Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Raya menunggu Bima pulang dari tur keliling dunia, malam demi malam di studio kecil tepi danau kampus. Tapi jam dinding selalu berhenti di pukul 00.17, dan tak ada satu pun yang berubah—kecuali hal-hal kecil yang tak seharusnya bergerak sendiri. Semakin lama ia menunggu, semakin ia sadar: bukan Bima yang pergi jauh. Yang jauh adalah dirinya sendiri.
----
Studio kecil itu berdiri tidak jauh dari danau kampus, tersembunyi di balik deretan pohon besar dan jalan setapak yang jarang dilalui mahasiswa setelah malam turun.
Bangunannya lebih mirip gudang tua daripada studio musik. Cat dindingnya mengelupas. Jendelanya lebar, menghadap langsung ke permukaan danau. Sebagian dinding dalam dilapisi karpet bekas sebagai peredam suara. Poster-poster konser mahasiswa menumpuk di sana, sebagian pudar, sebagian sobek di sudutnya.
Raya selalu datang menjelang senja, ketika cahaya jingga jatuh di atas danau dan memantul di antara bayangan pohon. Ia suka jam-jam itu. Suara kendaraan dari kejauhan terdengar seperti dengung rendah, menyatu dengan suara amplifier yang belum dinyalakan.
Ada satu hal yang baru belakangan ini ia sadari, meski tidak pernah benar-benar ia pikirkan: jendela studio itu menghadap danau, tapi bayangannya sendiri tidak pernah jatuh di kaca itu ketika senja. Hanya bayangan Bima. Hanya bayangan gitar, mikrofon, kursi.
Ia mengira itu soal sudut cahaya. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh.
Malam itu, Raya berdiri di depan mikrofon sambil memegang selembar catatan lirik. Kaus hitam lengan panjang, celana gelap, kemeja kotak-kotak diikat di pinggang. Kalung dengan bandul pick gitar tergantung di lehernya.
Bima duduk di atas amplifier, gitar listrik hitam di pangkuannya. Sejak tadi ia tidak memainkan satu nada pun.
"Dari awal lagi?" tanya Raya.
Bima tidak menjawab.
"Bim?"
Bima menghela napas, meletakkan gitarnya. "Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
Ia berjalan ke jendela. Cahaya senja memotong wajahnya jadi dua—satu hangat, satu gelap.
"Aku dapat tawaran ikut tur."
"Tur ke mana?"
"Keluar negeri."
Raya diam sebentar, lalu melipat tangan di depan dada. "Itu bagus." Ia memaksakan senyum. "Serius. Bagus banget."
Bima tidak ikut tersenyum.
"Berapa lama?"
"Belum pasti. Bisa satu tahun. Bisa dua."
Suara dari luar studio mendadak terasa lebih jelas—gesekan daun, motor melintas, dengung lampu tua di atas kepala mereka. Raya baru sadar, dengung itu berbunyi sedikit berbeda dari biasanya. Lebih tinggi. Seperti nada yang ditahan terlalu lama.
"Kita berangkat kapan?" tanyanya.
Dari tatapan Bima saja, ia sudah tahu jawabannya.
"Aku cuma additional player," kata Bima. "Band-nya udah punya vokalis."
"Oh."
"Aku bahkan belum tahu nanti tidur di mana."
"Jadi memang aku nggak masuk rencana itu."
"Bukan begitu."
"Tapi hasilnya begitu."
Bima mendekat. "Aku mau ngajak kamu. Aku benar-benar mau."
"Terus?"
"Kamu masih harus kuliah. Dan ibumu—"
"Jangan pakai ibuku untuk menjelaskan keputusanmu."
Ibunya memang sedang sakit. Hampir setahun Raya membagi hidupnya antara kampus, rumah sakit, dan studio. Ia sempat cuti satu semester. Skripsinya tertunda.
Bima tahu semua itu. Mungkin justru karena itu ia mengambil keputusan tanpa melibatkannya. Karena ia sudah tahu jawabannya.
"Yang aku mau cuma satu," kata Raya. "Aku mau kamu menganggap aku ada."
Bima menunduk.
"Aku ingin ikut. Tapi kamu mengajakku ketika hidupku nggak memberi pilihan."
"Aku takut kalau aku bicara dari awal, kamu akan minta aku tetap tinggal."
"Dan kamu takut kamu akan mengiyakan."
Bima tidak menjawab. Itu jawaban paling jujur yang pernah ia beri.
Mereka meninggalkan studio ketika langit sudah gelap. Jalan setapak di tepi danau masih basah oleh hujan sore. Lampu taman memantulkan cahaya kuning di paving. Raya berjalan beberapa langkah di belakang Bima, dan untuk pertama kalinya ia sadar: langkahnya sendiri tidak berbunyi sekeras langkah Bima di atas paving basah itu.
