Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Impian Masa Depan
4
Suka
3,314
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Seorang perempuan yang mempunyai harapan dan impian yang begitu besar di masa depan, cita-cita dan harapannya adalah menjadi seorang penulis terkenal karena karya-karyanya yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Perempuan itu bernama Puspita. Dia hidup di salah satu kota yang sangat maju. Puspita merupakan anak pertama dari satu bersaudara, dan ia mempunyai adik perempuan yang bernama Lina.

Kehidupan yang sudah pernah Puspita rasakan dari suka maupun duka, bahkan pernah mengalami hambatan untuk mencapai impiannya sendiri yang berujung dengan kegagalan dan kekalahan pada kehidupan yang ia jalani sebelumnya.

Di kala itu ia mengalami kegagalan karena beberapa hambatan. Hingga selama berbulan-bulan, Puspita berhenti di tengah jalan. Ia beristirahat untuk fokus menenangkan batinnya yang hampir saja kacau karena putus asa.

Ketika itu Puspita sedang bersama dengan saudari sepupunya yang bernama Melfa. Ia menceritakan tentang keluh kesahnya kepada Melfa seraya berkata, "Aku sangat bingung."

"Bingung kenapa?" tanya Melfa.

Puspita menjelaskan, "Aku mengalami kegagalan dalam menulis sebuah novel karena beberapa hambatan ... Itu yang membuat diriku sangat down."

"Sabar ... Jangan berputus asa hari ini coba deh kamu bangkit kembali dari kegagalanmu itu ... Bukankah orang-orang hebat dan sukses mengalami sebuah kegagalan dahulu di awal? Sampai mereka bisa menggapai kesuksesannya karena bangkit dari kegagalan dengan berjuang tiada henti," saran Melfa.

Puspita terdiam, pikirannya langsung tercerahkan dengan saran yang diberikan Melfa untuk dirinya.

"Benar juga saran darimu ... Nanti deh aku akan kembali melanjutkan hobi-ku dengan menulis walaupun ini berat bagiku ... Aku akan terus mencoba sampai bisa dan semoga Tuhan ridho dengan impianku," ucap Puspita.

Puspita dan Melfa telah melakukan sebuah perjalanan dengan mengendarai kendaraan bermotor, untuk menenangkan rasa jenuh sekaligus healing sejenak.

Hampir dua jam mereka berdua melakukan healing, di saat itu pula mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, mereka berdua masuk ke dalam rumahnya masing-masing.

Kebetulan rumah Puspita dengan Melfa bertetangga dan jaraknya sangat dekat. Puspita merasa lelah, ia pun langsung beristirahat di kamarnya.

"Sangat melelahkan hari ini," keluhnya.

Kemudian Puspita menjalani kegiatan sehari-harinya di rumah, dari pagi sampai sore ia lakukan selama beberapa bulan.

Suatu ketika di saat Puspita sedang bersantai di dalam kamarnya, ia terbesit untuk melanjutkan hobinya yakni menulis.

"Apa aku harus melanjutkan hobi-ku saja ya? Dari pada jenuh di rumah," gumam Puspita dalam batin.

Puspita langsung teringat dengan beberapa platform penulis yang dahulu pernah ia lakukan dalam penulisan di platform tersebut.

Di saat itu Puspita membuat penulisan yang baru, di platform yang sama.

Bahkan Puspita saling bekerja sama dengan seseorang dalam sebuah project, dan itu membuat Puspita mendapatkan keuntungan.

Dengan hobinya, Puspita sangat tekun dan rajin menulis di beberapa platform. Demi menggapai cita-citanya yang selama itu ia impikan, Puspita berjuang melawan rasa malas ketika sedang tekun-tekunnya dalam menulis karena ada harapan yang ingin ia raih.

Semakin hari, Puspita semakin giat menulis. Ia tak pernah lupa berdoa ketika melakukan suatu dalam usahanya, Puspita berjuang keras memutar otak untuk berpikir ketika menulis.

Ketika Puspita sedang menulis, tiba-tiba saja ia dipanggil oleh Ibunya.

"Puspita ... Sana ke kamar sama adikmu temani dia," panggilan Ibu agar Puspita menemani adiknya.

"Sebentar buk," sahut Puspita.

"Kakak ... Sini," panggil Lina adik daripada Puspita.

Puspita langsung beranjak ke kamar dan menghampiri Lina seraya berkata, "Ada apa sih? Manja."

"Ibuuu ... Lihat kakak," teriak Lina mengadukan kepada sang Ibu.

"Bisanya mengadu saja ... Mau apa kamu? Ganggu kesibukan orang saja," sesal Puspita.

"Temani aku," jawab Lina.

Puspita menahan kesal, dirinya hanya menghela nafas saja. Di saat itu, Puspita menemani adiknya di kamar.

Kemudian Ibu datang menghampiri Puspita dan Lina di dalam kamar, Puspita langsung beranjak pergi dari kamar adiknya kemudian melanjutkan menulis kembali di kamarnya sendiri.

Puspita kegiatannya hanya menulis dan menjadikannya sebuah pekerjaan.

Selama berbulan-bulan ia tak pernah menyerah, sampai pada suatu ketika Puspita di kejutkan dengan banyaknya orang-orang yang menyukai dan mengapresiasi hasil dari tulisannya.

