Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Ingot
0
Suka
6
Dibaca

"Bip... bip... bip..."

Suara itu terus keluar dari meteran listrik yang belum kunjung kuisi. Kosan yang lebih kecil dari halaman belakangku ini, kudapat dari rekomendasi temanku. Tempat terburuk yang jauh dari kata layak, plafon seringkali bocor dan aroma kotoran hewan menguar dari kandang ayam samping kamarku.

     “Sudah kubilang kau coba berobat ke selain dokter. Dah kukasih alamat juga, kau ini keras kepala sekali,” suara cempreng itu masih terdengar kencang diujung telepon, meski aku sudah menjauhkannya dari telingaku.

     “Tidak usahlah. Aku baik-baik saja, lagipula ini akhir bulan, aku lebih takut tidak ada uang daripada tidak bisa tidur,” ujarku.

     Sudah tiga bulan lebih, aku tidak bisa tidur dengan benar. Rasanya seperti ada yang membangunkanku. Tidak selalu tentang mimpi buruk, aku merasa bahwa di tempat ini, ada orang yang tinggal selain aku. Gia adalah satu-satunya orang yang tahu tentang kondisiku, maka dari itu, ia selalu memaksaku untuk mencoba berbagai jenis pengobatan.

     Aku sudah melakukan segala cara untuk sembuh, dimulai meminum teh yang katanya bisa membuat tubuh rileks, obat tidur dari dokter, bahkan konsultasi ke psikiater. Namun tidak ada yang berubah, selain kondisiku yang semakin memburuk. Berat badanku turun dan wajahku tampak pucat.

     Lis

     Kurasakan hawa dingin bersamaan dengan suara seseorang. Sontak aku menoleh ke arah suara itu berasal. Ocehan Gia masih terdengar ditelepon, tapi suara berat dan sedikit serak itu terus memanggil namaku. Suara yang sama, seperti yang kudengar setiap malam.

     Ukuran kamarku kos kecil, meski begitu ada semacam lorong yang menghubungkan dengan pintu masuk. Sengaja gelap karena tidak kunyalakan lampu untuk hemat listrik, setidaknya sampai gajiku benar-benar turun.

     Aku berusaha untuk mengabaikannya, sampai sebuah bayangan muncul dari kegelapan, memantul dari lantai kamar yang terkena cahaya bulan.

     Lis

     Ia semakin dekat, samar-samar aku seperti melihat sepasang mata, napasku tercekat dan jantungku berdegup kencang. Kurasakan keringat yang mengucur dari dahiku. Aku ingin berteriak, tapi suaraku seakan tertahan ditenggorokanku. Aku lalu memejamkan mataku, berharap suara itu bisa hilang. Namun sayangnya sosok itu masih memanggilku.

     “Lis! Kau dengar enggak sih?”

     Aku tersentak kaget, begitu membuka mata, kulihat sosok itu menghilang.

     “Maaf, aku tadi enggak fokus. Kamu bilang apa barusan?” ujarku sambil berusaha untuk menenangkan diriku.

     “Aku bilang mending kau pergi ke kota itu, siapa tahu ada obat buat kondisimu. Kali ini saja dengarkan ucapanku, aku enggak mau kamu kenapa-kenapa,” Gia memohon padaku, aku merasa bersalah karena membuatnya khawatir, mungkin sebaiknya aku mendengarkan ucapan Gia. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa tahan dengan situasi ini.

     Aku pun memutuskan pergi alamat yang Gia berikan padaku. Panawa, begitulah kota itu disebut. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai kota penyembuhan, katanya segala penyakit dapat disembuhkan meski itu yang mustahil sekalipun. Jujur saja, aku sedikit pesimis. Berbagai pengobatan yang aku lalui semuanya gagal, aku yakin hal yang sama pun bisa saja terjadi.

     Awalnya aku kira kota itu akan sepi pengunjung, seperti kota-kota pelosok pada umumnya. Namun ternyata tidak, banyak turis yang berkunjung, bahkan sampai ada dari luar negeri.

     “Nara sira vara neri kues? Sela nara antor,” ujar seorang pria paruh baya dengan ikat kepala yang dipadukan pakaian serba hitam.

     Aku terdiam beberapa saat, tidak tahu apa yang harus aku ucapkan.

     Pria tua itu tersenyum, “Ah maaf, apa kau sedang mencari pengobatan? Aku bisa mengantarkanmu ke tempat yang cocok,”

     “Anda dengan Bapak Slamet?”

     Pria tua itu tersenyum sambil mengangguk,”Iya, saya Slamet Subagja. Panggil saja Slamet,”

     “Saya Lis,” ujarku.

     “Kalau begitu, biar saya antarkan ke tempat pengobatannya,”

     Aku pun mengangguk ketika mendengar ucapan Pak Slamet. Begitu aku mengikuti pria itu, langkahku terhenti.

     “Jangan menoleh!”

     Kenapa harus sekarang? Bahkan ini masih siang hari, suara itu tetap saja menerorku. Tapi rasanya apa yang kudengar sangat berbeda dengan suara biasanya.

     “Ada apa Nona?” tanya Pak Slamet.

     “Tidak apa-apa, pak,” ujarku.

     Kemudian aku diarahkan ke sebuah tempat. Disana ramai dengan orang-orang, tapi perhatianku terkunci pada bangunan yang memiliki bentuk unik, berupa rumah panggung yang ditopang dengan tiang kayu dibawahnya dan atapnya melengkung menyerupai tempurung kura-kura.

     “Aelora ven’tari, selen varu nai,” teriak orang-orang membentang mengelilingi rumah panggung tersebut, sambil menepukkan tangannya pada dada.

     (Cahaya lembut datang, membawa ketenangan)

     “Sebelum pengobatan dimulai, ada beberapa tahap yang harus Nona ikuti. Pertama adalah Ritual Ingot, yaitu meneteskan darah ke dalam kendi berisi air, lalu memercikkannya ke arah laut, sambil melafalkan mantra kuno,” jelas Pak Slamet. Ia membantuku berkeliling, sambil menjelaskan apa saja yang harus aku ikuti.

     “Semua itu berlangsung selama tiga bulan, nanti di puncak ritual, akan ada pembersihan segala bala.”

     Aku merekam ucapan Pak Slamet. Takut, jika aku melewatkannya sewaktu-waktu.

     “Tapi ada satu hal yang tidak boleh kau langgar selama ritual ...,” Pak Slamet menatapku dengan dalam, rasanya tidak nyaman ketika dilihat seperti itu,”Jangan menoleh kemana pun dan mengobrol dengan seseorang yang tidak ada,”

     Aku pun hanya mengangguk tanpa bertanya alasannya, karena aku tidak ingin berlama-lama disini.

     Setelah seharian berkeliling, aku pun istirahat dipenginapan yang sudah disediakan. Kendi yang akan kugunakan di ritual hujan pun sudah ada di kamar. Aku sangat ingin istirahat, tapi mengingat harus melakukan ritual hujan hari ini, aku pun mengurungkan niat.

     Kuambil silet, dan kuiriskan pada telapak tangan. Rasanya perih, kepalaku sedikit pusing ketika melihat darah. Setelah itu kuteteskan pada kendi berisi air dan memercikannya tepat ke arah laut.

     Aelora ven’tari, selen varu nai,

Toren ilaasi melvar

Narieth solum kai

Elari, elari, lumena

Vaesor tandi rai

 

(Cahaya lembut datang membawa ketenangan

Mengusir luka dan lelah

Mengembalikan keseimbangan

Pulihlah selamatkanlah kami)

 

Seketika angin berhembus kencang, menyibakkan sebagian rambutku. Aroma bambu menguar kuat, meski disekitar tidak ada satu pun bambu yang kulihat. Aku mulai takut, bukankah pengobatan seharusnya memberikan ketenangan? Aku berusaha menenangkan diriku, ini pasti bagian dari ritual.

“Jangan menoleh!”

Tubuhku gemetar setelah suara yang tidak biasa itu keluar. Lalu kudengar langkah kaki kuda terdengar dari arah plafon, bergerombol seakan ada ribuan kuda di atas sana.

“Lis,”

Suara yang berbeda muncul silih berganti, menjejali kepalaku. Ini menyakitkan, aku merasa kepalaku akan meledak kapan saja. Disaat yang sama hentakan kaki kuda di atas plafon pun semakin keras.

“Jangan menoleh!”

“Lis!”

Aku mengucapkan mantra dengan lantang, berharap suara itu berhenti mengangguku. Lalu beberapa menit kemudian seketika sekitar menjadi senyap. Suara itu hilang, bahkan aroma bambu yang menyengat hidung pun sudah tidak ada. Aku menghela napas lega, rasanya beberapa menit itu seperti neraka.

Sudah seminggu aku berada disana, awalnya kupikir akan membosankan mengingat letak kota itu benar-benar berada di pelosok. Namun aku justru menikmatinya, disamping mendapatkan akomodasi penginapan, aku pun bisa berjalan-jalan dan menyantap makanan lezat gratis. Hanya satu kali pembayaran diawal, aku bisa mendapatkan semua ini. Sungguh keberuntungan yang hebat untuk seorang guru yang gajinya dibawah UMR sepertiku. Namun gangguan itu semakin kentara, rasanya suara-suara itu semakin nyata. Aku berusaha untuk mengabaikannya.

Aku pun sampai di sebuah kuil, disana cukup ramai dengan orang. Tapi aku merasa tidak nyaman, ketika mereka terus melihatku dengan aneh.

"Kues vera nara? Sela no sanka nara sini vera," ujar salah satu seorang wanita dengan pakaian daster ungu.

(Apa benar itu dia? Aku tidak menyangka dia ada disini,)

"Tara no-vara,” timpal wanita yang satunya.

(Itu tidak mungkin)

Aku bukan tipe orang yang senang ikut campur dengan pembicaraan orang lain. Namun kali ini berbeda, aku merasa mereka sedang membicarakanku, meski aku tidak benar-benar bisa memahami apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Bahkan mereka terang-terangan melakukannya. Kutepis pikiran itu jauh-jauh, ini pasti hanya salah paham.

“Lis,” panggil seseorang. Lalu aku pun menoleh, seorang wanita memakai kemeja putih dengan bawahan jeans. Sama seperti orang-orang, ia pun mengenakan ikat kepala.

"Kues vera vara nara?" sorot mata wanita itu berkaca-kaca. Aku sama sekali tidak mengerti ucapannya.

(Apa ini sungguh kau?)

Tiba-tiba wanita itu memelukku dengan erat, tubuhnya gemetar. Airmata mengalir membasahi wajahnya. Sontak aku pun melepaskan pelukannya, sepertinya ia salah mengenal orang.

“Maafkan aku, tapi aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” ujarku.

Raut wajah wanita itu tampak bingung.

"Sela Min, miya nara," Ia menunjuk dirinya sendiri. Tetap saja aku tidak mengerti ucapannya.

“Maafkan atas ketidaknyamanannya Nona Lis, sepertinya putriku salah mengira kau sebagai orang lain,” celetuk seseorang, ia adalah Pak Slamet yang membimbingku kemarin,”Ini Minnara, putriku. Kamu bisa memanggilnya Min,”

“Halo Mbak Min, saya Lis dari Surabaya,” kuulurkan tanganku padanya. Namun wanita itu hanya terdiam sambil mengamati wajahku.

“Ah sepertinya Min sedang tidak enak badan. Nona sebaiknya segera kembali ke hotel, saya harus segera membawa Min berobat,” ujar Pak Slamet.

Aku pun menurut, dan pergi meninggalkan mereka berdua. Ketika aku menoleh, Min masih menatapku. Tidak sengaja, kulihat airmatanya menetes.

