Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bagaimana dunia tanpa atap-atap langit dan tanpa awan-awan yang mengembang?
Daerah pinggiran selalu menjadi sorotan, di mana orang-orang yang tidak mampu mengambil alih kolong jembatan sebagai atap rumah mereka, tikar-tikar dihamparkan cukup menjadi alas tidur, sehelai kain panjang tipis dijadikan oleh mereka selimut. Kedua sorot mata bocah perempuan itu menatap tajam atap kolong jembatan ini. Di atas jembatan ada kendaraan yang berlalu-lalang berganti-ganti. Suara klakson menjadi sebuah musik yang cukup menentramkan malam-malam sunyi.
Bocah kecil itu bernama Hadil. Dia mempunyai mimpi kecil ingin punya mobil dan motor agar bisa membuktikan kalau dirinya bukan hanya penikmat atap jembatan, namun juga penikmat jalan yang dibangun di atas jembatan. Tangan mungil Hadil memungut bekas-bekas botol dan cup minuman yang tergeletak di atas tanah. Setiap hari bermandikan keringat. Bekas botol dan cup minuman yang ia pungut, sore harinya ia pergi ke tukang rongsokan untuk dikilo dan menghasilkan uang.
Setiap sore Hadil selalu dibimbing dan belajar bersama Ibunya. Bagi Hadil, Ibunya adalah sosok yang genius. Ibunya mengajarkan banyak hal mengenai membaca serta ilmu pengetahuan lainnya.
“Nak, kalau misalnya kita hidup terus-menerus di bawah kolong jembatan ini, apa tanggapanmu?”
Hadil diam sejenak, mencari-cari jawaban, “tidak apa-apa,” singkatnya.
"Yakin?” Ibu tak percaya.
"Iya.”
"Pelajaran apa yang kamu ambil dari jembatan ini yang sudah memberi kita tempat tinggal walau seadanya?”
Hadil kembali merenung, mencari jawaban kembali, “mungkin, suatu saat aku akan membangun jembatan seperti ini agar orang seperti kita bisa punya tempat tinggal kayak kita sekarang,” polos Hadil.
Ibu tertawa-tawa mendengar jawaban polos dari anak perempuannya ini, “ada yang lebih dari itu, Nak.”
"Apa itu, Bu?” tanya Hadil penasaran.
"Jadilah jembatan yang kokoh.”
Hadil mendengar perkataan Ibunya seolah itu adalah sebuah perkataan yang amat sakral, “jadi kita harus seperti jembatan?”
"Iya.”Hadil lalu duduk di pangkuan Ibunya, “jadilah jembatan yang kokoh, seperti jembatan ini meskipun hanya sebagai atap berteduh, dan tidak bisa memberi kita kehangatan selayaknya rumah. Tetapi, jembatan ini menjadi tempat kehidupan, dengan sederhananya memberikan kita tempat tinggal, tempat berteduh, juga menambah lagi anggota keluarga kita, bukan?”
"Menambah anggota keluarga?” kerung Hadil tak mengerti.
"Iya, lihatlah mereka di sekitar kita. Karena jembatan ini kita dipertemukan, kita bertambah anggota keluarga. Saling berbagi, saling berbuat baik, mungkin Ibu menamai tempat tinggal ini surga bagi Ibu.”
Hadil memeluk Ibunya erat-erat. Dekapan yang dalam. Hadil tidak tega, Ibunya sekarang suka batuk-batuk yang membikin suaranya serak apalagi tenggorokannya sakit.
“Ibu!”
“Iya?”
“Aku punya buku bacaan dongeng, tadi aku mengambilnya di tukang rongsokan. Katanya, ini gratis buatku,” Hadil menyodorkan buku dongengnya.
“Wah, bagus sekali. Ibu juga pengen baca. Kita baca bareng-bareng, ya!”
Hadil mengangguk setuju. Hadil dan Ibunya mengambil posisi telungkup di atas tikar, Hadil sangat gemar dan pandai membaca. Selama membaca, Ibunya terus-menerus mengelus-ngelus kepala anaknya dengan hati yang penuh pengharapan.
