Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
2
Suka
248
Dibaca

Jam dinding menunjukkan pukul 23.45 WIB. Waktu Indonesia Bagian Galau.

Aku duduk bersila di atas kasur kapuk yang sprei-nya bergambar Hello Kitty (warisan ibu kost, jangan tanya). Lampu kamar sudah kumatikan. Hanya ada satu sumber cahaya: layar HP Android kentangku yang retak di pojok kiri atas.

Malam ini, aku bukan Dian si staf admin yang sering disuruh fotokopi. Malam ini, aku adalah Agen 007 versi Kearifan Lokal. Misi malam ini bersandi: "OPERASI GASTRONOMI".

Target: Jocelyn. Status: Gebetan Grade A+. Cantik, wangi, dan kalau senyum bisa bikin diabetes tipe basah dan kering sekaligus.

Tujuannya sederhana tapi krusial: Aku ingin memberinya kejutan makanan. Tapi aku tidak tahu apa makanan kesukaannya. Bertanya langsung? Terlalu amatir. Terlalu mainstream. Seorang pria sejati harus melakukan riset pasar yang mendalam sebelum meluncurkan produk cinta.

"Aku harus tahu apa yang dia makan. Aku harus tahu sejarah kuliner hidupnya," gumamku pada cicak di dinding.

Aku membuka aplikasi Instagram. Akun Jocelyn terkunci? Tentu tidak. Dia public figure kampus (dulu) dan sekarang selebgram mikro kantor. Profilnya terbuka lebar bak gerbang surga yang menyambut pendosa tobat.

"Bismillah, Stealth Mode on," bisikku.

Jari jempolku mulai bergerak. Mengusap layar dari bawah ke atas. Scroll. Scroll.

Postingan tahun 2024: Foto-foto estetik di kafe, OOTD (Outfit of The Day), dan foto kucing. Biasa saja. Terlalu pencitraan. Aku butuh data mentah. Aku butuh kebenaran yang hakiki.

Aku terus scroll. Masuk ke tahun 2020. Era pandemi. Isinya foto Dalgona Coffee dan tanaman hias. Membosankan.

Aku butuh menggali lebih dalam. Seperti arkeolog yang mencari tulang dinosaurus, aku harus menemukan fosil selera makan Jocelyn di masa lalu. Jempol kananku bekerja keras, menggesek layar tanpa henti.

10 menit berlalu. Jempolku mulai terasa panas. Gesekan antara kulit jempol dan layar tempered glass murahan ini mungkin sudah memercikkan api tak kasat mata.

Tahun 2016. Jocelyn wisuda. Cantik.

Tahun 2014. Jocelyn SMA. Masih polos. Poni lempar.

Tahun 2012. BINGO. Inilah The Dark Age. Zaman Kegelapan. Zaman di mana filter Instagram masih bernama "Valencia" dan "X-Pro II" dengan frame hitam tebal yang norak. Zaman di mana caption penuh dengan tagar #Like4Like #TagsForLikes dan tulisan besar kecil (Alay).

Aku menemukan tambang emas. Di sinilah Jocelyn yang asli berada. Jocelyn yang belum mengenal Jaim.

Aku melihat foto-fotonya. Ada foto dia makan seblak di pinggir jalan dengan caption: "Maem cblak dlu cma tmn2.. pedes ngetz loh.. :" Ada foto dia memegang cilok dengan pose bibir manyun 5 sentimeter.

"Aha! Jadi dia suka pedas dan jajanan SD!" analisisku tajam. "Data terkunci. Misi hampir sukses."

Aku terpaku pada satu foto yang sangat... fenomenal. Foto tertanggal 12 Desember 2012. Foto Jocelyn close-up (jarak kamera ke wajah mungkin cuma 2 cm). Matanya melotot. Bibirnya dimonyongkan maksimal (Duck Face Purba). Pipinya dikembungkan. Diedit pakai aplikasi Camera360 yang bikin kulit jadi putih pucat kayak mayat formalin. Caption-nya: "Lgi bosen ndiriian d rumah.. sp yg mau nemenin incess? #bored #cute #instamood #alay #yolo"

Aku menahan tawa sampai perutku kram. "Anjir... ini emas murni! Ini aib nasional!" kataku dalam hati. "Kalau foto ini gue simpen buat bahan becandaan pas kita udah jadian nanti, pasti lucu banget."

Aku ingin memperbesar (zoom) foto itu untuk melihat detail make-up luntur di matanya. Dengan dua jari, aku melakukan gerakan pinch (mencubit keluar) untuk zoom.

Namun... Di sinilah takdir berkata lain.

