Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
JEDA SUNYI DI ATAS LUKA KANVAS
BAGIAN 1: CAT DINDING BERWARNA PUTIH
.
Dinding itu berwarna putih. Di dalam kamar seorang remaja perempuan yang baru saja melewati empat belas musim, tertempel banyak lukisan—dari yang berukuran mungil hingga besar—yang menyimpan arti yang tak mampu ia ungkapkan. Sebuah kanvas berukuran 30×30 cm menampilkan guratan cat yang melukiskan siluet manusia kecil. Siluet itu terduduk di sudut ruang dengan potongan puzzle yang terhambur di sekitarnya, seluruhnya dibalut warna monokrom.
Karya itu diletakkan di kabinet samping tempatnya beristirahat dari kejamnya dunia yang enggan mengerti. Lukisan selanjutnya seakan memiliki ledakan atmosfer. Guratan cat dengan berbagai warna digores secara abstrak, sebuah bentuk luapan emosi yang memuncak saat hati merasa lelah dan ingin melepaskan seluruh beban.
Dalam jeda hening dunia yang begitu berisik, ia terjebak dalam kotak sempit keheningan yang kosong. Melalui lukisan, ia mengekspresikan amarah, sedih, dan putus asa yang dituangkan dalam setiap goresan tinta. Aroma khas cat yang menyapu kanvas seakan menghantarkan rasa lega saat dunia tak mau mendengar.
Remaja perempuan itu, dari luar terlihat tanpa kekurangan, namun sesungguhnya ia tidak utuh. Ia rapuh sekaligus kuat; banyak luka di tubuhnya, namun tak kasatmata.
Semua luka itu berasal dari cemoohan insan yang tak mengerti bahwa ia pun tak menginginkan takdir seperti ini.
Setiap rasa yang ingin disampaikan oleh perempuan yang belum mengenal dunia seutuhnya itu tertahan, meski batinnya sudah penuh lebam. Setiap jemarinya menari di udara, ada pesan yang ingin ia ungkapkan. Suara yang keluar darinya terdengar datar dan kaku. Selama napas berembus, dunianya hanyalah kesunyian di dalam kotak sempit tanpa bising dunia luar.
Retina matanya yang berbentuk bak almond ikut menerjemahkan dunia sebagai jembatan penuh retakan antara sunyi dan berisik. Sering kali terjadi kesalahan makna yang mencoba dimengerti, terutama saat ia menafsirkan ucapan orang lain dengan sorot mata yang berpikir keras. Tak jarang, ia mendapati tatapan yang berbeda dari orang lain: sorot kasihan, ketidakpedulian, hingga cemooh. Sesungguhnya ia tak butuh dikasihani, tapi ada saatnya semua itu menguras tenaga saat ia mencoba bersikap acuh.
Remaja empat belas musim itu kini sedang menghadap dirinya yang lain melalui perantara cermin. Terlihat sosok perempuan mengenakan gaun selutut berwarna natural tone, rambut pendek bergelombang sebahu, ditambah aksen bandana putih bagai mahkota murni yang sederhana namun terasa cukup. Secara perlahan, jemari mungilnya bergerak lembut menyentuh dinginnya cermin, seakan menyapa sosok dirinya di seberang sana. Retina heningnya menyiratkan apa yang tak mampu terucap.
Kemudian, ia mencoba memasang senyum terbaik untuk menemui orang tuanya yang telah bersiap mengajaknya pergi ke taman
BAGIAN 2: JEDA DI JANTUNG TAMAN
Setiap denting dalam ruang kosong itu berlalu dengan lambat dan menyakitkan. Hingga pada suatu hari di musim panas, di sebuah taman kota saat ia berjalan-jalan bersama orang tuanya, ia tidak sengaja melihat sebuah ketidaksempurnaan yang saling menerima.
Taman itu luas, dipenuhi pohon rindang, dengan wahana olahraga dan area bermain anak di beberapa sisi. Cuaca sedang bersahabat; tidak terik, pun tidak kelabu. Suara tawa bahagia manusia-manusia kecil yang bermain dan bersenda gurau dengan rekan sebaya terdengar riuh. Beberapa orang terlihat berolahraga. Namun, seluruh aktivitas itu hanya mampu ditangkap oleh Karina melalui retina hening tanpa suara.
