Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Jejak
1
Suka
4,949
Dibaca

Ari kembali ke taman kota itu seperti seseorang yang berjalan menuju sebuah ruang tempat waktunya pernah berhenti. Taman itu memang bukan tempat yang istimewa bagi sebagian besar orang karena hanya lapangan rumput biasa dengan beberapa bangku tua yang catnya mulai terkelupas, kios es krim yang jarang buka, serta jalur setapak melingkar yang dipenuhi dedaunan kering. Namun baginya, tempat itu adalah sisa kecil dari masa lalu yang masih bisa disentuh menjadi satu-satunya tempat yang tidak berubah ketika segalanya runtuh

Ia menghempaskan tubuh ke bangku kayu yang sudah mulai retak, membiarkan udara sore yang lembap mengisi dadanya. Tidak ada tujuan.maupun alasan lain selain sebuah kebutuhan untuk duduk—hanya itu. Duduk dan membiarkan dunia lewat tanpa menuntut apapun darinya. Di hari-hari seperti ini, rasanya lebih mudah untuk diam daripada menjawab pertanyaan yang terus datang dari orang-orang: “Kau baik-baik saja?” atau “Jika butuh teman cerita, bilang saja.” Padahal mereka tidak pernah mengerti betapa obrolan kecil saja bisa menjadi beban ketika seseorang sedang berusaha memungut pecahan dirinya sendiri.

Sudah tiga minggu sejak kecelakaan di tol 70 itu terjadi, tetapi bagi Ari, waktunya tidak bergerak. Hari-harinya justru terasa seperti satu hari panjang yang tidak kunjung selesai. Kecelakaan itu terjadi pada malam yang seharusnya biasa saja—hanya hujan, lampu-lampu kota yang redup, dan jalan bebas hambatan. Hanya satu malam biasa yang tidak punya tanda apa-apa, kecuali satu hal: pertengkaran yang tidak pernah ingin ia kenang.

Bayangan itu datang lagi, tentang adiknya, Raga, yang pergi dengan wajah kesal setelah pe...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan
Cerpen
GAMBAR TANPA WAJAH
Desto Prastowo
Cerpen
Narasi Perempuan
Meilisa Dwi Ervinda
Cerpen
DUA PULUH HARI YANG TERLEWAT
ibupertiwi
Cerpen
Kisah Aksara
Alda Kusmono
Cerpen
Bronze
Gamophobia
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Conversation with Me
hyu
Cerpen
Bronze
Keluarga bahagia dibalik senyum sederhana
Ryan Wijayanto
Cerpen
Bronze
Sipanggaron
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Buat Apa Membeli Kembang Api?
Juli Prasetya
Cerpen
Bronze
Skripsi oh Skripsi
Nuel Lubis
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
𝐀𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐜𝐮𝐫𝐡𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐡 𝐆𝐮𝐲'𝐬
Langitttmallam
Cerpen
Bronze
Kenapa Tak Ingin ke Kota?
Anggrek Handayani
Cerpen
Racau
Rafael Yanuar
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Ibuku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tanpa Balasan
Muhamad Irfan
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tak Terdengar
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
JIKA RUMAH ADALAH LUKA
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Pernah Ditaruh di Vas
Muhamad Irfan