Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Siang ini matahari tidak terlalu menyengat, jarang ada matahari di musim penghujan ini. Gilang dan Fandi berjalan pulang ke kost mereka. Jalanan becek dan penuh lumpur. Sebuah mobil lewat dan melewati genangan air yang menyebabkan cipratan serius berwarna coklat di seragam almamater mereka.
Fandi berusaha mengejar mobil itu namun tangannya tertahan oleh Gilang. Gilang menggeleng mencegahnya. Dan mereka terus melanjutkan pejalanan mereka. Mereka melewati rumah kontarakan kecil milik seorang mahasiswa. Di terasnya, ia nampak kebingungan.
“Bang Ben? Ada apa?” tanya Fandi.
Bang Beno menunjuk ke lantai. Terlihat jejak kaki yang berlumpur di sana.
“Gue udah ngepel dari tiga hari kemaren tiap sore sampe sekarang, tiap ngepel besoknya kotor lagi!” Curhat Bang Beno.
“Bersihin aja lagi bang, obat pel berapa sih harganya? Cuma seribuan.” Ujar Gilang.
“Kalo uangnya buat beli obat pel sayang bang.” Fandi jongkok dan melihat lantai tersebut, “daripada boros buat beli obat pel, mending cari tahu aja siapa yang bikin begini.”
“Iya tuh! Biar gue bejek-bejek tuh orang! Nggak tahu apa kalo gue udah susah-susah ngepel ha? Dasar!” omel Bang Beno.
Gilang hanya melihat Fandi yang memeriksa lantai yang penuh lumpur itu. Ia mengikuti jejak tersebut dan terjerembab ke belakang.
“Napa Fan?” tanya Gilang.
“Jejaknya Cuma sampe sini aja.” Ia menunjuk lantai yang di depannya berdiri pagar tembok, “masa iya dia bisa nembus tembok?”
“Fan!” teriak Gilang.
“Apa?”
“Coba lo liat keatas! Masa nembus tembok? Ya lompat tembok lah!”
“Oh iya ya! Hehehe!”
“Terus siapa dong?” tanya Bang Beno.
“Bang, kira-kira yang punya rumah bagus itu siapa ya?” tanya Fandi sambil menunjuk rumah bertingkat di seberang tembok pagar.
“Cuma tiga orang, yang lainnya pembantu.”
“Busyet! Kaya bener!” seru Fandi, “ terus yang tiga orang itu siapa bang?”
“Ada Pak Suseno, Bu Suseno, sama anaknya yang cewek.”
“Cantik ga?”
“Ya cantik lah! Masih SMA lagi!”
Gilang tertawa geli, “ngenes banget, ada cewek cantik yang jadi tetangga, tapi Abang masih jomblo aja.”
“Lo berdua juga!”
“Bang, jangan ngepel sampe besok.”
“Napa Fan?”
“Udah ikutin aja.”
“Oke deh.”
“Tunggu besok pagi.”
Hari Kamis pagi. Mereka kembali ke kontrakan Bang Beno. Masih pake seragam lagi!
“Bukannya lu berdua sekolah?” tanya Bang Beno keheranan.
“Pulang pagi bang!” jawab Fandi sambil cengar-cengir.
“Kebetulan banget ya!”
Sementara itu di kelas XI IPA..
“Fandi sama Gilang mana?” tanya Bu Susi.
“Nggak tahu bu!”
“Tadi masih ada kok Bu.”
Mereka kembali memeriksa jejak tersebut. Jejaknya bertambah banyak.
“Pasti habis di lewatin sama pelakunya kemaren.” Ujar Gilang.
“Masa? Tapi kok gede bener ya yang baru itu? Aneh ya.” Ujar Fandi keheranan, “bentar, nggak hanya jejak yang gede aja, tapi yang mirip kaya kemaren juga tambah banyak.”
“Nah loh? Trus yang gede itu punya siapa?” tanya Gilang.
