Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Itu Bukan Uangmu
0
Suka
864
Dibaca

Tidak ada yang menyangkal bahwa Adrian Pratama adalah orang kaya. Rumahnya berdiri megah di atas bukit kecil di pinggiran kota, berpagar tinggi dengan kamera di setiap sudut. Mobil-mobil mewah berjejer rapi di garasi, sementara rekening banknya tersebar di berbagai negara. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang lebih terkenal daripada kekayaannya: kepelitannya.

Orang-orang di sekitar rumahnya tahu betul sifat Adrian. Jika ada tetangga yang kemalingan, ia hanya menggeleng sambil berkata, “Makanya pasang pagar yang bagus.” Jika ada warga yang datang meminta bantuan untuk biaya berobat, ia menyuruh mereka ke kantor kelurahan. Baginya, uang adalah miliknya sepenuhnya, hasil dari kerja keras dan kecerdasannya sendiri. Tidak ada satu rupiah pun yang menurutnya wajib ia bagikan.

Padahal, kisah di balik kekayaan Adrian tidak sesederhana yang ia ceritakan.

Dua puluh tahun sebelumnya, Adrian hanyalah seorang politisi muda yang cerdas dan ambisius. Ia terpilih menjadi anggota Dewan di daerahnya, dielu-elukan sebagai wakil rakyat yang bersih dan berani. Di awal masa jabatannya, ia bahkan rajin berbicara tentang keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Namun seiring waktu, godaan datang pelan-pelan, seperti bisikan halus yang sulit ditolak.

Kesempatan itu muncul ketika pemerintah daerah merencanakan sebuah proyek infrastruktur besar: pembangunan jalan dan jembatan yang nilainya mencapai ratusan miliar. Adrian, dengan jabatannya, punya akses untuk “mengatur” siapa yang mendapat proyek, berapa anggarannya, dan bagaimana laporan akhirnya dibuat.

Awalnya, ia ragu. Hatinya sempat bergejolak. Ia ingat ibunya yang selalu berkata, “Nak, rezeki yang bersih membawa berkat. Rezeki yang kotor membawa kutuk.” Tapi suara itu perlahan tenggelam oleh rayuan rekan-rekannya di Dewan.

“Semua orang juga begitu, Adrian,” kata seorang kolega sambil tertawa kecil. “Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu tidak mencuri, hanya mengatur. Lagipula, kamu juga butuh jaminan masa depan.”

Akhirnya, Adrian menyerah. Ia menandatangani dokumen, menerima komisi, dan menutup mata terhadap mark-up anggaran. Uang mengalir deras ke rekeningnya. Lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan.

Ketika masa jabatannya berakhir, Adrian sudah bukan lagi orang biasa. Ia keluar dari Dewan dengan senyum puas dan modal yang sangat besar. Dengan uang itu, ia membuka berbagai usaha: properti, perkebunan, dan perdagangan. Karena ia memang cerdas dan pandai membaca peluang, usaha-usaha itu berkembang pesat. Kekayaannya berlipat ganda, bahkan berlipat puluhan kali.

Dalam pikirannya, ini semua adalah bukti bahwa ia pantas kaya.

“Aku bekerja keras,” katanya suatu hari kepada seorang kenalan lama. “Aku ambil risiko, aku bangun bisnis dari nol. Tidak ada yang gratis di dunia ini.”

Kenalan itu hanya terdiam. Ia tahu dari mana modal Adrian berasal, tetapi memilih diam.

Seiring bertambahnya usia, Adrian semakin pelit. Ia takut miskin, takut kehilangan. Setiap kali ia melihat orang meminta bantuan, hatinya mengeras.

“Kalau aku bantu semua orang, habis uangku,” gumamnya. “Lagipula, kenapa aku harus bertanggung jawab atas hidup mereka?”

Ia jarang ke gereja. Kalaupun datang, ia duduk di bangku belakang, pulang cepat-cepat setelah misa selesai. Kotak kolekte ia lewati begitu saja, atau paling banter ia masukkan uang receh.

Baginya, Tuhan tidak perlu uangnya. Dan orang miskin? Mereka harus berusaha sendiri.