Seperti biasa, aku melakukan ritual hujan. Aku berharap tidak ada lagi suara atau penampakan yang mengerikan itu. Rasanya melelahkan, menyaksikan sesuatu yang tidak enak untuk dipandang. Namun sialnya, kendi yang biasa kugunakan retak karena tidak sengaja aku jatuhkan.

“Semoga ritualnya tetap berjalan,” ujarku sambil berdoa.

 

Aelora ven’tari, selen varu nai,

Toren ilaasi melvar

Narieth solum kai

Elari, elari, lumena

Vaesor tandi rai

 

Aku mengucapkan mantra yang sudah hapal diluar kepala. Aneh sekali, tidak ada suara aneh yang kudengar, aroma bambu menganggu pun tidak tercium. Padahal kendinya sedikit retak, biasanya suara itu akan tetap muncul, meski kendinya dalam kondisi utuh.

Namun kelegaanku hanyalah sementara. Tubuhku tidak bisa bergerak, kemudian kegaduhan terdengar dari sebelah kiriku. Aku pun tiba-tiba teringat dengan pantangan yang Pak Slamet katakan padaku.

“Lis!”

Suara serak dan sedikit berat itu muncul lagi, membuat rasa takutku ikut mencuat. Tiba-tiba lampu kamarku mati. Aku tidak bisa melihat apapun karena terlalu gelap.

“Kau tidak bisa pergi!”

Angin berhembus kencang, secara cepat membuat jendela terbuka dengan keras. Terdengar suara langkah kaki kuda diatas plafon, lebih keras daripada sebelumnya, seolah atap-atap itu bisa roboh kapan saja.

“Jangan menoleh!”

Suara berbeda muncul mirip seperti suara pria paruh baya. Kepalaku seketika terasa sakit, seakan ada benda besar yang menghantamku dengan keras.

“Lis lihat aku!”

“Jangan menoleh!”

“Lis tatap aku!”

“Jangan lihat!”

Tepat dilantai, seorang pria tua muncul. Kedua matanya tidak ada, ia menganga hingga bisa kucium aroma bambu menyengat darinya. Ia menggapai wajahku, anehnya aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.

”Ja.., ngan menoleh!”

“Arghh!” Kuhempas tangannya, dengan cepat menjauh.

“Aelora ven’tari, selen varu nai!” aku merapalkan sebagian mantra dengan lantang. Berulangkali, sampai sosok itu benar-benar menghilang.

“Lis …, lihat aku!”

Geraman terdengar dari arah belakang. Airmataku mengalir begitu saja, mungkinkah aku akan mati dengan cara seperti ini? Aku ingin pulang, masa bodoh dengan pengobatan atau apapun itu.

Bayangan dari belakangku kian membesar. Makhluk itu memelintirkan tubuhnya, hingga wajahnya tepat berada didepanku. Berbeda dengan sebelumnya, yang beraroma bambu, maka makhluk ini justru baunya terasa busuk sampai-sampai aku harus menahan napasku. Berada didekatnya seperti neraka bagiku, sangat panas dan sesak.

“Aku …,” aku menghela napasku, menenangkan diri dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya, “aku tidak takut padamu,” ujarku. Kata orang salah satu cara untuk menghadapi mereka adalah dengan tidak menunjukkan rasa takut.

Makhluk itu tertawa cukup keras, membuat keberanianku perlahan menciut. Meski kencang, tapi tidak ada seorang pun yang datang kesini, itu berarti keberadaannya hanya aku yang tahu.

“Lis yang kukenal tidak akan seberani ini,”

Aku mengernyitkan dahiku heran, dia mengenalku? Tapi bagaimana? Aku tidak pernah punya hubungan buruk dengan siapapun.

“Haruskah kuingatkan seperti apa warnamu yang sebenarnya?”

Ia membuka mulutnya, menyobek rahangnya hingga aku bisa melihat sesuatu yang terang, mirip dengan gumpalan cahaya berwarna hitam pekat, karena terlalu terang, aku merasa kedua mataku seakan bisa pecah.