Fandi langsung mengangkat kaki Bang Beno dan melihat sandalnya.
“Yaelah! Yang itu punya Bang Beno sendiri!” seru Fandi.
“Gue tahu kalo kaki gue gede!”
Fandi berdiri lagi, “Lang angkat gue.”
“Ngapaen?”
“Angkat aja, gue pengen liat yang di balik pagar.”
Gilang menggendong tubuh kecil Fandi ke pundaknya. Dan mereka persis ayah dan anak. Mereka mendekat ke pagar tembok itu. Fandi melihat sekeliling halaman rumah besar itu. Lalu ia turun dari pundak Gilang.
“Abang gampang bangun nggak?” tanya Fandi.
“Iya, apalagi kalo denger suara kenceng.”
Fandi mengerutkan dahinya.
“Ati-ati kalo kebanyakan ngerutin dahi bisa tambah tua lho.” Goda Gilang.
“Gue emang tua.” Fandi melirik tajam, “makanya lo jangan berani lawan gue!”
“Iya iya..” Gilang nyengir,”mbah.”
“Gue tahu!” teriak Fandi.
“Apaan? Apaan?” Bang Beno yang penasaran langsung mengikuti Fandi yang mengamati jejak lumpur itu.
“Kalo orangnya lari pasti Bang Beno langsung bangun, pasti orangnya lewat malem-malem, nah kalo Bang Beno nggak bangun berarti ntu orang jalan jinjit.” Ungkap Fandi.
“Mana ada Fan, kalo iya ntu orang pake sandal jepit, ya pasti kedengeran sama gue!” seru Bang Beno.
“Jangan-jangan pake sepatu.” Ujar Gilang, “oh iya, kalo ntu orang masuk ke rumah itu, pastinya mau nyolong, tapi kan mana ada maling pake sepatu.”
“Ada.” Ujar Fandi.
“Apa?” tanya Bang Beno.
“Maling masa kini.”
Bang Beno dan Gilang hanya mendengus. Kompak sekali. Fakta mengejutkan bahwa maling modern kini tidak pakai sandal melainkan sepatu. Tiba-tiba dari arah lain datanglah perempuan yang cantik memakai baju simpel dan kacamata yang membuat kesan smart. Ia pun memasuki gerbang rumah itu.
“Siapa tuh bang?” tanya Gilang.
“Guru privat, menurut gosip ibu-ibu yang nggak sengaja gue denger di warung, anaknya Pak Suseno itu home schooling, nah tuh orang yang jadi gurunya.”
“Dasar tukang gosip.” Celetuk Fandi.
“Gue nggak ngegosip, Cuma kedengeran doang.”
“Alaahh, yang denger ama yang ngomong sama aja.”
“Lo berdua juga dengernya dari gue, nah berarti lo berdua sama aja tukang gosip!”
Fandi dan Gilang kicep seketika. Skak mat!
“Nah sekarang gimana kelanjutanyya?” tanya Bang Beno.
“Alternatifnya sih Cuma ngintip aja, jangan tidur ntar malam, begadang oke!” seru Fandi.
“Biar nggak bingung besok, abang pel aja lantainya.” Sambung Gilang.
“Kalo lantainya bersih, berarti nggak ada yang dateng, kalo kotor ada yang dateng, paham bang?” tanya Fandi.
“Oke! Gue tunggu besok.”
Mereka bertiga melakukan ini selama dua minggu penuh. Hasilnya adalah, si pelaku hanya datang hari Senin, Selasa, Rabu, dan hari Sabtu. Dan malam Senin ini mereka akan mengintai di kontrakan. Ketiganya menunggu di ruang tamu. Lampu dimatikan seluruhnya sejak jam sembilan. Tidak ada suara sedikit pun. Mereka tidak bersuara ataupun bergerak sampai ada instruksi dari Fandi. Bluk!
