Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Kamu sudah melamar dimana lagi, Qal?”
Aku menghentikan gerakan tanganku sebentar. Tetapi, kemudian aku tetap menganduk minuman coklatku. Tanpa mengangkatkan kepala, aku menjawab, “Belum, Mah. Dua minguan yang lalu, sih, aku semangat mengirimkan lamaran. Tapi, belum ada yang menghubungi lagi.”
Mama menganggukkan kepala. Orang tidak akan mampu menebak isi pikirannya, jika hanya melihat raut wajah datarnya. Jangankan orang lain, aku saja yang merupakan anaknya selama dua dekade masih belum berhasil dengan tepat menebak jalan pikir Mama jika ia tidak menunjukkannya.
Aku melihatnya mengambil piring yang sudah kotor dari meja dengan pelan. Hanya ada suara dentingan piring yang beradu saat Mama menumpuknya. Aku mulai sedikit merasa risih saat tidak mendengar komentar apapun dari beliau. Wajahnya tidak terlihat berubah sedikit pun. Tetapi, syukurlah, Mama segera menjawab.
“Ya sudah. Kamu terus saja mencoba, Qal. Insya Allah ada yang keterima. Mama turun ke bawah dulu, ya.”
Aku mengangguk. “Iya, Ma,” jawabku singkat. Aku memandang punggung Mama yang telah berlalu. Ketika Mama telah tidak lagi terlihat olehku, suara pelanku meluncur dari bibir, “Iya, Insya Allah.”
Perkenalkan, namaku Qalbi. Aku biasa dipanggil Qal oleh orang-orang, bahkan termasuk orangtuaku. Siapa aku? Bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang lulusan baru dari perguruan tinggi yang ‘kebetulan’ cukup terkenal seantaro negeri ini. Kalau dibilang jenius, sebetulnya tidak. Aku hanya anak yang memiliki kepintaran tingkat normal dan memiliki keberuntungan untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut.
Aku dan mungkin banyak rekanku dulu berpikir bahwa masuk perguruan tinggi adalah fase tersulit. Kenyataannya? Fase setelah lulus itulah yang sulit. Sebenarnya tidak akan sulit-sulit amat jika yang empunya tidak terlalu memikirkan. Tetapi keadaan dan dunia ini pasti akan memaksa kita untuk terus mengingatnya.
Beberapa bulan yang lalu, bisa dikatakan aku cukup stres dengan keadaan. Mungkin itulah yang disebut orang-orang sebagai overthinking? Quarter-life crisis? Apapun itu namanya, bagiku saat itu, sangat mengganggu.
Jika menilik penyebabnya, ternyata lucu juga. Menjadi lulusan perguruan tinggi yang memiliki ‘nama’ adalah tekanan tersendiri. Mungkin banyak yang berpikir bahwa lulusan kami suka petantang-petenteng, tapi bagi kami yang sebetulnya biasa-biasa ini saja tetapi ternyata menjadi ekor naga, justru bisa diterima kerja di perusahaan yang bukan perusahaan top tier juga merupakan hal yang patut disyukuri.
Sebenarnya aku juga belum lama ini baru lulus. Mungkin bisa dibilang anak ayam baru netas, yah? Tapi, walaupun tidak iri, ada rasa mengganjal sedikit di hati ketika melihat teman-teman lain yang sudah perlahan bisa berjalan sendiri, mencoba-coba berlari, atau mulai mengeluarkan suara. Sementara aku? Aku masih melirik cangkangku yang baru pecah.
Apalagi sebelumnya, aku sempat diundang juniorku untuk menjadi mentor mereka. Mereka bilang padaku bahwa mereka akan berpidato dihadapan mahasiswa baru. Sebagai senior yang baik dan memang berpengalaman dibidang ini, tentunya aku mengiyakan undangan tersebut. Seharusnya itu hari yang biasa saja. Itu pendapatku di pagi hari sebelum berangkat.