Layar HP-ku yang retak itu kadang ghost touch. Dan jempolku yang ukurannya segede jempol kaki ini... meleset. Bukannya nge-zoom, jempolku malah melakukan ketukan ganda. Tap-tap.

Di tengah layar foto aib tahun 2012 itu... Muncul sebuah animasi Jantung Hati berwarna putih. Lalu tombol hati di bawah foto berubah menjadi MERAH.

DIAN MENYUKAI POSTINGAN ANDA.

Waktu berhenti. Bumi berhenti berputar. Gravitasi menghilang.

Aku menatap ikon hati merah itu. Warnanya merah darah. Merah bahaya. Merah tanda kematian.

"MAMPUS!!!"

Teriakanku memecah keheningan malam kosan. Tetangga sebelah mengetuk tembok, "Woi! Berisik! Besok kerja!"

Aku tidak peduli tetangga. Aku peduli nyawaku. Aku baru saja me-like foto aib gebetan dari 12 TAHUN YANG LALU. Ini bukan sekadar stalking. Ini adalah deklarasi bahwa aku adalah pengintai gila yang menyelami kehidupannya sampai ke dasar palung Mariana.

Otak reptilku mengambil alih. PANIK. PANIK LEVEL DEWA.

"Hapus! Hapus! Unlike! UNLIKE BEGO!" teriakku pada diriku sendiri.

Jempolku yang gemetar hebat langsung menekan tombol hati merah itu lagi untuk membatalkannya.

Tap. Hati merah hilang. Menjadi hati putih kosong. Fiuh... Aku menghela napas lega. Aman.

TAPI TUNGGU. Bagaimana kalau notifikasinya sudah masuk tapi belum hilang di HP dia? Aku harus memastikannya. Apakah sudah benar-benar ke-unlike?

Karena panik dan tanganku basah oleh keringat dingin seukuran biji jagung, jempolku terpeleset lagi.

Tap. MERAH LAGI.

"AAAAARGHH!!!"

Aku me-like foto itu untuk KEDUA KALINYA. Sekarang Jocelyn pasti dapat notifikasi baru lagi!

Aku panik lagi. Aku tekan lagi untuk Unlike. Tap. Putih.

Tapi aku ragu lagi! HP retak ini kadang delay! Aku tekan lagi untuk memastikan. Tap. MERAH LAGI.

"YA TUHAN, KENAPA JEMPOL INI DURHAKA SEKALI?!"

Aku terjebak dalam lingkaran setan kepanikan. Like. (Sial!) Unlike. (Udah belum ya?) Like. (Eh kepencet lagi!) Unlike. (Aduh sinyalnya muter!) Like. (Mati gue!)

Dalam waktu 10 detik, aku mungkin sudah melakukan Like-Unlike sebanyak 15 kali. Di HP Jocelyn, notifikasi pasti berbunyi seperti senapan mesin: Ding! Dian menyukai foto Anda... Ding! Dian menyukai foto Anda... Ding! Dian menyukai foto Anda...

Ini bukan lagi ketahuan stalking. Ini adalah teror. Ini adalah spamming aib.

Aku membanting HP-ku ke kasur. Aku menjambak rambutku sendiri.

"Gila... Gue bakal dianggap psikopat. Gue bakal dianggap creep. Gue bakal dianggap kolektor barang antik karena nge-like foto zaman Firaun masih TK."

Aku membayangkan Jocelyn yang sedang tidur cantik, tiba-tiba HP-nya bergetar hebat. Dia bangun, melihat layar, dan melihat namaku berjejer memenuhi lock screen-nya di atas foto wajahnya yang sedang monyong.

"Tamat riwayat gue. Tamat."

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat ikon hati merah berkedip-kedip menertawakanku. Aku menghabiskan sisa malam dengan merancang skenario:

  1. Pindah ke planet Mars.
  2. Operasi plastik ganti wajah.
  3. Pura-pura amnesia kalau ketemu dia besok.

 

Pagi datang terlalu cepat. Matahari bersinar cerah, mengejek nasibku yang suram. Mataku bengkak, ada kantung mata hitam yang bisa dipakai buat belanja di warung.

Aku berangkat ke kantor dengan langkah gontai. Rasanya seperti narapidana yang berjalan menuju kursi listrik. Kebetulan (atau kutukan), Jocelyn satu divisi denganku. Mejanya hanya berjarak 5 meter dari mejaku. Jarak yang cukup dekat untuk merasakan aura kebencian, tapi cukup jauh untuk dilempar stapler.

Aku sampai di kantor. Aku duduk di mejaku. Aku bersembunyi di balik monitor komputer. Aku menjadikan tumpukan dokumen sebagai benteng pertahanan.

