Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Jeritan Dari Tanah Borneo
0
Suka
16
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Catatan 14 Tahun di Tanah Borneo

Tahun 2012, aku pertama kali menapakkan kaki di Borneo. Sebuah dunia yang benar-benar baru bagiku.

Tanah yang sejak kecil selalu kudengar di buku sekolah sebagai tempat yang begitu indah dengan hutan purba sebagai paru-paru dunia. Hutan tempat satwa liar berlindung, yang keindahannya membuatku kagum hingga menyamakannya dengan Amazon-nya Indonesia.

Merasa memiliki kesempatan, aku menjelajah tanah ini, menyaksikan sendiri luasnya Sungai Kapuas yang dulu hanya bisa kubayangkan lewat halaman buku teks. Menatap airnya yang membentang, aku merasa sangat kecil sekaligus bangga bisa menyatu dengan alam yang begitu agung.

***

Namaku Ana.

Empat belas tahun sudah kuhabiskan di tanah ini. Bukan lagi untuk berwisata, melainkan untuk menepati janji pada seorang pria yang berhasil meyakinkanku untuk menjadi teman hidupnya dalam suka maupun duka: Rizwan.

Namun, sejak aku datang, tanah yang kukagumi ini sudah menunjukan jika ia sedang tak baik-baik saja.

Puncaknya terjadi dua tahun setelah pernikahan kami, tepat di tahun 2015 saat putra pertama kami baru menginjak usia satu tahun. Ini adalah pertama kalinya aku menyaksikan dengan mata kepalaku, hal yang dulu hanya bisa kusaksikan dari balik layar kaca, mendadak menjelma menjadi kenyataan yang mencekik di depan mata.

Kebakaran hutan dan lahan itu nyata.



Dipicu oleh fenomena El Niño ekstrem, kemarau panjang seolah mengubah gambut menjadi bahan bakar yang siap meledak kapan saja. Udara berubah menjadi racun abu-abu, dan matahari menghilang di balik pekatnya jelaga.

Saat musim penghujan akhirnya tiba dan membasuh sisa api, kehidupan perlahan kembali berjalan dengan atau tanpa sisa asap yang tertinggal di paru-paru kami.

***

Aku ingat pernah bertanya pada Rizwan, "Apa hal seperti ini sudah dianggap biasa?"

"Ini bencana tahunan," jawabnya singkat saat itu.

Aku tidak menyela, karena tahu berita di televisi pun selalu mengulang narasi yang sama. Dan benar saja. Ini bukan sekadar cuaca, ini adalah kutukan musiman.

Tahun 2019, sejarah kelam itu terulang lagi. Saat itu aku sedang mengandung anak kedua kami. Tak ingin mengambil risiko dengan nyawa di dalam kandungan, suamiku memutuskan agar aku mengungsi ke Jawa.

Jarak pandang saat itu benar-benar habis, padahal rumah kami di Pangkalan Bun hanya berjarak sekitar dua kilometer dari bandara. Tempat yang seharusnya jauh dari hutan, tapi asap tidak pernah buta arah; ia tidak mengenal batas wilayah.

Aku pulang ke rumah orang tuaku di Jawa Tengah, membawa putra sulungku yang baru berusia empat tahun. Sementara Rizwan tetap tinggal di Kalimantan, bertahan dan bekerja di tengah kepungan udara beracun.

***

Kepulanganku memicu banyak tanya dari tetangga di kampung.

"Mbak Ana, katanya Kalimantan kebakaran hutan, kok bisa pulang?" tanya seorang tetangga.

Aku tersenyum getir, "Saya juga harus menunggu bandara buka, Mbak. Penerbangan banyak yang delay karena asap terlalu tebal."

"Wah, Mbak Ana sekarang sudah jadi orang Kalimantan ya. Katanya di sana cari kerja gampang, enggak kayak di Jawa. Banyak lowongan di kebun sawit atau karet," timbrung yang lain.