“Lis, aku mencintaimu,”

“Sebentar lagi kita akan menikah,”

“Bukan salahku jika kau hamil, itu karena pakaianmu yang terbuka,”

“Sialan! Karenamu, aku dipermalukan warga desa,”

Aku tidak tahu kenapa aku menangis, suara itu terasa familiar bagiku. Namun seberapa keras pun aku mengingatnya, aku tidak bisa mengenalinya. Kusaksikan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya, aku ditempatkan pada tubuh seseorang, lalu muncul seorang pria mendekatiku, menggerayangi tubuhku dengan tangannya. Mual, kecewa, dan jijik menjadi satu. Tubuhku gemetar, rasa takut itu sangat menyakitkan bagiku

“Benar begitulah seharusnya, warnamu, sisi pecundang, semua yang kau lihat, seperti itulah Lis yang kukenal,”

Brakk!

Pintu terbuka kencang, terdengar langkah seseorang dari sana. Ia lalu berdiri didepanku, menggoyangkan tongkat kerincing berulangkali, hingga suara gemericing itu kian nyaring. Makhluk mengerikan itu menjerit merintih, memohon belas kasih dari pemilik tongkat kerincing. Badan hitam yang semula besar pun, menyusut hilang seolah tertelan oleh tanah.

Min menatapku dengan napas terengah-engah, sepertinya ia berlari kencang kesini. Keringatnya menetes didahinya. Sontak ia pun memelukku dengan erat.

“Kau baik-baik saja Lis? Apa Rama melukaimu?”

Aku mengernyitkan dahi, siapa Rama? Apakah yang dia maksud adalah makhluk itu?

 “Sepertinya kau sudah berubah,”

“Tadi kau memanggil makhluk itu Rama, apa kau tahu sesuatu tentangnya?” Ini kesempatanku untuk mengetahui kebenaran dibalik teror yang kualami. Mungkin ini ada kaitannya.

“Aku sangat ingin memberitahumu, tapi aku yakin itu malah akan membuatmu bingung,” lalu ia mengenggam tanganku,”kau harus menjalani ritual ini sampai akhir, tidak peduli teror apa yang menakutimu didepan, kau tidak boleh mundur. Hanya ini satu-satunya cara, untuk membuka kebenarannya,”

Gadis itu meninggalkanku dengan penuh pertanyaan. Aku tidak punya pilihan lain, selain menuruti perkataannya. Seharusnya aku curiga, tapi entah kenapa aku seolah bisa mempercayainya. Kemudian aku pun mengikuti ritual seperti biasanya, meski menakutkan dan ingin melarikan diri, aku tetap menjalaninya.

Pada hari terakhir ritual, puncak dari segalanya. Aku tidak pernah mengira bahwa ini akan menjadi malam pertaruhan antara kematian dan kehidupanku.

Di lapang yang sudah dihiasi dengan lampu, serta kain-kain jarik yang diikatkan pada lima batu besar. Aku berjalan tepat ke tengahnya, membawa kendi berisi air yang sudah diteteskan oleh darahku.

Min berdiri di sisi kanan, tidak sekali pun ia melepaskan tongkat kerincing dari tangannya. Kedua matanya menatapku waspada, seakan ia bersiap untuk sesuatu. Sementara itu, Pak Slamet berdiri dihadapanku, memakai pakaian serba hitam dan ikat kepala.

Aelora ven’tari, selen varu nai,

Pak Slamet menghentakkan kakinya ke tanah, mengelilingiku dan melemparkan beberapa kelopak mawar.

Aelora ven’tari, selen varu nai,

Suara kendang mulai berbunyi, diikuti dengan alunan merdu dari seruling yang terbuat dari bambu.

“Aelora ven’tari, selen varu nai!”

Angin berhembus kencang, aku merasa keseimbanganku mulai goyah. Dibelakangku, muncul sebuah bayangan hitam pekat.

“Beraninya wanita sepertimu memperlakukanku seperti ini, kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?!”

