Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Jeritan di Akhir Zaman
1
Suka
151
Dibaca

Seorang pria terhuyung-huyung berjalan menuju sebuah telaga. Bau hangus tercium dari tubuhnya. Kakinya gemetar hingga ia tertatih-tatih. Hampir saja ia tersungkur di hadapan telaga tersebut.

Pria itu terduduk di hadapan telaga. Tangannya dengan gemetar berusaha menyentuh air yang jernih di dalam telaga. Pria itu terlalu fokus pada tujuannya. Matanya teruju lurus. Ia bahkan tidak menyadari ada beberapa orang di sekitarnya yang berdiri di samping telaga itu.

Mereka yang berada di samping pria itu terkejut melihat kondisinya. Salah satu dari mereka mengambil air dari telaga itu dan memberikannya kepada pria bertubuh gosong ersebut. Melihat cahaya redup dari dahi pria itu, mereka yang berada di telaga itu menjadi antusias.

Mereka berseru, “Minumlah air ini, ya Akhi! Sungguh engkau akan mendapati dahagamu hilang setelah meminumnya.”

Tanpa sungkan, pria itu menyeruput air yang disodorkan. Ia merasakan dinginnya air dengan cepat meredakan api yang membara di kerongkongannya. Ia minum hingga air yang ditadah habis sepenuhnya. Pria itu menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh seperti menjilati sisa-sisa air yang ada. Dengan berat hati, pria itu memalingkan wajahnya. Ia mendongak menatap satu per satu wajah orang-orang yang ada di dekat telaga. 

Pria itu kemudian terkesiap. Ia baru menyadari identitas orang-orang yang berada di hadapannya. “Kalian?!”

Salah satu di antara mereka tersenyum. “Engkau kenal kami?”

Pria itu lantas menundukkan kepalanya. Semburat merah menghiasi pipinya. Ia menyadari bahwa orang yang baru saja memberikannya minum adalah orang yang begitu mulia. “Mana mungkin ada yang tidak mengenal kalian? Sungguh sebuah kehormatan bagi saya, yang pernah terjerumus dalam panasnya api, dapat bertemu langsung dengan kalian, wahai para Amirul Mukminin terdahulu!”

Salah satu dari mereka sedikit mendekat. “Terdahulu? Engkau adalah saudara kami dari masa setelah kami. Kami senang dapat bertemu denganmu. Bagaimana jika engkau menceritakan kepada kami tentang masa-masa sesudah kami?”

Pria itu tersenyum getir. Sudut matanya terasa sedikit panas. Ia tidak kuasa memandang balik tatapan berbinar yang ditujukan padanya.“Pelik. Tidak ada yang dapat kami banggakan.”

“Apakah kondisi umat semakin buruk saat itu?”

“Setelah masa kalian, kami memiliki masa kejayaan berpuluh-puluh tahun. Tetapi kemudian kami terpuruk selama berpuluh-puluh tahun selanjutnya.”

“Apakah itu karena kalian kalah dengan bangsa-bangsa yang lain?”

“Ya, itu salah satunya.”

“Aku dengar jumlah umat sangatlah banyak setelah kami,” ujar salah satu dari mereka.

“Benar, wahai Amirul Mukminin! Sungguh jumlah kami sangatlah banyak saat itu. Namun, layaknya perkataan Rasulullah, kami seperti buih di lautan!”

“Apakah kalian tidak berusaha bangkit?”

Pria itu tertawa kecil. Ia semakin menunduk karena khawatir para Amirul Mukminin di hadapannya melihat matanya yang berkaca-kaca. “Kami kalah telak dalam berbagai hal. Bagaimana kami dapat melawan mereka?”

“Kenapa tidak? Allah pasti memberikan kemenangan kepada kalian!”

Pria itu menggeleng. “Kami sudah tidak memiliki pemimpin yang dapat menyatukan kami saat itu. Teknologi kami kalah telak. Sebagian dari kami merasa perjuangan hanya akan percuma dan memilih pasrah. Sebagiannya lagi memang tidak peduli dan telah cinta dunia. Sementara sebagiannya lagi tidak tahu menahu karena kurangnya ilmu. Hanya segelintir dari kami yang dapat bertahan teguh. Itu pun mereka terombang-ambing oleh dahsyatnya fitnah dunia. Bagaimana kami dapat bangkit dengan kondisi seperti itu?”

“Lalu bagaimana dengan para pemimpin dari golongan kalian saat itu?”

Pria itu mengambil napas sejenak. Suaranya semakin bergetar. “Sebagian besar dari mereka telah melupakan akhirat. Sementara sebagian kecilnya yang masih benar-benar beriman justru dikucilkan."

Pria itu terdiam sejenak. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, seakan sedang menahan sesuatu di dalam dadanya. "Mereka yang tidak bersuara dan patuh dipuji setinggi-tingginya. Sementara yang membelot dihina hingga jatuh terjerembab. Mereka yang memiliki kekuasaan saling melempar tanggung jawab. Sementara yang benar-benar bertanggung jawab akan mendapati tumpukan batu yang sangat besar di pundaknya. Saking besarnya batu-batu tersebut, maka pada akhirnya ia pun tidak sanggup untuk memikulnya. Mereka yang melaksanakan tanggung jawabnya akan mati karena beratnya batu yang dipikul. Sementara mereka yang menelantarkan tanggung jawab hidup senang bergelimang dengan harta.”

Sejenak tidak ada yang menanggapi jawaban pria itu. Helaan nafas terdengar seperti hembusan angin yang meniup telinga pria itu. Salah seorang dari Amirul Mukminin kembali bertanya dengan nada yang lembut, “Lalu bagaimana dengan para ulama kalian?”

