Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
In The Last Breath
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jika hidup ini adalah tentang sebuah pilihan, apa yang akan kamu pilih untuk hidupmu? Seseorang sering menanyakan pertanyaan itu padaku, entah apa niatnya.

Masih kuingat momen itu dengan jelas. Kehangatan dari tangan yang mengusap rambutku dengan segala kelembutannya itu—membiarkan aku tertidur di dalam pangkuannya yang terasa sangat nyaman ini.

Suaranya yang indah membacakan sebuah kisah padaku—mengisi kesunyian di malam yang gelap gulita ini, membiarkan hanya cahaya lilin yang menerangi kami.

Kudengarkan kisah yang dia bacakan dengan penuh minat—kisah yang hingga hari ini kupegang selalu, kisah tentang ribuan bintang yang bersinar di langit malam.

“Demikianlah kisah ini berakhir.” Ia menaruh buku yang telah selesai dia bacakan itu ke sampingnya. “Anakku, apa kamu menyukai kisah kali ini?” Sudut bibirnya terangkat, menatapku—memperlihatkan senyuman yang terasa cukup untuk menemani ke mana pun aku melangkah.

Sungguh, aku menyukai momen itu lebih dari apa pun—momen di mana aku dapat tidur tanpa memikirkan esok akan jadi seperti apa… bahkan jika momen itu hanyalah mimpi, aku tidak keberatan hidup di sana. Namun mimpi tetaplah mimpi, mimpi tidak akan bisa jadi kenyataan tak peduli seberapa inginnya aku.

Kurasakan sentuhan dingin di pipiku, tanda bahwa aku sudah harus terbangun dan meninggalkan semua ini.

Membuka mata, kulihat seorang pria tua ada di depanku, menumpukan beratnya pada tongkat di tangannya. “Kepala desa?” Kesadaran terasa pusing, badanku, kepalaku, dadaku menyuruhku untuk tertidur lagi, tapi kepalaku menahan keinginan itu.

“Maaf aku ketiduran padahal harusnya aku menjaga sawahmu.” Perasaan bersalah muncul di dalam dadaku, sadar bahwa aku mengabaikan tugasku padahal aku yang memintanya. “Aku akan segera bangun.”

Kupaksakan tubuhku untuk bangun walau sepertinya ia masih enggan.

“Tunggu dulu, jangan buru-buru—apa kau tega meninggalkan pria renta sepertiku sendirian padahal aku ingin bertemu denganmu?” Suaranya menghentikanku, senyum muncul di wajahnya saat dia bersandar pada tongkat di tangannya.

Tawa keluar dari mulutnya, tawa lemah dari seorang pria yang telah melewati masa jayanya—tawa yang tidak tahu harus aku balas seperti apa.

Hanya senyum tipis yang keluar dari mulutku, senyum yang kurasa cukup untuk tidak menyakiti perasaannya dengan kata-kataku.

“Lusa kamu sudah harus pulang bukan?” Mungkin karena merasa bahwa aku tidak bisa menanggapinya, orang itu mengganti topik pembicaraannya. “Sebelum kau pulang, ayo jalan-jalan denganku.” Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Kalau begitu sawahmu bagaimana?”

“Tinggalkan saja, benda itu tidak akan pergi ke mana-mana.”

Santai sekali dia mengatakan hal ini, padahal dia juga pasti tahu bahwa burung-burung pasti akan langsung menyerbu begitu sadar tidak ada orang yang mengawasi—tapi ya sudahlah, lagipula dia sendiri yang mengajakku pergi.

Mengabaikan tangan yang dia ulurkan, kupaksa tubuh lelah ini untuk bangun. “Tiba-tiba sekali, ada apa memangnya?” pertanyaan itu keluar dari mulutku, penasaran kenapa dia mengajakku jalan-jalan.

Suara dari dedaunan kering terdengar dari bawah kakiku saat aku mulai berjalan di sampingnya, mengikuti tempo dari langkahnya.

