Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Jendela Nostalgia
2
Suka
13
Dibaca

Pandanganku tertuju pada selembar kertas pemberitahuan yang ditempel di balik partisi kaca jendela. Saat itu, taksi yang kutumpangi sedang berhenti di persimpangan lampu merah persis di depan bangunan dengan fasad sederhana. Aku menyipitkan mataku dan membaca: 

KAMI AKAN TUTUP PERMANEN MULAI 1 JANUARI

Aku tidak bisa membaca kalimat yang ditulis dengan ukuran lebih kecil di bawahnya, tetapi aku jelas mengenali tulisan tangan itu, juga seisi toko yang biasa kudatangi setiap pulang sekolah lebih dari tujuh tahun lalu, sampai sebelum kelulusan SMA. Selagi aku memerhatikan cat dindingnya yang mulai memudar, atau menghitung berapa jumlah huruf yang hilang dari papan nama yang menggantung tepat di atas pintu (TO_O BUKU LENTER_ alih-alih TOKO BUKU LENTERA), taksi yang kunaiki mulai bergerak menembus lalu lintas ibu kota menuju restoran Italia yang hanya berjarak tiga lampu merah dari sana. 

Hanya saja, di sepanjang sisa perjalanan itu, pikiranku telah melayang jauh ke masa lalu. Aku masih mengingatnya dengan jelas: Hari dimana aku berkunjung ke toko buku itu untuk yang pertama kalinya adalah hari yang sama ketika ayahku meninggal. Usiaku baru delapan tahun saat aku memutuskan tidak ingin mendengar isak tangis ibuku atau kata-kata belasungkawa dari orang asing yang terus menerus muncul di depan pintu rumah kami. Aku bahkan tidak menangis. Saat itu, konsep kematian masih terdengar asing di telingaku. Aku hanya ingin pergi dan menjauh dari keramaian. Jadi, aku mengambil sepatuku dan menyelinap ke luar dari rumah. 

Padahal, aku sama sekali tidak punya tujuan, tapi aku punya beberapa amplop berisi uang yang sengaja diselipkan ke saku celanaku, jadi aku memutuskan untuk berjalan terus sampai menemukan sesuatu yang menarik. Lalu, aku teringat dengan ikan-ikan berwarna kuning dan oranye yang biasanya ditata berjajar dalam wadah plastik transparan. Mungkin, kalau aku berjalan sampai ke area sekolahku, aku bisa menemukan penjual ikan hias yang sering dikunjungi oleh teman-temanku lalu membeli satu atau dua ekor ikan.

Sejak dulu, kedua orangtuaku tak pernah mengizinkanku memelihara ikan. Atau kura-kura. Atau kelinci. Atau kucing. Atau apa pun. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba membujuk, merajuk, bahkan mengamuk di depan gerbang sekolah dan tempat umum lainnya, kata-kata yang kudengar selalu sama: “Kamu nggak bisa ngerawatnya, Kenna.”

Menurutku, kata-kata ‘nggak bisa’ adalah hinaan yang sadis. Bagaimana mereka tahu aku tidak bisa melakukan sesuatu saat aku belum pernah mencobanya sama sekali?

Sambil bersungut-sungut, aku berjalan di sepanjang trotoar jalan raya, berbelok dua kali ke arah kiri setiap menemukan persimpangan, sampai akhirnya tiba di deretan pertokoan yang cukup ramai. Aku memandangi papan-papannya yang mentereng: restoran cepat saji, pakaian anak, jasa print & fotocopy, dan masih banyak lagi. Seorang anak laki-laki tampak sedang duduk di depan toko buku kecil, memegangi es krim yang sudah mulai meleleh dan melumuri tangannya. Aku memalingkan muka dan berlari lebih jauh. Hanya tinggal satu belokan lagi sampai—BRAAKK!

Tubuhku terpental. Bagian punggungku menghantam trotoar dengan cukup keras. 