“Ulama kami? Ah, betapa malangnya mereka. Beberapa dari mereka terjerat fitnah yang luar biasa. Begitu besar skandal yang memerangkap mereka sehingga membuat umat tercengang mendengarnya. Beberapa dari mereka juga terpecah menjadi berbagai kelompok. Nahasnya, umat pun ikut terpecah belah memilih sebagian dari mereka atau sebagian yang lainnya. Tetapi saya cukup beruntung karena pada masa saya hidup masih ada ulama yang tetap teguh pada jalan yang lurus.”

“Bagaimana dengan shalat kalian?”

“Sebagian kecil dari kami mampu menegakkan shalat. Sementara sebagiannya lagi mampu melaksanakan shalat. Kemudian, sebagiannya lagi melaksanakan shalat tetapi tidak pada lima waktu atau bahkan tidak sama sekali.”

“Apa kalian masih membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya?”

Pria itu mengangguk. “Sebagian besar dari kami masih membacanya. Namun, hanya sedikit dari kami yang dapat benar-benar mengamalkannya. Sementara sisanya bahkan tidak paham betul isi Al-Qur’an.”

“Apakah telah sampai pada kalian hadis Rasulullah?”

Pria itu mengangguk. “Ya, telah sampai kepada kami hadis Rasulullah. Hanya saja tidak banyak dari kami yang benar-benar mempelajarinya.”

Pria itu mengambil napas, kemudian melanjutkan ceritanya dengan suara yang semakin besar. “Keadaan kami saat itu cukup berat. Nikmat dunia telah menenggelamkan banyak di antara kami sehingga kami lebih mudah lupa pada apa yang seharusnya kami kejar. Selain itu, fitnah muncul bertubi-tubi. Penyakit teruk yang dulu pernah menjangkit kaum Nabi Luth justru semakin merebak di masa kami. Penyakit itu merebak tanpa pandang bulu hingga kami nyaris tak kuasa melawan arusnya. Kesulitan ekonomi yang semakin mencekik tiap tahunnya, riba yang menggerogoti nyaris setiap sendi kehidupan, bahkan menjadi pencuri pun seakan menjadi sebuah kebanggaan pada masa kami. Dosa besar seperti zina pun dianggap candu.”

“Pada masa kami, juga banyak terjadi penindasan di seluruh belahan dunia. Maka, beberapa dari kami saling menasihati untuk bersabar layaknya Bani Israel ketika berada dalam tirani Fir’aun. Tapi saat itu mereka bersama dengan Nabi Musa.” Setetes air mata meluncur dari mata pria itu. “Sementara kami … kami telah kehilangan nabi kami. Maka kepada siapa lagi kami dapat berpegang kecuali Allah? Sungguh kami hanya dapat berharap pada-Nya. Meskipun begitu, tidak banyak dari kami yang kuat melalui semua ujian tersebut.”

“Sungguh Allah bersama dengan kalian. Kalian telah bersabar sejauh ini. Itu lebih dari cukup.”

Mendengar kalimat pengakuan tersebut, pria itu tersenyum tipis. Ia dengan cepat menghapus air matanya. Ia mendongak kembali. “Wahai Amirul Mukminin, saya memiliki permohonan.”

“Katakanlah!”

“Bolehkah kalian tidak menceritakan ini kepada Rasulullah?”

Mereka terkejut mendengar permintaan pria itu. Salah satu dari ‘Amirul Mukminin’ bertanya dengan penasaran, “Kenapa engkau meminta hal itu?”

“Saya dengar Rasulullah telah mengkhawatirkan kami sebelum beliau meninggal. Saya khawatir beliau akan semakin bersedih jika mendengar cerita kami. Sudah cukup kami saja yang merasakan kesulitannya. Cukuplah rasa sulit itu tertinggal di dunia. Jangan sampai hal-hal tersebut membuat Rasulullah yang mencintai kami justru kembali menangisi keadaan kami. Beliau telah banyak berkorban bagi kita semua.”

Mendengar permintaan pria itu, menangislah mereka, sang pendengar cerita. Salah satu dari mereka mendekati pria tersebut dan merangkulnya. Ia menepuk pelan pundak pria tersebut. “Engkau telah mendapatkan apa yang Allah janjikan padamu sekarang.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Jeritan di Akhir Zaman
Aralya Seraquin
Novel
Bronze
Rossa: Rembulan di Balik Kabut
Imajinasiku
Novel
Bronze
Kuntul Nucuk Mbulan
Sahal Japara (Sahal Mahfudh)
Novel
Bincang Pernikahan
Mizan Publika
Novel
Gold
Kuntum-Kuntum Surga
Mizan Publishing
Skrip Film
Wanita Surga script
Dwi Kurnialis
Novel
Gold
Jodoh Dunia Akhirat
Mizan Publishing
Flash
Tuhan, Engkau di Langit yang Mana?
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Ayam Kampus Story
Sukma Maddi
Novel
Bronze
Sekolah SMA Za-Za
tettyseptiyani02
Novel
Bronze
Takdir Sang Pencopet
Ahmad Iki Muqimudin
Novel
Ya, Suatu Saat Nanti
Asya Ns
Novel
Ruang
Aida Nabila
Cerpen
Peci Dari Pak Kiai
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Novel
Rumah Kardus
Sera Althea
Rekomendasi
Cerpen
Jeritan di Akhir Zaman
Aralya Seraquin
Cerpen
Cinta yang Menenggelamkan
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Luka yang Dalam
Aralya Seraquin
Cerpen
Jalan yang Bercabang
Aralya Seraquin
Flash
Menunggu
Aralya Seraquin
Flash
Aku dan Dia
Aralya Seraquin
Flash
Bukan Aku
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Kegelapan yang Meringkus Bulan
Aralya Seraquin
Cerpen
Bidak Catur
Aralya Seraquin