Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
JANJI YANG KOSONG
0
Suka
832
Dibaca

Pukul 06.00. Cahaya temaram dari lampu lima watt yang bergantung redup menerangi sudut kamar Arini. Di mejanya masih tergeletak koran lowongan kerja, terbuka pada halaman yang penuh coretan penanda.

"Dibutuhkan Staf Administrasi. Wanita, maks 25 th. Gaji Pokok Tetap. Jam Kerja 08.00-16.00. Hub: Bu Citra"

Ia beranjak menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Semalam, ia sudah menyiapkan pakaiannya dengan teliti. Kemeja putih bersih terlipat rapi. Rok hitam selutut, masih baru, tergantung di gantungan.

Sepatu pantofel hitam dengan hak tiga sentimeter, juga baru, dibelinya kemarin sore. Kaki Arini masih terasa sedikit kaku saat mencoba memakainya, belum terbiasa dengan sentuhan sepatu baru yang sedikit asing.

Di depan cermin retak yang memantulkan bayangan samar, ia memoleskan bedak Marcks tipis-tipis, berusaha menutupi jejak lelah di wajahnya. Pesan Sari, teman baiknya, terngiang di telinganya, "Jangan dandan menor. Biar dianggap serius." Arini mengikuti nasihat itu, berharap penampilannya yang sederhana namun rapi bisa memberikan kesan baik.

Ia memeriksa dompetnya yang terasa tipis. Hanya tersisa 43 ribu rupiah. Uang itu harus cukup untuk ongkos angkot pulang-pergi dan makan siang. Dengan hati-hati, ia memasukkan amplop cokelat berisi Curriculum Vitae (CV) ke dalam tas.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, menampilkan alamat yang ditunggu: "Ruko Palapa Blok C, No. 12."

06.45. Angkot berwarna biru tua yang sudah usang itu ngetem di depan gang kost Arini, menunggu penumpang. Supirnya, seorang bapak-bapak berkemeja oblong yang sudah pudar warnanya, menatap Arini.

"Pasar?" tanyanya, suaranya serak.

"Ruko Palapa, Pak," jawab Arini.

"Delapan ribu. Yang deretan toko tutup itu kan?" Supir itu memastikan, seolah ingin memastikan bahwa Arini tahu persis ke mana tujuannya.

Arini mengangguk. Ia melangkah naik ke dalam angkot. Ia memegang erat besi pegangan di atas kepalanya. Para tukang sapu jalanan masih terlihat beraktivitas, mengenakan topi caping untuk melindungi diri dari terik.

Arini menghitung ulang dalam benaknya: Gaji 2,5 juta. Kirim ke ibu 1 juta. Kos 600 ribu. Makan 30 ribu sehari berarti 900 ribu sebulan. Masih ada sisa. Bisa. Ia harus bisa.

Angkot akhirnya berhenti. "Ruko Palapa tu," kata supir, menunjuk ke arah deretan ruko di depan.

Arini turun. Kakinya menancap di aspal yang sudah terasa panas. Deretan ruko itu terlihat menyedihkan.

Catnya sudah banyak yang terkelupas, menunjukkan lapisan semen yang kusam di baliknya. Banyak ruko yang tutup, rolling door-nya berkarat, seolah sudah lama tak tersentuh.

Tidak ada satu pun plang nama "PT Maju Jaya" atau nama perusahaan lainnya yang terlihat. Di ruko Blok C Nomor 12, hanya ada bekas lakban yang membentuk persegi panjang.

Dari dalam ruko yang terlihat kosong itu, seorang satpam keluar. Seragam birunya tampak lusuh, tanpa bordiran nama. Perutnya buncit, menandakan usia yang mungkin sudah menginjak 40-an. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.

"Arini?" tanyanya, suaranya berat.

"Iya, Pak," jawab Arini, sedikit ragu.

"Masuk." Satpam itu tidak tersenyum, tidak ada basa-basi. Ia langsung berbalik badan, berjalan menyusuri lorong sempit di samping ruko.

Arini mengikutinya. Lorong itu sempit, bahkan satu mobil pun tidak akan muat untuk melintasinya. Di sisi kiri, tembok tinggi yang ditumbuhi lumut menjulang. Di sisi kanan, rolling door ruko-ruko lain tertutup rapat. Bau apak yang menusuk hidung bercampur dengan aroma oli bekas dan kencing kucing, menciptakan suasana yang tidak menyenangkan.

Langkah sepatu satpam bergema di lorong, diikuti oleh suara "tok... tok..." dari hak sepatu tiga sentimeter Arini yang beradu dengan lantai semen.

"Kerja di sini ramai, Pak?" Arini mencoba memecah kesunyian, berusaha memulai percakapan.

Satpam itu tidak menoleh. Hanya gumaman "Hm" yang keluar dari bibirnya, tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Tenguk Arini terasa panas, bukan karena terik matahari, melainkan karena perasaan tidak nyaman yang mulai merayapi dirinya.

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu berwarna hijau terlihat. Catnya sudah banyak yang mengelupas. Satpam itu mengetuk dua kali, lalu langsung membukanya tanpa menunggu jawaban.

Ruangan itu pengap, tapi luas, namun tidak ada sekat, tidak ada meja resepsionis, bahkan tidak ada furnitur layaknya sebuah kantor. Yang ada hanyalah tumpukan kardus yang menjulang tinggi, nyaris menyentuh plafon asbes di atas. Merek-merek yang tercetak di kardus itu bercampur aduk: Miyako, Cosmos, Nagoya, dan beberapa merek lain dengan huruf-huruf yang...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
UITDF
Hary Silvia
Cerpen
Bronze
Ruth Pergi Sendiri ke Surga
Johanes Gurning
Cerpen
Bronze
Kognisi
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Jam Malam di Warung Kopi
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Arini
Imajinasiku
Cerpen
Lebih dari Seragam
Astromancer
Cerpen
Sebentar
eSHa
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh Part-7
Munkhayati
Cerpen
Bronze
OH MY BOSS
ELI WAHYUNI
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Huruf Pertama
Ismi Faiza
Cerpen
Liburan Juga Bermanfaat
LISANDA
Cerpen
Bronze
Belalang dan Ramalan yang Tak Selesai
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Pertarungan sengit penguasa hutan dan nyi tosa
najlah
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty