Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Janji yang Tak Pernah Selesai
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Janji yang Tak Pernah Selesai

​Langit sore di kota kecil ini selalu menyisakan guratan jingga yang muram, seperti kanvas tua yang kehilangan gairah pelukisnya. Di bawah naungan langit itulah Aruna duduk di teras kedai kopi peninggalan ayahnya. Suara deru kendaraan yang melintas sesekali memecah lamunannya, tetapi tidak mampu meredam riuh di dalam kepalanya. Sudah lima tahun berlalu sejak hari itu—hari ketika sebuah janji diucapkan di bawah naungan pohon trembesi tua dekat stasiun kereta.

​Janji itu sederhana, hampir klise: "Aku akan kembali sebelum daun trembesi ini gugur seluruhnya dan kita akan merintis galeri seni kita sendiri."

​Kalimat itu diucapkan oleh Senja, kekasihnya, sebelum pemuda itu pergi menumpang kereta malam menuju ibu kota demi mengejar mimpi sebagai pelukis profesional. Saat itu, Aruna hanya tersenyum, menggenggam erat jemari Senja yang terasa hangat, lalu mengangguk penuh keyakinan. Bagi mereka, jarak hanyalah angka dan waktu hanyalah proses menunggu kebahagiaan yang tertunda.

​Namun, waktu memiliki cara misteriusnya sendiri untuk menguji manusia.

​Tahun pertama berjalan dengan baik. Surat-surat datang berganti, diiringi pesan singkat penuh semangat tentang pameran-pameran kecil yang mulai melirik karya Senja. Setiap kali Senja mengirimkan sketsa wajah Aruna dari kejauhan, perempuan itu merasa jarak ribuan kilometer sama sekali tidak ada artinya. Senja berjanji akan pulang setiap kali musim panen tiba.

​Namun, janji pertama itu mulai retak pada tahun kedua. Kesibukan Senja di ibu kota melonjak drastis. Pameran tunggal pertamanya sukses besar, membuatnya terseret dalam pusaran dunia seni yang gemerlap namun melelahkan. Pesan-pesan yang dulunya datang setiap hari mulai merenggang menjadi seminggu sekali, lalu sebulan sekali, hingga akhirnya hanya berupa ucapan selamat hari raya yang kaku.

​Aruna tidak pernah marah. Ia adalah perempuan yang tumbuh dengan kesabaran seluas samudra. Ia tahu kekasihnya sedang berjuang mewujudkan mimpi besar mereka bersama. Setiap kali rindu menghantam dadanya hingga sesak, Aruna memilih menyalurkannya ke atas kanvas. Ia melukis apa saja: senja di dermaga, secangkir kopi dingin di atas meja kayu, hingga bayangan siluet seorang lelaki yang melambaikan tangan di stasiun.

​Hingga suatu hari di tahun keempat, sebuah kabar mengejutkan datang. Bukan dari Senja, melainkan dari majalah seni nasional yang dibeli Aruna di kios koran langganannya. Di halaman utama, terpampang wajah Senja dengan jas rapi, tersenyum lebar di samping seorang kurator seni ternama—yang juga merupakan putri seorang pemilik galeri besar di ibu kota. Artikel itu menyebutkan bahwa Senja tidak hanya sukses berkarier, tetapi juga bersiap melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan rekan bisnis sekaligus pendukung utamanya itu.

​Dunia Aruna seolah berhenti berputar sejenak. Secangkir teh hangat di tangannya terasa hambar. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap, yang ada hanya rasa kosong yang mendalam, seperti ruangan besar yang ditinggal pergi penghuninya. Senja tidak pernah menghubunginya lagi setelah berita itu terbit. Seolah-olah lima tahun kebersamaan mereka, deretan sketsa cinta, dan janji di bawah pohon trembesi itu tidak pernah ada.

​Waktu terus bergulir, membawa Aruna pada hari ini. Usia kedai kopi ayahnya kini semakin senja, sama seperti pemiliknya yang mulai renta. Aruna memutuskan untuk tidak pernah meninggalkan kota kecil ini. Ia memilih merawat kenangan, menolak tawaran untuk memamerkan lukisannya di kota besar, dan tetap setia pada kuas serta cat airnya.