Suara berat muncul, dengan aroma busuk yang terasa menusuk hidungku. Aku merapalkan mantra untuk mengusirnya. Disaat yang bersamaan tercium aroma bambu, dibawah pijakanku seorang pria dengan kedua mata berlubang keluar.

“Jangan menoleh!”

Min menggoyangkan tongkat kerincingnya. Suara gemerincing mengusir makhluk dengan aroma busuk, sedangkan yang satunya sama sekali tidak bergeming. Ia terus mendekatiku.

“Aelora ven’tari, selen varu nai!” teriak Min. Meski rapalan tersebut terus diucapkan dengan lantang, dan separuh tubuh pria mengerikan itu hancur. Makhluk itu tetap tidak beranjak mundur, ia mendekatiku, menangkup kedua pipiku.

“Lis ku tersayang, putri kebanggaanku, jangan menoleh!”

Aku tidak bisa memalingkan wajahku, ulat-ulat menggeliat di kedua matanya. Ia tersenyum padaku. Aneh, kenapa aku tidak lagi merasa takut saat didekatnya.

“Lis lihat aku! Beraninya kau memalingkan wajahmu dariku!” suara dari makhluk dengan aroma busuk, membuyarkan ketenanganku. Ketika aku menoleh, pria yang ada didepanku menahan wajahku. Kemudian aku merasa kepalaku dijejali sesuatu, entah sejak kapan kesadaranku pun mulai lenyap, dan samar-samar terdengar suara Min yang terus memanggil namaku.

Beberapa Tahun Sebelumnya..

Aku hanya menunduk, menatap jari jemariku yang dibalut dengan perban. Memar-memar yang kurasakan diselangkangan dan leherku masih terasa sakit. Namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyataan bahwa aku telah gagal sebagai perempuan.

Ayah menggedor pintu rumah Rama dengan keras, menuntut pertanggungjawaban untukku. Meski aku sangat yakin itu hanyalah angan yang akan ditertawakan orang-orang. Sungguh naif mengharapkan belas kasih pada dunia yang sudah kotor sejak awal.

“Setan kau! Keluar kau bajingan, beraninya lecehkan putriku. Keluar Rama!” Meski tubuhnya ringkih, tapi teriakan Ayahku seakan menggema ke seluruh desa.

Orang-orang melihatku dan Ayah. Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-bener peduli. Usiaku bahkan masih 17 tahun, tapi aku sudah kehilangan mahkota karena obsesi seseorang. Padahal aku sudah menganggapnya sahabatku.  

Rama keluar dengan wajah penuh kantuk, ia bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ayah melayangkan pukulan padanya. Tanpa henti, sampai pria itu tidak punya kesempatan untuk bangun.

Warga desa mulai melihatnya lalu meleraikan pertengkaran tersebut. Kupikir Ayahlah yang akan mereka bela. Namun, mereka membela Rama.

“Sadarlah Uda, siapapun bisa berbuat salah. Keduanya melakukan itu karena sama-sama suka, tidakkah kau sedikit egois sebagai orang tua?”

“Tidak! Bajingan ini yang salah, putriku tidak pernah menyukainya. Kenapa kalian semua malah membela si brengsek ini!”

Ayahku tetap ngotot, berniat memukul Rama. Namun salah satu warga desa malah memukulnya, sampai ia tersungkur ke tanah. Seberapa keras pun aku berteriak atau menghentikannya. Orang-orang keparat itu, masih memukulinya.

Aku kehilangan arah, saat itu aku tidak tahu caranya berdoa. Ayah dibuat babak belur, dan aku dicap perempuan gila. Lengkap sudah penderitaan ini. Warga desa memaksaku untuk menikahi Rama.

Tentu saja Ayah menolaknya, membiarkanku menikah dengan Rama adalah mimpi buruk. Ia yang kehilangan arah, melakukan satu pengorbanan, sebuah dosa besar yang tidak akan diampuni dalam aturan Kota Panawa.

