Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
JALAN PULANG
Di satu sudut kampung yang belum tergilas modernitas, beduk magrib terdengar asing, tabuhannya seperti undangan yang megah. Bagi sebagian orang yang terbiasa menjalankan ibadah ke masjid, itu adalah panggilan biasa untuk bersujud, panggilan yang selalu bisa dinikmati setiap pergantian hari dari terang menuju damainya malam. Namun bagi Andi, suara itu lambat laun berubah menjadi sirine yang mencemaskan, penanda bahwa waktu istirahatnya telah habis dan malam yang panjang berselimut keringat serta debu jalanan mulai menerkamnya kembali.
Andi sejatinya bukan anak tongkrongan yang tak pernah salat berjamaah di masjid, apalagi pemuda berandalan yang tak punya tujuan hidup. Beberapa tahun lalu ia adalah remaja yang betah berlama-lama di serambi masjid, menunduk takzim di depan kitab suci, dan melantunkan ayat-ayat dengan suara yang merdu. Orang-orang di kampungnya sempat menjulukinya remaja alim. Ada cahaya ketulusan di matanya setiap kali ia mengenakan sarung tenun dan peci hitamnya. Namun garis hidup manusia kerap kali ditentukan oleh tangan-tangan yang paling dekat dengan mereka. Begitu juga dengan Andi, garis hidupnya ditentukan dengan kasar oleh bapaknya sendiri, Pak Sukardi.
Keinginannya untuk mendalami ilmu agama di sebuah pesantren sirna begitu saja, berganti tanggung jawab yang menyesakan untuk keluarganya.
***
"Salat dan ngajimu itu tidak bisa bikin kenyang!" Kalimat kasar itu kerap kali meluncur dari mulut Pak Sukardi seperti hantaman petir, pekiknya menakutkan dan menyakitkan tentunya.
Bagi Pak Sukardi hidup adalah matematika yang sederhana yaitu bekerja, menghasilkan uang, dan menyambung hidup esok hari. Mengaji, berdoa, atau bermimpi kuliah atau mempeedalam agama di pesantren adalah kemewahan yang tidak sanggup dibeli oleh keluarga mereka yang serba kekurangan. Begitu Andi lulus dari bangku madrasah aliyah, lembar-lembar kitab kuning yang biasa ia pelajari dipaksa tutup secara permanen. Pak Sukardi tidak memberi ruang untuk melanjutkan mempelajari itu semua.
Setiap pagi sebelum matahari benar-benar menyapa bumi, Andi sudah dipaksa menarik gerobak sayur atau memanggul semen di proyek bangunan. Dan ketika malam tiba, saat tubuhnya menjerit meminta istirahat, Pak Sukardi akan melemparkan kunci motor tua padanya.
"Ngojek. Sana cari tarikan sampai tengah malam. Setoran kurang, jangan harap bisa tidur tenang," ketus bapaknya tanpa memandang wajah Andi yang kuyu. Wajah letihnya menuntut ia beristirahat, tapi keadaan yang memaksanya terus berjuang.
Awalnya Andi masih mencoba bertahan. Di sela-sela mengantre penumpang di pangkalan, ia kerap merogoh saku jaketnya untuk membaca mushaf kecil yang sengaja ia bawa. Ia masih menyempatkan diri mampir ke masjid di pinggir jalan untuk menunaikan salat Isya. Namun, keletihan fisik yang mendera tanpa ampun perlahan-lahan mengikis pertahanan batinnya.
Manusia memiliki batas, dan batas Andi mulai retak ketika ia pulang dalam keadaan babak belur setelah dipalak oleh preman jalanan, sementara sesampainya di rumah, bukan segelas air hangat yang ia terima, melainkan makian dari bapaknya karena uang setoran berkurang.
"Kamu ini laki-laki atau perempuan? Lembek sekali! Cuma kerja begitu saja mengeluh. Makanya jangan kebanyakan komat-kamit berdoa, tidak menghasilkan uang!" bentak Pak Sukardi sambil merebut sisa uang itu, Andi masih sabar menghadapi bapaknya.
Malam itu ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Keyakinan yang selama ini ia pelihara, runtuh berkeping-keping. Ia merasa Tuhan tidak adil. Mengapa ia yang selalu menjaga salat dan patuh pada orang tua justru diberi hidup yang sehina ini? Sebaliknya, teman-temannya yang tidak pernah salat dan mengaji justeru hidup berkecukupan, sukses di tangan mereka, harta melimpah, pekerjaan leboh dari kata layak.
