Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Janji Sampeyan itu palsu, Kang! Kamu bilang saat kita menua itu saat kita bebas wira wiri jalan berdua kemana pun langkah kaki membawa kita pergi.” ujar Adhon, wanita bermahkota surai putih bergelombang yang mengembang bagai Singa tua yang makin renta.
“Coba sekarang Sampeyan lihat aku, Kang. Aku kadang menyesal terlahir jadi perempuan setia.
Mataku tak pernah meleng melihat pria lain sejak Sampeyan kirim foto gaya miring dengan jambul tinggi dan senyum gagahmu bertulis “Salam Manis” waktu itu. Rasanya kok nggilani kalau aku ingat-ingat lagi. Tapi aku suka masa itu.”
Mata Adhon menyipit melirik penuh makna menanti komentar pria yang dicintainya. Tapi tanpa menunggu lama Adhon lalu kembali hanyut dengan kesibukannya.
Berulangkali Adhon melempar pisau dari genggamannya lalu mengibaskan ngibaskan tangan keriputnya dengan kasar. Seolah sengaja ingin mencipta shock terapi pada kedua tangannya sendiri. Terkadang tangan kanan disuruhnya menepis tangan kiri, lalu berbalik meminta tangan kiri menampar tangan kanan. Begitu terus berkali kali. Seperti sengaja mencipta permusuhan diantara kedua tangan kanan kirinya.
“Dasar tangan guoblok, sudah tahu tumpukan pekerjaan menungguku. Bukannya membantu malah kamu membuatku bekerja selamban Siput. Ckk, masih mending Siput! Tak mungkin tangan kaki mereka kebas macam robot kurang oli sepertiku ini,”
Tepat di depan Adhon, remahan kulit berwarna merah dan warna putih berserakan. Tatakan tampah mini seluas baskom memampang puluhan tubuh telanjang bawang merah dan bawang putih yang terkulai pasrah. Tak jauh dari mereka barisan bumbu empon empon semacam jahe, laos,kunir duduk tertib tanpa suara.
Tiba tiba Adhon menghentakkan tampah sekuat tenaga seraya memejamkan mata menutup rongga gelambir tuanya.
“Sekali waktu mbok Sampeyan bantu aku, Kang. Bukankah Sampeyan bilang Sampeyan suka anak kecil? Aku ingat betul, saat anak anak kita sudah tak lagi pantas ditimang. Sampeyan tak pernah lelah mengendong keponakanmu yang mirip ikan buntal kemanapun Sampeyan pergi.” Helaan nafas panjang jadi penyekat ucapan wanita renta itu.
“Beda denganku, adikku sepuluh. Masa SD-ku hanyalah masa mengendong adik-adikku yang terus bertambah. Entah kenapa, Ibuk tak bosan beranak. Bahkan saat ujian SMEA waktu itu, aku sampai malu karena banyak orang pikir, adik bungsuku itu anakku sendiri. Aku bosan berurusan dengan anak kecil. Ahh, tapi kebosananku sepertinya tak harus digugu. Nyatanya kini cucu kita bahkan sudah sejumlah pemain bola sepak. Dan mereka semua menempel padaku macam terpelet ajian pengasihan. Tapi, Sampeyan malah acuh tak pernah menimang mereka lagi. Sampeyan itu suwombong, Kang!” Adhon tersungut sungut sambil mencibir tipis.
Adhon menatap lekat mata tajam pria pujaannya penuh harap. Lalu sebelah tangan yang dipenuhi tonjolan urat itu mengusap lembut lengan Sang pria dengan gerakan merajuk.
“Kapan Sampeyan ajak aku pergi bersamamu, Kang. Atau Sampeyan sudi kalau sahabatmu masa muda itu datang lagi lalu menggodaku bahkan memintaku berpaling darimu, Sampeyan mau aku digondhol pergi sahabatmu?” Adhon mengerling setengah mengancam.
“Ckk ahh, Sampeyan pasti tahu aku tak sejalang itu kan, Kang. Meski sahabatmu yang dulu cungkring itu kini justru makin tegap dan berisi. Berbalik 180 derajat dengan Sampeyan yang dulu kokoh gagah perkasa. Tapi kini Sampeyan tak lebih seperti kakek ikan kembung berperut bundar....,” olok wanita berkulit langsat kirut itu. Dia sengaja mengantung kalimatnya seraya melirik kearah sang pria, sengaja menunggu protes kekasihnya. Namun sejurus kemudian Adhon dengan tatapan lembut melanjutkan ucapnya.
“Tapi, dimataku selamanya Sampeyan akan tetap tampan dan berkharisma, Kang. Meski, Sampeyan bukan laki laki romantis yang sudi menemaniku di ruang bersalin, menggenggam tanganku, memberiku kekuatan untuk berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan anak anakmu. Meski, Sampeyan yang selalu jadi biang kerok pengganggu waktu tidur bayi bayiku. Meski, Sampeyan yang kerap kali bicara ngawur, membuatku kerap mencelos mengurut dada hingga halus rasanya, sementara sampeyan tetep lempeng tanpa mikir perasaanku gimana. Aku rasa, tinta dari tujuh samudra pun tak akan cukup untuk menuliskan kekuranganmu yang aku hapal diluar kepala, Kang.”
