Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
JEJAK PERJALANAN DI UJUNG LOMBA
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jejak Perjalanan di Ujung Lomba

Rabu pagi itu udara masih terasa dingin ketika suara alarm membangunkanku dari tidur. Jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi. Langit di luar jendela masih gelap, hanya terdengar suara ayam dan angin pagi yang berhembus pelan. Namun meskipun mata masih berat, aku langsung teringat bahwa hari itu adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu.Hari perlombaan antar sekolah.

Aku segera bangun dan bersiap. Seragam sekolah sudah tergantung rapi sejak malam tadi. Setelah mandi dan salat subuh, aku memeriksa kembali semua barang yang kubawa: buku catatan kecil, pena cadangan, botol minum, dan beberapa lembar kertas untuk berjaga-jaga.

“Ayo cepat, nanti terlambat,” kata bapakku dari luar kamar.Aku mengangguk cepat lalu mengambil tas. Pagi itu bapak mengantarkanku ke mushola tempat kami berkumpul sebelum berangkat bersama menuju lokasi lomba.

Jalanan masih sepi ketika mobil kami melaju menembus udara pagi. Lampu jalan masih menyala samar-samar. Aku menatap keluar jendela sambil membayangkan bagaimana suasana lomba nanti.

Sesampainya di mushola, beberapa teman ternyata sudah datang lebih dulu. Di depan mushola terlihat sebuah bus yang akan membawa kami menuju tempat perlombaan.

“Fadel!” teriak Rehan sambil melambaikan tangan.

Aku menghampiri mereka. Di sana sudah ada Rahma, Lova, Widia, Bunga, Sela, Elvi, Zura, dan Eka. Wajah mereka terlihat campuran antara mengantuk dan gugup.

Kami semua berasal dari kelas dua SMA dan dipilih untuk mewakili sekolah dalam berbagai perlombaan yang diadakan di sebuah sekolah besar bernama SMA Bintang Harapan.

Aku dan Rahma mengikuti lomba menulis cerpen.Widia dan Lova mengikuti lomba desain poster.Elvi dan Zura mengikuti lomba menulis puisi.Rehan dan Eka mengikuti lomba baca puisi.Sedangkan Bunga dan Sela mengikuti lomba monolog.

Tak lama kemudian guru pendamping kami datang. Ada Pak Deri yang terkenal tegas tetapi baik hati, Buk Yeye yang selalu perhatian kepada murid-muridnya, Pak Afrizal yang humoris, dan Buk Tis yang paling sering mengingatkan kami agar menjaga sikap selama di luar sekolah.“Semua sudah lengkap?” tanya Pak Deri.

Kami mengangguk hampir bersamaan.

“Kalau begitu kita berangkat sekarang.”

Kami pun masuk ke dalam bus. Aku memilih duduk di dekat jendela bersama Rehan. Mesin bus mulai menyala dan perlahan kendaraan itu meninggalkan mushola.

Perjalanan menuju lokasi lomba ternyata sangat jauh.

Awalnya suasana di bus masih sepi karena sebagian dari kami masih mengantuk. Namun setelah matahari mulai muncul, suasana berubah menjadi ramai.Rehan mulai bercanda.

“Kalau aku menang lomba puisi, traktir aku bakso ya,” katanya sambil tertawa.

“Kalau kalah gimana?” balas Eka.

“Ya tetap traktir.”Kami semua tertawa.

Di perjalanan kami melewati banyak tempat. Hamparan sawah terlihat hijau terkena cahaya matahari pagi. Beberapa petani sudah bekerja sejak subuh. Sesekali bus melewati jalan berliku yang membuat beberapa teman hampir mabuk perjalanan.

Lova sibuk mendengarkan musik sambil melihat keluar jendela. Widia terus membuka laptop kecilnya untuk melihat kembali desain poster yang sudah ia siapkan.

Aku sendiri mencoba memikirkan ide cerita yang mungkin akan kutulis nanti. Namun semakin kupikirkan, semakin gugup rasanya.

“Tenang aja,” kata Rahma yang duduk di belakangku. “Yang penting kita usaha.”Aku mengangguk pelan.

Sekitar pukul delapan pagi akhirnya kami sampai di sekolah tujuan.

Begitu turun dari bus, kami langsung terpukau melihat suasana sekolah itu. Gedungnya besar dan bersih. Banyak pohon rindang tumbuh di sekitar halaman sekolah. Spanduk besar bertuliskan Festival Kreativitas Pelajar tergantung di depan gerbang.Suasananya sangat ramai.