“Psstt, denger instruksi gue, kita keluar tapi pelan-pelan.”
Mereka keluar tanpa suara sedikitpun. Rencana berikutnya adalah melompati pagar tembok.
Bluk! Bluk! Bluk! Mereka bertiga berhasil melompati tembok. Gilang melihat bayangan manusia yang berlari ke arah rumah.
Kriiiingggg!!!!! Liu! Liu!
“Njir! Kabur!” seru Fandi.
Segerombolan orang langsung mengejar mereka. Mungkin mereka dikira maling. Bang Beno yang gempal pun terengah-engah waktu berlari.
“Bantuin gueee.. hosh hosh.”
“Sialan! Tarik Lang!”
Mereka menarik Bang Beno untuk berlari. Mereka melewati sederet bunga mawar. Walhasil mereka dapat tato baru. Kejar-kejaran ini berakhir saat mereka beriga berhasil kabur. Ketiganya memasuki kontrakan dengan menahan rasa sakit akibat goresan duri mawar dan lebam di wajah akibat jatuh dari pagar tembok. Untungnya, tidak ada yang melihat saat mereka melewati tembok, kalau tidak celakalah mereka.
Hari Senin sore. Fandi baru saja pulang dari tugas piket belanja harian. Pipinya merah sekali dan si pemilik pipi mendengus kesal karena setiap kios yang ia datangi, ia selalu mendapat cubitan gemas gratis dari pemilik kios.
“Lang, lo inget soal guru privat anaknya Pak Suseno?”
“Yang itu ya? Ho.oh gue inget.”
“Gue tadi ketemu dia.”
“ Dimana?”
“Waktu pulang dari pasar, nah gue liat waktu di gang Jeruk, itu kan jalan ke kontrakannya Bang Beno. Gue penasaran sama dia, ngapain dia di sana sore-sore, terus menurut informasi Bang Beno, dia itu Cuma dateng pagi pulang siang.”
“Bisa jadi dia punya urusan lain.”
“Bukan Cuma dia aja yang gue liat, ada orang lain juga.”
“Who?”
“Wah! Sok Inggris ya, dia tuh laki-laki, tinggi, kurus, menurut gue mukanya itu ngalahin artis.”
“Emang ngapain dia di sana?”
“Kayaknya sih Cuma ngobrol biasa.”
“Bisa jadi dia Cuma temen kan?”
“Gue tadi sempet tanya-tanya sama orang-orang di sana, kenal gak sama mereka, katanya nggak ada yang kenal kalo yang cewek kenal, guru anaknya Pak Suseno.”
“Jangan-jangan tuh orang temennya yang nggak sengaja papasan kan?”
“Gue juga liat tuh orang nunjuk-nunjuk ke arah gang.”
“Bisa jadi tuh orang tanya jalan iya kan?”
“Lo ini bela gue apa bela dia ha? Daritadi lo nyangkal mulu!”
“Ya gue bela elo, tapi lo juga jangan suuzon sama tuh orang, bisa aja tuh orang nggak penting.”
“Kalo penting?”
Maka, dimulailah wisata malam mereka. Mereka pun berpetualang sambil nyari mie ayam setan. Jalanan cukup ramai pada jam setengah sembilan. Jejeran pedagang kaki lima menjual jajanan ringan yang cukup mengganjal perut kosong mereka, terlihat sedap, namun hanya mie ayam setan-lah tujuan mereka. Kios mie ayam tidak terlalu ramai, mereka duduk di bangku kosong di dekat gerobak.
“Pesan apa mas?”
Fandi memicing ke arah pelayan itu. Tapi untuk menghindari kecurigaan, mereka memesan mie ayam tiga bungkus, dua untuk mereka satu untuk Rama yang berbaik hati atau terlalu baik meminjamkan uang kepada mereka. Mereka keluar dari kios dan kembali ke kost untuk mie ayam Rama.