“Tidak ada alasan khusus, anggap saja kemurahan hati dari orang tua untuk generasi mendatang.” Pandangannya menatap sekeliling, isyarat agar aku diam saja dan menikmati suasana yang ada.

Udara dingin menusuk kulitku walau matahari masih bersinar begitu terangnya—berusaha memberikan kehangatan pada anak-anaknya.

Dedaunan yang dahulu masih menguning di pohon perlahan kini mulai terjatuh—meninggalkan pohon yang tampak mati sampai waktu ia bangkit lagi di musim semi nanti.

Pemandangan dari persawahan perlahan memudar di belakangku begitu dia membawaku kembali ke dalam desa. Beberapa orang menyapa kami, entah tersenyum untukku atau pria tua yang ada di sampingku.

“Allen apa kau tahu?” Fokusku kembali ke arah pria tua yang ada di sampingku, menyadari sudut bibirnya melengkung sambil menatap balik ke arahku.

“Biasanya kami tidak seramah ini pada para tamu, apalagi orang-orang dari kota sepertimu.”

Suara gema dan tawa dari penduduk memasuki telingaku, anak-anak berlarian ke sana kemari, bermain dengan bebas dengan wajah ceria terukir di wajah mereka sembari aku menunggu ia melanjutkan perkataannya.

Kenangan saat pertama kali kutiba di desa ini sekilas kembali. Beberapa detik berlalu, dan dia masih belum melanjutkan perkataannya, jelas bahwa dia menungguku untuk menanyainya kembali. “Aku tahu kok tapi, kenapa kalian memperlakukanku sebaliknya?”

Langkahnya terhenti, tatapan mata yang dia berikan padaku seolah bisa menembus ke dalam diriku. “Karena tidak seperti yang lain, matamu memandang kami sebagai orang yang setara.”

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, bagaimana bisa mata orang lain menunjukkan sifat orang itu sebenarnya?

“Agak tidak masuk akal ya, bagaimana jika aku memakai mata palsu?”

Pria tua itu melanjutkan langkahnya—tertawa mendengar ucapanku, membalasnya dengan candaan khasnya. “Hahaha, kalau begitu maka kami sudah tamat.” Senyum kecil muncul di bibirku mendengarnya—berjalan bersamanya.

Matahari kian menurun dari tahtanya, menghiasi langit dengan warna kemerahan yang indah. Pemandangan yang walau sudah sering kulihat tapi aku masih takjub padanya.

Menengok beberapa warga yang tampak masih sibuk dengan kegiatannya, para ibu membawa anak-anaknya masuk ke dalam rumah. Melihat pemandangan ini, aku semakin tidak percaya apa yang dikatakan kepala desa sebelumnya.

Langkah kami berhenti di depan rumahnya, sebuah rumah yang sangat sederhana, wajahnya tampak senang setelah kutemani dia jalan-jalan. “Terima kasih sudah menemani pria tua ini jalan-jalan.”

“Tidak apa, justru aku minta maaf karena ceroboh menjaga sawahmu, Pak.”

Ia berdiri di depanku, mendongakkan wajahnya ke arah wajahku. “Jangan terlalu memikirkan hal itu, wajar jika manusia melakukan kesalahan.”

Kepala desa meraih tanganku, menyelipkan sesuatu di sana. “Jangan terlalu memaksakan dirimu, kepalamu mungkin berpikir kau bisa melakukan segalanya sendiri dan itu tidaklah salah, tapi hati manusia tidak didesain menyembuhkan dirinya sendiri.”

Ia menarik tangannya, memberikan sesuatu untukku—mengetahui ada selembar tiket kereta ia berikan. “Kamu pulanglah hari ini.”

Kepalaku membuat banyak pertanyaan, kenapa dia memberikan aku ini? Waktu di tiket ini tinggal sebentar lagi, apa aku diusir olehnya setelah apa saja yang telah dia katakan padaku hari ini. “Kenapa?” Sudut mataku menyipit.