Aku ditempatkan ditengah lapang, menghadap sebuah batu yang dilapisi kain jarik. Ayah berkeliling merapalkan mantra dengan lantang. Memercikan air yang sudah diteteskan darahnya.

“Nox vera, mira sela.”

“Sira mema, nox sela no Ana oba Rama.”

(Wahai kegelapan, selimutilah mimpi ini)

(Tenggelamkan ingatan dengan aku dan Rama sebagai syaratnya)

Aroma bambu tercium, menguar kuat. Makhluk mengerikan muncul dari celah batu, dua mata besar dan lidah menjuntai, rambutnya terurai. Karawa, begitulah makhluk itu dipanggil. Orang-orang mengenalnya sebagai Dewa Penyakit dan Penderitaan. Kemudian Karawa melesat pergi entah kemana.

Ayah mendekat padaku, menangkup kedua pipiku, tatapannya nanar. Lalu ia tersenyum tipis.

“Lis ku tersayang, putri kebanggaanku, apapun yang terjadi jangan menoleh ke belakang,”

 

.

.

“Lis bangunlah kumohon!”

Aku terbangun, terlihat Min menatapku dengan penuh tangis. Sekarang aku ingat semuanya, sesuatu yang hilang telah muncul kembali. Sontak aku menangis sejadinya, ini menyakitkan.

Min adalah sahabatku dimasa lalu, ritual yang Ayahku lakukan tidak hanya merenggut ingatan tentang keberadaannya tapi Min temanku juga. Min mengatakan aku hampir kehilangan nyawa karena roh Rama. Namun karena rasa cinta Ayahku yang tersegel dalam mantra itu, Rama lenyap.

 Aku tidak mengira bahwa Karawa, makhluk yang melakukan kontrak dengan Ayahku, menjadikan Rama sebagai tumbalnya. Namun karena ritual tersebut dianggap sebagai dosa besar, maka Ayahku harus kehilangan nyawanya.

Semenjak saat itu, aku tidak lagi mengalami teror. Suara-suara yang selama ini mengangguku pun menghilang. Aku tidak tahu dimana jasad Ayahku, jadi aku hanya melemparkan bunga kamboja disekitar danau.

"Elun kapi nara.

Lume neri nara.

Feya no seir.

Lina eterna nara."

(Semoga langit menerimamu

Dengan cahaya yang menuntun langkahmu

Kasihku semoga sampai padamu

Semoga kedamaian menjadi peristirahatanmu)

Kurasakan tangan seseorang, terasa lembut dan menenangkan. Lalu aku pun tersenyum.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Ingot
Linggarjati Bratawati
Novel
Bronze
Lenting
A.R. Rizal
Novel
VAMANA
Hazsef
Novel
Takut
Imelda Yoseph
Novel
Gold
AGNOSIA
Mizan Publishing
Novel
Bronze
SRAPIT
Onet Adithia Rizlan
Cerpen
Bronze
Burung Pembawa Kematian
Imajinasiku
Novel
Melik
Ririn Noverawati
Novel
Gold
Fantasteen Scary Red Eyes
Mizan Publishing
Novel
TELUH
RF96
Novel
Bronze
Tumbal Majikan
Diani Anggarawati
Novel
Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"
Muhammad Agra Pratama Putra
Cerpen
Bronze
Teror Rumah Nenek
Yona Elia Pratiwi
Novel
KARMIC
raresha
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Cerpen
Ingot
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Siapa yang mati hari ini?
Linggarjati Bratawati
Flash
Yang Gila Disini Siapa?
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU SUDAH BERJANJI
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU TIDAK MENGERTI CARA JATUH CINTA!
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Seluas Surga Sesempit Neraka
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pelelangan
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Dogma
Linggarjati Bratawati
Novel
Hata-Hata Ni Dodo
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Apa kau Ingat?
Linggarjati Bratawati
Cerpen
In Ternebris
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Kāma-Manas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Sintak Mangilas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Laki-laki Hijau
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pengasuh
Linggarjati Bratawati