Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tidak pernah percaya pada vampir. Mereka hanyalah makhluk mitos lama, cerita untuk menakuti anak-anak agar tidak keluar malam atau agar cepat-cepat terlelap. Dan kalau dipikir, siapa yang masih mempercayai legenda seperti itu di zaman ini?
Tapi lucunya, setiap kali aku mengatakannya pada diri sendiri, ada sesuatu yang terasa aneh, seperti kebohongan kecil yang terus bergema di dasar kepalaku.
Seperti seseorang berbisik dari dalam tubuhku, pelan, tapi pasti.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasa berbeda. Mungkin sejak aku berhenti melihat bayanganku di cermin. Atau sejak aku menyadari, kulitku tidak pernah benar-benar hangat meski matahari bersinar terang.
Yang pasti, aku ingat satu hal, ada masa ketika aku masih merasa hidup. Dan di antara kabut ingatan yang kusam itu, selalu ada satu wajah, seseorang yang tersenyum padaku di tengah hujan, sebelum segalanya menjadi gelap.
Sejak malam itu, aku tidak pernah benar-benar tidur. Bukan karena tidak bisa, tapi karena setiap kali aku memejamkan mata, aku mendengar suara. Seperti napas seseorang di dekat telingaku, tapi ketika aku menoleh, tak ada siapa pun.
Aku tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran laut, tempat di mana malam datang terlalu cepat, dan kabut menutupi jalan-jalan setiap pukul enam. Di sini, waktu terasa aneh, jam berdetak tapi hari seperti tidak benar-benar berganti.
Orang-orang bilang, kota ini terlalu dingin untuk manusia. Kadang aku berpikir, mungkin mereka benar.
Setiap pagi, aku pergi ke kafe di ujung jalan. Barista di sana, seorang pria tua dengan mata sayu, selalu memberiku tatapan aneh ketika aku memesan kopi tanpa gula. Hanya hitam, pekat, dan pahit.
Suatu hari ia berkata, “Kau seharusnya tidak datang terlalu pagi. Matahari belum sepenuhnya terbit.”
Aku hanya tersenyum, lalu menjawab santai, “Aku lebih suka cahaya redup.”
Ia tidak menjawab, tapi tatapannya menelusuri kulit tanganku yang pucat. Dan entah kenapa, aku tahu, dia menyadari sesuatu yang tidak kukatakan.
Di luar, kabut menebal. Aku berjalan melewati etalase kaca. Saat aku menoleh menatap kaca itu, seperti biasa, hanya bayangan kota yang memantul. Bukan wajahku bahkan tubuhku.
***
Malam itu, aku memutuskan untuk menyusuri dermaga. Angin laut berbau besi, seperti darah yang menua di udara. Ada seseorang berdiri di ujung jembatan kayu, seorang perempuan dengan mantel hitam panjang, rambutnya ditiup angin, matanya memantulkan cahaya bulan.
“Akhirnya aku menemukanmu,” katanya pelan. Suaranya seperti gema yang datang dari masa lalu.
Aku menatapnya tanpa suara. “Siapa kau?” tanyaku akhirnya.
Ia tersenyum samar. “Seseorang yang pernah kau kenal, sebelum kau lupa bagaimana caranya mati.”
Kata-katanya menusuk seperti dingin yang menembus tulang. Aku ingin tertawa, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya detak jantungku—atau entah apa pun yang kini berdetak di dalam dadaku—yang perlahan terasa semakin berat.
Perempuan itu melangkah mendekat. “Kau tidak ingat, ya? Malam di mana hujan turun deras. Wajah yang tersenyum padamu sebelum semuanya gelap.”
Aku terpaku. Bayangan samar itu muncul kembali, senyum di tengah derasnya hujan, tangan yang dingin menggenggamku erat.
Ia menatapku dengan mata yang basah. “Aku yang membunuhmu malam itu.”
Aku menatap perempuan itu lama, seolah matanya menyimpan seluruh rahasia yang berusaha dihapus dunia. Kata-katanya menggema di kepalaku, tapi anehnya, bukan rasa takut yang muncul. Yang ada hanya pengakuan. Seolah bagian dalam diriku tahu, bahwa ia tidak berbohong.
“Kau tahu sesuatu tentangku,” kataku pelan.
Ia mendekat, langkahnya nyaris tanpa suara di atas papan kayu lembap. “Aku tahu segalanya tentangmu. Tentang siapa dirimu dulu, dan kenapa kau tidak seharusnya masih ada di sini.”
Kabut di sekeliling kami menebal. Cahaya dari mercusuar di ujung dermaga memantul di matanya, membuatnya tampak seperti sepasang kaca yang menyimpan ribuan kenangan. Aku menggigil, bukan karena dingin, tapi karena ada sesuatu di dalam diriku yang mulai mengingat.