Suatu malam, Adrian jatuh sakit. Serangan jantung datang tanpa peringatan. Tubuhnya terkulai di kamar tidur yang luas dan sunyi. Tak ada keluarga dekat di sisinya. Tak ada doa yang terucap dari mulutnya. Hanya detak jam dinding yang terus berjalan, seolah menghitung sisa waktunya.

Ketika ia membuka mata kembali, ia tidak lagi berada di kamar itu.

Adrian berdiri di sebuah ruang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Terang, tetapi bukan seperti cahaya lampu. Cahaya itu lembut, menembus, seolah membaca isi hatinya. Di hadapannya berdiri dua malaikat, wajah mereka tenang namun penuh wibawa.

“Adrian Pratama,” suara salah satu malaikat menggema tanpa perlu berteriak. “Waktumu di dunia telah berakhir. Sekarang tiba saatnya penghakiman.”

Adrian terkejut, tetapi segera menguasai diri. Ia pernah mendengar cerita tentang penghakiman terakhir. Dalam benaknya, ia merasa cukup percaya diri.

“Aku orang baik,” katanya cepat. “Aku tidak membunuh, tidak merampok. Aku sukses karena kerja keras. Aku bayar pajak. Aku tidak menyakiti siapa pun.”

Malaikat yang lain mengangkat sebuah buku besar. Sampulnya sederhana, tetapi terasa sangat berat. Ketika buku itu dibuka, halaman-halamannya bergerak sendiri, menampilkan adegan demi adegan kehidupan Adrian.

“Ini adalah buku kehidupanmu,” kata malaikat itu. “Semua tercatat di sini. Tidak ada yang tersembunyi.”

Adegan pertama muncul: Adrian muda, duduk di ruang rapat Dewan, menandatangani dokumen proyek. Lalu tampak aliran uang, pertemuan gelap, laporan palsu. Adrian terdiam.

“Itu… itu urusan politik,” katanya terbata. “Semua orang melakukannya.”

Malaikat menatapnya dengan mata yang tajam namun sedih. “Apakah dosa menjadi benar karena dilakukan banyak orang?”

Halaman berikutnya menampilkan seorang ibu miskin yang datang ke rumah Adrian, memohon bantuan untuk biaya operasi anaknya. Adrian mengusirnya dengan dingin. Adegan lain: seorang mantan staf yang dipecat tanpa pesangon, seorang tetangga yang kelaparan, seorang pastor yang meminta bantuan untuk panti asuhan.

“Engkau berkata uangmu adalah hasil kerja kerasmu,” kata malaikat pertama. “Tetapi lihat asalnya. Uang itu berasal dari ketidakadilan, dari hak orang banyak yang kau rampas ketika menjadi wakil mereka.”

Adrian mulai gelisah. “Tapi aku mengembangkan uang itu! Aku membuat bisnis, menciptakan lapangan kerja!”

“Benar,” jawab malaikat itu.

“Tetapi dasar yang busuk tidak menjadi suci hanya karena dibangun tinggi. Engkau tidak pernah bertobat. Engkau tidak pernah mengakui dosamu. Engkau menutup hatimu dari kasih. Engkau merasa dirimu paling benar sedunia”

Malaikat lain menambahkan, “Dalam ajaran Gereja, harta bukanlah milik mutlak. Itu adalah titipan. Engkau dipanggil untuk menggunakannya demi kebaikan bersama, terutama bagi yang miskin dan menderita.”

“Kamu dibaratkan garam dunia dan terang dunia, artinya bukan untuk dirimu sendiri, tetapi berbagi dengan sesama. Garam, tidak mungkin kamu makan sendiri saja, tetapi di campur barang lain sehingga dia enak. Begitu juga terang, tidak mungkin kamu tutupi, tetapi di simpan di tempat yang tinggi sehingga menerangi orang lain. Artinya kamu hidup bukan untuk dirimu sendiri.”

Adrian merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: ketakutan yang murni. “Aku bisa berubah,” katanya cepat. “Beri aku kesempatan. Aku akan menyumbang, aku akan membantu.”