Di jantung taman, langkah kakinya terhenti tiba-tiba. Seakan dunia terjeda sejenak, sorot matanya tertegun melihat banyak jemari yang menari di udara untuk mengisi kekosongan jiwa; mereka saling berkomunikasi. Kelompok itu terdiri dari berbagai kalangan—mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia—yang mengenakan baju bertuliskan
"Jeda Sunyi".
Tangan Karina mulai bergerak, menari-nari di udara mencoba membangun jembatan komunikasi dengan sang ibu, menyampaikan apa yang ia lihat. Sorot mata ibunya seketika menyendu. Sudah jutaan kali bahasa sunyi menjadi jembatan retak yang rapuh bagi mereka untuk berkomunikasi. Sang ibu tahu dunia ini tidak selalu bisa menjadi perisai bagi putri kecilnya dari sayatan suara insan yang mencemooh, walau ia tahu putrinya tak mampu mendengarnya. Kenyataan itu terus-menerus melukai hatinya.
Di lain sisi, seorang remaja laki-laki dari komunitas "Jeda Sunyi" memperhatikan cara Karina berkomunikasi. Ia mulai melangkah mendekat hingga akhirnya tangan remaja laki-laki itu menyentuh pundak Karina dari belakang.
Seakan pijakan tanah di bawah kaki Karina runtuh seketika. Badannya menegang, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Meski itu hanya tepukan ringan yang tidak menyakiti, pikiran buruk tentang cemoohan selama empat belas musim kehidupannya berputar hebat. Ia bersiap akan kemungkinan terburuk. Namun, saat ia berbalik, segala prasangka itu lenyap.
Ia disambut senyum hangat remaja laki-laki itu.
Senyumnya setenang matahari di tengah badai salju yang melanda Karina selama empat belas musim. Senyum itu terasa tulus. Jantung Karina berdegup semakin kencang, namun anehnya, ia merasa aman. Tanpa sorot mata yang memandang rendah, remaja laki-laki itu mengangkat tangannya, bergerak bagai deburan ombak tenang yang mengisyaratkan sebuah perkenalan.
Secara tidak sadar, Karina melangkah mundur, berlindung di balik tubuh sang ayah. Ia belum sepenuhnya percaya pada orang asing. Tangannya meremas baju sang ayah dengan sorot mata yang tak lagi sepenuhnya hening. Sang ayah menggenggam tangan putrinya, mencoba memberikan rasa aman. Ayah dan anak itu berbicara lewat tatapan mata yang hanya dimengerti oleh ikatan batin mereka.
Perlahan, Karina mengambil langkah maju. Ia menggerakkan tangannya bagai tarian lembut.
"Halo, aku Karina," isyarat itu terasa seperti embusan udara segar; ia merasa telah menemukan dunianya.
"Aku Ryan. Mau bermain bersama?" Ryan melakukan kontak mata sambil memberi isyarat lewat jemari yang menari di udara.
Karina menatap ayah dan ibunya, menunggu respons. Keduanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Sang ayah menepuk kepala putrinya lembut. "Bermainlah, Ayah dan Ibu menunggu di kursi taman sebelah sana," tangan sang ayah memberi isyarat lampu hijau.
Karina dan Ryan melangkah bersama menuju komunitas itu.
Dalam setiap langkah, Karina merasa beban di pundaknya meluruh. Pada langkah pertama, bayangan buruk perlahan sirna. Langkah kedua, Karina menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat tangan orang-orang melambai ke arahnya tanpa cemooh. Langkah ketiga, ia mulai berjalan cepat. Daun-daun berwarna coklat dan jingga berguguran di atas mereka, tertiup angin seakan ikut merayakan perasaan membuncah di hati Karina. Jarak pun terkikis.
Sesampainya di sana, Karina dikerumuni bagai gula dan semut oleh komunitas "Jeda Sunyi". Ia disambut dengan cara yang tidak meriah, namun sangat hangat dan membekas.
"Halo semua, aku Karina. Salam kenal," tangannya bergerak leluasa tanpa beban ketakutan akan intimidasi. Ia mulai bercerita, mengungkapkan pendapat, dan bertanya. Jembatan yang saling mengokohkan kini terjalin di antara mereka.
Seorang perempuan mendekat dan memulai topik. "Hai Karina, aku Laras. Aku beberapa tahun lebih tua darimu. Hobi kamu apa?" Tangan Laras membentuk isyarat dengan gerak lentur, sementara mulutnya ikut berbicara dengan intonasi yang datar, kosong, dan kaku. Laras dulunya bisa mendengar, namun sebuah tragedi tiga tahun lalu merenggut dunianya yang bising menjadi keheningan abadi.