Aku hanya bisa membalasnya dengan tawa hambar, "Ya, kalau sedang tidak ada kebakaran memang jauh lebih mudah, Mbak. Tapi kalau sudah begini, suami saya saja sampai mengungsikan saya."

"Kalau setiap tahun begini, alamat Mbak Ana bakal sering pulang ke rumah Pak Rahmat dong?" sahutnya bercanda.

Kami semua tertawa, meski hatiku terasa berat.

Hampir dua bulan penuh aku bertahan di kampung halaman, menunggu hingga hutan benar-benar padam dan langit Kalimantan kembali membiru.

***

Sebenarnya, aku sangat mencintai tanah ini. Lingkungannya nyaman, orang-orangnya hangat dan ramah. Di sini aku tidak hanya berteman dengan warga Dayak lokal, tapi juga para perantau lintas daerah dari Jawa, Sumatra dan wilayah lain dari Indonesia.

Tanah ini ramah pada siapa saja, kecuali saat api mulai disulut.

Kini, waktu berjalan cepat. Putra pertamaku sudah berusia sepuluh tahun dan putri keduaku berumur empat tahun. Dan di tahun 2023, karhutla besar kembali menghantam. Asap pekat kembali mengepung, memaksa kami mengunci seluruh pintu dan jendela rapat-rapat.

Kali ini aku tidak bisa lagi melarikan diri ke Jawa. Anak-anak sudah besar dan terikat jadwal sekolah. Aku hanya bisa duduk diam di dalam rumah yang pengap.

Lelah? Jangan ditanya. Rasanya batin ini terkuras habis karena harus menghadapi siklus mengerikan yang sama terus-menerus.

Hatiku hancur berkeping-keping saat menyaksikan putri kecilku mulai megap-megap, dadanya kembang kempis menahan sesak napas akibat ISPA. Sebagai orang tua, tidak ada yang lebih menyiksa daripada melihat anak sendiri berjuang menghirup udara bersih di dalam rumahnya sendiri, sementara di luar sana, asap pekat tak kunjung usai.

***

Hingga hari ini, saat aku menulis catatan ini di Oktober 2026, kami kembali berada di titik yang sama. Kami kembali dikepung api, kembali dijerat asap.

Di tempat kami saat ini, keadaan sudah di luar nalar. Langit berubah warna menjadi kuning kecokelatan yang mengerikan. Jarak pandang di jalanan ambruk hingga tersisa 30 sampai 50 meter saja. Pengendara motor terpaksa menyalakan lampu di siang bolong, meraba jalan di tengah kepekatan. Indeks kualitas udara sudah melesat jauh di atas ambang batas berbahaya.

Kepada siapa lagi aku harus mengadu?

Hutan-hutan kami habis dibakar, satwa-satwa malang terpanggang hidup-hidup di atas bara gambut. Sementara bagi mereka yang duduk di kursi nyaman ber-AC, semua ini seolah-olah hanyalah masalah sepele yang datang bersama angin lalu.

Aku ingin marah, tapi pada siapa? Kepada para oknum yang dengan sengaja menyulut api demi membuka lahan perkebunan dengan murah? Jika mereka dengan congkak menjawab bahwa ini memang sengaja dibakar, aku harus membalas apa?

Manusia adalah makhluk yang diberi akal pikiran paling sempurna, tapi justru mereka pulalah yang menjadi perusak paling keji. Tidakkah mereka berpikir tentang alam yang mulai sekarat? Tentang mata air yang mengering? Tentang satwa yang kehilangan rumahnya? Dan tentang masa depan anak cucu kita yang paru-parunya digerogoti sejak balita?

Hutan ini dirusak oleh segelintir orang serakah, namun dampaknya harus ditanggung oleh jutaan kepala yang tak bersalah.

***

Mungkin aku egois. Aku tidak lahir di tanah ini, dan jika aku mau, aku bisa saja mengepak koper lalu kembali ke Jawa untuk menyelamatkan diri.

