Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Terkadang, perjalanan terjauh bukanlah menuju tempat yang asing, melainkan menuju diri yang telah lama kita tinggalkan."
Langit sore itu menggantung rendah di ufuk barat. Warna jingga yang lembut perlahan bercampur dengan semburat ungu, menciptakan pemandangan yang indah bagi siapa saja yang sempat berhenti dan memandangnya.
Namun Nara tidak melihat keindahan itu.
Ia duduk sendiri di sebuah bangku taman yang mulai usang dimakan waktu. Di sekelilingnya, kehidupan berjalan seperti biasa. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun. Seorang ibu mendorong kereta bayi sambil tersenyum pada putrinya. Sekelompok remaja tertawa tanpa beban.
Sementara Nara hanya duduk diam.
Ia memperhatikan mereka satu per satu, seolah sedang menyaksikan kehidupan dari balik kaca yang memisahkannya dengan dunia.
Sudah lama ia merasa seperti itu.
Ada di tengah keramaian, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian darinya.
Ada di antara banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian.
Beberapa tahun lalu, hidupnya tidak seperti ini.
Ia pernah menjadi seseorang yang penuh mimpi.
Nara kecil selalu memiliki buku catatan yang dibawanya ke mana-mana. Di dalamnya terdapat potongan puisi, ide cerita, dan daftar tempat yang ingin ia kunjungi suatu hari nanti.
Ia ingin menjadi penulis.
Ia ingin melihat dunia.
Ia ingin hidup dengan cara yang membuatnya bahagia.
Namun kehidupan ternyata memiliki rencana yang berbeda.
Setelah lulus kuliah, ia mulai bekerja. Awalnya ia berpikir semua akan baik-baik saja. Ia hanya perlu bekerja beberapa tahun, menabung cukup uang, lalu mengejar impiannya.
Tetapi tahun demi tahun berlalu begitu cepat.
Pekerjaan bertambah.
Tanggung jawab bertambah.
Kekhawatiran bertambah.
Dan perlahan-lahan, mimpinya menghilang.
Bukan karena ia menyerah.
Melainkan karena ia terlalu sibuk bertahan hidup.
Hari-harinya menjadi rutinitas yang berulang.
Bangun pagi.
Berangkat bekerja.
Menghabiskan waktu di depan layar komputer.
Pulang malam.
Tidur.
Lalu mengulang semuanya lagi keesokan harinya.
Awalnya ia masih sempat menulis.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Lalu seminggu tanpa tulisan.
Sebulan.
Setahun.
Sampai akhirnya buku catatannya hanya menjadi benda berdebu yang tersimpan di rak paling atas.
Malam itu hujan turun begitu deras.
Suara air yang menghantam jendela memenuhi kamar kecil tempat Nara tinggal.
Ia baru saja pulang dari kantor.
Tubuhnya lelah.
Pikirannya lebih lelah lagi.
Ketika berjalan melewati cermin, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Ia menatap bayangannya sendiri.
Wajah yang tampak asing.
Mata yang kehilangan cahayanya.
Senyum yang sudah lama tidak muncul dengan tulus.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Siapa aku sebenarnya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan yang terus mengetuk jendela.
Malam itu Nara tidak bisa tidur.
Ia terus memikirkan pertanyaan yang sama.
Siapa dirinya?
Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Kapan terakhir kali ia merasa benar-benar bahagia?
Dan mengapa ia merasa begitu jauh dari dirinya sendiri?
Beberapa hari kemudian, tanpa banyak pertimbangan, Nara mengajukan cuti selama seminggu.
Rekan-rekannya terkejut.
Ia dikenal sebagai orang yang jarang mengambil libur.
Tetapi kali ini ia tidak peduli.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia harus pergi.
Bukan untuk melarikan diri.
Melainkan untuk menemukan sesuatu yang hilang.
Meskipun ia belum tahu apa itu.
Pagi berikutnya, Nara menaiki kereta menuju sebuah kota kecil di tepi pantai.
Ia memilih tempat itu secara acak.
Tidak ada alasan khusus.
Hanya karena foto-fotonya terlihat tenang.
Dan ketenangan adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini.
Perjalanan berlangsung beberapa jam.
Di luar jendela, pemandangan terus berganti.
Sawah.
Perbukitan.
Sungai.
Desa-desa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara tidak membuka laptop atau memeriksa email kantor.
Ia hanya duduk dan memperhatikan dunia.
Sesampainya di kota itu, angin laut langsung menyambutnya.
Aroma asin memenuhi udara.
Debur ombak terdengar dari kejauhan.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih damai.
Nara menyewa sebuah penginapan sederhana yang menghadap laut.
Kamarnya kecil.
Tidak mewah.
Tetapi memiliki jendela besar yang memperlihatkan hamparan samudra.
Malam pertama, ia duduk di balkon sambil mendengarkan suara ombak.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada rapat.
Tidak ada tuntutan.
Hanya dirinya dan lautan.
Entah mengapa, ia merasa sedikit lega.
Hari-hari berikutnya diisi dengan hal-hal sederhana.
Ia berjalan di sepanjang pantai setiap pagi.
Menyaksikan matahari terbit.
Membaca buku.