Ia mengabaikannya. Malam itu ada terlalu banyak hal lain untuk dipikirkan.
Di dekat pagar kayu yang menghadap danau, Bima berhenti. "Aku berangkat besok malam. Keberangkatannya dimajukan."
"Kamu baru bilang sekarang?"
"Aku baru tahu siang tadi."
Raya menatap danau. "Kamu pergi ke mana?"
"Ke utara. Eropa dulu, habis itu makin ke utara."
"Sejauh apa?"
"Jauh."
Kata itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang berat.
Bima mengeluarkan pick gitar hitam berukir huruf B, meletakkannya di telapak tangan Raya. "Pegang ini. Biar kamu tahu aku bakal balik."
"Kapan?"
"Setelah semuanya selesai."
"Kalau ternyata nggak pernah selesai?"
Bima tidak punya jawaban.
Klakson terdengar dari kejauhan. Ia menyentuh bandul di leher Raya. "Tunggu aku."
Raya ingin menjawab. Suaranya tertahan.
Bima berbalik, berjalan menjauh. Raya berdiri sendirian, menggenggam pick gitar itu erat-erat.
Hujan mulai turun. Awalnya beberapa tetes, lalu deras.
Ia masih bisa melihat punggung Bima di ujung jalan setapak. Ingin memanggil. Ingin bilang ia marah, bangga, takut. Tidak ada satu pun yang keluar.
Ketika ia membuka tangannya, pick gitar itu sudah tidak ada. Ia melihatnya tergeletak dekat tepi air.
Ia membungkuk untuk mengambilnya.
Paving licin. Ujung sepatunya kehilangan pijakan. Tangannya meraih pagar kayu, hanya menangkap udara.
Bunyi benturan pendek.
Lalu air dingin menelan seluruh suara.
Raya membuka mata di dalam studio.
Lampu tua di atas kepalanya menyala redup. Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Mikrofon berdiri di depannya. Gitar Bima bersandar di kursi.
Jam dinding menunjukkan pukul 00.17.
Ia tidak ingat bagaimana dirinya kembali. Mungkin tertidur. Mungkin Bima mengantarnya.
"Bim?"
Tidak ada jawaban.
Danau tampak gelap, tertutup kabut tipis. Bima sudah pergi.
Hari-hari setelah itu terasa aneh, meski Raya butuh waktu lama untuk mengakui pada dirinya sendiri bahwa kata "aneh" bahkan tidak cukup.
Setiap malam ia kembali ke studio. Menyalakan amplifier. Menyiapkan mikrofon. Meletakkan gitar Bima di tempat biasa. Kadang ia membeli dua gelas kopi, lalu baru sadar gelas kedua tidak pernah disentuh—dan tidak pernah dingin, seolah waktu di dalam gelas itu berhenti bersamaan dengan segalanya.
Jam dinding selalu menunjukkan pukul 00.17. Ponselnya tidak pernah mendapat sinyal.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Malam pertama, poster band di sudut kiri sedikit sobek di ujungnya. Malam berikutnya, sobekan itu sudah setengah jalan ke tengah, meski tidak ada yang menyentuhnya. Suatu malam gitar Bima bersandar miring ke kiri; malam berikutnya, miring ke kanan, beberapa senti dari posisi semula—dan Raya tidak pernah melihat siapa pun memindahkannya.
Ia berhenti menghitung berapa banyak malam yang sudah berlalu. Angka itu terasa tidak relevan lagi, seperti bertanya berapa banyak air yang sudah lewat di bawah jembatan yang sudah runtuh.
Sesekali suara gitar terdengar dari lorong—melodi yang belum sempat mereka selesaikan. Setiap kali ia mengejarnya, suara itu berpindah semakin jauh, meski jarak lorong itu sendiri tidak lebih dari sepuluh langkah.
Suatu malam ia menemukan kartu pos di bawah pintu. Gambar kota bersalju. Di baliknya, tulisan tangan Bima: Aku sudah sampai. Dingin sekali di sini. Kamu pasti akan benci cuacanya.
Raya tersenyum sambil menangis. "Jadi kamu benar-benar pergi."
Kartu pos lain menyusul. London. Berlin. Paris. Montreal. Toronto. Di meja studio, benda-benda asing bermunculan begitu saja di antara satu malam dan malam berikutnya—tiket konser, gelang festival, pick gitar dari berbagai kota, potongan majalah musik. Raya tidak pernah melihat siapa yang meletakkannya. Ia berhenti bertanya. Bertanya rasanya seperti membuka pintu yang lebih baik tetap tertutup.