Karina membaca bahasa sunyi Laras. Ia menanggapi dengan senyum yang tak luntur. "Aku suka melukis, Kak, untuk mengekspresikan duniaku. Di sana, imajinasi tak punya batas."
Di sebuah bangku taman, ayah dan ibu Karina menyaksikan putri mereka dengan mata berkaca-kaca. Mereka melihat Karina akhirnya menemukan tempat di mana ia bisa diterima sepenuhnya.
"Kamu suka melukis? Aku punya info lomba melukis minggu depan. Kamu mau ikut?" Suara kosong Laras diiringi tarian tangan yang energik menunjukkan antusiasme.
"Tidak, aku tidak semahir itu," jawab Karina cepat. Gerakan tangannya terkesan terburu-buru, seakan ingin menghindar. Namun, menit demi menit berlalu, kata-kata Laras yang manis bagai gulali perlahan menghipnotis dan mengokohkan niat Karina untuk mencoba.
BAGIAN 3: MERAJUT TEKAD
Sang rembulan terlihat utuh, ditemani cahaya-cahaya kecil semesta yang menari di atas kanvas hitam langit. Di dalam ruang makan bertema kayu, sebuah meja makan melingkar menjadi saksi tiga insan yang duduk bersama.
"Ayah, aku mau ikut lomba melukis," di sela makannya, Karina mencuri atensi kedua orang tuanya melalui bahasa isyarat.
Orang tuanya seketika melakukan kontak mata dengan sang putri. Sendok berdenting pelan di atas piring. Sang ayah terdiam, merasa seperti diterpa angin sejuk saat menerima isyarat bahwa putrinya berniat mengikuti lomba. Sudah lama mereka mencoba membujuk separuh jiwa mereka itu untuk mengikuti kontes, terutama sejak menyadari bakat luar biasa Karina. Namun, selama ini keinginan itu tak pernah mampu menembus kotak sempit di hati sang putri. Di sudut lain, sang ibu merasakan getaran di relung jiwa; ia melihat binar mata yang biasanya sunyi, kini terlihat berkobar penuh semangat.
Tangan Karina saling memilin di atas meja. Degup jantungnya terasa lebih cepat dari seharusnya. Perlahan, tangan sang ayah meraih jemari Karina, menghentikan gerakan gelisah itu. Sebuah anggukan mantap diberikan sebagai jawaban. Seketika, tangis sang putri pecah—sebuah tangis lega. Ia segera beralih memeluk kedua orang tuanya. Makan malam itu ditutup dengan kehangatan yang membawa harapan baru.
Karina kembali ke kamar bercat putih yang telah dihuninya selama empat belas musim. Sementara itu, di kamar sebelah, sang ibu mengusulkan sebuah ide kepada suaminya untuk membeli alat lukis baru sebagai hadiah.
"Hari ini, aku sebagai ibunya bisa melihat setitik cahaya pada diri putri kita. Kecil, tapi sangat terang," ucap sang ibu lembut.
Suaminya menjawab dengan nada haru, "Ibu benar. Kita akan menjaga setitik cahaya itu agar tidak padam."
Esoknya, semburat mentari mulai mengintip. Langit gelap tersapu kuas alam berganti biru terang. Di dalam kamar, Karina yang masih mengenakan gaun tidur mendapati sebuah kotak kado besar berwarna merah di depan ranjangnya. Ia melangkah pelan, menyentuh tekstur halus kotak itu. Saat jemarinya membuka tutup kotak, aroma khas cat lukis langsung membelai indra penciumannya. Di dalamnya terdapat kanvas, berbagai jenis kuas, dan cat lukis—semuanya masih baru.
Hari-hari menjelang perlombaan dihabiskan Karina dengan berlatih. Semangatnya meluap bagai lava panas yang meledak. Berbagai imajinasi ia goreskan pada kanvas hingga warna-warnanya melebur sempurna. Salah satu lukisannya menggambarkan kota metropolitan yang megah; gedung-gedung pencakar langit dengan gemerlap lampu malam berdampingan dengan rembulan besar yang tenang. Berbagai kendaraan tergurat dari ujung kuasnya yang menari. Kamar Karina kini semerbak oleh aroma cat.
Beberapa kali, Ryan dan Laras datang berkunjung secara bergantian. Suatu hari, saat Laras berkunjung, ia memperhatikan lukisan kota metropolitan milik Karina. Melalui tarian jemari, Laras membangun jembatan komunikasi.