Hari itu hari yang terik. Meskipun berada dibawah pohon yang rindang, aku bisa merasakan sedikit panas pada kulitku dibalik kain yang menutupi tubuhku. Tetapi ketika aku melihat naskah yang mereka tunjukkan, aku tertegun. Mataku memandang dan membaca lamat-lamat kata demi kata yang dirakit dalam naskah itu.
Walaupun aku tidak menunjukkan ekspresi apapun, aku merasa ingin tertawa. Seketika rasa lelah dan gerahku saat itu menjadi tidak berarti. Aku seakan terperangkap pada relung masa lalu dalam waktu sekejap mata. Ternyata aku yang dulu pun pernah berpidato dengan nada yang mengebu-gebu, ya? Ternyata dulu aku juga sama polosnya dengan mereka.
Mulutku membeo sunyi kata-kata mereka yang sangar, “Manfaatkanlah waktumu untuk memupuk prestasi!”
Dalam pikiranku kembali terbesit: Apakah aku telah menjadi pohon yang diberangus kemarau?
Tentu saja aku tidak mengeluarkan isi pikiranku. Aku hanya mengatakkan pada juniorku, “Naskah kalian bagus, kok! Kalian hanya perlu memoles gaya bicara kalian di panggung.”
Kalau ada satu hal yang aku syukuri saat itu adalah mereka tidak bertanya lebih jauh tentang tempat kerjaku. Aku pun juga tidak mengungkitnya. Bahkan aku sempat berkilah saat topik pembicaraan hendak merembet ke sana. Begitulah, aku sekarang sudah lihai menyetir pembicaraan untuk tidak menyelam ke topik yang akan menstimulasiku.
Aku juga memiliki teman seangkatan yang bernasib sama. Kami sering bercurhat tentang permasalahan kami. Aku bilang padanya di suatu malam yang sunyi, “Sepertinya gue sudah kirim belasan lamaran. Tapi, ternyata belum ada yang diterima.”
“Duh, Qalbi! Gue udah coba puluhan dan belum ada yang keterima. Padahal gue ada riwayat magang!” sahutnya lebih ketus.
Aku terdiam. Ternyata ia lebih sial dariku. Apa aku yang terlalu berlebihan? Aku terus memikirkan hal itu. Jika temanku yang memiliki riwayat magang dan nilai yang lebih stabil dariku saja tidak diterima, bagaimana denganku? Malam aku berbicara dengannya, aku termenung memandang lembaran portofolio dan riwayat hidup yang kupakai untuk melamar kerja. Kenyatannya ... memang aku tidak memiliki riwayat yang mentereng.
Sebetulnya penyakit hati ini tidak akan lebih teruk jika keadaan dunia baik-baik saja. Kenyataanya bukan saja dunia sedang sakit, negara ini pun sedang sakit. Rasanya pusing saat melihat berita menyebar di media sosial. Apalagi dengan keadaan yang semakin gila tiap harinya saat itu, aku sempat berpikir, apakah besok dunia kita akan semakin tidak aku kenali?
Alhamdulillah, perkiraanku salah. Itu semua hanyalah imajinasiku belaka. Dunia ini masih belum segila itu. Aku saja yang gila pada saat itu.
Aku kembali pada laptopku dan melirik naskah yang sudah selesai. Setelah membacanya berulang kali, aku memutuskan cerita itu dapat dipublikasikan. Aku menekan fitur ‘selesai’ pada laman.
Itu adalah cerita pertamaku. Apakah ada banyak yang membaca? Tidak juga. Tapi, tidak apa. Aku hanya berharap meluapkan isi pikiranku dan mengisi luang waktu.
Segera setelah ceritaku publikasi, aku menyalin tautan yang tertera. Aku membuka aplikasi chat dan menemukan nama teman kuliahku. Aku menempelkan tautan yang ku salin pada kolom chat. Aku segera mengetik, “Lim, ini cerita baru gue. Tolong baca, ya, hehe.”
Tanpa kusangka ternyata Halim dengan cepat membalas. “Oke. Lo buat cerita lagi? Ini masih sama dengan yang lama pernah lo cerita ke gue?”