​Sore menjelang magrib, angin berhembus kencang, menggugurkan sisa-sisa daun trembesi di depan stasiun. Sesuai dengan metafora janji mereka dulu—bahwa ketika daun-daun itu gugur seluruhnya, penantian seharusnya berakhir. Entah sebagai kepulangan atau sebagai sebuah keikhlasan.

​Tiba-tiba, suara lonceng kecil di pintu kedai berbunyi nyaring.

​Aruna yang sedang membereskan meja mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup kencang seketika, sebuah refleks tubuh yang tidak bisa ia bohongi meski akal sehatnya telah lama bersiap.

​Seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Penampilannya jauh berbeda dari terakhir kali Aruna melihatnya di majalah. Jas mewahnya telah tanggal, digantikan oleh jaket kulit usang yang berdebu. Wajahnya tampak lebih tirus, garis-garis kelelahan tercetak jelas di sekitar matanya, dan rambutnya yang dulu tertata rapi kini membiarkan beberapa helai uban menyembul.

​Itu Senja.

​Lelaki itu berdiri mematung selama beberapa detik, menatap Aruna seolah-olah ia sedang melihat hantu atau sebuah keajaiban yang tidak nyata. Di tangannya, terselip sebuah tabung kanvas tua yang terlihat sudah sangat usang.

​"Aruna..." suara lelaki itu tercekat, nyaris tak terdengar di antara deru angin sore.

​Aruna tidak beranjak dari tempatnya. Ia memegang erat lap meja di tangannya, mencoba menjaga agar napasnya tetap stabil. Tidak ada air mata yang tumpah, yang ada hanyalah keheningan panjang yang sarat akan beban masa lalu.

​"Kau datang terlambat, Senja," ucap Aruna akhirnya, suaranya tenang namun menusuk. "Daun trembesi di depan sana sudah gugur sejak minggu lalu."

​Senja menelan ludah, langkah kakinya terasa sangat berat saat ia mendekati meja tempat Aruna berdiri. Ia meletakkan tabung kanvas itu perlahan di atas meja kayu yang sudah banyak menggoreskan cerita.

​"Aku tahu, Aruna. Aku tahu aku telah menjadi pengecut," bisik Senja dengan suara bergetar. Ia menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap manik mata perempuan di hadapannya itu. "Aku tersesat dalam cahaya lampu kota. Aku terbuai oleh validasi dunia yang selama ini kuimpikan. Dan ketika aku sadar bahwa aku kehilangan arah, semuanya sudah terlambat. Hubunganku kandas, galeri itu bukan milikku sepenuhnya, dan aku menyadari satu hal..."

​Senja mengangkat wajahnya, menatap Aruna dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata akhirnya tumpah dari pelupuk mata lelaki itu, melunturkan seluruh keangkuhan yang pernah ia bangun selama di ibu kota.

​"...bahwa rumah yang sebenarnya bukan di sana, melainkan di sini. Di sampingmu, di kedai kecil ini, di bawah langit kota kecil kita."

​Aruna menatap lurus ke dalam mata Senja. Ia melihat penyesalan yang nyata, rasa lelah yang amat sangat, dan kerinduan yang terlambat. Selama bertahun-tahun, Aruna membayangkan momen ini akan diisi dengan kemarahan, makian, atau tangis histeris. Namun kenyataannya, hatinya justru terasa begitu tenang. Ruang kosong di dadanya kini terisi oleh penerimaan.

​"Senja," kata Aruna lembut, sambil meraih tabung kanvas yang dibawa lelaki itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah lukisan cat minyak tua—lukisan pertama yang pernah Senja buat untuk Aruna ketika mereka masih remaja, menggambarkan diri Aruna sedang tersenyum di bawah pohon trembesi.

​"Kau tahu apa arti dari sebuah janji, Senja?" lanjut Aruna sambil mengusap permukaan lukisan itu dengan penuh kehati-hatian. "Janji bukan tentang seberapa lama kita bertahan dalam jarak, atau seberapa megah mimpi yang berhasil kita raih. Janji adalah komitmen untuk tetap tinggal, bahkan ketika badai menerpa."

