Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
JARWO & JAMILA #Cerpen-01
Jarwo namanya, seorang pria berusia tiga puluh lima tahun dan hidupnya dibagi rapi ke dalam dua ruang yang sama-sama sunyi, Jarwo berprofesi sebagai pustakawan disuatu perpustakaan kampus swasta di kota bandung tempat ia bekerja, dan mempunyai rumah kecil di pinggir Kota Bandung, dia mempunyai istri bernama Jamila, serta 1 anak perempuan bernama Sonia.
Sonia sang anak semata wayang nya selalu menunggu sang ayah (Jarwo) pulang setiap sore. Di kedua tempat itu baik ditempat kerja maupun dirumah, Jarwo jarang bersuara, tetapi selalu hadir ketika keluarga ataupun teman kerja nya membutuhkan tenaganya. Jarwo merupakan pria kaku dan tidak pandai meramaikan suasana, namun dapat diandalkan dan ia selalu mengira itu sudah cukup.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik, Jarwo selalu rutin bangun tanpa alarm. Dia selalu menyiapkan air panas, menyeduh kopi hitam, lalu duduk di meja makan sambil menunggu Sonia bangun. Anak itu selalu keluar kamar dengan rambut kusut dan mata setengah tertutup.
“Ayah berangkat pagi lagi?” tanya Sonia suatu pagi.
“Iya.”
“Pulang sore?”
“Iya.”
Jawaban Jarwo hampir selalu sama. Jamila memahami itu sebagai konsistensi, bukan ketidakpedulian. Jarwo dan Jamila sudah menikah selama delapan tahun, cukup lama untuk saling membaca tanpa banyak kata.
Di kampus atau tempat kerja Jarwo, Jarwo selalu tiba lebih awal dari siapa pun. Ia menyukai momen ketika perpustakaan masih sepenuhnya kosong. Rak-rak buku berdiri tanpa tuntutan, meja-meja baca menunggu tanpa harapan. Ia membuka pintu, menyalakan lampu, dan menarik napas panjang seakan udara di ruangan itu selalu lebih bersahabat daripada udara di luar.
Sebagai pustakawan, Jarwo dikenal sangat rapi dan teliti. Tidak ada buku yang salah tempat, tidak ada data yang tidak sinkron. Mahasiswa sering memuji sistem perpustakaan yang tertata, meski jarang menyebut namanya. Ia tidak keberatan. Ia tidak bekerja untuk dikenali.
Masalah mulai muncul ketika pimpinan kampus mengumumkan kebijakan baru yang lahir dari kepanikan menghadapi akreditasi ulang. Perpustakaan dituntut menjadi wajah “keramahan akademik”. Kalimat itu "keramahan" diulang berkali-kali dalam rapat.
“Kita perlu pustakawan yang komunikatif,” kata kepala perpustakaan. “Bukan hanya ahli buku, tapi juga ramah pada mahasiswa.”
Jarwo kemudian duduk diam. Tangannya mencengkeram pulpen lebih erat dari biasanya. Ia tahu arah pembicaraan itu, dan ia tahu namanya akan disebut. jika tidak hari ini, maka nanti.
Beberapa minggu kemudian, keluhan mahasiswa mulai masuk secara resmi diungkapkan. Bukan soal pelayanan, melainkan soal sikap.
“Pustakawan laki-laki di layanan utama terkesan dingin.”
“Kurang senyum.”
“Membuat tidak nyaman untuk bertanya.”
Nama Jarwo muncul dalam laporan evaluasi internal.
Ia dipanggil ke ruangan kepala perpustakaan pada suatu siang. Udara ruangan itu terasa lebih panas meski AC menyala.
“Kang Jarwo,” kata kepala perpustakaan dengan nada profesional, “secara teknis kamu salah satu yang terbaik di sini. Tapi ini institusi pendidikan, kita dinilai bukan cuma dari kinerja, tapi juga dari kesan.”
Jarwo menunduk. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuat siapa pun tidak nyaman. Bahwa diam bukan berarti menolak. Tetapi kata-kata itu tidak pernah tersusun rapi di kepalanya.
“Kita beri waktu tiga bulan,” lanjut kepala perpustakaan. “Kalau tidak ada perubahan signifikan, kita pertimbangkan rotasi atau… opsi lain.”
Opsi lain. Kata itu menggantung berat di udara.