Banyak siswa dari sekolah lain berdatangan. Ada yang membawa kanvas lukisan, ada yang membawa kamera, bahkan ada yang sedang berlatih pidato di sudut halaman.Aku mulai merasa gugup melihat begitu banyak peserta.

“Pesertanya banyak banget,” bisik Bunga.

“Iya, saingannya pasti hebat-hebat,” jawabku.

Kami kemudian diarahkan menuju aula utama untuk mengikuti pembukaan acara.

Pukul sepuluh pagi acara dimulai. Aula besar itu dipenuhi ratusan peserta dari berbagai sekolah. Musik pembukaan terdengar menggelegar memenuhi ruangan.

Kepala sekolah memberikan sambutan panjang tentang pentingnya kreativitas dan keberanian untuk menunjukkan bakat.

“Menang atau kalah bukanlah hal utama,” katanya. “Yang terpenting adalah pengalaman dan keberanian kalian untuk mencoba.”Kalimat itu membuatku sedikit tenang.Setelah pembukaan selesai, kami diberi waktu untuk bersiap menuju ruangan lomba masing-masing.

Aku dan Rahma berjalan menuju ruang lomba menulis cerpen di lantai dua. Di depan pintu ruangan, aku menarik napas panjang.

“Semangat,” kata Rahma sambil tersenyum.“Semangat juga.”

Tepat pukul dua belas siang lomba dimulai.Ruangan itu langsung sunyi. Semua peserta fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Aku membaca tema lomba yang diberikan panitia. Jantungku berdegup cepat. Beberapa menit pertama aku hanya diam sambil memikirkan ide cerita.Tanganku mulai dingin karena gugup.Namun perlahan aku mulai menulis.

Kata demi kata akhirnya mengalir. Aku tenggelam dalam cerita yang kubuat sendiri. Kadang aku berhenti untuk berpikir, lalu kembali menulis dengan cepat.Waktu terasa berjalan sangat cepat.Ketika aku melihat jam, ternyata sudah sore.Pukul empat lomba akhirnya selesai.

Aku menghela napas lega ketika menyerahkan hasil tulisanku kepada panitia. Tanganku terasa pegal, tetapi ada rasa puas karena akhirnya aku berhasil menyelesaikannya.Di luar ruangan aku bertemu Rahma.

“Gimana?” tanyaku.

“Lumayan. Kamu?”

“Entahlah. Semoga aja bagus.”

Kami tertawa kecil.

Beberapa teman lain juga sudah berkumpul di halaman sekolah. Mereka saling menceritakan pengalaman selama lomba.Namun ternyata Widia belum keluar.

Ia masih berada di ruang desain poster karena harus menyelesaikan posternya.Sambil menunggu, aku, Rehan, Lova, dan Bunga memutuskan berjalan-jalan mengelilingi sekolah.

Kami melihat taman bunga di belakang gedung utama, lapangan basket yang luas, dan kantin besar yang dipenuhi siswa.Saat sedang berjalan, beberapa anak OSIS menghampiri kami dengan ramah.

“Kalian dari sekolah mana?” tanya salah satu dari mereka.Kami pun mulai mengobrol.Mereka lalu menunjukkan sebuah asrama siswa yang berada di belakang sekolah.

“Kalau mau, kalian bisa menginap semalam di sini,” kata salah satu anak OSIS.Mata kami langsung berbinar.Asrama itu terlihat nyaman. Kamarnya bersih dan suasananya tenang.

"Seru juga kalau bisa nginap,” kata Rehan.Kami pun pergi menemui guru pendamping untuk meminta izin.Namun ternyata jawaban mereka tidak seperti yang kami harapkan.

“Kalian nggak bawa baju ganti,” kata Buk Yeye.

“Lagipula kalian pasti sudah capek,” tambah Pak Deri.

Walaupun kecewa, kami akhirnya mengerti dan memutuskan untuk pulang hari itu juga.Tak lama kemudian Widia akhirnya keluar dari ruang lomba dengan wajah lelah.

“Akhirnya selesai juga,” katanya sambil menghela napas.Kami semua langsung menuju bus untuk bersiap pulang.Sebelum pergi, kami berpamitan kepada anak-anak OSIS yang sudah menyambut kami dengan baik.

Perjalanan pulang dimulai ketika matahari mulai tenggelam.Awalnya perjalanan terasa lancar.Namun di tengah jalan, bus tiba-tiba berhenti total.Ternyata terjadi kemacetan panjang karena ada pohon tumbang di depan jalan.Kami terjebak cukup lama.

