Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bab 1 — Pemuda dari Tanah Ubi Kayu
Pagi di Desa Suka Makmur selalu datang bersama kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan.
Dari kejauhan, hamparan kebun ubi kayu tampak seperti permadani hijau yang membentang sampai ke kaki bukit. Embun masih menempel di daun-daun ketika suara azan Subuh dari masjid kecil di tengah desa mengalun, membelah kesunyian.
Di sebuah rumah besar sederhana yang berdiri di tepi perkebunan, seorang pemuda baru saja menyelesaikan salatnya.
Namanya Arham.
Usianya dua puluh tujuh tahun.
Tubuhnya tinggi dan tegap. Wajahnya bersih, dengan hidung mancung, rahang tegas, dan sorot mata yang teduh. Rambutnya hitam dan selalu dipotong rapi. Di desa, banyak gadis diam-diam menyukainya, meskipun Arham bukan pemuda yang suka mencari perhatian.
Ia justru dikenal pendiam.
Sopan.
Sholeh.
Dan, yang paling terkenal, sangat ahli bela diri silat.
Sejak kecil, Arham belajar silat dari seorang guru tua bernama Pak Darma, pendekar yang dulu dikenal sebagai salah satu pesilat terbaik di daerah mereka.
Namun bagi Arham, silat bukan sekadar kemampuan untuk berkelahi.
Pak Darma selalu mengajarkan satu hal.
"Orang yang kuat bukan orang yang paling mudah memukul," begitu pesan gurunya. "Orang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika punya kesempatan untuk menyakiti orang lain."
Nasihat itu melekat dalam diri Arham.
Setelah shalat, ia mengambil Al-Qur'an dan membacanya beberapa halaman sebelum kemudian keluar r...