Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Indigo
1
Suka
10,540
Dibaca

Bab 1: Kilasan Dingin

Andra adalah potret sempurna seorang pria paruh baya yang tenggelam dalam rutinitas. Usianya menginjak tiga puluh enam, namun garis halus di sudut matanya dan kerutan samar di dahinya seolah sudah menambahkan beberapa tahun lebih awal dari yang seharusnya. Hidupnya di Makassar nyaris tanpa gejolak berarti. Bangun pagi, minum kopi hitam pahit, berangkat ke kantor konsultan arsitektur tempat ia bekerja sebagai manajer proyek, bergelut dengan denah dan perhitungan, lalu pulang. Begitu seterusnya, lima hari dalam seminggu, kadang enam jika ada tenggat mendesak. Ia tidak punya pasangan, tidak punya hobi yang mencolok, dan lingkaran pertemanannya terbatas pada beberapa kolega kantor yang sesekali mengajaknya minum kopi. Introvert, itu kata yang tepat untuk mendefinisikan Andra. Ia nyaman dengan kesendiriannya, menganggap keramaian sebagai beban, dan percakapan basa-basi sebagai bentuk penyiksaan halus.

Sore itu, hari Kamis yang cerah, namun kelembapan khas kota pesisir tetap terasa menusuk kulit. Jam menunjukkan pukul lima lewat seperempat sore, dan Andra baru saja selesai dengan revisi terakhir proyek apartemen di kawasan Tanjung Bunga. Ia menghela napas lega, merapikan meja, dan mengambil tas kerjanya. Lift di kantornya, sebuah gedung bertingkat lima belas yang menjulang di pusat kota, adalah satu-satunya jalur turun yang efisien. Andra menekan tombol panah bawah, menunggu dengan sabar. Pintu lift terbuka, dan di dalamnya sudah ada dua orang: seorang pria tua yang sibuk dengan ponselnya dan seorang wanita muda yang mengenakan blus motif bunga cerah, rok selutut, dan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai. Aroma parfum manis dari wanita itu samar-samar tercium di udara, cukup kuat untuk menarik perhatian Andra sesaat.

Andra melangkah masuk, memunggungi wanita muda itu, dan menekan tombol lantai dasar. Saat pintu lift perlahan menutup, ia merasakan sensasi aneh. Bukan pusing, bukan mual, tapi sesuatu yang lebih abstrak, seperti gelombang elektromagnetik yang menembus otaknya. Dalam sekejap mata yang terasa seperti keabadian, sebuah kilasan mengerikan melintas di benaknya.

Terlalu cepat, terlalu singkat, namun detailnya begitu tajam, begitu nyata. Wanita yang baru saja masuk lift bersamanya itu... ia tergeletak. Di sebuah gang sempit, dindingnya kusam dan berlumut. Cahaya remang-remang dari lampu jalan yang redup hanya menyorot sebagian tubuhnya yang kini bersimbah darah. Darah kental berwarna merah gelap, membasahi blus motif bunganya yang kini tampak kotor dan robek. Matanya terbelalak, kosong, menatap langit-langit gang yang dipenuhi kabel-kabel kusut. Tidak ada suara, hanya keheningan yang memekakkan, diiringi oleh detak jantung Andra yang tiba-tiba berpacu gila-gilaan.

Kemudian, kilasan itu menghilang secepat kilat.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Andra tersentak. Kepalanya berdenyut, dan ia harus berpegangan pada dinding lift untuk menyeimbangkan diri. Pria tua itu sudah berjalan keluar tanpa menyadari keanehan Andra, sementara wanita muda itu menoleh ke belakang sesaat, senyum tipis di bibirnya, sebelum akhirnya beranjak pergi. Andra terpaku di tempatnya, menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. Ia merasa ngeri, seolah baru saja menyaksikan sebuah film horor paling brutal yang pernah ada, namun kali ini ia adalah satu-satunya penonton.

"Apa-apaan itu tadi?" gumam Andra, suaranya serak. Ia mencoba menepisnya sebagai halusinasi, kelelahan, atau mungkin efek samping dari kopi yang terlalu banyak ia minum siang tadi. "Mungkin aku terlalu banyak lembur."

Ia melangkah keluar dari lift dengan langkah gontai, melewati lobi yang ramai, dan keluar ke jalanan Makassar yang mulai dipadati kendaraan. Langit senja mulai mewarnai cakrawala dengan nuansa jingga dan ungu, namun keindahan itu tidak mampu menghilangkan gambaran mengerikan yang masih melekat di benaknya. Wanita berblus bunga... tergeletak tak bernyawa. Setiap kali ia mencoba membuang gambar itu, ia justru semakin mengingat detailnya: noda darah yang membentuk ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp13.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Flash
Ry... Namanya
hyaeonasa
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tumbal
Refy
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Flash
Gentayangan
Afri Meldam
Flash
Boneka Kesayangan
Rudi Rustiadi
Novel
Bronze
PAHING
Kartono
Flash
Bronze
Langkah di Balik Anyaman Bambu
Risti Windri Pabendan
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Flash
Liputan Hantu +62
Ilfi Rahmadani
Cerpen
Bronze
Sebuah Misteri
SUWANDY
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
KEDASIH
Alfi Riyatin
Flash
Setangkai Mawar Biru
Tazkia Irsyad
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Guru BU Ratmi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Maut Di Kapal Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tak Ada Percaya Pada Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kuncup Bunga Ungu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panti Jompo Harum Melati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sang Kolektor Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ibu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retha
Christian Shonda Benyamin