Saat aku membuka mata sambil meringis, aku melihat serigala—atau setidaknya anjing seukuran serigala—berada tepat di atas wajahku. Sedetik kemudian, dua orang laki-laki dewasa berlari menghampiriku dan membantuku duduk di atas trotoar. Mereka berdua terlihat panik. 

“Kamu nggak apa-apa, dik?” tanya si pria bertubuh gempal. Pria yang bertubuh jangkung menarik tali anjingnya agar mundur dariku. Aku mengerjap. Sesaat, dia terlihat begitu mirip dengan ayahku. “Apa punggungmu terasa sakit?” 

Aku tidak apa-apa. Tubuhku bahkan tidak terluka. Tapi, tanpa bisa kucegah, aku menangis sangat kencang sampai orang-orang mulai berkerumun di sekeliling kami. 

“Sepertinya dia terluka.”

“Mungkin dia ketakutan karena anjingnya.”

“Dia harus dibawa ke rumah sakit!”

“Di mana orang tuanya?”

“Kenapa dia berkeliaran sendirian?”

Aku tak bisa menjelaskan kepada mereka bahwa tangisanku pecah gara-gara sesuatu yang lain, dan bukan gara-gara aku takut dengan anjing berukuran raksasa atau semacamnya. Tetapi, sebelum aku berhasil mengeluarkan satu atau dua patah kata dari mulutku, seseorang sudah lebih dulu menarik pergelangan tanganku dan membawaku kabur dari keramaian. 

Tangannya terasa dingin dan lengket oleh bekas lelehan es krim, tapi entah mengapa, aku tetap mengikuti langkah anak laki-laki itu sampai kami tiba di toko buku yang tadi kulewati. Aku mengeja papan namanya dalam hati: LEN-TE-RA. 

Lonceng di atas pintu bergemerincing saat kami berdua masuk ke dalam. 

Empat rak buku yang terbuat dari kayu menjulang hingga ke langit-langit. Aroma kertas yang khas menusuk hidungku, tapi aku tidak memprotes. Di meja, ada seorang pelajar SMA yang mengawasi kami tanpa berkata apa-apa. Aku mengabaikannya dan memandang ke sekeliling. Sorot lampu dengan aksen hangat membuatku sesaat terlena dan tidak menyadari ketika anak laki-laki itu melepaskan genggamannya di tanganku.

“Anjingnya besar,” katanya.

Aku menoleh ke arahnya. “Apa?”

“Anjingnya,” ia mengedikkan kepala ke arah luar. “Terlalu besar. Seperti monster singa. Pantas saja kamu takut.”

Aku mengerjap. “Aku nggak takut,” kilahku. 

Dia menoleh ke arahku dan tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa, itu juga menakutkan buatku, kok. Kamu bisa menunggu di sini sampai anjingnya pergi.”

Aku menatapnya dengan bingung. “Nggak, bukan begitu.” Dari mana aku harus memulai-nya? “Aku… tiba-tiba teringat dengan ayahku.” Insiden tadi seolah menjadi pengingat bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi sosok seperti ayah yang akan melindungiku. Barangkali itulah sebabnya ibuku tidak berhenti menangis. 

“Memangnya ayahmu kenapa?” 

“Meninggal,” kataku, setelah beberapa saat terdiam.

“Meninggal?” ulangnya. 

Aku mengernyit. “Kamu nggak tahu apa itu—?”

“Aku tahu apa itu meninggal,” katanya buru-buru. “Ibuku pernah memberitahuku. Itu artinya, ayahmu sudah menaiki bus menuju surga.” Entah mengapa, dia terlihat agak salah tingkah. “Ngomong-ngomong, toko ini milik keluargaku dan, ah, maaf, kita belum berkenalan, ya?”

Dia mengulurkan tangan. “Namaku Gibraltar.”