“Kenapa? Kamu sungguh menanyakan itu padaku?” Tawa kecil keluar darinya. “Allen, kamu itu orang baik, karena itu kami semua menerimamu, kami berterima kasih karena kamu mau membantu, karena itu kami tidak ingin membuatmu menyesal telah membantu kami semua.”

Pak tua itu memandangiku—raut wajah yang membuatku tidak tega jika menolaknya. “Allen… pulanglah, kamu tahu alasan kami melakukan ini.”

Dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya. Cengkeramanku pada tiket di tanganku menguat, meremasnya di genggamanku.

Kepalaku mengajak untuk menolaknya—memberi banyak alasan untuk lebih lama menetap di sini. Benar apa yang dikatakan kepalaku, tapi entah kenapa dadaku sesak saat memikirkannya.

“Aku mengerti.” Kepalaku yang entah sejak kapan tertunduk kini kembali pada pria tua di depanku. “Terima kasih banyak, aku akan mengganti tiket ini setelah semuanya selesai.”

“Kembalilah kapan pun kamu mau, kamu bisa memakai rumah yang tidak kupakai itu semaumu saat kamu kembali nanti.”

Mengangguk pelan, kuberjalan pergi dari hadapan pria tua itu. Bulan naik menggantikan cahaya matahari, berusaha semampunya untuk menggantikan sinarnya.

Melangkah secepat mungkin untuk mencapai stasiun yang tak terlalu jauh dari desa—melewati jalanan desa yang kini jauh lebih gelap dari sebelumnya.

Pikiranku terpaku pada satu hal; pulang. Setelah orang tua itu melakukan ini semua untukku, walau tubuhku terasa berat sekali di setiap langkahnya tapi aku harus pulang.

Nafasku semakin berat seiring jauhnya aku melangkah, meski begitu aku tidak boleh melambat sedikitpun karena waktu yang terbatas.

Saat kakiku mulai mencapai batasnya, sebuah stasiun yang bersinar redup terlihat di depan, membuatku melambat setelah mengetahui itu.

Tidak banyak penumpang yang berhenti di sana, hanya ada petugas yang tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, menunggu waktu kerjanya selesai.

Wajah wanita di mimpi tadi muncul kembali di dalam kepalaku begitu masuk ke dalam kereta dan duduk di kursi yang ada, tanganku menyentuh rambutku sendiri, mencoba mengingat kembali sensasi itu.

“Setelah sekian lama, akhirnya beliau bangun. Mohon kunjungilah beliau, kesempatan seperti ini tidaklah datang pada setiap orang.” Aku terpejam, teringat kembali kata-kata dari pria jas putih itu, mengingat tatapannya itu… tatapan iba yang terasa memuakkan.

Kualihkan keluar jendela, melihat pemandangan yang silih berganti di luar sana, mencoba mengalihkan rasa tidak nyaman yang mengakar di dalam dada selama dua hari ini.

“Tenang saja, aku akan pulang sekarang.” Gumamku entah pada siapa… mungkin hanya ingin mengatakan itu.

Waktu berlalu dan malam semakin tinggi, kereta berhenti di stasiun tujuanku, memaksaku keluar dari sana bersama beberapa orang lainnya.

“Aku pulang.”

Ku melangkah keluar dari kereta, menatap gedung putih yang sudah terlihat jelas dari sini, nafasku melambat karenanya.

Di luar stasiun, kota terlihat sangat terang, orang-orang masih tetap berlalu lalang walau malam semakin tinggi—berjalan menuju tujuan mereka masing-masing, terpaku pada layar di tangan yang menerangi wajah mereka dengan cahayanya itu.

Udara dingin menusuk tubuhku lebih kuat dari sebelumnya, andai saja tadi aku tidak terburu-buru, aku pasti akan kembali dulu dan memakai pakaian lebih hangat dari ini.