Menulis beberapa kalimat di buku catatan.
Mengamati burung-burung yang terbang rendah di atas air.
Hal-hal yang dulu terasa biasa kini menjadi sangat berarti.
Pada hari ketiga, Nara bertemu seorang lelaki tua.
Pria itu duduk di atas batu karang sambil melukis laut.
Rambutnya memutih.
Kulitnya kecokelatan karena matahari.
Namun sorot matanya tampak damai.
Nara memperhatikannya cukup lama.
Lelaki itu menyadari keberadaannya dan tersenyum.
"Kau suka laut?" tanyanya.
Nara mengangguk.
"Kurasa begitu."
"Kurasa?" lelaki tua itu tertawa kecil.
"Aku bahkan tidak yakin lagi dengan apa yang kusukai."
Lelaki tua itu menatapnya beberapa saat.
Kemudian kembali menggerakkan kuasnya.
"Kenapa Bapak selalu melukis laut?" tanya Nara.
"Karena laut mengajarkan banyak hal."
"Seperti apa?"
"Laut tidak pernah berusaha menjadi sungai. Tidak pernah berusaha menjadi langit. Ia hanya menjadi dirinya sendiri."
Nara terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan lembut.
Lelaki tua itu melanjutkan.
"Manusia sering lelah karena terus berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya."
Nara menunduk.
"Mungkin itu yang terjadi padaku."
"Kau terlihat lelah."
Nara tersenyum pahit.
"Mungkin karena aku terlalu lama berusaha memenuhi harapan semua orang."
"Dan bagaimana dengan harapanmu sendiri?"
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Ia tidak tahu jawabannya.
Sudah terlalu lama ia mengabaikan dirinya sendiri.
Malam itu, Nara duduk di tepi pantai.
Langit dipenuhi bintang.
Ombak datang dan pergi.
Angin berembus perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar mendengarkan isi hatinya sendiri.
Satu per satu kenangan mulai muncul.
Tentang dirinya yang suka menulis cerita.
Tentang buku-buku yang pernah membuatnya jatuh cinta pada dunia literasi.
Tentang impian yang dulu begitu hidup.
Tentang dirinya yang pernah tertawa tanpa alasan.
Semua itu terasa sangat jauh.
Seolah milik orang lain.
Padahal semua itu adalah dirinya.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya ia menyadari sesuatu.
Ia tidak kehilangan dirinya.
Ia hanya terlalu lama meninggalkannya.
Hari demi hari berlalu.
Nara mulai menulis lagi.
Awalnya hanya satu paragraf.
Lalu satu halaman.
Kemudian beberapa halaman.
Ia menulis tentang laut.
Tentang perjalanan.
Tentang dirinya.
Tentang kehilangan dan penemuan.
Tentang pulang.
Ia tidak memikirkan apakah tulisannya bagus atau buruk.
Ia hanya menulis.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa hidup.
Pada hari terakhir sebelum kembali ke kota, Nara kembali menemui lelaki tua itu.
"Sepertinya kau terlihat berbeda," kata lelaki tua itu.
"Aku merasa berbeda."
"Apa yang berubah?"
Nara tersenyum.
"Aku berhenti mencari jawaban di luar diriku."
Lelaki tua itu mengangguk.
Seolah memang sudah mengetahui jawabannya sejak awal.
"Kadang-kadang," katanya pelan, "yang kita butuhkan bukan arah baru. Kita hanya perlu kembali ke tempat kita pernah kehilangan diri sendiri."
Pagi berikutnya, Nara bersiap pulang.
Ia memasukkan pakaian ke dalam koper.
Lalu mengambil buku catatannya.
Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat.
"Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa lagi. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri."
Ia memandangi kalimat itu cukup lama.
Kemudian tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, senyum itu terasa tulus.
Kereta yang membawanya pulang bergerak perlahan meninggalkan kota kecil tersebut.
Nara duduk di dekat jendela.
Memandangi laut yang semakin menjauh.
Aneh.
Ia tidak merasa kehilangan.
Karena sesuatu yang paling penting telah ia temukan.
Dirinya sendiri.
Ia tahu hidup tidak akan langsung menjadi mudah.
Masalah tetap ada.
Pekerjaan tetap menunggu.
Tanggung jawab tetap harus dijalani.
Tetapi kini ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak lagi berjalan tanpa arah.
Ia tahu siapa dirinya.
Ia tahu apa yang membuatnya bahagia.
Dan yang paling penting, ia tahu bahwa dirinya layak didengarkan.
Saat kereta melaju membelah pagi, sinar matahari masuk melalui jendela dan menghangatkan wajahnya.
Nara memejamkan mata.
Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perjalanan ini memang tidak membawanya ke tempat yang luar biasa.
Tidak ada gunung yang ditaklukkan.
Tidak ada kota besar yang dikunjungi.
Tidak ada petualangan hebat yang diceritakan.
Namun perjalanan ini membawanya ke tujuan yang jauh lebih penting.
Sebuah tempat yang selama ini ia cari ke mana-mana.
Tempat itu bukan berada di ujung dunia.
Bukan pula tersembunyi di balik lautan.
Tempat itu ada di dalam dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nara benar-benar pulang.