“Bukan. Bukan,” sanggahku. “Yang lama gak jadi gue publikasi. Entah kenapa belum merasa tepat aja. Tapi, yang satu ini gue publikasi. Lo baca, ya! Minimal tekan like-nya!” ketikku lagi dengan cepat.
Halim membalas, “Iya, Qal. Bagaimana? Udah ada yang keterima?”
“Ya Allah! Sepertinya semua orang memiliki pikiran yang sama. Mama nanya gue dan lo pun nanya hal yang sama.”
Halim mengirimkan stiker tertawa. “Ya, kan, sekadar bertanya, Qal. Mana tahu, kan, rezeki orang bisa beda-beda.”
“Nah, itu tahu!” balasku. Kemudian aku memberikan stiker marah. Hanya pura-pura, sih. Aku sudah tidak terlalu tersinggung lagi dengan pertanyaan keramat itu. “Belum ada, Lim. Tidak tahu lah! Ya sudah. Gue kirim aja CV kemana-mana. Sekarang gue sudah cukup menunggu aja. Toh, sekarang gue sibuk menulis.”
“Memangnya lo cuman mau jadi penulis?”
“Memangnya ada yang salah dengan jadi penulis?” tanyaku balik.
“Ya, tidak ada yang salah,” jawabnya. Tidak ada jawaban cepat darinya. Fitur aplikasi chat menandakan ia masih sedang mengetik. Aku kemudian mendapatkan jawabannya, “Gue ... agak heran aja. Emangnya lo gak mau kerja sesuai profesi kita, Qal?”
“Kalau ditanya mau atau enggak, sih, ya, pasti mau, Lim. Mana ada nolak. Gue mau aja. Masalahnya ... keinginan belum tentu sesuai dengan hidup.”
“Ya. Itu pasti lah,” jawab Halim lagi.
“Nah, itu tahu. Gue sekarang sudah cukup dengan satu prinsip kalau buat lamaran kerja, Lim,” jawabku. Aku tidak langsung mengetik lanjutannya dan menunggu ia merespons jawabanku terlebih dahulu.
Halim tidak memupus ekspektasiku. Ia menjawab dengan cepat, “Apaan, tuh?”
“Datang, kerjakan, dan lupakan.”
Halim mengirimkan stiker tertawa. Aku pun ikut tersenyum. Aku mengetik kembali, “Benar, kan? Yang penting ikut pelatihan sama webinar, kalau ingat. Lirik lagi CV. Ya sudah, kirim aja. Terus, catat, deh, barusan kirim kemana. Oh, gue suka pilih posisi, sih. Hehe. Jadi ini pasti gue cantumin di catatan. Setelah itu lupakan! Nanti kalau ada balasan email baru cek.”
Sekali lagi Halim mengirimkan stiker tertawa. Ia pun juga mengetik lagi, “Sebenarnya, sih, yang paling mudah buat kita gak tahan itu rasa bosan. Bosan di rumah, terlihat seperti orang gak guna, dan bosan aja dengan rutinitas.”
“Padahal bekerja itu juga rutinitas baru,” timpalku juga. Aku tersenyum tipis meskipun aku tahu Halim tidak bisa melihatnya. “Sebenarnya, Lim. Bisa melek besok pagi juga seharusnya alhamdulillah. Banyak, kok, orang yang lebih khawatir apakah dia bisa bangun besok paginya. Banyak juga yang khawatir kalau dia masih punya tubuh yang lengkap. Ya, tidak bisa dibandingkan, sih. Ya ... gue sadar kalau terkadang kita butuh berhenti untuk memaksa diri. Semua orang memiliki rezeki yang sesuai dan jalan yang berbeda. Itu aja, sih.”
Halim tidak langsung menjawab. Tetapi aku tahu ia mungkin sedang mempertimbangkan jawabannya. Aku sendiri mulai membuka dokumen baru di laptop ku.