“Tapi aku hidup,” bisikku. “Aku di sini. Aku berjalan, aku berbicara, aku merasa.”
Ia tersenyum samar. “Ya. Itulah masalahnya.”
Aku ingin menanyakan apa maksudnya, tapi sebelum aku sempat bertanya, angin laut berembus kuat dan sesuatu di udara berubah. Aku mencium aroma logam yang tajam, bukan dari laut, tapi dari diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napasku tidak berembun di udara malam.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku, suaraku nyaris patah.
Ia menatapku lama, kemudian berkata dengan suara selembut kabut, “Yang kau sebut hidup… itu hanyalah sisa dari keinginanmu untuk tetap ada. Dunia lupa bagaimana caranya memanggilmu mati, jadi kau terus berjalan, mencari sesuatu yang bahkan waktu pun tak bisa mengembalikannya.”
Aku diam. Angin berhenti. Laut kembali tenang. Dalam keheningan itu, aku melihat pantulan air di bawah dermaga yang gelap, tapi samar-samar menampakkan wajah seseorang. Bukan wajahku yang sekarang, tapi wajah yang dulu amat hidup, hangat, dan penuh cahaya.
Dan saat itulah aku sadar. Aku tidak kehilangan bayangan. Aku kehilangan masa lalu.
Perempuan itu berjalan ke arah tepi dermaga, membiarkan angin laut memutar rambutnya yang hitam dan panjang. Aku menatapnya dari belakang, untuk sesaat, aku merasa pernah melihat punggung itu dalam mimpi, atau mungkin dalam kehidupan yang tak lagi kuingat.
“Kenapa aku?” tanyaku akhirnya. “Kenapa aku yang tidak seharusnya masih ada?”
Ia tetap menatap laut, tidak menoleh. “Karena kau tidak bisa pergi dengan tenang. Ada sesuatu yang kau tinggalkan, sesuatu yang belum selesai. Dan karena itu, kau terjebak di antara dua sisi dunia.”
Aku menatap telapak tanganku sendiri. Pucat. Dingin. Tak ada denyut yang terasa di bawah kulit. Tapi aku bisa merasakan dunia, merasakan angin, dingin, bau laut. Tapi mungkin dia benar. Mungkin aku bukan hidup tapi juga belum mati sepenuhnya.
“Apa yang kulupakan?” Pertanyaanku menggantung, larut dalam suara ombak.
Ia menatapku perlahan. “Nama seseorang,” jawabnya lembut. “Seseorang yang selalu menunggumu.”
Aku menelan ludah, meski tak tahu untuk apa. Di dalam dadaku seperti ada rongga kosong—bukan luka, tapi lubang yang sudah terlalu lama menganga. “Siapa?”
Ia tersenyum samar. “Kalau aku memberitahumu sekarang, kau tak akan percaya. Kau harus menemukannya sendiri. Tapi hati-hati, karena setiap ingatan yang kau buka akan menarikmu semakin dalam ke tempat di mana waktu tidak lagi berlaku.”
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi cahaya mercusuar berkedip dan dalam sekejap, perempuan itu menghilang, meninggalkan kabut yang berputar pelan di tempatnya berdiri.
Aku berdiri sendirian di ujung dermaga, dengan hanya suara laut dan bayangan samar di air.
Lalu entah dari mana, aku mendengar sesuatu bukan suara, tapi bisikan di dalam pikiranku. Satu kata, nyaris tak terdengar.
“Ingrid.”
Namanya muncul begitu saja, seolah menembus dinding tebal ingatanku. Dan saat itu juga, aku tahu apa pun yang sudah terkubur dalam masa laluku, baru saja bangkit kembali.
Malam-malam berikutnya datang tanpa jeda. Aku tidak tahu apakah hari benar-benar berganti, atau hanya terus berulang seperti napas yang tak pernah selesai dihembuskan.
Nama itu—Ingrid—selalu terngiang di pikiranku, seperti gema dari ruang kosong yang jauh di bawah laut. Setiap kali aku mencoba mengingatnya, ada sesuatu yang terasa retak di dalam kepala. Cahaya-cahaya asing, suara tawa, dan aroma hujan di atas bebatuan basah. Potongan kenangan itu datang seperti serpihan kaca tajam, singkat, begitu menyakitkan.
Aku mulai berjalan tanpa tujuan, melewati jalan-jalan yang sepi di bawah lampu gas tua. Kota ini terasa seperti bayangan; tidak sepenuhnya hidup, tidak sepenuhnya mati. Kadang aku melihat orang-orang menatapku lama di jalan, seolah mereka mengenal wajahku tapi tak berani menyapa.
