Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
38
Suka
16,694
Dibaca

Bab 1 – Hujan Pertama Tanpamu

Hujan turun dengan lambat pagi itu. Tidak deras, tidak juga gerimis. Seperti langit tahu, ada seseorang yang datang membawa hati yang belum selesai. Di antara batu-batu nisan yang dingin dan basah, seorang perempuan berdiri diam.

Namanya Namira.

Tangannya menggenggam erat sebuah jaket merah yang sudah lusuh di lipatan, tapi masih utuh di ingatan.

Langkahnya lambat, pelan, seolah tanah pun ikut mengingat. Ia berhenti di depan sebuah batu nisan sederhana hanya bertuliskan satu nama:

Rayhan Ardiansyah

1993 – 2015

Tak ada kalimat puitis. Tak ada “yang tercinta” atau “kekasih yang dirindukan.”

Hanya nama, tahun lahir dan mati. Tapi di kepala Namira, puluhan kalimat ingin ia tancapkan ke batu itu.

Kalimat yang tak pernah keluar dari mulutnya.

Kalimat yang ia kubur lebih dulu dari jasad di hadapannya.

Namira tidak menangis. Ia hanya duduk. Meletakkan jaket merah itu di pangkuannya. Mengusap bagian lengannya perlahan.

Masih ada bau hujan di sana, entah nyata atau hanya ingatan yang menipu.

> “Akhirnya… aku kembali. Tapi bukan untuk meminjam, melainkan mengembalikan.”

Ia menatap langit yang abu.

Tidak ada kilat. Tapi hatinya bergemuruh seperti ada petir yang tak jadi dilepaskan.

Delapan tahun.

Sudah delapan tahun sejak Rayhan pergi.

Tanpa perpisahan.

Tanpa sempat tahu bahwa Namira menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa ia ucapkan.

Waktu itu, ia hanya menerima kabar lewat telepon. Kecelakaan. Jalan tol. Subuh.

Rayhan tak pernah kembali dari kota tempatnya pindah.

Jaket itu…masih ada bersamanya. Masih belum sempat ia kembalikan.

Dan sejak hari itu, Namira tak pernah bisa mengenakan jaket itu tanpa merasakan dua hal sekaligus: kehangatan dan kehilangan.

> “Rayhan… kamu ingat nggak, waktu hujan pertama kita?”

“Yang aku lupa bawa payung, dan kamu malah lari-lari ke gerbang sekolah cuma buat kasih jaket ini?”

Ia tersenyum kecil, pahit.

Tangannya menggenggam erat kain tebal berwarna merah tua itu.

“Waktu itu aku nggak bilang terima kasih. Aku cuma bilang jaketmu bau kopi.”

“Tapi hari itu, Ray... aku jatuh cinta. Dan aku nggak pernah pulih dari hari itu.”

Namira menghela napas panjang.

Ia menoleh ke sekeliling. Makam-makam lain sunyi, hanya suara hujan yang samar menyentuh rumput.

Tak ada satu pun yang tahu bahwa seorang perempuan sedang duduk di depan nisan sahabat lamanya membawa cinta yang sudah terlalu lama dibungkam.

Jaket itu basah di bagian ujungnya.

Tapi ia tidak mengelapnya.

Karena ia tahu, jaket itu pernah basah juga dulu saat ia pakai di bawah hujan terakhir yang mereka lalui bersama.

“Setelah kamu pindah, aku nunggu kabar setiap hari. Tapi kamu jarang hubungi aku lagi. Dan aku kira… ya, mungkin emang cuma aku yang nyimpen sesuatu dari pertemanan kita.”

“Ternyata… aku bener.”

Ia mendongak ke langit yang tetap abu-abu.

Tapi tidak ada air mata.

Yang turun hanyalah sesuatu yang jauh lebih perih: penyesalan yang tak bisa dibalas.

Delapan tahun.

Tak ada yang tahu ia masih menyimpan jaket itu.

Tak ada yang tahu, ia masih menulis surat-surat untuk Rayhan, diselipkan di saku jaket itu meski ia tahu tak akan pernah ada yang membacanya.

“Aku tahu, kamu nggak pernah janji. Kamu nggak pernah kasih harapan. Tapi aku juga nggak pernah punya cukup keberanian buat bilang sesuatu.”

“Jadi hari ini... aku mau bilang, meskipun kamu nggak bisa dengar, meskipun mungkin sudah tidak penting lagi...”

Ia berhenti sebentar. Lalu memejamkan mata.

“Aku sayang kamu, Ray.”

Tak ada angin besar.

Tak ada gemuruh.

Tapi dada Namira tiba-tiba lega.

Bukan karena luka sembuh, tapi karena luka itu akhirnya pu...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Batu Nisan Untuk Paman
Topan We
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
Steviana
Kiki Misgiarti
Novel
Bronze
Dia, Perempuan di Ambang Titian
Wulan Kashi Dhamar
Novel
Kupu-Kupu Biru di Punggung Ibu
Sarah lufiana
Skrip Film
AT MY 20+
RATIH MILAWATI NINGRUM
Novel
End to Start
Flaminstalized
Novel
Sebelum Waktu Berhenti
Tasya Syafitri
Novel
Paviliun Ibu Mertua
Salsabilla Kim
Flash
Bronze
Rindu Rumah
Rahmawati
Flash
HAMPARAN SAJADAH TERAKHIR UNTUK BAPAK
Siraru
Flash
Bronze
Jangan Tebang Pohon Sawo Itu
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Sayap yang Patah
Anggie Amelia
Novel
Air mata istri
Mawar Hitam
Skrip Film
Daun di Antara Mawar & Melati (Script)
Rika Kurnia
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bukan Lagi Kita
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Ibuku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
KOTA HUJAN
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Pernah Ditaruh di Vas
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Tak Layak
Muhamad Irfan
Cerpen
Sepotong Roti Hangat di Ujung Hujan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan