjerat Rantai Setan
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Pok Ame-Ame Julia Orang Gila
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Perempuan Lain dalam Selarut Teh
Autami Anita
Flash
Bronze
Sia dan Sel Kulit Mati
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Seharusnya, Ku Beranikan Diri Menatap Matamu
Autami Anita