***
Baru saja adzan shubuh hampir semua orang di kolong jembatan sudah terbangun dari tidurnya. Kebetulan ada lima buah WC umum di dekat kolong jembatan dan selalu digunakan orang-orang di sana. Hadil yang sudah membersihkan badannya sangat segar kelihatannya. Dia menyisir rambutnya yang basah.
"Apa sekarang kamu mau sembunyi di jendela sekolah?”
"Ahhhh……, Ibu. Kamu tahu, aku tak pernah absen di sekolah meskipun aku bukan siswanya.”
Ibu tertawa mendengarkan perkataan anaknya dengan rengekan manja, “dasar, anak Ibu.”
“Hadil, Ibu pengen kamu jangan pernah berhenti belajar dan membaca banyak hal. Hidup juga akan berarti jika kamu bisa berbuat baik dan berani,” Ibu memang sangat lemah lembut dan membelai pipi anaknya.
Lekas Hadil mencium kedua pipi Ibunya, tak lupa memeluknya, lalu pamit segera. Setiap memungut bekas botol dan cup minuman, Hadil selalu membawa tas gandong yang berisi buku dan pulpen juga. Ia pergi ke dalam gang dan tepat ia di belakang kelas yang jendelanya menghadap ke gang. Diam-diam, Hadil mengintip anak-anak di kelas. Sebelum pelajaran sekolah dimulai selalu saja ada absenan siswa. Andaikan, namanya ada di antara siswa-siswa itu, mungkin itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Mulailah pelajaran, Hadil cepat-cepat fokus mendengarkan pelajaran yang disampaikan Ibu Guru.
Seusai itu, ia kembali memungut bekas botol atau cup minuman. Ia berharap hari ini menghasilkan uang yang lumayan cukup untuk obat Ibu. Dan ada juga hal lain yang diharapkan, Hadil ingin mendapatkan buku bacaan dari tukang rongsokan lagi. Terdengar adzan ashar di masjid-mesjid. Tandanya sudah waktunya buat pergi ke tukang rongsokan menyerahkan apa yang ia pungut seharian ini.
"Ini hasilmu,” ujar si Bapak juragan rongsok, “oh, ya. Ada lima buku bacaan yang masih bagus buatmu.”
Mata Hadil berbinar. Baik sekali Bapak juragan rongsok itu, “makasih, Bapak. Bapak sangat baik sekali,” Hadil dengan polosnya memeluk erat-erat. Bapak juragan rongsok hanya tersenyum sambil mengelus-ngelus kepala Hadil.
Hadil rasanya ingin cepat-cepat sampai dan berbicara banyak mengenai hari ini pada Ibunya. Namun, rasanya terkejut melihat Ibunya dikelilingi banyak orang. Ada dari mereka mendekati Hadil lalu memeluknya sambil menangis. Hadil masih tidak mengerti.
"Ada apa, Bibi Ofre?”
Bibi Ofre tak kunjung menjawab, ia terus-menerus menangis sambil memeluk Hadil.
“Hadil,” ujar Lira temannya.
"Ada apa, Lira, Ibuku kenapa?”
Lira membisu.
“Ibuku sakitnya semakin parah, kan. Aku membawa obat yang dibeli dari apotik. Ibu bakalan sembuh kalau minum obat ini,” tutur Hadil sambil memperlihatkan obatnya pada Lira dan Bibi Ofre.
“Ibumu sudah tidak bisa meminum obat itu,” jawab Lira semakin berat.
"Kenapa, harus ke rumah sakit?”
Lira menggelengkan kepalanya, “Ibumu sudah meninggal, Hadil.”
Hadil merasa tertampar keras. Jembatan dalam dirinya hancur berkeping-keping, hancur tak bersisa. Tiada lagi jembatan yang kokoh. Ia berhambur memeluk Ibunya, mencium kedua pipinya, keningnya, kedua tangannya. Ibu sudah tiada.
"Ibu, walaupun jembatanku sekarang sudah roboh, aku akan kembali membangunnya dan membetulkannya,” lirih janji dalam hati Hadil.