Suatu malam aku berhenti di depan toko tua yang hampir runtuh. Di kaca jendelanya, tertulis samar; Ingrid’s Antiquarium.
Pintu berderit ketika kubuka. Bau kayu tua dan debu langsung memenuhi udara. Di dalam, ruangan itu dipenuhi benda-benda antik, jam dinding berhenti, foto-foto tanpa wajah, dan cermin besar yang terbungkus kain hitam.
Aku menyentuh kain itu perlahan, dan saat kainnya bergeser, aku menatap ke dalam cermin
dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat sesuatu. Bukan pantulan wajahku, tapi sosok perempuan yang berdiri di belakangku, tersenyum dengan mata yang basah.
“Ingrid…” bisikku.
Ia mengangguk pelan. “Kau akhirnya kembali.”
Aku menatapnya lama, takut kalau gerakan sekecil apa pun akan membuatnya lenyap lagi. Ia masih berdiri di sana, di balik pantulan cermin, dengan senyum lembut yang terasa terlalu nyata untuk sekadar ilusi.
“Ingrid,” ulangku, lebih pelan kali ini. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, seperti suara dari orang lain.
“Kenapa aku di sini?” tanyaku. “Apa yang terjadi padaku?”
Ia menatapku tanpa menjawab. Sebaliknya, ia melangkah mendekat tapi bukan di dunia tempatku berdiri, melainkan di dalam cermin itu.
Cermin di depanku bergetar lembut, seolah udara di antara kami tidak stabil. “Kau mencari sesuatu yang sudah hilang,” katanya akhirnya, suaranya terdengar seperti gema dari bawah air. “Tapi kau lupa, bahwa yang hilang itu tidak pernah pergi jauh.”
Aku ingin menyentuhnya. Tanganku terangkat, ujung jariku hampir menyentuh permukaan cermin. Hanya sedingin kaca, tapi di balik dingin itu, aku bisa merasakan sesuatu. Panas yang lembut. Kehangatan yang seharusnya tidak mungkin aku rasakan lagi.
“Dulu…” suaraku pecah. “Kita pernah—”
“Jangan,” potongnya lembut. “Jangan buka semuanya sekaligus. Dunia ini terlalu rapuh. Dan kau—” Ia menatapku, matanya bergetar. “Kau belum siap untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku menatapnya, mencoba memahami kata-katanya. Di belakangnya, bayangan mulai bergetar seperti riak air yang menggoyangkan seluruh isi ruangan. Jam-jam tua berdetak serempak untuk pertama kalinya. Cahaya lampu di toko meredup.
Lalu Ingrid menatapku lagi, kali ini dengan senyum yang samar tapi menyakitkan. “Kau pernah berjanji padaku,” bisiknya, “bahwa jika kau lupa siapa dirimu, aku akan menjadi orang yang mengingatmu.”
Suara detik terakhir dari jam tua bergema panjang. Dan cermin itu pecah.
Pecahan cermin itu jatuh perlahan, tapi tidak menyentuh lantai. Mereka melayang di udara, berkilau dalam cahaya temaram, seperti hujan bintang yang membeku di tengah waktu. Aku menatapnya, terdiam, karena di setiap pecahan itu ada potongan wajahku. Bukan yang sekarang, tapi yang dulu.
Aku melihat diriku tersenyum di salah satu pecahan cermin, menangis di yang lain, lalu pada satu pecahan, aku melihat Ingrid yang memegang tanganku di tengah hujan. Suara hujan itu terdengar samar di telingaku, seolah pecahan cermin itu adalah jendela ke masa lalu.
“Dengar,” suara Ingrid terdengar lagi, entah dari mana. “Jangan takut dengan apa yang akan kau lihat. Tak ada kebenaran yang datang tanpa kehilangan.”
Cahaya di sekitar mulai berubah. Dinding toko memudar, dan aku tahu aku sedang tidak lagi di sini. Aku berdiri di jalan basah, malam yang sama dengan yang ada di pecahan cermin itu. Hujan turun deras, lampu kota berpendar di genangan air.
Aku melihat seseorang berlari di seberang jalan—itu diriku sendiri. Wajah yang dulu. Mata yang masih hidup. Dan di ujung jalan, Ingrid berdiri, memandangku dengan ekspresi yang tak bisa kuartikan, antara takut dan rindu.
Suara Ingrid bergema di sekitarku, “Kau datang menemuiku malam itu untuk berpamitan. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa pamitmu berarti selamanya.”
Aku mendekat, tapi tubuhku tembus pandang, seperti bayangan yang tak lagi punya dunia untuk berpijak. Setiap langkahku membuat dunia di sekitarku bergetar, seperti kaca yang hampir pecah.