Sejak malam itu, mushaf kecil di saku jaket Andi beralih fungsi menjadi pengisi kantung jaketnya saja. Kitab itu teronggok begitu saja di sana tanpa pernah dibuka lagi. Lama-lama azan pun tidak lagi terdengar sebagai panggilan suci, melainkan sekadar bising yang mengganggu tidurnya yang singkat. Andi tidak pernah lagi merebahkan dahinya di hamparan sajadah panjang di masjid.
Andi mulai tersesat di Rimbanya dunia yang keras
Setahun berlalu, Andi bukan lagi pemuda pemalu berkulit bersih. Kulitnya kini legam terbakar matahari dan angin malam. Matanya yang dulu teduh kini memancarkan tatapan dingin, kosong, dan penuh dendam pada nasib. Lingkungan pangkalan ojek dan jalanan malam membawanya masuk ke lingkaran yang lebih gelap.
Andi juga bukan lagi remaja alim yang kerap mengajar ngaji anak-anak di masjid. Ia sudah lupa sampai mana bacaan anak-anak itu, bahkan ia lupa pula rupa anak-anak itu.
Untuk mengusir rasa kantuk dan melupakan penat, Andi mulai menerima tawaran segelas minuman beralkohol dari teman-teman sesama pengendara malam. Dari satu gelas, meningkat menjadi satu botol. Dari sekadar nongkrong di pinggir jalan, Andi mulai mengenal sudut-sudut kota yang benderang oleh lampu neon warna-warni. Lokalisasi, perjudian dadu di balik pasar, dan balapan liar jadi rutinitasnya.
"Dunia ini keras, Ndi. Kalau kau lurus-lurus saja, kau bakal diinjak sampai mati," ujar mami pengelola sebuah warung remang-remang tempat Andi sering mengantar penumpang.
Andi hanya tersenyum kecut, menegak sisa minuman kerasnya hingga tenggorokannya terasa terbakar. Ia merasa bebas di sini. Di tempat-tempat laknat ini, tidak ada yang menuntutnya menjadi anak berbakti, tidak ada yang menceramahinya tentang dosa, dan tidak ada bapaknya yang terus-menerus memaki. Di sinilah Andi menemukan pelarian dari kenyataan hidup yang mencekik. Ia menjadi bagian dari kehidupan malam. Namanya dikenal oleh orang-orang yang suka menggunakan jasanya. Andi sesekali ikut balapan demi mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi tuntutan bapaknya.
Meskipun penampilannya berubah drastis, jaket jipang yang kotor, celana jins robek, dan aroma alkohol yang kerap menguar dari mulutnya, ada satu hal yang tidak bisa sepenuhnya dihapus dari dalam diri Andi, masa lalunya sebagai seorang santri.
Jiwa religiusnya tertidur, namun terkadang terbangun tanpa ia kehendaki sendiri.
***
Suatu malam di sebuah warung kopi merangkap tempat prostitusi terselubung, suasana mendadak riuh. Seorang perempuan muda bernama Siska, salah satu pekerja di sana, sedang menangis histeris di pojokan. Ia baru saja mendapati bahwa uang hasil kerjanya selama sebulan dicuri oleh germonya sendiri. Siska merasa putus asa, mengancam akan meminum cairan pembersih lantai yang dipegangnya.
Orang-orang di sekitar hanya menonton, beberapa tertawa menganggapnya drama gratis, sementara yang lain sibuk judi kartu. Andi yang saat itu sedang menghitung uang hasil tarikan ojeknya menoleh. Dadanya berdesir melihat keputusasaan di mata Siska. Ia pernah merasakan iti. Lalu dengan cepat ia menghampiri. Langkah kakinya bergerak sendiri, mendekati perempuan itu.
Dengan tenang namun tegas, Andi merebut botol cairan kimia itu dari tangan Siska.
"Jangan bodoh, Mbak. Mati dengan cara begini tidak akan menyelesaikan masalahmu. Malah bikin masalah baru di sana," kata Andi pelan.
"Kamu tahu apa tentang masalahku, Bang! Aku butuh uang buat obat ibuku di kampung. Tapi uang itu malah dicuri si germo. Tuhan tidak pernah adil padaku!" teriak Siska histeris.
Kata-kata Siska persis seperti apa yang dipikirkan Andi setahun lalu. Andi menarik napas dalam-dalam. Di bawah temaram lampu jalan dan dentum musik dangdut yang samar dari dalam warung, mulut Andi tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang sudah lama tidak ia suarakan.