Air mata masih ada, kenangan masih terpatri.
***
Hadil sudah beranjak dewasa, ia tidak lagi diam di bawah jembatan. Hadil sekarang hidup bersama Ayah kandungnya. Hadil merebahkan dirinya di atas kasur memandang atap, ia ingat setiap harinya selalu menatap langit-langit jembatan. Tetiba saja merasa rindu pada momen itu.
“Hadil,” teriak Ayah.
"Iya, Ayah.”
Ayah masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat lalu duduk di samping anaknya.
"Aku serasa kangen pada Ibumu,” tutur Ayah sambil tersenyum malu.
Hadil juga hanya bisa tersenyum, “aku juga kangen Ibu.”
"Aku ingat bagaimana kamu dikirimkan padaku lewat Bibi Ofre bersama anaknya yang perempuan seumuranmu..."
“Lira,” sambung Hadil, ia masih mengingat segala hal.
"Iya, itu,” Ayah diam sejenak, “aku merasa bersyukur bisa menikahi Ibumu, dia hanya perempuan sederhana. Aku akui Ibumu cerdas, kuat, tangguh, segalanya.”
Hadil menemukan ketulusan kasih cinta Ayah pada Ibunya.
Ayah menghela nafas. "Aku sangat sayang pada Ibumu. Aku menceraikan Ibumu, karena aku lebih memilih perempuan lain, itulah kesalahanku.”
Hati Ayah tertegun ingin menangis, momen yang indah tidak bisa diulangi.
“Ibumu mendapatkan hak asuh anak, dan dia membawamu pergi juga. Kamu tahu, Hadil. Ibumu seolah menghilangkan identitasnya, ketika aku sudah sadar dan berjanji ingin rujuk dengan Ibumu sudah tidak bisa. Ibumu dan kamu hilang, dicari pun tidak ada hasil. Ada satu hal yang aku yakini dan aku percayai, Ibumu itu sangat kuat, dia tidak akan membiarkanmu kelaparan dan sakit hati.”
Ayah membisu.
"Aku bersyukur punya Ibu yang hebat,” tutur Hadil sambil memeluk Ayahnya yang kini sudah menangis.
Ayah mengusap air matanya, “bagaimana proyekmu?”
“Hmmmm, baik.”
"Kamu membangun rumah susun itu buat siapa?”
"Mereka yang tidak punya rumah, Ayah.”
Ayah memeluk anak gadisnya yang kian dewasa, sudah punya kerjaan, dan tidak merengek ingin dibelikan buku bacaan.
Pagi hari, ia membeli tiket kereta ingin pergi ke jembatan yang menjadi saksi bisu ia dibesarkan. Sampai di stasiun tujuan, ternyata harus naik angkot lagi. Hadil naik angkot, jalan-jalan ini membuka memori masa lalunya. Ia ingat ketika dirinya memungut botol bekas. Ada sekolahan SD yang ia lewati, itu adalah sekolah SD di mana dirinya belajar banyak hal meski lewat jendela belakang. Hadil tersenyum sendiri.
Turunlah dari angkot, Hadil masih ingat menuju jembatan itu hanya lewat lapangan saja. Tapi sekarang lapangan itu, berubah menjadi rumah-rumah penduduk. Alhasil, harus melewati gang-gang yang kecil.
Sampai di kolong jembatan, Hadil melihat dan memandang sekitarnya. Pemandangan dan suasananya tidak berubah. Pasti ada anak kecil yang bermain dan berlarian, orang yang mengantre di WC umum, ada orang yang rebahan di atas tikar. Pemandangan yang tidak berubah sama sekali.
Tiba-tiba sosok Ibu-ibu berdaster menghampiri Hadil, “eh, Nak, mau ke siapa?”
“Hehe," Hadil terkekeh. "Ibu aku ingin bertanya, di sini ada Bibi Ofre dan Lira?”
"Oh, kenapa kamu kenal, Nak?”
"Aku Hadil, anak Ibu Hiris.”