“Kita mau kemana lagi?” tanya Gilang.
“Udah ikut aja!”
Mereka kembali ke gang Jeruk. Pohon-pohon menambah kesan angker tempat itu. Fandi dengan cekatan naik ke atas pagar berwarna putih dan berdiri di atasnya.
“Ayo naik!”
Gilang pun mengikuti. Mereka dengan hati-hati berdiri di atas pagar, dengan sedikit ilmu keseimbangan tubuh yang mereka pelajari saat olahraga mereka bisa berjalan di atas pagar. Lalu berhenti di depan pohon rambutan yang sangat lebat. Mereka masih di atas pagar. Bayangan pohon rambutan menyembunyikan mereka yang sudah berpakaian hitam-hitam sesuai instruksi Fandi. Gilang akhirnya tahu aturan mainnya.
Mereka diam bagai patung selama lima belas menit. Gilang hampir saja rubuh. Mereka sabar menunggu. Tak lama kemudian datanglah seseorang. Ia lewat begitu saja tanpa menyadari dua pengintainya di atas pagar. Lalu mereka berjalan pelan di atas pagar.
“Pst, Fan? Pagarnya abis nih.”
“Iya, ya. Kita naik ke atap aja yuk.”
Entah bagaimana caranya mereka bisa sampai di atas rumah-rumah warga. Mereka berjalan pelan agar tak terjatuh, atau resiko terburuknya menjatuhkan genteng dan membuat masalah baru.
Kemudian sampailah mereka di atas kontrakan Bang Beno. Di luar dugaan, orang yang mereka ikuti memilih jalan lain, bukannya melompati pagar seperti kemarin-kemarin itu. Dia pasti sudah tahu akan alarm yang akan berbunyi jika ia melompati pagar. Tapi, ada sesuatu yang ganjil.
“Lang?”
“Apa?”
“Coba lo pikir, dia kemarin lompat pagar alarmnya gak bunyi, giliran kita alarmnya bunyi, aneh kan?”
“Bener juga tuh, trus ngapain dia lewat sono?”
“Dia udah tahu kalo pagar yang ini udah gak aman gegara kita lewatin, nah penjagaannya pasti fokusnya kesini.”
“Trus gimana cara ngikutin dia?”
“Ya kita maen ninja-ninjaan aja.”
“Kayak tadi?”
“Yo’i!”
“Okelah kalo begitu..”
Mereka melompat dengan hati-hati dan sampailah di halaman. Entah bagaimana caranya mereka melewati mawar berduri itu yang penting kejar orangnya. Lampu-lampu telah dimatikan. Mereka mengendap-endap memasuki pintu belakang rumah. Jam tangan Gilang menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka merapat ke tembok dan berjalan merayap. Akhirnya, sampailah mereka di ruangan yang cukup besar, sepertinya ruang keluarga.
“Pst, trus kita ngapain?” tanya Gilang.
Tep. Tep. Tep.
“Sssstt.. Diem, gue denger sesuatu.” Fandi menempelkan telunjuknya ke bibir.
Mereka bersembunyi di balik sesuatu yang besar, sepertinya sofa. Dan orang yang di maksud itu juga mengendap-endap. Bayangannya tinggi dan sesuai dengan apa yang dikatakan Fandi tentang orang misterius itu sore tadi.
Setelah merasa cukup aman, mereka pun merayap kembali. Dan sampailah di lorong panjang yang lampunya masih menyala. Orang itu masih belum menyadari mereka. Mereka mengintip dari dari ujung lorong.
“Waduh! Lampunya masih nyala tuh.” Ujar Fandi.
“Gimana kita ngikutinya?”
“Gue kehabisan ide.”
Gilang mendongak ke atas.
“Pegang tangan gue.”
“Ngapain?”
“Pegang aja!”
Fandi memegang tangan ke dua tangan Gilang.
“Oke, kita tempelin kaki sama-sama di tembok.”