Dalam salah satu majalah, ada foto Bima berdiri di belakang sebuah band besar. Rambutnya lebih panjang. Wajahnya lebih dewasa.
"Kamu kelihatan bahagia," kata Raya.
Pada foto berikutnya, Bima tidak tersenyum. Tatapannya kosong.
Raya menempelkan semua kartu pos itu di dinding, menarik garis-garis di atas peta dunia mengikuti perjalanan Bima. Semakin banyak garis yang ia buat, semakin jauh Bima terlihat—dan semakin ia sadar, tak satu pun garis itu pernah menyentuh titik tempat ia berdiri sekarang.
"Aku masih di sini," katanya setiap malam, ke ruangan yang tidak pernah menjawab. "Aku nggak ke mana-mana."
Pada suatu malam berkabut, kabut turun lebih rendah dari biasanya. Tidak ada bunyi jangkrik.
Di seberang danau, ada sosok berdiri membelakanginya. Rambut panjang. Jaket hitam. Gitar di punggung. Sosok itu tidak bergerak. Tidak juga berkedip—setidaknya sejauh yang bisa Raya lihat dari jarak itu. Tidak ada gerakan napas di bahunya.
"Bima?" bisiknya.
Sosok itu menoleh. Terlalu cepat, seperti kepala yang diputar sebelum tubuh sempat ikut.
Raya berlari menyusuri tepian. Sosok itu berjalan menjauh, tapi langkahnya tidak berubah kecepatan, sementara jarak di antara mereka tetap sama—seolah tanah itu sendiri yang memanjang setiap kali ia melangkah.
Langkah kaki Raya terdengar jelas, becek, tergesa. Langkah sosok itu tidak terdengar sama sekali.
"Bima!"
"Aku selalu pulang," kata sosok itu, tanpa menoleh, suaranya terlalu dekat untuk jaraknya.
"Bohong. Kamu nggak pernah—"
"Kamu yang nggak pernah pergi."
Kabut menelan sosok itu. Bukan menghilang—ditelan, seperti sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Raya berhenti, terengah. Ia menunduk ke tanah becek di bawah kakinya. Jejak sepatu lama, milik seseorang, sudah nyaris hilang tergerus hujan. Jejaknya sendiri: tidak ada. Tidak satu pun, sejauh mata memandang ke belakang.
Ia menatap kakinya sendiri lama sekali.
Ia kembali ke studio. Ruangan itu terasa lebih dingin dari sebelum ia keluar, meski jendela tertutup rapat.
Di atas meja, ada bingkai foto yang tadi tidak ada di sana.
Ia tidak buru-buru mendekat. Ia berdiri agak jauh dulu, seolah tubuhnya tahu duluan sebelum kepalanya sempat berpikir.
Dengung lampu neon di atas kepalanya berubah nada, sedikit lebih tinggi, nyaris tidak kentara.
Ia mendekat. Foto dirinya sendiri. Tahun lahir. Tahun kematian.
Ia tidak berteriak. Ia tertawa kecil—refleks orang yang otaknya menolak lebih dulu daripada hatinya.
"Ini nggak lucu."
Di samping foto, guntingan koran lama. Ia membaca namanya sendiri, pelan-pelan, seperti mengeja bahasa asing: seorang mahasiswi ditemukan meninggal di danau kampus setelah diduga terpeleset saat hujan deras.
Ingatan datang bukan sebagai kilas balik yang mulus, tapi patahan-patahan pendek, nyaris tanpa suara. Air yang menelan cahaya. Punggung kepala membentur sesuatu yang keras. Gelembung udara terakhir, naik, mengecil, habis.
Ia mundur menuju cermin tua di sudut studio.
Ruangan di dalam cermin terlihat lengkap—mikrofon, ampli, poster. Dirinya tidak ada di sana.
Ia mengangkat tangan. Cermin tidak mengikuti.
Sepersekian detik kemudian—baru terlambat—bayangan itu ikut terangkat.
"Bukan kamu yang pergi," katanya pada pantulannya sendiri.
Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan, seperti mencegah kata berikutnya keluar. Kata itu keluar juga.
"Aku yang pergi."
Tangisnya datang belakangan, setelah kalimat itu, bukan sebelum. Urutan yang salah, seperti semua hal lain malam itu.
Pintu studio terbuka.
Bima masuk. Rambutnya kini panjang melewati bahu. Wajahnya lebih tua, lebih kurus, ada garis kelelahan di sekitar matanya. Ia membawa gitar, bunga, dan sebuah kotak kecil.
Raya berdiri tepat di depannya. "Bima."
