Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Alicia tidak pernah menyangka, jika pertemuannya dengan laki-laki saat winter tiga tahun lalu hanya dari layar kecil gadgetnya akan membuatnya didera rindu sebesar ini.
Semua berawal dari satu panggilan video yang canggung, di MeetMe, saat laki-laki yang kemudian memperkenalkan diri kepada Alicia sebagai Hyun-wo. Berperawakan tinggi, berkulit kuning bersih dengan senyum yang ramah. Suaranya yang berat namun tenang seperti menunjukkan kecerdasannya.
“Maaf ya, sinyalku jelek,” kata Hyun-wo waktu itu, saat pertemuan pertama mereka.
Alicia menjawabnya dengan tawa yang gugup. “Nggak apa-apa, yang penting orangnya kelihatan, bukan pixel semua.”
Tak ada yang spesial dari obrolannya, sekedar bertanya kabar, menanyakan bagaimana cuaca di tempat masing-masing, That's all. Tapi entah kenapa, obrolan mereka berlanjut ke hari berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Sampai tanpa sadar, Alicia mulai menunggu notifikasi dari Hyun-wo seperti menunggu hujan di musim kemarau.
“Kalau kita ketemu langsung, kamu bakal segini cerewet nggak?” tanya Hyun-wo suatu malam.
Alicia mengangkat alis. “Aku bisa lebih cerewet dari ini, Kamu aja yang belum siap.”
Hyun-wo malah tertawa. “Kayaknya aku harus siap-siap mental dari sekarang.”
Meskipun Hyun-wo hanya setengah bercanda, tapi Alicia menganggapnya penting, karena ia mulai jatuh hati, dan kalimat itu datang dari orang yang mulai ia pedulikan.
***
Ketika Spring tahun ketiga akhirnya berlalu, perlahan, semuanya berubah.
Bukan tiba-tiba seperti badai, tapi ini justru lebih menyakitkan, karena berubahnya pelan-pelan, sampai Alicia nggak sadar kapan tepatnya semuanya mulai terasa jauh.
Hyun-wo mulai sibuk.
Awalnya masih ada kabar.
“Maaf ya, hari ini hectic banget.”
Lalu kabar itu berubah jadi lebih singkat, bahkan kadang-kadang nyaris cuek.
“Lagi kerja.” Hanya dua kata itu, sebagai jawaban untuk rindu yang bertalu-talu sekian lama di hati Alicia.
Sampai akhirnya perlahan hilang, seperti getah pohon Cinnamomum camphora yang lenyap menyublim di gerus udara.
Pesan Alicia sering hanya dibaca, kadang bahkan tidak dibuka sama sekali. Video call yang dulu jadi rutinitas, sekarang cuma jadi rencana yang terus tertunda.
“Nanti ya, lagi capek.”
“Nanti ya, ada urusan.”
“Nanti ya.”
Alicia sampai mengutuki kata “nanti” karena rasa benci yang sudah menggumpal.
Karena “nanti” dari Hyun-wo tidak pernah benar-benar bisa ditunggu, apalagi ketika hati didera rindu, dan selalu terlalu berharap temu.
Chat terakhir mereka sudah berumur hampir satu bulan.
Alicia mengetik.
“Kamu baik-baik aja?”
Dikirim.
Sama sekali tidak ada balasan.
Alicia memilih menunggu. Satu jam, dua jam, sampai akhirnya ia tertidur dengan ponsel masih di tangan.
Pagi harinya, tetap tidak ada jawaban, nihil.!
Di situlah untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini ia hindari muncul.
Apa aku cuma sendirian di hubungan ini?
***
Sebulan kemudian, jawaban pesan yang ditunggu itu datang.
Singkat, dingin, seolah tidak pernah ada rasa di antara mereka.
“Alicia, kita cukup sampai di sini aja ya.”
Dibacanya kalimat itu berkali-kali, seolah kalau ia baca cukup lama, maknanya akan berubah.
Tapi tidak.
Tangannya bahkan tiba-tiba gemetar saat akhirnya ia membalas.
“Cukup? Maksud kamu apa?”
Ironisnya, balasan Hyun-wo kali ini justru datang lebih cepat dari biasanya.
“Aku ngerasa kita udah nggak sejalan lagi.”
Alicia menahan napas, mengehembuskannya saat wajahnya tertunduk.
“‘Nggak sejalan itu karena kamu yang memilih berhenti Hyun.”