Tiba-tiba saja aku memiliki ide cerita baru. Ketika aku baru hendak mengetikkan sepatah dua kata, Halim menjawab, “Gue jadi pengen balik ke rumah orang tua, Qal. Apa mending gue nerusin dagangan orang tua aja, ya? Daripada gue gak dapat kerja di kota?”
“Ya, silahkan saja, Lim. Gak ada yang melarang lo. Kalau menurut lo gak masalah, ya, lanjut aja. Gue yakin juga ada aja, kok, lowongan disana. Malah kalau bisa lo bikin apotek disana!” jawabku renyah.
“Iya, juga ya.”
Jawaban Halim singkat. Tetapi, aku tahu kemungkinan besar Halim sudah membuat keputusan. Masing-masing dari kami memiliki latar belakang yang berbeda dan tentunya pilihan masa depan yang berbeda. Aku tidak iri untuknya. Aku justru merasa itu keputusan yang baik.
Tidak masalah memilih pekerjaan apapun selama itu halal dan menghasilkan rezeki yang cukup. Perlu digarisbawahi pada kata ‘rezeki yang cukup’, bahwa itu bukan rezeki yang melimpah. Keduanya terlihat mirip, tetapi berbeda besar perkara makna. Karena sejatinya, rezeki yang cukup bukan berarti kaya.
Jika kita hanya mengejar hal-hal duniawi, tentunya kita akan saling membandingkan. Seperti aku yang dulu sering terpikirkan pencapaian teman-temanku. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha keras atau ambisius. Tetapi kini aku mencoba belajar untuk ambisius tanpa tenggelam dalam ambisi itu sendiri. Aku ingin mencoba berusaha keras tanpa menengok pada orang lain, apalagi berusaha menjadi orang tersebut. Aku ingin menjadi orang yang dapat melihat kebahagiaan orang lain, tanpa harus menjadikan kebahagiaan itu milikku.
Drrt!
Ponselku kembali bergetar. Aku membukanya kembali dan mendapati Halim ternyata mengirim pesan lagi, “Makasih, ya, sarannya.”
Aku tertawa membacanya. Aku berusaha menenangkan diri dan tersenyum tipis. Dengan cepat jari-jemariku menari mengetik kata demi kata. Jawabku, “Santai aja, Lim. Gue juga gitu, kok. Terima kasih, ya, sudah mau jadi tong sampah gue kalau gue lagi merasa gak enak. Kalau lo beneran balik, bilang ke gue, ya. Mungkin kita bisa kumpul-kumpul terakhir satu grup. Eh, iya, lo deket dengan Yahya, kan? Gimana dia? Gue kayaknya jarang komunikasi dengan dia? Dia udah duluan balik kampung, kah?”
“Enggak. Belum, kok,” jawab Halim. “Dia juga masih nyari kerja. Sama lah dengan kita. Tapi dia keukuh mau bertahan di kota.”
“Oh, begitu,” jawabku.
Aku mengangguk. Semua memiliki keputusan masing-masing. Tetapi, aku sendiri masih tidak yakin dengan masa depanku. Apakah ada dari kita yang yakin akan masa depan? Aku rasa tidak. Kita hanya dapat berusaha, bukan?
Aku mengetik kembali, “Oke. Pokoknya, janji bilang, ya! Kita harus kumpul yang terakhir kali.”
Hanya ada jawaban singkat dari Halim. Ia hanya menjawab dengan ‘iya’. Aku tersenyum lebih lebar. Tetapi, kemudian aku teringat lagi dengan pertanyaan Mama. Aku menggaruk bagian kepalaku yang tidak gatal.
“Hmm, sepertinya gue harus mulai berburu loker lagi, nih,” gumamku pelan. Hari itu, seperti biasanya, aku sibuk kembali di rumah. Pada kenyataannya, hari akan cepat berlalu. Itulah yang selalu kupikirkan. Maka, aku berusaha untuk melakukan progres tiap harinya dan di malam hari aku bermunajat, “Ya Allah, cukupkanlah aku rezeki untuk hari ini."