Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Perkenalkan, namaku Satria Putra Firmansyah, atau bisa dipanggil Putra. Aku adalah seorang anak keluarga pengusaha kaya yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan. Kedua orang tuaku juga adalah orang yang baik hati. Harta banyak yang kami miliki dipergunakan untuk kemaslahatan orang.
Namun, semua kebaikan sifat dan perilaku yang mereka miliki itu tidak sama dengan apa yang tertanam pada diriku. Harta yang melimpah itu malah kugunakan untuk kesenangan hidup yang salah, melalui tawuran, balap liar, dan segala macam kenakalan yang kulalui berlandaskan mencari jati diriku yang masih terasa samar olehku, sehingga tidak terang lagi kalau aku dan beberapa temanku sering mendapatkan teguran dan hukuman dari warga sekitar, bahkan sampai aparat keamanan.
Apakah kedua orang tuaku tahu tentang semua kenakalanku itu? Tentu saja! Terutama bapakku. Apalagi jika ia mendapatiku pulang dengan keadaan terluka, bekas dari perbuatan nakalku. Dia langsung mendatangiku dengan wajah memerah dan tatapan tajam, lalu menghujani diriku dengan omelannya yang juga kubalas dengan bantahan yang keluar dari mulutku, seperti sekarang saat aku baru saja pulang dengan diantar salah satu warga yang marah karena anaknya kupalak sore tadi.
“Tidak ada capek-capeknya kamu membuat masalah, HAHHH!!” tanya Bapak sambil berteriak marah di hadapanku dan Ibu.
Aku hanya diam sambil menghela napas panjang karena bosan mendengar kalimat itu terus-menerus. “Sudahlah, Pak! Putra bosan mendengar kalimat itu melulu. Pasti bentar lagi ngomongin soal aku yang kalian buang ke pondok pesantren,” ujarku dengan sinis sambil melangkah menuju kamarku.
Melihat apa yang barusan kuucapkan pada Bapak membuat Ibu menatapku prihatin, yang berbanding terbalik dengan Bapak yang marah mendengar kata ‘buang’ tadi. Maka setelah Bapak pergi dengan perasaan marah bercampur kecewa, Ibu juga melangkahkan kakinya, tapi malah menuju kamarku, dengan pintu yang terbuka sedikit dan menampakkan sosokku yang sedang duduk di pinggiran ranjang dengan tatapan datar.
“Nak, bolehkah Ibu masuk untuk menemuimu?” tanya Ibu. Kepalanya sudah terlihat di bingkai pintu.
Aku hanya berdeham pelan sambil mengangguk kecil, yang langsung membuat Ibu bergegas duduk di sampingku dan mulai menasihati dengan bawaan tenang dan lembut darinya. Hingga pada akhirnya dia memintaku agar mau dengan keputusan Bapak.
“Putra nggak mau tinggal di pondok, Bu…” ucapku lirih dengan tatapan redup.
“Putra, sayang,” panggil Ibu lembut, “kami ingin Putra di sana nanti menjadi anak yang lebih baik lagi, dan Putra nanti bisa menemukan ‘jawaban’ kenapa kami memondokkan Putra.”
Lanjut Ibu yang kali ini ucapannya menancap kuat di pikiranku. Jawaban? Jawaban apa yang dimaksud Ibu kepadaku? Aku nggak percaya lagi! Tapi melihat tatapan Ibu yang penuh harapan, maka dengan berat hati aku menuruti permintaannya untuk merantau mencari ilmu ke penjara suci bernama pondok pesantren.
Hari pertama diriku menjadi seorang santri telah resmi dimulai, dengan kepergian orang tuaku yang telah mengantarku dan semua kebutuhanku selama tiga tahun di pondok pesantren ini nantinya. Aku hanya bisa menatap gerbang pondok yang sebelumnya mobil kedua orang tuaku melewatinya dengan suatu perasaan yang sulit diucapkan. Tapi aku tahu tidak ada gunanya terus-menerus berdiam diri di sini, hanya rasa aneh yang bercokol di ulu hatiku. Maka hari itu aku mulai melangkahkan kakiku menuju masjid pondok pesantren ini seperti menuliskan awal kehidupanku di atas pasir hitam putih.
Detik demi detik mulai berlalu, waktu demi waktu silih berganti. Tak terasa sepekan telah berlalu di pondok ini, dengan diwarnai berbagai peristiwa yang menimpa diriku, seperti hari pertama tertidur saat acara orientasi bagi santri kelas tujuh, berkelahi dengan salah satu teman angkatan karena aku mencuri barangnya, dan banyak lagi kenakalan dariku. Yah… walaupun sudah cukup lama aku berada di sini, tapi bak kepala sekeras batu aku masih tetap sulit diingatkan oleh yang lain, sehingga tidak jarang aku mendapatkan masalah seperti sekarang ini. Aku terlibat perkelahian dengan temanku karena aku tak terima diejek.