Tapi bagaimana dengan satwa-satwa liar itu? Ke mana mereka harus pulang jika rumah dan pohon tempat mereka bernaung sudah berubah menjadi arang? Bukankah tugas manusia berakal adalah menjaga dan melindungi alam, bukan malah menghancurkannya demi angka-angka di rekening bank?

Jika kalian yang di luar sana terus menganggap ini hanya "bencana musiman", lalu kenapa tidak ada tindakan nyata untuk mencegahnya sebelum api pertama menyala?

Ini bukan sekadar gejala alam. Ini adalah kejahatan terstruktur dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Lalu kenapa semua pihak berwenang terkesan diam dan lambat? Apakah karena kalian tidak menghirup racun ini setiap hari, sehingga kalian merasa bisa mengabaikannya begitu saja?

***

Kemarin malam, di tengah malam yang sesak, aku kembali bertanya pada Rizwan.

"Kalau mereka tahu ini bencana tahunan, bukankah seharusnya pemerintah setempat dan pusat melakukan pencegahan total sejak awal tahun?"

Rizwan hanya diam. Tatapannya kosong menembus jendela yang buram oleh kabut asap.

Itu bukan diam karena dia tidak punya jawaban, melainkan diamnya seluruh warga di tanah ini yang sudah terlanjur lelah dan mati rasa. Atau mungkin karena mereka punya tingkat kesabaran yang jauh lebih luas daripada daerah lain?

Tentu saja tidak. Kami hanya tidak punya pilihan.

"Bagaimana kami ingin bersuara, jika para pemimpin kami selalu memamerkan narasi bahwa tempat kami baik-baik saja?" jawab Rizwan akhirnya dengan suara bergetar.

Aku menghela napas panjang, menatap dua anakku yang tertidur pulas dengan masker yang masih menempel di wajah mereka.

Saat ini, tempat kami benar-benar terkepung api. Kami tidak pernah tahu sampai kapan paru-paru kami sanggup bertahan dihajar asap habis-habisan

setiap hari, di saat orang-orang di luar sana dengan lantang berkata bahwa kami di sini sedang "baik-baik saja".

Semarang, Oktober. 2026.

Ku tuliskan coretan dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Terima kasih telah berbagi kisah paling menyayat dalam hidupmu.

Untuk adikku yang tengah berjuang di tengah kepungan api dan melawan kabut asap dan untuk semua saudara saudaraku di Kalimantan. Kiranya Allah selalu menguatkan kita semua.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Jeritan Dari Tanah Borneo
Ririna Rew
Cerpen
Jodoh di Tangan Juragan
Dian Rinda
Cerpen
Catatan Masa Percobaan
RA Senja
Cerpen
7 Hari Bersemayam
Sri Nuraini
Cerpen
Korpoart
Nathaniel Deandre Devin Subagia
Cerpen
ETER
nanat
Cerpen
Bronze
Jima Montague
Vyas Cornanila Wahana Putri
Cerpen
Konvergensi di Ruang Sunyi : Episteme Dua Jiwa
Ezra Jo
Cerpen
KATALOG DAN MIMPI
Ellaaa
Cerpen
Kelahiran
Sera Djevah
Cerpen
Bronze
BOY BEHIND THE VEIL
glowedy
Cerpen
Hampa
Arkina Melantri
Cerpen
Adakah Bapak Tidur Malam Ini?
Trippleju
Cerpen
Guru Utara dan Selatan
Irvinia Margaretha Nauli
Cerpen
Bronze
Satu Kali Lagi
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Cerpen
Jeritan Dari Tanah Borneo
Ririna Rew
Cerpen
Baskara Sialan: Menanam Benih, Lupa Memanen
Ririna Rew
Novel
Aksara Untuk Senja
Ririna Rew
Cerpen
Harapan Yang Pupus Oleh Selembar Kartu Keluarga
Ririna Rew
Cerpen
Air di Tanah Gersang
Ririna Rew