Aku ingin berbicara, tapi suaraku tak keluar. Lalu Ingrid—versi masa lalu—menggenggam tanganku yang lain, tubuhku yang masih hidup. Ia menangis. Dan aku tahu malam itu, sesuatu berubah untuk selamanya.
Hujan malam itu terasa lebih dingin daripada yang bisa diingat tubuh manusia. Aku berdiri di antara dua diriku—yang dulu, dan yang sekarang—seperti dua bayangan yang saling mencari tapi tak pernah benar-benar bersentuhan.
Ingrid memeluk tubuhku yang masih hidup. Tangannya gemetar. Air mata bercampur dengan hujan, mengalir di pipinya seperti cahaya kecil yang mencoba bertahan di tengah gelap. “Kau tak perlu pergi,” katanya lirih. “Kita bisa mulai lagi, seperti dulu.”
Aku—versi yang hidup—tersenyum samar, lalu menggeleng pelan. “Aku lelah, Ingrid. Dunia ini tidak seperti dulu lagi.”
Aku bisa merasakan keputusasaan dari kata-kata itu, meski bukan aku yang mengucapkannya. Ada rasa getir yang terlalu dalam, sesuatu yang menekan di dada, seperti beban dari waktu yang tak lagi memberi ampun.
Aku ingin menghampiri, ingin berteriak agar diriku yang dulu tidak melakukan apa pun yang akan menghapus segalanya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bayangan dari apa yang sudah terjadi.
Kemudian Ingrid melepaskan pelukannya. Ia menatap wajahku lama, matanya penuh hal yang tak terucap. “Kalau begitu,” katanya, “izinkan aku mengingatmu. Meski dunia melupakan.”
Kata-kata itu memantul di udara, menggema bahkan setelah hujan berhenti. Lalu semua menjadi putih, bukan cahaya, tapi kehampaan.
Dan aku terbangun di toko itu lagi. Semua kembali seperti semula. Tak ada hujan, tak ada Ingrid. Hanya pecahan cermin yang kini tergeletak di lantai, basah oleh sesuatu yang bukan air.
Aku memungut satu pecahan, menatap pantulanku yang retak. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di balik mataku sendiri. Sebuah titik merah kecil yang samar, tapi hidup.
“Ingrid,” bisikku. “Aku mulai ingat.”
Aku memandangi pecahan cermin itu lama, hingga cahaya kecil di dalamnya berdenyut perlahan seperti bernapas. Rasanya hangat. Untuk pertama kalinya sejak aku kehilangan bayangan, aku merasa sesuatu di dalam tubuhku bergerak lagi.
Aku berdiri. Di luar jendela, langit sudah berubah warna. Bukan malam, bukan siang, tapi semacam fajar yang ragu-ragu. Kota di bawahnya tampak sunyi, seperti menahan napas.
Langkah kakiku membawaku ke dermaga tempat semuanya dimulai. Kabut masih sama, laut masih berbau besi, tapi ada sesuatu yang berbeda seolah udara tahu, malam ini adalah akhir dari lingkaran yang terlalu lama tertutup.
Dan di sana, di ujung jembatan kayu, Ingrid berdiri sekali lagi. Wajahnya tenang. Tidak lagi ada kesedihan. Aku berjalan mendekat tanpa suara.
“Kau ingat sekarang?” katanya.
Aku mengangguk pelan. “Ya, aku ingat.”
Ingrid menatapku lama, lalu tersenyum. “Kalau begitu, kau tahu kenapa dunia menolak melepaskanmu.”
Aku menatap laut yang hitam, airnya tenang seperti kaca. “Karena aku menolak pergi,” jawabku. “Karena aku masih ingin bersamamu.”
Angin laut berhembus. Rambutnya terangkat lembut. Ia melangkah mendekat, lalu menyentuh pipiku yang anehnya, aku bisa merasakan hangatnya jari-jarinya kali ini. “Sekarang kau tahu,” bisiknya, “bahwa yang disebut keabadian bukan hidup selamanya. Tapi mengingat seseorang ketika dunia telah melupakannya.”
Aku menatap matanya yang jernih, lalu perlahan menutup mata. Dan saat kubuka kembali, Ingrid sudah tak ada. Hanya laut, dan kabut, dan bayanganku sendiri yang akhirnya kembali menatapku dari permukaan air.
Untuk pertama kalinya, aku tersenyum. Tidak karena ingatanku kembali, tapi karena aku tahu, sebagian dariku akhirnya tenang.
Fajar datang perlahan di balik kabut. Dan di antara cahaya abu-abu itu, aku berjalan pergi tanpa suara, tanpa bayangan, tapi dengan hati yang tidak lagi kosong.