“Kau salah cari lawan!!” ejekku dengan tatapan sinis dan pukulan yang terus kulayangkan ke lawanku. Tapi sebelum keadaan semakin pelik, datanglah seorang temanku yang lain bernama Safar yang segera memisahkan kami berdua.
“Hei! Sudah, berhenti! Ada ustadz yang akan lewat sini. Daripada kalian dihukum, mending kalian segera pergi!” ucap Safar dengan tegas yang akhirnya membuatku melepaskan lawanku dan langsung membuatnya lari lintang pukang.
Setelah keadaan cukup kondusif, aku bertanya kepada Safar perihal apa yang dia lakukan barusan. “Mana ustadznya? Katanya mau lewat sini, tapi—” belum selesai Putra berbicara, Safar lebih dulu memotong, “Sudahlah, Put! Jangan kamu cari masalah terus-menerus. Aku tahu kamu marah tadi, tapi ingatlah petuah ini, man sabara zhafira (barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung).”
“Beruntung? Apa maksudnya?” tanyaku walau sedikit kesal, tapi penasaran.
Namun bukannya menjawab pertanyaanku, dia hanya menepuk bahuku pelan sambil berkata, “Nanti kamu tahu jawabannya,” lalu beringsut pergi meninggalkanku dengan satu hal yang belum aku ketahui darinya.
Bulan demi bulan mulai berganti hingga tibalah pada bulan yang telah dinanti-nanti dan suci, yaitu bulan Ramadhan. Namun dari dulu aku selalu bingung, heran, dan penasaran dengan apa spesialnya bulan ini? Toh paling cuma disuruh puasa, tarawih, dan tadarusan. Selain itu tidak ada yang spesial lagi.
Seperti pada malam pertama ini yang tenang lagi sejuk, setelah sholat isya dan tarawih baru saja selesai dilaksanakan di masjid pondok pesantren, aku sedang merenungi perihal kenapa banyak teman-teman dan asatidzahku membaca Al-Qur’an sampai khatam berkali-kali. Padahal waktu sebelum bulan ini mereka semua hanya membaca sekali dua kali saja. Kenapa juga diriku dan semua umat Islam diwajibkan berpuasa di bulan ini? Toh tidak ada spesialnya selain mendapatkan rasa lapar, haus, dan menahan diri agar tidak mudah emosi.
Di saat aku masih merenungi semua hal tersebut, datanglah Safar membawa mushaf miliknya menuju tempatku duduk.
“Assalamualaikum, Putra. Kamu sedang memikirkan apa sampai betah lama-lama di sini?” tanya Safar yang telah duduk di sampingku.
“Aku heran, Far. Kenapa sih semua orang yang ada di sini begitu semangat beribadah dan berbuat baik setiap kali memasuki bulan Ramadhan? Kenapa tidak dilakukan juga di bulan-bulan yang lain? Kayak ‘sok alim’ saja,” jawabku dengan nada menyindir.
Safar tersenyum lalu menepuk pundakku dengan tangannya yang bebas. “Kamu mau tahu, Putra?” tanya Safar berusaha menggodaku.
Aku memutar bola mataku dengan malas yang diikuti helaan napas singkat. “Iya, Far. Buruan! Nggak sabar! Pakai rahasia-rahasiaan segala!” jawabku lagi dengan ketus.
Safar tersenyum lagi, memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Karena pada bulan ini semua amalan baik akan dilipatgandakan daripada bulan-bulan yang lain. Apalagi pada sepuluh malam terakhir bulan ini lebih istimewa daripada seribu bulan. Makanya banyak orang muslim yang semangatnya menggebu-gebu untuk beribadah, fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).”
Tukasnya yang membuatku terdiam setelah mendengar penjelasannya.
Aku kembali teringat masa laluku di rumah dulu. Waktu itu aku masih terjebak dalam kesesatan yang gelap melalui kenakalanku seperti tawuran, balapan liar, dan pemberontakan tanpa arah demi mencari jati diriku yang salah. Dan sekarang aku sadar betapa zalimnya aku kepada diriku dan orang lain dengan dosa yang sepertinya telah bertumpuk-tumpuk di atas punggungku, dengan satu pertanyaan, “Apakah aku bisa menebus semuanya?”
Namun setelah mendengar apa yang dikatakan Safar barusan mulai mencerahkan harapanku untuk menebus semua kesalahan itu dengan cara yang sama seperti Safar dan yang lain.
“Terima kasih, Far. Sungguh beruntung sekali punya teman sepertimu,” ujarku yang membuat dirinya tersenyum lega.
“Nah… karena sekarang kamu sudah tahu jawabannya, bagaimana kalau kamu ikut tadarusan sama aku?” ajak Safar yang kusetujui rencananya tersebut. Pada malam itu, aku berjanji untuk memperbaiki diriku ini yang telah menemukan jalan hidayah Rabbku untuk beristiqamah menjalani lika-liku kehidupan pada bulan Ramadhan yang indah ini.