"Karina, kenapa melukis kota di malam hari? Apa artinya?"
Karina mencoba membaca isyarat Laras, lalu tersenyum. "Kota malam dengan lampu yang terang dan gedung tinggi adalah simbol bisingnya dunia. Namun, aku melukis rembulan yang tenang di sampingnya. Aku ingin seperti bulan; tetap bisa hidup berdampingan dengan suara-suara bising yang tak pernah kudengar selama empat belas musim ini."
Laras mengangguk paham. Dengan tarian tangan di udara.
Ia kemudian menunjuk lukisan lain di pojok ruangan berukuran 50×70 cm. Lukisan itu menampilkan keluarga kecil—seorang ayah, ibu, dan putri mereka—yang tengah bermain hujan dengan latar belakang rumah.
"Makna lukisan itu adalah setiap butir air yang jatuh ke bumi justru terasa hangat memelukku. Aku mungkin tak bisa mendengar suara air jatuh, tapi aku bisa merasakannya seperti hujaman cinta dari ayah dan ibuku. Bagiku, rumah ternyaman adalah di sisi mereka."
Membaca penjelasan Karina melalui bahasa sunyi, hati Laras bergetar. Matanya berkaca-kaca saat ia memeluk Karina, merasakan kedalaman rasa yang tertuang di atas kanvas itu.
BAGIAN 4: KEMENANGAN DAN GORES LUKA
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Di hadapan Karina, berdiri kokoh sebuah bangunan besar yang seakan angkuh menantang sang mentari. Atmosfer tekanan mulai merayap di kulitnya sejak ia melewati gerbang. Di sana, dunia bising dan spasi hening miliknya berpapasan dalam riuh yang tak terdengar. Orang-orang tertawa, staf perlombaan sibuk berlalu-lalang, dan aula gedung bergaya monarki dengan pilar-pilar raksasa itu sudah penuh oleh peserta yang bergegas mencari nama mereka.
Karina menyusuri meja demi meja. Detak jantungnya berpacu, seirama dengan perasaan tidak nyaman saat menyadari beberapa pasang mata mulai memandangnya dengan ganjil. Pikiran negatif mencoba menyusup, namun ia terus melangkah hingga menemukan mejanya. Di sebelahnya, sekelompok remaja sedang bersenda gurau. Mereka sempat menatap Karina dan mencoba menyapa, namun karena dunia Karina hanya sunyi, ia menjawab dengan tarian jemari yang lembut disertai senyum ramah.
Begitu menyadari perbedaan itu, tawa mereka pecah—bukan tawa keramahan, melainkan ejekan. Karina tahu ia sedang dihina; ia membacanya dengan jelas melalui gerak bibir dan sorot mata mereka yang mencemooh. Luka lama itu berdenyut kembali. Namun, Karina segera meraih kuas baru pemberian ayah dan ibunya, menggenggamnya erat seolah itu adalah pedang untuk bertempur.
Waktu pertempuran dimulai.
Secara perlahan, Karina mulai meracik warna di atas palet. Aura di sekitarnya perlahan memudar. Suara aula yang semula ramai bagi orang lain, bagi Karina tetaplah senyap yang abadi—dunianya yang biasa. Ia mulai menyapukan warna biru samudra dengan gradasi semburat oranye mentari yang hampir tenggelam. Kuas bercat putih miliknya kemudian menari, melukiskan sebuah istana megah yang berdiri gagah menantang amukan ombak. Karina terhisap dalam fokusnya; dunia luar menghilang, menyisakan ia dan kanvasnya saja.
Tiba-tiba, sebuah guncangan keras mengejutkannya. Remaja di sampingnya sengaja menyenggol bahu Karina saat hendak mengambil minum, lalu menjatuhkan selembar kertas kecil ke arahnya. Fokus Karina pecah. Ia memungut kertas itu dan jantungnya seakan berhenti saat membaca deretan huruf yang tajam:
“Dasar tuli. Kau tidak cocok ada di sini. Mendengar saja tidak mampu, apalagi memenangkan perlombaan ini.”
Remasan jemari Karina membuat kertas itu lumat. Ia memejamkan mata, membiarkan beberapa tetes bening jatuh membasahi pipinya. Ada sesak yang menyeruak, namun ia menolak untuk hancur. Karina menarik napas panjang, menghirup aroma cat yang tajam, lalu membuka matanya dengan binar yang berbeda.