***

Ponselku berdering tepat ketika taksi yang kunaiki tiba di tujuan. Aku menatap nama yang muncul di layar ponsel dan menimbang-nimbang sejenak. Sampai setidaknya lima belas menit yang lalu, rencanaku untuk menghabiskan malam tahun baru kali ini sudah tersusun dengan sempurna: turun dari taksi; makan malam romantis bersama gebetan baruku, Iann; melihat kembang api; dan kembali ke apartemen untuk mengepak koper karena aku harus terbang ke Bali besok pagi untuk urusan pekerjaan. Tidak ada agenda khusus untuk mengunjungi masa lalu. 

Aku menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. 

Ponselku kembali berdering ketika aku meminta sopir taksi untuk mengantarku kembali ke LENTERA. Tidak lama kemudian, rentetan pesan dari kontak milik Iann membanjiri notifikasiku. Bagaikan kebetulan yang tidak disangka-sangka, aku merasa seolah semesta sedang berkonspirasi untuk melancarkan urusanku malam ini. 

Kenna, maaf. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Ada operasi darurat. 

Can I come to ur apartment later?

I’m sorry.

Aku buru-buru mengirim pesan balasan untuk mengiakan usulannya sebelum kembali menyandarkan tubuhku ke kursi penumpang, pandanganku tertuju ke luar jendela, memandangi bulan yang berbentuk setengah lingkaran. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di depan LENTERA untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama. Kali ini, aku bisa membaca pemberitahuan itu secara utuh:

KAMI AKAN TUTUP PERMANEN MULAI 1 JANUARI

Sebagian buku-buku akan disumbangkan kepada yayasan/sekolah yang membutuhkan 

Silahkan hubungi nomor berikut: 081*********

Dari balik kaca jendela, aku bisa melihat bayang-bayang seseorang berjalan menuju pintu, lalu membukanya seolah-olah sudah melihatku lebih dulu. Dia sudah jauh lebih dewasa dari sosok dalam ingatanku. Lampu-lampu dengan aksen hangat menyorot rambutnya yang ikal kecoklatan. 

“Kenna,” bisik Gibraltar. Dia terlihat terkejut dan aku tidak menyalahkannya. 

Hari ketika aku berkunjung ke LENTERA untuk yang terakhir kalinya adalah hari ketika kami lulus SMA, kurang lebih sembilan tahun setelah pertemuan pertama kami. Mungkin kau bisa menebak apa yang terjadi dalam tahun-tahun berikutnya setelah aku bertemu dengan Gibraltar. Selain jatuh cinta dengan buku, aku juga jatuh cinta dengan laki-laki itu.

Masalahnya, menjadi pihak yang jatuh cinta sendirian membuatku jadi serakah dengan hubungan kami. Aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar teman, tetapi Gibraltar tidak bersedia melepaskan label itu. Baginya, aku hanyalah Kenna. Seorang teman. Seorang sahabat. Seorang yang akan muncul setiap hari di toko buku milik keluarganya. 

Jadi, malam itu, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku dengan mengantongi dua pilihan: Jika dia menerimaku, aku akan melanjutkan kuliahku di ibu kota dan kami bisa bersama-sama membangun masa depan yang kami inginkan. 

Tapi, inilah yang terjad: dia menolak. Aku pergi. Kisah kami berakhir di sana.

“Gibraltar,” kataku. “Lama nggak ketemu, ya?”

Dia menyunggingkan seulas senyum tipis. “Mau teh?”

***

Sebagian besar buku-buku di dalam toko sudah dimasukkan ke dalam kontainer dan beberapa kardus berukuran besar. Rasanya seperti aku baru saja memasuki bilik masa lalu dan menjadi gadis berusia delapan tahun yang terkesima dengan seisi toko. Membayangkan bahwa tempat ini akan ditutup selamanya membuat dadaku berdenyut nyeri. 

“Kayaknya aku tahu alasan kamu datang ke sini malam ini.” Tahu-tahu, Gibraltar sudah berdiri di sampingku sambil mengulurkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Aku menerimanya dengan tangan kanan sambil menggumamkan terima kasih.

“Kamu nggak menyayangkannya?” tanyaku. “Menutup LENTERA?”

“Mana mungkin, ‘kan?” 