"Tuhan itu tidak pernah salah alamat kalau memberi cobaan, Mbak. Kita saja yang sering salah alamat mencari jalan keluar," ucap Andi. Kalimat itu meluncur begitu fasih, bersumber dari memori kitab yang dulu pernah ia hafal di pesantren.
Siska tertegun. Tangisnya mereda.
"Ada sebuah ayat," lanjut Andi, matanya menerawang menembus kegelapan malam, "Inna ma'al 'usri yusra. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dua kali Tuhan tegaskan itu di kitab-Nya. Artinya ayat itu diulang dua kali. Masalahmu berat, aku tahu, akupun merasakannya sekarang. Tapi menyerah dan mengakhiri hidup dengan cara begini cuma membuktikan kalau kita kalah. Kuta kalah sama setan yang menghancurkan kita, Mbak. Jangan biarkan dunia yang bajingan ini membuatmu kehilangan akhiratmu juga."
Siska diam, merenungi ucapan Andi yang erus memberinya nasehat.
Beberapa pemuda tatoan yang sedang memegang kartu remi di dekat mereka mendadak pula terdiam. Mereka memandang Andi dengan tatapan aneh. Seorang pemabuk tua bernama Pak Joni terkekeh, "Wah, si Slebor mendadak jadi ustad! Cocok kamu, Ndi, pakai sorban!"
Sebagian yang lain tertawa mendengar gurauan Pak Joni. Sebagian yang lain diam tak mau menanggapi. Pak Joni memang dikenal suka bergurau, tapi terkadanga candaannya melebihi batas.
Andi tidak membalas gurauan bernada ejekan itu. Ia merogoh sakunya, mengambil separuh dari uang hasil tarikannya malam itu, lalu meletakkannya di telapak tangan Siska.
"Ini tidak banyak, Mbak, tapi cukup untuk menebus obat ibumu esok hari. Pulanglah. Jangan cari uang di tempat seperti ini lagi kalau kamu masih punya pilihan."
Sejak malam itu, fenomena aneh mulai terjadi di lingkar luar dunia malam kota tersebut. Andi tetaplah Andi, ia tidak salat, ia masih minum alkohol untuk mengusir penat, dan ia masih bekerja bagai kuda di bawah tekanan bapaknya. Namun, di sela-sela waktu nongkrongnya, Andi kerap menjadi tempat mengadu bagi orang-orang pinggiran yang patah hati terhadap kehidupan.
Ia pernah menahan seorang pencopet amatir yang nyaris digebuki massa, mengajaknya minum kopi, lalu menasihatinya tentang konsep rezeki yang halal menggunakan analogi burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang karena bertawakal. Ia juga pernah duduk semalaman suntuk di pinggir jembatan hanya untuk mendengarkan keluh kesah seorang bandar judi yang merasa hampa dengan hidupnya, lalu menyelipkan nasihat tentang pentingnya mengingat kematian tanpa kesan menggurui.
"Aku ini gagal jadi santri, Bang," kata Andi malam itu pada sang bandar judi. "Aku ini hitam, penuh dosa. Tapi aku tahu betul kalau jalan yang kita lewati ini jalannya iblis. Jangan lama-lama di sini. Kalau Abang punya kesempatan balik kanan, baliklah sekarang sebelum terlambat. Jangan kayak aku yang sudah terikat rantai."
Orang-orang jalanan menghormati Andi bukan karena ia jago berkelahi atau punya banyak uang, melainkan karena di dalam diri pemuda yang rusak itu, masih ada secercah cahaya yang mampu memanaskan hati mereka yang beku. Andi adalah "Ustad Jalanan" yang khotbahnya disampaikan di sela-sela tegukan minuman beralkohol dan kepulan asap rokok murah. Ia menyelamatkan banyak jiwa, namun ironisnya, ia sendiri merasa kalau dirinya sudah terlalu jauh untuk bisa diselamatkan.
***
Tahun 2026 bergulir dengan cuaca yang semakin tidak menentu. Hujan deras sering kali mengguyur kota sejak sore hingga menjelang subuh. Bagi Andi, cuaca ekstrem adalah siksaan ganda. Pak Sukardi tidak mau tahu apakah jalanan banjir atau badai sedang mengamuk, setoran uang harus tetap ada. Tubuh Andi yang terus-menerus dihajar kerja keras tanpa henti, kurang tidur, ditambah dampak buruk alkohol, mulai menunjukkan tanda-tanda menyerah. Ia sering batuk darah, dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar, dan kepalanya sering pening tanpa ampun.
"Ndi, kamu pucat sekali. Istirahatlah semalam ini. Biar aku yang gantikan tarikanmu," ujar seorang temannya, sesama tukang ojek, melihat Andi yang gemetar saat memasang helm.
"Tidak bisa, Mas. Kalau kurang sepuluh ribu saja malam ini, bapak bisa membakar motor ini," sahut Andi dengan senyum getir yang dipaksakan.
Malam itu, hujan turun sangat lebat. Jalanan licin dan jarak pandang sangat terbatas. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Andi baru saja mengantar seorang penumpang ke pinggiran kota yang sepi. Rasa sakit di dadanya tiba-tiba memuncak, membuat pandangannya mengabur selama beberapa detik. Motor tuanya oleng.
Dari arah berlawanan, sebuah truk kontainer melaju kencang, mencoba menghindari lubang besar di jalan. Andi yang terkejut berusaha membanting stang motornya ke kiri. Namun jalannya terlalu licin. Motornya selip, dan tubuh Andi terlempar keras ke aspal jalanan, sebelum akhirnya membentur keras pembatas jalan yang terbuat dari beton.
Truk itu terus melaju, meninggalkan Andi yang terkapar sendirian di tengah derasnya hujan malam.
***
Darah segar mengalir dari kepala dan dada Andi, menyatu dengan air hujan yang mengalir ke selokan. Tubuhnya mati rasa, namun anehnya, pikirannya mendadak menjadi sangat jernih. Rasa sakit yang luar biasa itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kakinya menuju ke atas.
Andi tahu, waktunya sudah tiba. Malaikat maut sedang berdiri di dekatnya, bersiap menjemput.
Di saat-saat kritis itu, air mata Andi menetes, bercampur dengan rintik hujan yang membasahi wajahnya. Bayangan masa lalunya berputar seperti film tua di benaknya. Ia melihat dirinya yang dulu, mengenakan baju koko putih, tersenyum riang sambil memeluk kitab suci di serambi masjid. Ia teringat betapa damainya hati ketika bersujud kepada Sang Pencipta. Ia menyesal. Ia sangat menyesal telah membiarkan amarah dan tekanan dunia membuatnya berpaling dari Tuhan.
"Ya Allah ..." bisik Andi, suaranya terputus-putus oleh darah yang menyumbat tenggorokannya. "Aku ... aku si pendosa besar ini ingin pulang."
Andi menggerakkan jari-jari tangannya yang gemetar. Dengan sisa tenaga terakhir yang ia miliki di dunia, ia memposisikan jemarinya, mencoba meniru gerakan isyarat syahadat. Air matanya mengalir semakin deras. Ia menyadari betapa luasnya samudera ampunan Tuhan, dan ia tidak ingin mati sebagai seorang kafir.
Dengan napas yang berat dan tersengal, Andi mengumpulkan seluruh jiwanya untuk melafalkan kalimat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah singgah di bibirnya.
"Asyhadu ... alla ... ilaha ... illallah ...."
Andi berhenti sejenak, dadanya naik turun dengan hebat, menahan rasa sakit yang luar biasa demi menyelesaikan kalimat penyucian jiwa itu.
"... wa asyhadu ... anna ... Muhammadar ... rasulullah."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, sebuah ketenangan yang belum pernah Andi rasakan seumur hidupnya mendadak menyelimuti seluruh tubuhnya. Rasa dingin yang tadi menakutkan kini terasa seperti pelukan yang hangat dan lembut. Perlahan mata Andi terpejam. Bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
Andi mengembuskan napas terakhirnya di pinggir jalan yang sepi, di bawah saksi rintik hujan yang mulai mereda. Ia meninggal dunia setelah bekerja keras, namun ia pulang tidak sebagai seseorang yang tersesat. Ia pulang sebagai seorang hamba yang sempat berbalik arah, mengetuk pintu tobat di detik-detik terakhir hidupnya.
Keesokan harinya, pemakaman Andi dihadiri oleh kerumunan orang yang tak biasa. Pak Sukardi menangis meraung-raung di depan keranda, dipenuhi rasa bersalah yang akan menghantuinya seumur hidup. Namun yang membuat warga kampung terheran-heran adalah kehadiran puluhan orang asing dari dunia malam, para tukang ojek, wanita-wanita malam, mantan copet, hingga preman bertato. Mereka semua datang dengan mata sembap, berdiri memberikan penghormatan terakhir untuk pemuda yang mereka sebut sebagai penyelamat jiwa mereka di kala gelap. Andi mungkin gagal menjadi santri di mata dunia, tetapi di hadapan Tuhan, ia telah menyelesaikan tugas dakwahnya dengan cara yang paling sunyi.
***
*Mushaf : Al-Quran