Bahkan karya miliknya, sudah viral dan tersebar luas ke luar negara. Puspita sedikit syok dan tak menyangka dengan perihal tersebut.

Puspita tersungkur lemas kemudian sujud atas rasa syukurnya kepada Tuhan, berkali-kali ia kurang percaya. Perjuangannya tidak mengkhianati hasil, kini jerih payah dan kegagalannya di masa lampau terbayar kontan dengan kesuksesan yang akan ia raih setahap demi setahap.

Cita-cita dan impian yang dahulu ia harapkan terwujud, selama berbulan-bulan ia berjuang.

Puspita terdaftar sebagai penulis internasional terbaik karena karyanya, dan kini ia membuktikan hasil jerih payahnya sehingga kedua orang tua dan keluarga besarnya sangat bangga dengan keberhasilan Puspita.

Puspita terus berjuang untuk masa depannya, setahap demi setahap ia lakukan dengan usaha dan jerih payahnya. Kemunculan rasa malas kembali lagi, mati-matian Puspita melawan rasa malas demi masa depannya.

Selama berbulan-bulan, Puspita semakin tekun menulis. Ia sangat bahagia dengan hobinya itu, ia melakukan hobi sebagai pekerjaannya dan berhasil menggapai suatu impian yang ia cita-citakan.

Karya-karyanya telah terkenal di penjuru dunia, kesuksesan telah ia gapai. Keuntungan yang ia dapatkan untuk kedua orang tuanya dan sebagiannya lagi ia kumpulkan. Puspita memilih hidup sederhana walaupun kesuksesan telah ia raih, penghasilan besar tak membuat dirinya boros.

Puspita tidak pernah berfoya-foya, ia memilih untuk menabung sebagian dari penghasilan menulis. Bertahun-tahun, Puspita menabung dan di rasa tabungannya sangat banyak. Ia mengambil beberapa uang tabungannya untuk keperluan dan kebutuhan. Bahkan ia berniat untuk melakukan janjinya untuk berbagi dan bersedekah.

Puspita mendapatkan tawaran kerja sama dari berbagai pihak, ia kewalahan dan bingung memilih tawaran untuk dirinya. Satu persatu, Puspita menerima tawaran tersebut sampai waktu kontrak project dalam menulis sudah di tentukan.

Semuanya berjalan dengan lancar, Puspita mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Dirinya menangis terharu dengan pencapaian yang sangat banyak, seumur hidupnya ia belum pernah mendapatkan uang sebanyak dari pencapaiannya yang sekarang.

Setelah sudah berakhir masa projectnya, Puspita menerima kembali pihak dari tawaran kerja sama untuknya. Satu persatu, ia jalani bahkan Puspita menekuni dalam bidang penulis dengan senang hati.

Perlahan-lahan, ekonomi keluarga Puspita sangat membaik dan ia telah mewujudkan keinginan orang tuanya. Bahkan Puspita mengajak seluruh keluarga besarnya dan beberapa temannya yang pernah baik kepadanya pergi melaksanakan ibadah umrah bersama.

Puspita tak keberatan untuk hal itu, justru dirinya sangat bahagia karena telah berguna untuk orang lain. Kini Puspita berhasil menjadi seorang penulis sesuai dengan impiannya. Puspita sering kali membantu saudara dan saudarinya yang sedang kesusahan bahkan keluarga besar dan tetangganya ia bantu.

Puspita juga mewujudkan harapannya untuk membantu ekonomi masjid yang ada di sekitar daerah pemukimannya, bahkan sering kali berbagi untuk orang lain.

Ketika kejayaan dan keberhasilan yang ia dapatkan, Puspita tak lupa dengan asal dirinya. Dan ia mematuhi semua perintah Tuhan dan senantiasa mengingat-Nya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Galaunya Seperempat Abad
MonicaLo
Novel
Bronze
LOVELESS
KUMARA
Novel
Bronze
Bulan Bersedih Di Jakarta
Herman Sim
Cerpen
Impian Masa Depan
Erlani Puspita
Novel
Bronze
Tragedi Cinta Jilid 1
Tinta Emas
Novel
Bronze
Memoar
Kurarin Arin
Novel
Bronze
Catatan Harian Para Pembohong
hidayatullah
Novel
Bronze
Sang Penari
Blue Sky
Novel
Primadona
Rizka W. A
Novel
Bronze
TAK TERGANTIKAN
Aquariusang
Novel
Black Hoodie // Wenyeol
Arneta Librian D.
Novel
Fight For Love
Anna Onymus
Cerpen
Bronze
Hujan & Sepatu Harapan
Dialogika Setiawan
Novel
Shagara
Dita
Novel
Hujan dan Kenangan
Kaia Sari
Rekomendasi
Cerpen
Impian Masa Depan
Erlani Puspita
Cerpen
Bronze
Cinta Sampai Surga
Erlani Puspita
Novel
Bronze
Tragedi 98
Erlani Puspita
Cerpen
Perjalanan Hidup
Erlani Puspita
Cerpen
Wanita Si Pahit Lidah
Erlani Puspita
Cerpen
Sunset Gunung Sahara
Erlani Puspita
Cerpen
Misteri Dunia
Erlani Puspita
Cerpen
Tuhan Merestui Kita Bersama Menuju Surga
Erlani Puspita