Aku menoleh ke arahnya dan kami saling bertatapan sejenak. Mustahil aku bisa mengetahui apa yang ada dalam pikirannya saat ini, dan menatapnya terlalu lama hanya membuatku semakin gugup, jadi aku memalingkan wajahku sembari mengingatkan diri sendiri bahwa ada batasan yang tidak boleh kulewati.

“Aku mencintai tempat ini sama seperti kamu mencintainya bertahun-tahun yang lalu.” ujarnya. Kata-kata itu menciptakan semacam gelenyar aneh di dadaku. “Tapi, Kenna, kamu juga pasti tahu perasaan itu—ketika kamu menginginkan sesuatu tapi nggak bisa mendapatkannya. Jadi, kamu mencoba peruntungan lain dengan pergi ke tempat yang jauh.”

Kalimat terakhirnya membuatku kembali menoleh. “Maksudmu, kamu akan pergi?”

“Mm-hmm.” Gibraltar mengangguk. “Kurasa inilah saat yang tepat.”

“Saat yang tepat untuk melakukan apa?”

“Mengajar, Kenna.”

Di sudut memoriku, rasanya aku pernah mendengar Gibraltar mengatakan hal serupa saat kami masih duduk di bangku SMA. Mengajar telah menjadi cita-citanya sejak lama. Sampai ia harus mewarisi LENTERA di usia yang sangat muda.

“Sepanjang hidupku, aku telah menghabiskan waktuku di dalam surga kecil ini. Buku-buku selalu menjadi temanku. Tapi, di luar sana, ada banyak anak-anak yang bahkan nggak memiliki akses terhadap buku. Ada anak-anak yang nggak bisa membaca. Ada anak-anak yang nggak bisa menulis.”

Aku tersenyum melihat binar di matanya. “Kamu pasti bisa melakukannya, Tar,” kataku.

“Aku senang kamu berkunjung hari ini.” Gibraltar menghela napas. “Seenggaknya kali ini, kita bisa saling mengucapkan selamat tinggal dengan benar.”

“Bukan selamat tinggal,” kataku cepat-cepat. Aku mengabaikan raut kebingungan yang muncul di wajahnya dan melanjutkan, “Dulu, aku nggak mengucapkan selamat tinggal karena aku tahu kita pasti akan bertemu lagi. Kapan pun. Kali ini juga sama. Kita akan bertemu lagi. Mungkin dalam sepuluh atau dua puluh tahun.”

Dia tertawa. “Kamu sudah banyak berubah.”

***

Saat aku meninggalkan LENTERA malam itu, Gibraltar memaksa menjejalkan sebuah buku ke tanganku sebagai kenang-kenangan.

“Sampai jumpa lagi, Kenna.”

Aku menunduk, menatap buku yang baru saja kuterima.

James Herriot. Kisah-Kisah Anjing.

Aku tersenyum. Dia masih mengingatnya. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Jendela Nostalgia
Bells
Cerpen
Bronze
Rindu Suara Azan
aksara_g.rain
Cerpen
Dua Wanita yang Berteduh
anjel
Cerpen
Bronze
Usman dan Ujang, Suatu Kali
Harsa Permata
Cerpen
Bronze
Perempuan Pemakan Bangkai
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Cerpen
Serial Killer? : Hal Baru
Rumpang Tanya
Cerpen
Menyatukan Dua Keluarga
Yovinus
Cerpen
Dendam Sofia
hyu
Cerpen
MENTARI GADIS DESA
Fatihah Nur jannah
Cerpen
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
fotta
Cerpen
BERHENTILAH BAIK
Husni mubaroh
Cerpen
Bronze
Pekerja Kontrak
Karlia Za
Cerpen
Bronze
Di Balik Layar
Agisna
Cerpen
Bronze
Singa yang Tak Bisa Menggonggong
Ilham, S.S.
Cerpen
He's not just a green flag but teal green
Firlia Prames Widari
Rekomendasi
Cerpen
Jendela Nostalgia
Bells
Novel
What's Left After Goodbye
Bells
Cerpen
Lilin Kecil
Bells