Ia memandang lukisan setengah jadinya. Alih-alih larut dalam kesedihan, Karina justru mengambil warna-warna berani: merah yang membara, hitam yang pekat, dan hijau yang liar. Lukisannya bukan lagi sekadar pemandangan cantik, melainkan sebuah pernyataan perang melawan keterbatasan. Sebagai sentuhan akhir, ia menggoreskan warna merah pekat di pucuk menara istananya—sebuah bendera yang berkibar gagah, tanda bahwa ia tidak akan menyerah pada sunyi maupun caci.
Saat waktu penilaian tiba, para juri berhenti lama di depan karya Karina. Mereka dapat merasakan ledakan emosi yang berbeda dari permainan warna yang berani itu. Detik-detik pengumuman pemenang pun tiba. Nama "Karina" disebut sebagai pemenang peringkat pertama.
Karina melangkah ke podium setelah melihat sang ayah memberi isyarat tangan bahwa ia menang. Namun, tak ada rasa bahagia yang meledak di dadanya. Di atas podium itu, tangan kanannya menggenggam piala emas yang berkilau, sementara tangan kirinya meremas kertas cacian yang kumal. Ia menang di mata dunia, tapi merasa kalah di dalam jiwanya sendiri.
BAGIAN 5
RUNTUHNYA PONDASI JIWA YANG TERBELENGGU
Langit jingga mulai terlukis saat sang mentari melangkah mundur, digantikan oleh rembulan yang nampak tak utuh. Pulang dari medan pertempuran, Karina membuka pintu ruang bercat putih di rumahnya. Pandangannya kosong. Tangan kanannya masih menggenggam piala, sementara tangan kirinya meremas kertas cacian itu. Perlahan, ia meluruhkan pegangannya pada piala emas itu hingga menghantam lantai, memuai bagai potongan puzzle yang tak lagi berarti. Tangan kirinya melemas, membiarkan kertas hinaan itu jatuh begitu saja. Dengan sisa tenaga yang emosional, ia mulai bergerak acak, menurunkan setiap lukisan yang ada di dinding kamarnya hingga semua emosinya reda dalam kehampaan.
Denting waktu tersapu kuas; mentari dan rembulan telah berganti tugas berkali-kali. Dalam kotak sempit yang kini terasa asing dan kosong itu, Karina hanya termenung menatap dunia dari balik jendela. Ryan dan Laras sudah beberapa kali mencoba membangun kembali jembatan komunikasi yang rapuh, namun Karina tetap bergeming. Sampai akhirnya, Laras memaksa Karina untuk menatap matanya. Mata almond itu bersitatap dengan mata "kuaci" milik Laras, dan seketika itu juga, pertahanan Karina runtuh. Tangisnya pecah. Karina, Laras, dan Ryan duduk di pinggir ranjang, mencoba menenangkan isak tangis Karina yang memilukan.
Jemari Ryan menari di udara, mencoba bertanya dengan lembut, “Karina, apa yang terjadi? Kamu bisa berbagi cerita dengan kami.”
Laras ikut menambahkan dengan bahasa sunyi dan tarian tangan yang menenangkan, “Kamu harus tahu, kamu tidak benar-benar sendirian di sini.”
Akhirnya, Karina meluapkan seluruh beban hatinya. Laras dan Ryan kini mengerti mengapa warna-warna pada diri Karina mulai memudar. Meski Ryan mencoba membangun kembali semangatnya, keputusan Karina sudah bulat; ia memilih untuk meletakkan kuasnya. Laras dan Ryan tidak ingin memaksa, mereka memilih untuk tetap memberikan dukungan moral dalam diam.
Setelah berpamitan, Laras dan Ryan menemui ibu Karina di taman untuk memberitahu alasan mengapa ruang bercat putih itu kini menjadi asing dan sunyi.
“Jadi kenapa, Nak? Apa alasan putri Tante berhenti melukis? Hati Tante seakan hancur melihat warna Karina memudar,” jemari sang ibu menari dalam hening, diselingi angin yang berhembus seolah ikut meretakkan hatinya.
Ryan mulai membangun jembatan dalam bahasa sunyi, “Tante, kami akhirnya tahu alasan Karina meletakan kuasnya. Sepertinya, saat lomba kemarin Karina mendapat cemoohan yang sangat kejam.”
Laras menambahi, “Hal itu meredupkan lava panas yang selama ini membara dalam diri Karina, Tante.” Suara Laras menjelaskan dengan nada kosong.