Kaki-kaki mereka berjalan di tembok sedangkan tangan mereka berpautan. Orang itu masih belum menyadari. Saat mereka berjalan di atas kepala orang itu, nyamuk datang menghinggapi pipi Gilang. Spontan Fandi langsung menepok pipi Gilang, dan akhirnya mereka jatuh menimpa orang itu.
Blum!
“Aw!”
“Kaki gue!”
“Fan! Diem lo!”
Lalu keadaan hening seketika. Orang itu kini mulai sadar akan dua orang yang mengintainya. Gilang memandang orang itu, si pelayan di kios mie ayam! Lalu orang itu berlari lagi.
“Tangkap!” seru Fandi.
Ctek! Lampu-lampu mulai menyala di ruangan lain tanda kedatangan mereka diketahui. Orang itu berhenti berlari dan seorang perempuan cantik berdiri di sampingnya.
Ia membuka pintu, “ayo masuk.”
Tanpa basa-basi mereka menerima tawaran itu dan masuk di tempat yang cukup sempit. Lampu menyala dan terlihatlah semuanya.
“Kalian bedua ngikutin gue?” tanya orang itu.
“Kita ada perlu sama elo, dan gue punya banyak pertanyaan sama elo.” Jawab Fandi.
“Pertanyaan apa?”
“Sebelumnya kita minta maaf, soalnya udah ngikutin lo.” Fandi mengambil napas panjang, “kenapa lo di sini dan lompat pagar? Gara-gara itu temen gue marah-marah, lantainya kotor gara-gara kaki lo.”
“Buat apa lo ngurusin gue ha?”
“Bentar.” Ujar Gilang melerai, “kita di sini mau tahu kenapa lo lompat pagar dan bikin kotor kontrakan temen gue.”
Wajah orang itu memicing penuh curiga, “bukan urusan lo.”
“Waktu kita Cuma sedikit, kalo lo jawab dengan jujur, kita janji kita bakalan pergi.”
“Gue harus percaya?”
“Dia ini pacar gue.” Perempuan tadi angkat bicara, “puas kalian?”
“Kita ini bisa jaga rahasia.” Jawab Gilang.
Mereka berpandangan sejenak. Lalu orang itu memutuskan untuk mengaku.
“Oke, gue ini Sandi pacarnya, hubungan kita nggak disetujui sama ortunya Diana, gue kenal dia dari kakak gue yang kerja jadi gurunya Diana.”
“Jadi kecurigaan gue tadi sore bener ya? Oke lanjutin.” Ucap Fandi.
“Gue nggak punya akses sama dia, gue Cuma bisa komunikasi lewat kakak gue.”
“Dan gimana kalian bisa jadian?” tanya Gilang.
“Awalnya kita Cuma saling titip salam doang, trus gue juga pengen ketemuan, dia juga setuju, dia pura-pura ke mall bareng temennya yang juga bagian dari rencana, akhirnya gue jadian di mall, gue komunikasi Cuma lewat kakak gue gara-gara dia nggak diijinin pegang hape, dan dia bilang kalo hari Senin sampe Rabu dan juga Sabtu, Cuma dia aja yang di rumah.”
“jadi gue Cuma kesini hari itu doang, gue nggak mungkin lewat pintu depan, banyak satpam, dan katanya tembok yang sampingnya ada kontrakan temen lo itu aman, dan kemaren ada tiga orang yang ngerusak rencana gue, pasti yang dua itu kalian kan?”
Fandi dan Gilang mengangguk.
“masa bodoh sama orang yang nomor tiga, trus sekarang gue kesini lewat pintu belakang yang udah di bukain dari awal sama pembantunya dia yang setia, dan kalian ngerusak rencana gue lagi.”