Melewati toko buah, terlintas di benakku untuk membawakannya buah. “Tapi aku tidak tahu dia sudah boleh makan atau belum.” Sejenak keraguan muncul, meski begitu tetap membeli beberapa buah yang menurutku dia sukai, membawanya bersamaku menuju gedung rumah sakit.

Cahaya menyilaukan dari rumah sakit membuat mataku menyipit secara refleks saat melangkah masuk ke dalam. Rasa sesak muncul di setiap langkah sebelum terhenti di depan kamarnya.

Tidak bisa membuka pintu di hadapanku ini, rasanya terlalu berat untukku buka. Bagaimana jika dia sedang tertidur, apa aku akan mengganggunya? Pandanganku menyempit hanya dengan memikirkannya.

“Dor!” Seseorang tiba-tiba mendorongku dari belakang membuat pintu kamar terbuka sebelum aku siap membukanya.

Nafasku tercekat menoleh ke arah orang yang menabrakku. Tanpa sadar memperhatikannya terlalu lama. Tidak mungkin dia bisa di sini.

“Kenapa? Kaget melihatku?” dia tertawa kecil.

Entah ekspresi apa yang ditunjukkan wajahku, aku tidak peduli, karena tangannya yang kini mengusap rambutku lembut setelah sekian lama.

“Kamu bahkan membawa buah kesukaanku? Senangnya.” Ia tak henti-hentinya mengusap rambutku. Ada sedikit rasa malu tapi ya sudahlah, lagipula ini terasa nyaman.

Kugenggam tangannya di rambutku, menghentikan belaiannya sejenak. “Apa kamu sudah boleh berjalan-jalan seperti ini, Bu?” Kondisinya benar-benar buruk sebelumnya, apa dia memaksakan diri lagi?

Begitu Ibu menarik diri, ada sedikit rasa kehilangan padaku. “Tidak apa, tidak apa, Ibu sudah sehat kok.”

Tangannya ia letakkan di pipinya, bersikap dramatis—mencoba menghilangkan kekhawatiranku padanya. “Andai saja anakku datang lebih cepat aku pasti sudah bisa makan enak di rumah.”

Tingkahnya ini membuatku tidak bisa berkata-kata. “Maaf.” Rasa geli di benakku berubah jadi senyum kecil karenanya.

“Hehe bercanda kok, ayo masuk.”

Ibu menarikku masuk ke dalam kamarnya yang kini sudah lebih rapi dari terakhir kali aku datang.

Tak terlihat infus dan berbagai alat medis lain yang digunakan untuk memantau daya hidupnya, hanya sebuah kamar kosong yang nyaman untuk ditempati.

Kalau saja dia sudah benar-benar sehat maka ini akan sempurna.

Saat mulutku terasa asam hanya dari memikirkannya, suara Ibu mengambil kesadaranku kembali.

“Kudengar dari dokter, kamu sedang melakukan bakti sosial kan? Apa tak apa, kamu ada di sini?” Ia duduk di pinggir tempat tidur, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. Matanya seolah tidak akan membiarkanku memikirkan hal itu lagi.

Ku duduk di sampingnya, melirik dirinya yang kini tidak lagi diam saat aku mengajaknya bicara. “Tidak apa, jangan terlalu dipikirkan.”

“Kalau begitu, ceritakan pada Ibu, apa saja yang kamu lakukan di sana.”

“Kalau begitu, sepertinya jadwal pulang Ibu akan tertunda lagi lho, apa tidak masalah?”

Ia tersenyum, menatapku dengan penuh minat seperti dahulu saat aku akan mendengarkan kisah yang akan dibacakannya. “Tentu, Ibu akan terus mendengarkan selama yang kamu mau.”

Senyuman kembali muncul di wajahku—membalas senyum yang Ibu tunjukkan saat aku mulai bercerita padanya layaknya ketika dia membacakan buku-buku peninggalan ayah padaku.