Jarwo kemudian keluar ruangan dengan langkah lebih pelan dari biasanya. Di balik rak buku, ia duduk dan menatap lantai. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di sana, perpustakaan terasa asing. Rak-rak yang biasanya menenangkan kini tampak seperti saksi bisu yang tidak bisa membelanya.
Ia pulang dengan kepala penuh. Di rumah, Sonia berlari menyambutnya, memeluk kakinya dengan tawa kecil. Jarwo membalas pelukan itu lebih lama dari biasanya.
“Ayah kenapa?” tanya Jamila saat makan malam.
Jarwo kemudian diam cukup lama. Lalu, pelan-pelan, ia bercerita. Tentang kebijakan, keluhan, dan ancaman yang tidak diucapkan secara langsung.
Jarwo langsung bercerita panjang kepada istrinya Jamila dan point singkat dari obrolannya
“Kalau sampai dipindahkan atau… diberhentikan,” katanya lirih, “aku nggak tahu harus kerja apa lagi.” (ucap Jarwo)
Itu bukan ketakutan akan status, melainkan tentang tanggung jawab. Tentang Sonia. Tentang cicilan rumah kecil mereka.
Jamila kemudian menggenggam tangannya. “Kamu bukan gagal, yah. Kamu cuma nggak cocok dipaksa jadi orang lain.” (jawab jamila dengan nada menenagkan).
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling melelahkan bagi Jarwo. Ia mencoba berubah. Ia tersenyum meski wajahnya terasa kaku. Ia menyapa meski dadanya cepat sesak. Ia menahan dorongan untuk segera mengakhiri percakapan.
Setiap sore, ia pulang dengan kelelahan yang tidak terlihat secara fisik. Ia lebih banyak diam dari biasanya bahkan di rumah. Ia takut, jika terlalu lelah, ia akan membawa kegagalan itu masuk ke ruang yang seharusnya aman.
Konflik mencapai puncaknya ketika seorang mahasiswa kembali mengajukan komplain langsung ke pimpinan, menyebut Jarwo “tidak pantas berada di front office perpustakaan modern”. Kali ini, nada pimpinan berubah.
“Kang Jarwo, jujur saja,” kata kepala perpustakaan, “kami mempertimbangkan memindahkan kamu ke bagian arsip tertutup. Tanpa layanan langsung. Tapi kontraknya juga akan ditinjau ulang.”
Itu bukan promosi. Itu langkah mundur yang perlahan mengarah ke pintu keluar.
Malam itu, Jarwo duduk sendirian di ruang tamu setelah Sonia tidur. Ia menatap rak buku kecil di rumahnya rak yang ia susun sendiri, sama seperti di kantor. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah ketenangan yang ia jaga selama ini sebenarnya membuatnya tersisih?
Keesokan harinya, ia datang lebih awal dari biasanya. Ia membuka perpustakaan dan berdiri lama di tengah ruangan. Ketika mahasiswa datang, ia tidak memaksakan senyum. Ia hanya benar-benar mendengarkan.
Ia membantu dengan lebih perlahan, lebih hadir. Tidak cerewet, tidak kaku. Ketika ditanya, ia menjawab lengkap. Ketika tidak perlu bicara, ia diam tanpa defensif.
Perubahan itu kecil, nyaris tak terlihat, tetapi nyata.
Beberapa minggu kemudian, laporan evaluasi menunjukkan penurunan keluhan. Tidak drastis, tetapi cukup untuk menghentikan rencana terburuk. Kepala perpustakaan memanggilnya sekali lagi.
“Kamu tetap pendiam,” katanya, “tapi mahasiswa mulai merasa terbantu. Mungkin… itu cukup.”
Jarwo kemudian mengangguk. Tidak lega sepenuhnya, tetapi cukup untuk bernapas.
Sore itu, ia pulang dengan langkah kaki lebih ringan. Sesampainya Di rumah, Sonia tertidur di sofa sambil memeluk buku cerita. Jarwo mengangkatnya perlahan, menyadari satu hal sederhana: ia tidak harus menjadi orang paling ramah di ruangan mana pun. Ia hanya harus cukup kuat untuk tetap ada untuk rak-rak buku, untuk mahasiswa, dan untuk keluarganya.
Dan di antara rak yang tak pernah bersuara, Jarwo belajar satu hal pahit namun jujur: "terkadang, bertahan bukan tentang berubah total, melainkan tentang menyesuaikan diri tanpa kehilangan inti diri sendiri".