Beberapa detik, lalu tiga titik muncul di layar.
“Aku lagi banyak hal, Al.”
Alicia tersenyum pahit, air matanya jatuh tanpa izin.
“Begitu banyak hal, sesibuk itukah sampai buat ngobrol lima menit aja nggak sempat?”
Tidak ada basa-basi lagi sekarang diantara mereka berdua.
Hyun-wo membalas, “Aku nggak mau kita saling nyakitin lebih lama.”
Alicia mengerjap mata, menahan matanya yang menghangat. Bagaimana bisa dia mengatakan itu, seolah itu seperti kebaikan, tapi kini terasa seperti pisau yang menghujam ke ulu hati.
“Yang nyakitin itu bukan ‘lebih lama’, Hyun,” tulisnya pelan, “yang nyakitin itu kamu pergi pelan-pelan tanpa bilang apa-apa.”
Lama tak ada balasan.
Alicia melanjutkan mengetik balasan tanpa bersedia menunggu. Meski jarinya gemetar tapi pikirannya sekarang terasa lebih jernih.
“Aku nungguin kamu. Setiap hari. Aku mikir kamu lagi sibuk, aku maklumin. Aku mikir kamu capek, aku diem. Aku mikir kamu sayang.”
Alicia berhenti sejenak, menerawang gelisah, apa ia masih layak mengatakan "sayang", lalu mengetik lagi.
“Tapi orang yang sayang nggak bikin orang lain ngerasa sendirian, kan?”
Lama.
Bahkan sangat lama, Alicia menunggu hanya sekedar mendapat kepastian jawaban. Sampai akhirnya Hyun-wo membalas.
“Maaf.”
MAAF?
Satu kata yang terlalu ringan untuk semua yang yang sudah Alicia jaga untuk waktu selama itu, ia memendam rindu itu seolah masih miliknya, ia merasa ada seseorang yang juga menunggu dan merindukannya.
Alicia menertawakan dirinya, getir. Ini cinta atau bodoh, atau ia terlalu percaya dan tulus menerima orang lain tanpa ia sadari itu hanya bayangannya sendiri. Cuma keinginan dan harapannya sendiri, tapi bukan milik mereka berdua. Ia tiba-tiba menjadi orang paling bodoh dan bersalah karenanya.
“Maaf itu, buat kesalahan kecil, Hyun, ini bukan cuma sekedar lupa balas chat, tapi kamu memilih nggak ada, tak mau lagi peduli pada hubungan kita.”
Tidak ada balasan.
Alicia menatap layar, sebelum memutuskan mengetik satu kalimat terakhir.
“Jawab jujur ya, selama ini, kamu pernah beneran sayang aku nggak?”
Titik tiga muncul, hilang, lalu muncul lagi, menunggu ketikan baris-baris kata jawaban muncul.
Lalu akhirnya:
“Aku nggak bisa maksa perasaan.”
Dada Alicia Langsung seperti runtuh.
Ia mengangguk, meski tidak ada yang melihat.
“Harusnya kamu bilang itu dari awal,” balasnya. “Bukan bikin aku berharap sendirian.”
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa dirinya yang tercecer.
“Jangan paksa diri kamu buat sayang aku,” lanjutnya. “Tapi lain kali, jangan juga biarin orang lain jatuh terlalu dalam kalau kamu nggak siap nangkep.”
Kali ini, Hyun-wo tidak membalas lagi, logikanya tak lagi berkutik terkunci rasa getir.
Alicia justru menganggap penolakan jawaban itu sebagai jawaban paling jujur yang pernah ia terima.
***
Setelah malam-malam sepi berlalu, Alicia membuka galeri ponselnya. Semua foto tangkapan layar dari video call mereka masih tersimpan rapi. Di sana terpampang senyumnya, tapi rasanya tidak sama lagi sekarang.
Alicia menghapus satu per satu, seperti menghapus memori dari ingatan. Bukan karena ia sudah tidak peduli, sebaliknya karena ia terlalu peduli, dan akhirnya memilih berhenti.
“Cinta nggak bisa dipaksa,” gumamnya pelan.
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini tidak seputus asa sebelumnya.
“Dan aku juga nggak bisa terus maksa diri buat bertahan sendirian.”
Di luar, malam kian sunyi. Tapi sejak malam ini, Alicia berhenti menunggu notifikasi yang tidak akan datang, dan tidak pernah lagi akan ditunggunya datang.