Malaikat menggeleng pelan. “Waktu pertobatan adalah di dunia, bukan di sini. Engkau telah diperingatkan berkali-kali: melalui suara hati, melalui firman, melalui orang-orang kecil yang kau tolak. Engkau memilih menutup mata.”

Buku itu ditutup. Cahaya di sekitar Adrian perlahan berubah. Hangatnya menghilang, digantikan oleh rasa dingin dan gelap yang menekan.

“Keputusan telah diambil,” kata malaikat dengan suara tegas namun penuh belas kasih. “Engkau menolak kasih, maka engkau memilih keterpisahan dari Kasih itu sendiri.”

“Aku protes!” teriak Adrian. “Itu uangku! Aku berhak atasnya!”

Malaikat menatapnya sekali lagi. “Itu bukan uangmu. Tidak pernah.”

memang di dunia Adrian punya kuasa, dengan uangnya dia bisa berbuat apa saja, bahkan membalikkan keadaan. Tetapi ini di tempat mpenghakiman terkahir di dunia abadi. Malaikat mengibaskan tangannya, sehingga Adrian terkulai.

Dalam sekejap, Adrian merasakan dirinya jatuh, bukan secara fisik, tetapi secara batin. Ia terpisah dari cahaya, dari damai, dari Tuhan yang selama hidupnya ia abaikan. Jeritannya tenggelam dalam keheningan yang mengerikan.

Di dunia, hari-hari berlalu. Rumah besar Adrian perlahan kosong. Hartanya diperebutkan ahli waris jauh dan pengacara. Orang-orang lupa pada namanya, kecuali sebagai contoh tentang orang kaya yang pelit dan dingin.

Namun di hadapan Tuhan, kisah Adrian tetap menjadi peringatan: bahwa kekayaan tanpa kasih adalah kehampaan, dan uang yang diperoleh tanpa keadilan bukanlah milik, melainkan beban.

Karena pada akhirnya, setiap manusia akan berdiri sendirian di hadapan Penghakiman, dan di sana akan terdengar satu kebenaran yang tak terbantahkan:

Itu bukan uangmu


***


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Sesuatu yang Tak Dimiliki Pak Guru
mutaya saroh
Cerpen
Itu Bukan Uangmu
Yovinus
Cerpen
Katalog Bau di Kamar Mayat
muhaibra
Novel
Bronze
MISTERI SERUNI
DEEANA DEE
Flash
SIAPAKAH DIRIKU?
Ismawati
Flash
Bronze
Kita Tidak Pernah Sampai
Arjun
Cerpen
Bronze
Kesulitan Menyeberangi Sebuah Ladang karya Ambrose penerjemah ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Pesan Antar Dimensi
adinda pratiwi
Flash
Senja Gerimis di Dekat Laut
Tazkia Irsyad
Flash
Lucid Dream
Prettysinta
Flash
Apple
Fann Ardian
Cerpen
Bronze
Ujung Koridor
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
LALANG
Nurbaya Pulhehe
Flash
Penantian
Faristama Aldrich
Cerpen
Bronze
Lukisan Terakhir
Ayub Wahyudin
Rekomendasi
Cerpen
Itu Bukan Uangmu
Yovinus
Novel
Reinkarnasi
Yovinus
Flash
Selamat Ulang Tahun
Yovinus
Cerpen
Bronze
Jika Miskin, Meski Saudara Tidak Akan Kasihan
Yovinus
Cerpen
Bronze
Di Balik Sungai yang Berubah
Yovinus
Novel
Integritas Penyelenggara Pemilu
Yovinus
Cerpen
Pengorbanan Tanpa Batas Sang Ayah
Yovinus
Cerpen
Para Sultan Jalanan
Yovinus
Cerpen
Bronze
Pak Khairul dan Ayamnya Yang Usil
Yovinus
Flash
Sembilan Ribu Bintang
Yovinus
Cerpen
Bau Yang Tidak Pernah Pergi
Yovinus
Flash
Kalah Main Gaplek
Yovinus
Flash
Tempat Cuci Piring
Yovinus
Cerpen
Klitsco vs Ras Terkuat
Yovinus
Cerpen
Guru Honorer Gaji 300k Menghadapi Hidup
Yovinus