Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di sinilah engkau lahir, pada sebongkah pulau tanpa nama yang selalu direbutkan bangsa-bangsa asing.
Di negara tak berhuruf ini manusia hidup berkepentingan, mereka memangkas hak-hak orang lain, membiarkan harga diri terlunta-lunta di jalanan, tak hirau dengan keutuhan. Jika pun ada yang peduli, mereka itulah sekelompok minoritas, tersisih dari peradaban, terasing dari publik, suara pun terbungkam media masa. Kebodohan menduduki tahta kekuasaan.
Beruntung engkau tak berkeinginan untuk lari dari kenyataan. Dirimu pasrah dan menerima apa yang telah negara berikan demi memenuhi kebutuhanmu yang kurang-kurang. Hal yang memegangi erat langkahmu untuk berurbanisasi ke pulau lain adalah karena di sinilah makam nenek moyangmu, leluhur terhormat yang pernah mengajari anak cucunya adab tingkah laku hidup bermasyarakat. Kau tak pernah berpikiran untuk melunturkannya, apalagi mengubur kemurniannya yang tercurah secara ikhlas, benar-benar tulus.
Zaman telah berubah, seribu tahun kemudian orang-orang diserang penyakit pikun. Orang-orang dipersibuk meringkas waktu agar akhir pekan cepat kelar, akhir bulan dapat hiburan. Pergi ke tempat ramai sudah menjadi budaya merajalela, menghamburkan jerih payah adalah gaya hidup normal. Dahulu nenek moyang lebih gemar meletakkan tangan di atas tanpa sepengetahuan tangan-tangan bawah lainnya, namun kini tangan di atas gemar berselfi ria dan menjelejahi dunia abstrak yang mudah diakses oleh milyaran mata-mata. Mendadak tangan di atas bukan lagi sebuah kebanggaan, justru banyak manusia bangga karena mampu meletakkan tangannya di bawah.
Di pulau buta huruf ini, memalsukan identitas pemilik berlian menjadi pemilik debu-debu jalanan yang mengais sisa-sisa rejeki di emper-emper jas mahal, lebih mudah, ketimbang menyelesaikan tugas menggambar anak kecil di pulau tetangga.
Akibat penyakit pikun mereka, konon nenek moyang memberikan sebuah kutukan berbetuk pesakitan tiada banding. Sakit yang dirasakan membuat banyak orang menjadi tak tahu diri apalagi merasa malu, rasa-rasanya kemaluan mereka telah dicuri malaikat pencabut maut.
Kau adalah orang yang masuk kelompok minoritas, dirimu paham betul kengerian yang melanda negara ini.
Sepanjang malam orang-orang berkasak-kusuk dari balik tirai mereka, matanya memicing miring, pikiran mendidih, napas sedikit tersengal merasa tidak puas dengan alam yang ada di hadapan, hidup berasa tidak tenang selalu gusar dengan riski yang kurang ditimbun, lalu yang paling tragis dari seluruh keganjilan, dada-dada mereka ditumbuhi jarum-jarum aneh yang tidak kau pahami.
Rakyat di pulau sebelah tidak akan pernah percaya jika kau mengantarkan kisah tersebut kepada mereka, namun sungguh waktu tak pernah bertutur bohong, ia perekam segala kehidupan yang dibentuk alami oleh detik, tak satu pun kesalahan yang mampu ia rangkum secara sengaja baik tidak disengaja, waktu selalu berkata benar, sekalipun seekor manusia berencana sembunyi ketika melakukan sebuah tindakan. Mata waktu tak tampak, namun ia terbuka dan membening di mana-mana, pandangannya ditakdirkan selalu tepat tidak pernah melesat.
Ketika itu, dirimu sedang menjaga pos ronda bersama para tetangga, kopi mengepulkan asap, pahit tertinggal di lidah-lidah penikmat malam. Kartu remi berserak, tak peduli dengan wajah fajar yang mulai menampakkan dirinya di langit-langit. Engkau khusuk dengan jamuan sepi dan melodi jangkrik dini hari. Sarung-sarung dililitkan di kepala, sebagian dikerudungkan untuk membungkus badan dari gigil, sebagaian lagi dikalungkan di leher atau diselempangkan seperti putri pilihan negara tahun 4044 silam.
Engkau lupakan rasa kantuk yang semula menjalar pada titik sebelas, kini berakhir dengan pertemuan fajar yang tak kau perhatikan. Tiba-tiba saja, ketika uang taruhan hampir kau menangkan, telingamu terganggu suara lolongan kesakitan dari tetangga sebelah pos ronda. Kartu remimu didiamkan berserak, orang-orang mulai mengalihkan pandangan. Mereka berkasak-kusuk. Cerita singkat diperpanjang bibir-bibir yang tak pernah merasa memiliki dosa.
“Itu si Taat sedang sakit, matanya melotot dan memerah, telingnya panas, tubuhnya kejang, seperti orang kesurupan!”
“Wah apakah ia menjadi tumbal kekayaan?”
“Entahlah, bisa jadi karena kualat!”
“Kualat karena apa?” dirimu merasa perlu mengetahui penyebabnya supaya dapat mengantisipasi agar tidak terjangkit. Kau teguk kopi terakhirmu, menyisakan ampas pahit di dasar cangkirmu.
“Tak tahulah, Kang. Kemarin baik-baik saja, dia sakit seperti itu usai melihat mobil baru Pak Kuat, apa jangan-jangan mobil itu ditumpangi jin?”
“Wah kalau benar begitu, kita harus membawanya ke dukun, jika tidak nyawa bisa menjadi taruhan!”
“Kau berlebihan! Penyakit itu akan segera hilang, paling tidak dalam waktu sebulan!”
Kerongkongan mereka terasa mengering. Mendadak bibir bungkam. Mereka larut dalam prasangka masing-masing pikiran. Hening sesaat.
***
Pagi harinya, ketika istrimu sedang menyusui anakmu, ketika penjaga pos ronda mengorok, ketika pemuda-pemuda sibuk berkaca di kamar. Bu Amanah menjerit memohon pertolongan, wajahnya berkerut-kerut panik, napasnya ngos-ngosan, ia yang baru saja memasak pindang di pawon dikejutkan dengan keadaan putrinya, tak tahu apa, namun saking paniknya lupa bahwa centong sayurnya ikut diacung-acungkan. Seketika istrimu lari tunggang-langgang keluar dari rumah, membiarkan jemuran yang terhempas angin pergerakan tubuhnya. Lupa bajunya belum dikancingkan, alhasil sebuah lekuk daging tak bertulang dapat dilihat dengan jelas. Anakmu diterlantarkan di kasur sendirian.
“Ada apa?” Ibu-ibu berkerumun saling lempar pertanyaan.
“Tolong anak saya, dia kesakitan!”
“Sakit apa?”
“Sakit yang tak bisa diumbar di muka publik, sakit yang harus disembunyikan, bahaya jika sampai ketahuan banyak orang!”
“Lalu mengapa kau meminta tolong kepada kami?”
“Tuhan marah padanya, hanya kalianlah yang mampu mengerti!”
“Katanya bahaya jika banyak orang yang tahu?”
“Hanya kalian, warga pulau kelahiran bukan tetangga, jadi tidak apa-apa!” penjelasan sedikit ambigu.
Istrimu dan ibu-ibu yang lain berbondong-bondong menuju rumah Bu Amanah. Suara kesakitan dapat didengar dari luar rumah, suara yang mengantarkan keibaan, pedih, luka ketidakjelasan dan kesombongan. Suara itu menyayat perasaan, membuat sebagian miris dan memaksa telapak tangan mengelus dada. Mereka tak sabar ingin segera melihat keadaan putri Bu Amanah.