Udara di dalam bus terasa sangat panas karena AC bus rusak. Keringat mulai membasahi baju kami.“Aduh panas banget,” keluh Lova sambil mengipas wajahnya.

Beberapa teman mulai rebahan di kursi karena kelelahan.Namun lama-kelamaan suasana justru menjadi seru.Rehan mulai bernyanyi keras-keras.Eka memukul-mukul kursi seperti drum.Kami semua ikut tertawa dan bernyanyi bersama.

Bahkan ada yang memijat kepala temannya karena pusing menunggu macet.Di tengah panas dan lelah itu, kebersamaan terasa sangat hangat.Aku memandang teman-temanku satu per satu.

Saat itu aku sadar bahwa mungkin beberapa tahun lagi kami akan sibuk dengan jalan hidup masing-masing. Namun perjalanan hari itu akan selalu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kemacetan mulai terurai.Bus kembali melaju perlahan.Namun beberapa saat kemudian terdengar suara perut keroncongan.

“Aku lapar banget,” kata Bunga.

Kami semua tertawa karena ternyata hampir semua merasakan hal yang sama. Sejak pagi kami belum makan dengan benar.Akhirnya sopir menghentikan bus di sebuah warung nasi sederhana di pinggir jalan.

Aroma masakan hangat langsung membuat kami semakin lapar.Kami makan bersama sambil bercerita tentang lomba hari itu.Pak Afrizal bahkan ikut bercanda bersama kami hingga suasana menjadi semakin ramai.

Setelah selesai makan, perjalanan kembali dilanjutkan.Malam semakin larut.Sebagian teman mulai tertidur di kursi bus karena kelelahan.Aku memandang keluar jendela. Lampu-lampu jalan terlihat samar di tengah gelap malam.

Akhirnya kami sampai kembali di mushola tempat berkumpul pagi tadi.Orang tua kami sudah menunggu.Kami turun dari bus satu per satu.Sebelum pulang, kami berpamitan kepada sopir dan guru pendamping.

“Terima kasih banyak, Pak.”

“Hati-hati di jalan,” jawab mereka.

Aku melihat teman-temanku dijemput keluarga masing-masing.

Ada rasa lelah luar biasa di tubuhku.Namun di balik semua itu, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.Hari itu bukan hanya tentang lomba.Bukan hanya tentang menang atau kalah.

Tetapi tentang perjalanan panjang, tawa di tengah kelelahan, persahabatan yang semakin erat, dan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan kami.

Dan malam itu, ketika aku akhirnya sampai di rumah dan merebahkan tubuh di tempat tidur, aku tersenyum kecil.

Karena aku tahu, suatu hari nanti, perjalanan itu akan menjadi cerita yang selalu ingin kuingat kembali.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
JEJAK PERJALANAN DI UJUNG LOMBA
Muhammad Fadhel
Cerpen
Lovely Family
choiron nikmah
Cerpen
Bronze
04 Dia Tabib
Bima Kagumi
Cerpen
Lala si Perempuan Hebat
Firlia Prames Widari
Cerpen
Bronze
Bukan Tentang Nominal
Alifa abda khlq
Cerpen
Bakso Madura
Rizky Anna
Cerpen
Bronze
Grooming
Alya Nazira
Cerpen
Bronze
Baliho
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
Beli Salah, Tidak Juga Salah
Elsa Ayu
Cerpen
Sitta dan Warna
Rewinur Alifianda Hera Umarul
Cerpen
Bronze
Salah Jalan
Fitri Yeni Musollini
Cerpen
Rangkaian Duka Cita
Mochamad Rozikin
Cerpen
Déjà Vu
Firman Fadilah
Cerpen
Luka-luka Yang Disembuhkan Dari Perjalanan
Mochamad Rozikin
Rekomendasi
Cerpen
JEJAK PERJALANAN DI UJUNG LOMBA
Muhammad Fadhel
Cerpen
SENANDUNG DI LEMBAH SAHARA
Muhammad Fadhel
Cerpen
Tamu Tengah Malam
Muhammad Fadhel
Novel
Senandung di lembah kabut
Muhammad Fadhel
Skrip Film
Senandung di lembah kabut
Muhammad Fadhel
Novel
Lahir untuk Mengubah Takdir
Muhammad Fadhel
Novel
Jejak tak berujung
Muhammad Fadhel
Skrip Film
SENJA DI JENDELA MELUKIS HARAPAN
Muhammad Fadhel
Flash
Tamu Tengah Malam
Muhammad Fadhel