Ibu-ibu itu terperangah terkejut. Dia berteriak-teriak, “Ofre, Lira, ada yang mencarimu cepat!!”
Dari kejauhan terlihat Bibi Ofre mengomel-ngomel. Lalu menghampiri Hadil.
“Bibi Ofre, kan?” tanya Hadil ragu-ragu.
"Iya. Kamu siapa?”
“Hadil. Aku Hadil, Bibi.”
Bibi Ofre terkejut tak karuan. Berhambur memeluk Hadil yang sudah besar, tinggi dan berpakaian sangat indah.
"Kamu semakin beda. Tapi, cantik kayak Ibumu,” Bibi Ofre matanya berkaca-kaca, terharu.
"Lira, ini Hadil,” ujar Bibi Ofre pada Lira.
Lira sempat berpikir, agak lupa, “yang mana?”
"Hadil yang mungut bekas botol, anaknya Ibu Hiris.”
Lira menutup matanya, berpikir, “oh, Hadil!”
Lira berhambur memeluk Hadil. Kawan lamanya yang sudah ditinggal beberapa tahun yang lalu. Mereka bertiga saling bercengkrama, saling bertukar cerita. Kata Bibi Ofre, juragan rongsok suka menanyakan Hadil, sebab ia dapat buku bacaan yang bagus. Banyak hal yang diceritakan dan semua memang cepat sekali berlalu. Hadil dengan bahagianya, mengajak orang-orang di kolong jembatan untuk mengisi rumah susun yang dibangunnya. Semua menolak termasuk Bibi Ofre dan Lira.
"Kita sudah menjadikan tempat ini rumah, Hadil. Aku tahu maksud kamu baik sekali. Bukan kita tidak mau hidup layak, tapi kita bahagia berada di sini,” jelas Bibi Ofre dengan nadanya melembutkan hati Hadil untuk memahami semua orang di sini.
Hadil tak lupa ingin berkunjung pada juragan rongsok. Hadil sudah lupa jalan, jadi diantar Lira.
"Ada buku bacaan, Pak?”
Bapak juragan rongsok hanya menjawab, “ada, mau berapa?”
"Tiga saja. Ada, kan?”
Hadil dan Lira tertawa-tawa kecil. Bapak juragan rongsok memang agak cuek pada orang asing. Bapak membawa dan memberikannya pada Hadil. Tetiba, Bapak juragan rongsok seperti pernah melihatnya.
"Aku pernah melihatmu,” Bapak juragan rongsok sedang menerka.
"Aku Hadil, tukang minta buku bacaan,” jawab Hadil disusul senyum merekah.
Bapak juragan rongsok tertawa, ia memang ingat pada Hadil. Lewat mata yang tajam dan dari senyumannya. Sungguh hari ini bagi Hadil adalah momen mengharukan dan merindukan. Selama perjalanan pulang di kereta api ada sebuah pesan dari Ayah, “Hadil, pulang jangan kemalaman banget. Ayah udah nyiapin makanan di meja, ya. Tadi gimana rame, ada cerita apa aja?”
Hadil senyum-senyum sendiri membacanya, “ada banyak, Ayah,” ketik Hadil di chat whatsapp yang tidak tahu harus menjawab apa.
Ayah menjawab lagi dengan ketikannya, “pelajaran apa yang kamu ambil di perjalananmu hari ini?”
"Jadilah jembatan yang kokoh,” ketik Hadil.
Hadil melihat ke luar jendela kereta. Awan di atas langit menggumpal seperti menampung seluruh harapan manusia dan dunia seluas ini pasti banyak cerita, cerita dari berbagai manusia. Manusia biasa seperti kita, manusia biasa yang tidak terkenal. Banyak orang mengartikan kehidupan, menikmati hidupnya, sebagian bahkan tidak menginginkan kehidupannya yang dijalani, tetapi adapula yang sedang bercanda dengan kehidupannya. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Tapi, jembatan yang dilintasi kereta ini akan selalu kokoh. Sekokoh hidup kita dan bahu kita.
Cibiru, Bandung.