Betapa terkejutnya mereka, putri cantik itu terkulai tiada daya di ranjang, matanya memerah penuh dendam, tanganya mengepalkan kedengkian, amarah mengambang-ngambang di wajahnya. Ia diserang sesak aneh. Lalu pada dadanya yang terbuka lebar, tepat di atas hatinya tumbuh jarum-jarum, darah meluber sampai ke permukaan kasur, menetes ke lantai, mengalir ke penjuru arah, bau anyir menyeruak. Kamar dengan ukuran 4 m x 6 m itu mendadak terkesan seram, tirai jendela belum dibuka, katanya jika ada cahaya yang masuk, jeritan putri Bu Amanah akan semakin mengerikan.
“Anakmu terkena santetkah?”
Bu Amanah tidak tahu pasti, ia menangis sesenggukan.
“Aku tidak tahu, dia seperti itu setelah melihat perhiasan yang dibeli temannya, katanya ada sinar yang membuatnya kesakitan,”
“Ah, dia harus dibawa ke dukun.” Ibu-ibu memberi saran.
“Hanya dukun yang mampu menyembuhkan penyakit ini, mantri manapun tak akan mampu mengatasinya, bahkan ahli jiwa sekalipun! Ini penyakit kutukan, penyakit aneh!”
Sejak saat itu pekerjaan menjadi dukun merupakan profesi menguntungkan. Dukun-dukun dibanjiri uang berjuta-juta, banyak pasien tertusuk jarum yang datang. Sungguh ajaib memang, semenjak zaman berubah, jarum itu tumbuh liar dan nakal, tak pernah mau mengungsi jauh-jauh dari hati anak adam, mereka menggerogoti seperti belatung memakan sampah, mereka menusuk hingga remuk, mereka menyedot kejernihan hati sampai semuanya tampak hitam.
Siapa pun dapat terserang penyakit tersebut, ketika mata mereka mengharap kehancuran orang lain. Seperti hal yang sudah-sudah, Paijem sakit karena matanya panas usai melihat buku tabungan Pak Lurah, Bu Imah yang sekarat karena tetangga membangun rumah megah.
Kau orang yang selalu menerima apa adanya. Kau bukan orang yang suka mengintip kehidupan orang lain, dikatakan cuek tidak juga, hanya tidak berlebihan seperti orang-orang yang pernah sakit itu. Jarang ada dengki di tanganmu, semuanya berjalan normal ala kadarnya. Kau merasa aman ketika orang was-was. Lisan mereka jaga supaya tidak menyinggung tetangga, tangan dipangku di belakang punggung, tidak diperkenankan menggayuh barang-barang elok yang bukan haknya. Mereka menjauhi betul hal-hal yang dapat membuat penyakit itu datang.
Konon bambu kuning dipercaya dapat mengusir penyakit-penyakit gaib yang aneh, maka tak heran halaman-halaman rumah mereka dijamuri tanaman keramat tersebut.
Engkau tak perlu menanam bambu kuning, cukup tersenyum dan melakukan kebaikan. Begitu prinsipmu digenggam erat-erat.
Di suatu pagi yang cerah, ketika burung asyik berkicau di dahan-dahan pepohonan. Kakimu tiba-tiba melangkah ke rumah Pak Maman, jiwamu tergiur dengan pesona istri barunya. Sepekan kemudian dadamu dirasa terbakar. Istrimu ngomel-ngomel membiarkan dirimu binasa. Pandanganmu nanar, napasmu setengah-setengah, rasanya dunia menelanmu mentah-mentah. Kau terkapar tanpa sadar atas kesalahanmu sendiri. Dirimu tidak menyangka jika ketertarikan dengan istri tetangga mampu mendatangkan kutukan mengerikan itu. Sakitmu kian menjadi-jadi, namun tak ada seorang pun yang mampu menolong, ke dukun akan sia-sia.
Perhiasan mampu dibeli, rumah mampu dibangun, tabungan mampu ditimbun, mobil mampu dihutang, tapi seorang istri? Apakah bisa dipinjam? Berbulan-bulan lamanya, jarum-jarum terus menusuk tajam dadamu.
Magelang, 27 Juni 2020.