"Pagi, yan," sapa rekan kerjaku, Budi.

"Diem lu, Bud. Gue lagi simulasi jadi tanaman hias. Jangan ajak ngomong," jawabku ketus.

Tiba-tiba... Aroma parfum vanilla tercium. Aroma yang biasanya membuat hatiku berbunga-bunga, kini membuat perutku mulas. Suara langkah high heels mendekat. Tak. Tak. Tak.

Itu langkah kaki Jocelyn. Setiap ketukannya terdengar seperti palu hakim yang mengetuk vonis mati.

Aku menunduk, pura-pura sibuk mengetik di keyboard yang komputernya bahkan belum kunyalakan.

"Dian," panggil suara lembut itu. Tapi nadanya dingin. Sedingin es batu di kutub utara.

Aku menelan ludah. Jakun-ku naik turun. Perlahan, aku mengangkat wajahku.

Jocelyn berdiri di samping mejaku. Dia cantik, seperti biasa. Tapi matanya... Matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara jijik, bingung, takut, dan ilfeel (hilang feeling).

"Eh, Jocelyn... Pagi... Apa kabar? Cuaca cerah ya? Saham gabungan naik gak ya?" cerocosku ngawur.

Jocelyn tidak menjawab basa-basiku. Dia langsung to the point. Dia mengeluarkan HP-nya. Membuka galeri screenshot. Dan menunjukkan layarnya tepat di depan hidungku.

Di layar itu, terpampang bukti kejahatanku. Deretan notifikasi Instagram: Dian_Ganteng99 menyukai foto Anda. Dian_Ganteng99 menyukai foto Anda. Dian_Ganteng99 menyukai foto Anda. (Dan itu di atas foto dia yang monyong tahun 2012).

"Bisa tolong jelasin ini?" tanya Jocelyn. Suaranya datar.

Aku berkeringat dingin. "I... itu... anu..."

"Kamu ngapain scroll IG aku sampe bawah banget, Yan? Itu foto tahun 2012 lho. Itu foto aib banget. Kamu harus scroll ribuan foto buat sampe situ," kata Jocelyn, nada suaranya mulai naik satu oktaf.

Orang-orang di kantor mulai menoleh. Budi di sebelahku mulai pasang kuping.

"Kamu... kamu psikopat ya?" tanya Jocelyn. Kalimat itu menusuk jantungku lebih tajam dari pedang samurai.

"Kamu nyari apa di tahun 2012? Kamu lagi nyusun profil psikologis aku buat diculik? Atau kamu emang suka ngoleksi foto aib orang buat dijadikan ritual?"

Aku tersudut. Aku terpojok. Logika sudah mati. Kejujuran ("Aku cuma mau cari makanan kesukaanmu") terdengar terlalu lemah dan tetap saja menyeramkan (freak).

Aku butuh alasan. Alasan yang kuat. Alasan yang di luar nalar manusia agar dia tidak berpikir aku yang melakukannya. Aku harus menyalahkan entitas lain.

Otakku yang overheat akhirnya melahirkan sebuah kebohongan paling absurd dalam sejarah umat manusia.

Aku berdiri dari kursiku, memasang wajah serius dan ketakutan (akting Oscar). Aku memegang kedua bahu Jocelyn (secara imajiner, aslinya nggak berani).

"Celyn, dengerin gue dulu. Lu jangan salah paham," kataku dengan suara bergetar yang kubuat-buat dramatis. "Itu... itu bukan gue."

Jocelyn mengerutkan kening. "Maksudnya? Itu akun kamu, Dian."

"Iya, itu akun gue. HP gue. Jari gue. TAPI BUKAN GUE YANG MENGGERAKKANNYA!"

"Hah? Kamu kesurupan?"

"Lebih parah, Celyn," bisikku sambil celingukan kanan-kiri, seolah ada yang mengintai. "HP gue... HP gue itu barang terkutuk. Gue beli second di pasar gelap minggu lalu. Kata penjualnya, pemilik sebelumnya meninggal pas lagi stalking mantan."

Jocelyn mundur selangkah. "Kamu ngomong apa sih?"

"Dengerin!" sergahku. "Semalam, gue lagi tidur. HP gue taruh di meja. Tiba-tiba... HP itu nyala sendiri! Instagram kebuka sendiri! Layarnya gerak-gerak sendiri, scroll cepet banget kayak kilat!"

Aku mendramatisir gerakan tanganku, meniru gerakan scroll hantu.

"Terus, tiba-tiba dia berhenti di foto aib lu itu. Dan lu tau apa yang terjadi? Ada bayangan hitam... di layar HP gue... berbentuk jempol raksasa. HANTU JEMPOL, Celyn!"