Bima melewatinya—benar-benar melewatinya, seperti melewati udara—dan meletakkan bunga di depan foto Raya.
"Lima tahun, Ra."
Raya menutup mata.
Bima membuka kotak kecil itu. Di dalamnya, semua kartu pos yang pernah Raya lihat—kartu yang sama, tulisan yang sama, hanya saja kini berlipat dan menguning, seperti sudah disentuh ribuan kali oleh tangan yang menunggu tanpa harapan.
"Aku tetap kirim," kata Bima. "Walaupun aku tahu nggak akan ada yang baca."
"Aku baca," kata Raya, meski ia tahu suaranya tidak sampai ke mana pun.
Bima mengambil gitar. "Aku nggak pernah selesaiin lagu kita."
Raya memandang mikrofon. "Sekarang selesaikan."
Bima mulai memainkan melodi lama itu. Nada pertama memenuhi studio.
Lampu indikator mikrofon menyala sendiri.
Raya menggenggam mikrofon dengan kedua tangan, lalu bernyanyi. Suaranya hanya berupa desahan tipis, hampir tenggelam di antara suara gitar.
Bima berhenti bermain. Ia menatap headphone yang tergeletak di meja. Dari sana, terdengar suara perempuan—samar, bergetar, tapi sangat ia kenal.
"Raya?"
"Terusin," kata Raya, tersenyum sambil menangis.
Bima tidak bisa mendengar kata itu. Tapi ia kembali memainkan gitar.
Studio tua perlahan berubah. Dinding kusam menghilang. Lampu panggung menyala. Bayangan penonton memenuhi ruangan. Poster-poster lama tampak baru kembali.
Raya berdiri di bawah cahaya biru. Bima dalam cahaya keemasan. Mereka tampil bersama seperti dahulu, tapi cahaya mereka tidak pernah benar-benar menyatu—selalu ada garis tipis di antara keduanya, seperti dua dunia yang dipaksa berbagi satu ruangan untuk terakhir kalinya.
Raya bernyanyi sekuat tenaga. Tentang menunggu. Tentang seseorang yang jauh. Tentang keyakinan bahwa cinta cukup untuk membuat orang pulang. Tentang jarak yang ternyata tidak bisa ditempuh dengan pesawat, kereta, atau ribuan kilometer perjalanan—karena jarak yang sebenarnya bukan di antara dua kota, tapi di antara dua sisi kematian.
Saat lagu mendekati akhir, panggung itu mulai menghilang. Mereka kembali di studio tua. Tubuh Raya perlahan menjadi transparan.
"Aku pikir kamu yang pergi jauh," kata Raya.
Bima mengangkat wajah, seolah merasakan sesuatu.
"Aku nggak pernah berhenti pulang," bisiknya, tanpa tahu pada siapa ia berbisik.
"Aku tahu sekarang," kata Raya. "Aku yang terlalu jauh."
Ia mengangkat tangan ke udara. Bima, tanpa sadar, melakukan hal yang sama—tangannya terangkat begitu saja, seperti digerakkan oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Telapak mereka berada di posisi yang sama, hanya dipisahkan oleh dunia yang berbeda.
"Jangan tunggu aku lagi," kata Raya.
Nada terakhir terdengar.
Raya menghilang.
Jam di dinding bergerak. 00.17. Menjadi 00.18—untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir.
Pagi mulai masuk dari balik jendela. Kabut menggantung tipis di atas danau.
Bima duduk sendirian. Pada layar alat perekam, muncul satu jalur suara yang sebelumnya tidak ada.
RAYA — FINAL TAKE.
Ia menekan tombol putar. Suara Raya memenuhi ruangan. Utuh. Indah. Untuk pertama kalinya tidak terdengar seperti seseorang yang sedang menunggu.
Ia menutup mata, membiarkan rekaman itu berjalan sampai habis.
Tapi ada sesuatu di detik-detik terakhir rekaman itu yang tidak ia sadari—sesuatu yang baru akan terdengar bertahun-tahun kemudian, oleh orang lain, di studio yang sama, pada jam yang sama.
Bukan suara Raya.
Sebuah tarikan napas kedua. Sangat pelan. Sangat dekat dengan mikrofon.
Seolah ada yang berdiri tepat di sampingnya saat rekaman itu dibuat, menunggu giliran untuk menyanyi juga.
Setelah rekaman selesai, Bima mengambil gitar dan berjalan keluar. Ia tidak menoleh lagi.
Di dalam studio, mikrofon berdiri sendiri. Pada salah satu kabelnya tergantung bandul berbentuk pick gitar. Berayun perlahan.
Lalu diam.
Jam dinding menunjukkan pukul 00.17 lagi.