“Tapi kita Cuma mau tahu aja, jujur gue udah bosen sama ocehan temen gue yang punya kontrakan, dan lo harus tahu cara bikin dia kicep Cuma ngasih tahu dia siapa yang bikin kontrakan dia kotor, plis! Gue capek ditelpon sama dia tiap malem!” kini giliran Fandi yang curhat.
“Itu masalah lo, dan kenapa lo ngikutin gue?”
“Penasaran aja, dan kalo gue tahu masalah sebenarnya gue nggak bakal capek-capek nguntit.”
Dok! Dok! Dok! Pintu digedor keras.
“Gimana nih?” Gilang mulai panik.
“Kita di lantai satu, di sana ada jendela, agak tinggi, kalian bertiga bisa lewat sana.” Ujar Diana.
“Terus kamu gimana?” tanya Sandi.
“Udahlah San, biar aku aja yang nanggung.”
“Drama banget! Woy lo ikut kabur gak?!” seru Fandi yang naik jendela.
“Gue di sini aja!” jawab Sandi.
“Sandi! Ikut sama mereka!” seru Diana.
“Sayang, aku nggak bakal ninggalin kamu.”
“Ohhh!! Co cwit! Drama banget! Ayo Lang!”
“Oh! Oke!”
Sepasang kekasih itu tetap di dalam gudang, dan dua sejoli ini berhasil kabur dan pulang. Entah bagaimana nasib mereka yang di gudang itu. Mereka sibuk berdebat dalam perjalanan.
“Kita jahat banget Fan.”
“Napa? Ini juga buat kebaikan kita semua.”
“Tapi lari kayak gitu, kita kayak pengecut.”
“Kata siapa kita pahlawan? Iya! Kita Cuma pengecut!”
“Gue nggak enak sama si Sandi.”
“Semuanya itu butuh pengorbanan.”
“Tapi kita..”
“Diem!”
Semua hening.
“Fan? Lo nggak mikir sama perasaan kakaknya si Sandi?”
“Iya, gue emang mikir begitu, tapi ini bukan soal hati, lo harus pake akal sehat lo sekali aja.”
“Tapi..”
“Kerjaan kita bukan mikirin perasaan orang lain, coba deh lo bayangin kalo si Sandi masuk penjara gara-gara tadi, gue tahu kakaknya pasti sedih, kita nggak tahu apa ortunya Diana tahu kalo kakaknya Sandi kerja di rumah mereka, kalo pun emang dugaan gue ini bener, pastinya Sandi sama Diana masih bisa komunikasi kan?”
“Bener juga.”
“Jadi ngapain kita mikirin itu? Kita pulang aja.”
“Oke!”
Malam itu benar-benar malam yang melelahkan bagi mereka. Mereka berada di pintu depan kost mereka.
“Pasti udah di kunci nih.” Gilang mulai takut.
“Drama banget! Gue tadi udah buka jendela kamar kita, nah kita bisa masuk lewat sana.”
“Ha? Lo gila ya? Kamar kita kan di lantai dua!”
“Masa sih?!”
“Trus gimana dong?”
Fandi berpikir keras, “kita maen ninja-ninjaan aja.”
Keesokan paginya mereka kembali ke kontrakan Bang Beno.
“Gimana Bang?” tanya Fandi.
“Ya seneng banget lah! Kontrakan gue udah bersih. Dan gue kasih tahu, dari berita di tv, gue tahu kalo yang tiap malem lewat itu maling!”
“Oh ya? Kayak gimana malingnya?” tanya Gilang.
“Aneh ya? Malingnya kaya artis wajahnya, keren sayangnya dia itu maling.”
Mereka berdua hanya tersenyum.
“Kok kalian senyum sih?”
“Kita berangkat dulu ya bang.” Ujar Gilang.
“Dadaahhh..” sambung Fandi.
“Oke deh. Ati-ati di jalan!”
“Sip bang!”
Ah, hari ini akan cukup panjang bagi mereka.
Tamat.
(Koleksi 2017, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)