Adhon menghela nafas panjang. “Kenapa sampeyan diam, Kang? Sampeyan kaget aku sekarang bisa memuntahkan semua isi hati seperti ini?”
Adhon memamerkan senyum termanisnya lalu kembali berujar. “Ojo gumun, Sampeyan yang mengajariku, Kang. Sampeyan yang selama ini membiasakanku sebatas jadi pendengar lalu kini tanpa sadar rinduku pada Sampeyan justru membuatku menirumu jadi penyiar radio rombeng yang selalu bicara tanpa mikir apa-apa.”
Adhon melambai lambaikan tangan didepan wajahnya seolah ingin menghapus sesuatu yang diucapnya.
“Aah, sudahlah Kang. Apapun itu puluhan tahun perjalanan yang telah aku habiskan sama Sampeyan tetaplah bukan penyesalan bagiku. Karena ditiap akhir sujudku, aku selalu memohon agar gusti pangeran masih bermurah hati menjodohkan kita lagi di akhirat nanti. Sampeyan juga masih pengen kita berjodoh di alam lain kan, Kang?” Tatapan Adhon melembut menatap bulu mata lentik pria pujaannya.
“Percayalah, Kang. Aku itu perempuan setia. Cintaku padamu seawet boraks. Aku pintar merayu kan, Kang?” Jari telunjuk Adhon menukil sudut perut Sang pria yang masih rata dengan raut malu malu.
Lama berselang mata Adhon menatap nanar lubang angin yang terpenjara lembaran plastik terhujam paku berkarat sambil menggumam.
“Sampeyan tahu, Kang. Semakin renta aku baru sadar mulutku makin soak mirip kaset rusak. Apalagi kini aku kerap lupa mengulang cerita yang sama, lebih dari tiga kali sehari. Mirip anjuran resep obat mantri. Anak anak kita mulai kerap menertawai ucapanku seolah aku tengah melucu.
Padahal..,” Adhon membuang nafas panjang mengusir resah.
“Bukan hanya itu, Kang. Anak anak kita pun sudah bukan lagi bocah. Mereka kini mulai menua dan beruban seperti kita. Panggilanku pun berubah jadi Adhon, Simbah Wadhon atau Nenek. Aku tak tahu sampai kapan bisa merangkul mereka semua dengan kasihku. Aku kadang merasa lelah menjadi Ibu.
Dulu mereka selalu menghujaniku dengan tanya dan mempercayai tiap jawabku tanpa cela. Tapi kini semua berbeda,”
Sudut mata Adhon mulai memanas, beberapa kali matanya mengerjap mengusir kristal air yang memaksa keluar. Adhon tak ingin Pria pujaannya tahu matanya kalah menampung gelegak rasa.
“Benar aku seorang Ibu, tapi sabdaku tak lebih kuat dari gumammu, Kang. Nasehatku kerap dianggap sambil lalu. Mungkin karena aku tak lebih pintar dari ijazah S1 yang mereka dekap satu satu. Aku kerap kelu menahan rasa berbagi kisah masa lalu. Anak-anakmu terlalu sibuk berjibaku mengurus dunia mereka sendiri. Tak perlu ada aku jadi benalu. Aku hanya punya gulungan kisah masa lalu kita dan masa kecil mereka dulu. Sampeyan tahu kan, Kang. Seorang Ibu bukanlah peramal masa depan yang mampu menjanjikan segala sesuatu sesuai impian. Tapi aku ingat betul ucapan salah satu ulama tentang kekuatan restu seorang Ibu. Bahwa tiap lisanku mengandung tuah, aku sadar soal itu.”
Kali ini kedua tangan penuh tonjolan urat itu saling beradu menangkup sebelah tangan Sang Pria penuh haru.
“Kuatkan aku, Kang. Bantu aku membersamai mereka semampu jasadku. Aku yakin mereka tahu doa terbaikku tak pernah lepas ibarat urat nadiku. Selain kemurahan Allah swt yang begitu sayangpadaku, hanya kamu penguatku menjalani semua ini, Kang. Sampeyan ingat bukan, ucapmu padakuyang selalu kamu ulang lebih dari sekedar ratusan. Jaga anak anak kita, pastikan mereka ingat kelak kita butuh doa penghantar mereka sebagai peringan langkah kita pulang menuju surgaNya.”
Tangis Adhon pecah tanpa suara. Kepalanya terguguk kencang, disertai suara mirip bayi cegukan. Tangan keriputnya mengusap lembut pipi Sang pria yang tersenyum manis dengan gaya miring pada sebingkai foto hitam putih kusam yang didekapnya erat-erat.