​Senja terdiam, air matanya semakin deras mengalir. Ia tahu ia tidak memiliki pembelaan apa pun. Ia telah melanggar janji suci itu demi ambisi egoisnya sendiri.

​"Aku memaafkanmu, Senja," ucap Aruna tulus, membuat lelaki itu mendongak kaget. "Tapi maaf, aku tidak bisa kembali ke masa lalu. Waktu terus berjalan, dan aku telah belajar merajut bahagiaku sendiri tanpa harus menunggu kepulanganmu."

​Senja merasakan dadanya sesak seketika. Hantaman kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Ia sadar, apa yang telah ia patahkan tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti semula, sekeras apa pun ia mencoba menambalnya.

​"Lalu... apa artinya kedatanganku ke sini?" tanya Senja dengan suara parau.

​Aruna tersenyum tipis, senyuman paling ikhlas yang pernah ia berikan selama bertahun-tahun. Ia menutup kembali tabung kanvas itu dan mendorongnya pelan ke arah Senja.

​"Artinya, penantian panjangku akhirnya selesai, Senja. Bukan karena kau kembali, tetapi karena aku akhirnya benar-benar bisa melepaskanmu," jawab Aruna tenang. "Ambillah lukisan ini. Jadikan ia pengingat bahwa mimpimu yang lain telah tercapai, meski kau harus kehilangan hal yang paling berharga di awal perjalananmu."

​Senja menatap tabung kanvas di hadapannya, lalu beralih menatap wajah Aruna. Tidak ada lagi kebencian di sana, yang ada hanyalah ketenangan mutlak seorang perempuan yang telah menemukan kedamaian jiwanya sendiri.

​Senja mengerti. Ia tahu ia harus pergi. Lelaki itu bangkit dari duduknya, membungkuk perlahan sebagai tanda hormat dan penyesalan yang paling dalam, lalu mengambil tabung kanvasnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari kedai kopi itu.

​Suara lonceng pintu kembali berbunyi, mengantar kepergian lelaki yang pernah menjadi seluruh semesta bagi Aruna.

​Aruna memandang ke luar jendela. Senja di luar sana telah berganti menjadi malam yang sunyi. Langit gelap bertabur bintang, menjanjikan esok hari yang baru. Aruna menarik napas panjang, merasakan kelegaan yang luar biasa menyelimuti rongga dadanya.

​Janji itu memang tidak pernah selesai dengan indah seperti di dalam dongeng, tetapi justru karena ketidakpastian dan kepedihan itulah, hidup mengajarkannya arti sebuah ketulusan yang sesungguhnya. Aruna berbalik, mengambil kuasnya kembali, dan bersiap melukis babak baru di atas kanvas kehidupannya yang terbentang luas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Janji yang Tak Pernah Selesai
Novia Andriani
Novel
How is Your Heart?
Faida Zuhria
Novel
Bronze
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Skrip Film
My Last 20s
kvease
Novel
Letter
Langit_Berlari
Novel
Bronze
Retas
Gia Oro
Cerpen
Bronze
Jaket dengan Lubang Bekas Peluru
Habel Rajavani
Novel
Gold
Pangeran Kelas
Coconut Books
Komik
Senandika Aksara
achaa
Skrip Film
Surga Yang Bersembunyi (Script Film)
Silvia
Komik
Di Ujung Keputusan
Bukan Penyair
Flash
Bronze
Dunia Nyata
Erena Agapi
Cerpen
Gadis dan Waktu
RinkoPan
Flash
Hanya Singgah
Ujang Nurjaman
Cerpen
Ibu, Aku Merindukanmu
D.Agustin
Rekomendasi
Cerpen
Janji yang Tak Pernah Selesai
Novia Andriani
Cerpen
Gema Rindu Yang Tertinggal di Pelabuhan Senja
Novia Andriani
Cerpen
Cinta Anak Siluman dan Anak Drakula
Novia Andriani
Cerpen
Pintu Surga di Tahun 2018
Novia Andriani
Novel
Diantara Rterik dan Harmoni
Novia Andriani