Tentang apa saja yang aku lakukan di desa, tentang sambutan tidak ramah mereka saat aku datang bersama rombonganku dan berakhir membuatku jadi seorang diri di sana, tentang bagaimana penduduk desa memperlakukanku dengan baik dan kepala desa yang mendorongku untuk segera pulang.

Sejenak kulupakan tentang kenyataan yang akan segera menanti saat momen singkat yang terasa seperti berkat ini lenyap, menikmati momen ini bersama dengannya…menahan diri ini untuk meluapkan semua yang kurasakan dan merusak kenyamanan ini.

Ruang di sekitar memudar seiring aku bercerita padanya sampai tidak sadar bahwa suster datang ke kamar ini, membawa koper berisi barang-barang Ibu yang dulu kubawa ke sini—bersiap untuk pulang.

Lampu kota menerangi jalan kami menuju rumah. “Allen, apa kamu ingat waktu Ibu membacakan buku ayah padamu? Waktu di mana lampu di seluruh kota mati dan banyak sekali bintang yang terlihat di langit?”

“Aku ingat, kenapa memangnya?”

Suara geli terdengar darinya begitu kusampaikan jawabanku, ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, tidak apa-apa kok, Ibu ingat betapa semangatnya kamu waktu itu, tidak seperti biasanya.”

Ku melirik ke arahnya sengaja berjalan perlahan di sampingku. “Sekarang aku juga suka kok, jadi ayo kita pulang naik mobil, aku ingin cepat-cepat mendengar cerita Ibu lagi.”

“Ibu ingin jalan kaki saja saat ini.”

Ku menghela napas mendengar penolakan yang terus-menerus, walau khawatir tapi sifatnya yang keras kepala ini tidak pernah bisa aku lawan.

Menengadahkan kepala, aku memandang ke arah langit, mengingat kembali momen itu, sebuah momen sederhana yang terasa cukup untuk menemaniku ke mana pun aku pergi.

Di bawah lautan bintang yang tertidur lelap oleh cahaya kota, kata-kata yang dia bacakan padaku kembali menggema untuk kesekian kalinya.

***

Kepada semua bintang yang tersesat ke dunia ini.

Saat kegelapan menelan dunia,

Aku melihat ke sekeliling, dan menemukan ribuan bintang sedang berkumpul.

Bak kawanan domba putih yang berjalan tanpa suara, hanyut dalam keheningan dunia.

Seringkali aku terlena, merasa seperti sedang bermimpi.

Melihat bintang-bintang yang biasanya bersinar paling cantik di langit malam.

Ternyata sedang berada di sini, tersesat sampai ke dekatku.

Kemudian aku berpikir.

Aku ingin menjadi bintang fajar yang menuntun bintang-bintang tersesat itu.

Jadi mohon sampaikan kepada bintang yang tersesat di gelapnya malam bahwa aku akan menerangi jalan kalian untuk kembali pulang.

Fine

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
In The Last Breath
Joyush
Novel
Bronze
Gelinang
Hasan Danakum
Novel
SUNRISE
Kala Hujan
Novel
Perjaka Magrib ~Novel~
Herman Siem
Novel
Bronze
Ini aku, bukan dia
Kartika kurniati
Flash
Bronze
Akar Belati Bunga Warna-Warni
Silvarani
Novel
Gold
Jodoh
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
BULAN YANG TERLEPAS
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Sora dan Keputusannya
Moycha Zia
Novel
Ketika Rumah Bukan Tempat Tinggal
Putri Zulikha
Novel
Bronze
Beranda ( Kitab Puisi Asmaradhana )
RENDRA ABIMANYU
Flash
Sejak Kau Tak Ada
Rahmi Azzura
Novel
Gold
KKPK Marley Days With Me
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Lelaki Tua
Dingu
Novel
Bronze
Iddah : Masa Menunggu Sebelum Cinta Datang
ahmad dicka hudzaifi
Rekomendasi
Cerpen
In The Last Breath
Joyush