“Astaga, Karina...” Sang ibu menutup mulutnya. Jemarinya bergetar hebat saat kembali menari di udara, sesekali menyeka air mata yang menetes. “Tante punya ide. Bagaimana kalau kita mendatangkan pelukis idola Karina, Pak Radit? Tante akan mencoba mencari cara untuk menghubungi beliau.” Jembatan komunikasi isyarat dibangun kembali memberitahu ide pada Laras dan Ryan.
BAGIAN 6: MEMELUK LUKA DI JANTUNG TAMAN
Ayah dan Ibu Karina menolak menyerah. Mereka melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kontak Pak Radit, mulai dari mengirim pesan di media sosial hingga beberapa kali mendatangi pameran lukis yang dihadiri sang maestro. Tiga purnama berlalu dalam perjuangan yang melelahkan, hingga akhirnya, niat tulus itu membuahkan hasil.
Denting waktu membawa mereka kembali ke jantung taman, tempat di mana jemari-jemari yang menari di udara menjadi bahasa utama. Namun kali ini, Karina tidak lagi berjalan dengan langkah ringan. Ia duduk di salah satu sudut bangku, hanya menatap kosong ke arah komunitas "Jeda Sunyi" yang sedang berkumpul. Di sampingnya, piala emas itu tersimpan di dalam tas, seolah tak lagi berharga.
Tanpa Karina sadari, orang tuanya telah berdiri di kejauhan bersama Ryan dan Laras, memperhatikan dengan dada yang sesak. Hingga kemudian, seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana namun bersahaja melangkah mendekat. Ia adalah Pak Radit, sosok yang selama ini menjadi inspirasi di setiap goresan kuas Karina.
Pak Radit tidak menyapa dengan suara. Ia duduk di samping Karina, lalu mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil dan pena. Ia menuliskan sesuatu dan menyodorkannya ke arah Karina.
“Karina,” tulisnya. “Dulu, aku pernah merasa kalah sebelum berperang. Bukan karena keterbatasan fisik, tapi karena cemoohan orang tentang kemiskinanku dan kondisi keluargaku yang berantakan. Aku merasa dunia tidak punya tempat untuk orang sepertiku.”
Karina membaca tulisan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, matanya yang redup mulai memberikan reaksi; setitik cahaya mulai berbinar. Ia menatap Pak Radit, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan mendalam yang bisa dirasakan lewat tatapan mata pria itu.
Pak Radit melanjutkan tulisannya, “Aku menyadari satu hal: aku tidak bisa mengubah masa lalu, apalagi mengubah cara pandang orang lain yang jahat. Tapi, aku bisa memilih untuk menerima dan memeluk luka itu. Luka itulah yang memberiku warna yang tidak dimiliki orang lain. Jangan lawan duniamu yang sunyi, Karina. Peluklah ia, maka ia akan menjadi kekuatanmu untuk menciptakan dunia yang baru.”
Air mata Karina jatuh tanpa suara, membasahi kertas sketsa Pak Radit. Ia melihat ke sekeliling taman—melihat orang tuanya yang tersenyum penuh harap, serta Ryan dan Laras yang melambai hangat dari kejauhan. Di saat itulah, ia merasa bebannya meluruh.
Karina mengambil pena dari tangan Pak Radit, lalu menuliskan satu kalimat di bawahnya: “Aku ingin melukis lagi.”
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar namun penuh keyakinan, Karina mengeluarkan buku gambar kecil dari tasnya. Di tengah bisingnya taman yang tak terdengar, ia mulai menggoreskan warna. Ia tidak lagi peduli pada mata yang mencemooh di masa lalu.
“Ini aku, dan ini duniaku,” batin Karina bersuara. “Mau dunia bising ini melihatku bagaimana atau tidak menerimaku, kan kuciptakan duniaku sendiri. Jeda sunyi tempatku pulang, dan orang tuaku adalah separuh jiwaku.”
Rembulan mungkin belum muncul, namun cahaya di mata Karina kini telah utuh kembali.
END..
Untuk Karina-Karina lain yang sedang berada di titik terendah hidup ini, mari kita saling merangkul. Dunia memang bising, tapi kita bisa hidup berdampingan dengan mereka. Kamu berharga, dan kamu sangat layak untuk dicintai.
ingat kamu bukan berbeda, tapi kamu Karina Karina lain yang ada di luar sana kamu istimewa.. kayak mei instan kasih toping telor tiga... hehehe..