"Hantu... jempol?" Jocelyn menatapku dengan ekspresi ilfeel yang makin menjadi-jadi. Dia terlihat seperti sedang berbicara dengan pasien rumah sakit jiwa yang kabur.

"Iya! Hantu Jempol Genit! Hantu itu yang mencet tombol Like berkali-kali! Gue bangun, gue coba rebut HP-nya, gue coba Unlike, tapi Hantu Jempol itu kuat banget! Kita tarik-tarikan jempol di layar HP! Makanya notifikasinya Like-Unlike-Like-Unlike! Itu pertarungan sengit antara gue dan arwah penasaran demi menjaga kehormatan lu, Celyn!"

Aku mengakhiri pidatoku dengan napas terengah-engah. "Jadi, gue bukan psikopat. Gue adalah korban teror mistis. Gue justru pahlawan yang berusaha nyelametin foto lu dari like hantu mesum itu."

Hening. Satu kantor hening. Budi menjatuhkan pulpennya. Mas OB yang lewat berhenti mengepel.

Jocelyn menatapku lama. Sangat lama. Lalu dia menghela napas panjang.

"Dian," katanya pelan.

"Ya, Celyn? Lu percaya kan?" tanyaku penuh harap.

"Kamu mending ke psikiater deh. Atau ke ustad. Atau dua-duanya."

Jocelyn berbalik badan. Dia berjalan pergi kembali ke mejanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku mendengarnya bergumam pelan, tapi cukup jelas di telingaku yang tajam ini: "Gila... udah stalker, halu, wibu mistis lagi. Serem banget. Mending gue blokir aja."

Aku berdiri mematung. Hantu Jempol? Serius, Dian? Dari sejuta alasan di dunia, kenapa lu pilih Hantu Jempol?!

HP-ku bergetar di saku celana. Aku membukanya. Notifikasi Instagram: "Pengguna tidak ditemukan."

Jocelyn sudah memblokirku.

Siang itu, aku makan di kantin sendirian. Di hadapanku ada semangkuk seblak pedas level 5. Ternyata benar, Jocelyn suka seblak. Aku melihatnya makan seblak di meja ujung sana bersama teman-temannya. Mereka sesekali melirik ke arahku sambil bisik-bisik dan tertawa kecil.

Aku berhasil mengetahui makanan kesukaannya. Misi "Operasi Gastronomi" secara teknis sukses.

Tapi harganya... Harganya adalah harga diriku. Aku sekarang dikenal sebagai "Dian si Stalker Hantu Jempol".

Aku menyendok kuah seblak yang merah membara itu ke mulutku. Pedas. Panas. Membakar lidah. Sama seperti hatiku yang terbakar oleh rasa malu.

Aku melihat ke arah jempol kananku. Jempol besar yang menjadi biang kerok semua ini. "Dasar jempol durhaka," makiku pada jari sendiri. "Gara-gara lu kepeleset, jodoh gue meleset."

Aku menghukum jempolku dengan menempelkannya ke gelas es teh yang berembun, berharap dia kedinginan dan tobat.

Besok, aku berencana datang ke kantor pakai helm full face. Atau mungkin aku akan resign dan jadi peternak lele di kampung. Setidaknya lele tidak punya Instagram dan tidak akan menganggapku psikopat kalau aku menatap kolamnya terlalu lama.

TAMAT

(Catatan Kaki: Jangan pernah stalking sampai tahun 2012 kecuali jempolmu sudah diasuransikan dan mentalmu setebal baja)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Komik
Bronze
The Fake Family
Agam Nasrulloh
Flash
Bronze
Gara-gara Gosip
penulis kacangan
Flash
Bronze
Cenobalistigari
Y. N. Wiranda
Flash
Tes
Faris Amar
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras
Flash
Rezeki Mandra Dipatok Saep
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Kopi 2
syaifulloh
Cerpen
Bronze
Mengejar Agus
krkawuryan
Flash
Overthinking Bersamamu
Cano
Cerpen
Celana Pensil
Astromancer
Flash
Mencari Kacamata
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Catatan Mas Doni
Emma Kulzum
Flash
Sulitnya Mencintai Tuan
Fazil Abdullah
Flash
President Suite
𝔧 𝔞 𝔫 𝔱 𝔢 .
Rekomendasi
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Diet Hanya Wacana
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Berbakti Jalur Fast Track
cahyo laras
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras
Cerpen
Misi Membeli Lipstik
cahyo laras
Cerpen
Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Perokok Idiot!!!
cahyo laras
Cerpen
Steak Medium Rare Rasa Ban Dalam
cahyo laras
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Bocor Alus Keuangan Rumah Tangga
cahyo laras