Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
If There's No You, There's No Me
0
Suka
11
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Happy reading ...



"Kau tidak marah dan kecewa? Dia terus mengalahkanmu belakangan ini!"

Aku mengabaikan perkataan itu dan terus menggores pena di atas kertas di hadapanku. Aku bisa mendengar dengkusan dari orang yang baru saja masuk ke ruanganku tanpa permisi itu. Ia meletakkan secangkir kopi di meja dengan sedikit kasar lalu duduk di sofa yang ada di ruanganku.

"Kak! Aku bicara padamu!"

Seruan kesal itu terdengar lagi darinya yang masih menatapku tajam. Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Sejenak aku menghentikan aktivitasku. Menatapnya sembari terkekeh melihatnya yang mendengkus kesal, sebelum kembali menggores pena di atas kertas yang berserakan di meja.

"Kau tahu jawabannya! Tidak ada yang tidak kecewa saat kalah dalam kompetisi yang selalu diimpikannya."

"Itu aku tahu!" ketusnya. "Maksudku lagi-lagi kalah dari dia yang selalu menjadi sainganmu sejak dulu."

"Siapa yang tidak marah dan kecewa? Tentu aku marah dan kecewa!"

"Tapi kau tidak terlihat seperti itu! Justru yang aku lihat kau itu terlihat bahagia."

Aku melipat satu tanganku di atas meja. Menumpu dagu dengan tangan yang lain. Menatap asisten yang setahun belakangan ini bekerja untukku. Aku mengulum senyum. Aku memang menyuruh para pegawaiku untuk tidak terlalu kaku dan formal padaku hingga ia bisa bicara santai padaku seperti sekarang ini. Tapi tidak cukup dekat untuknya tahu beberapa hal tentang kehidupanku di luar pekerjaan. Terlebih ia bekerja padaku setelah menyelesaikan studinya di luar negeri hingga tidak cukup tahu tentang kehidupanku sebelumnya.

Apa aku bahagia seperti yang ia lihat?

Aku tidak bisa memungkiri jika saat ini aku merasa bahagia. Terlebih dengan yang aku capai saat ini. Setelah jatuh bangun dan kehilangan yang pernah kurasakan, kini aku bisa mencapai salah satu mimpiku.

"Aku memang sedang bahagia!" ujarku jujur.

"Hah? Yang benar saja! Baru saja bilang kau marah dan kecewa, sekarang bilang kau sedang bahagia. Mana yang benar?"

"Aku memang marah dan kecewa mengenai hasil kompetisi itu, tapi bukan berarti aku tidak bisa merasa bahagia untuk hal lainnya," jawabku sembari tersenyum.

Asistenku terdiam! Sepertinya jawabanku cukup menohoknya. "Benar juga! Aku tidak berpikir sampai ke sana. Maafkan aku! Tapi jika boleh tahu, apa yang membuatmu bahagia itu?"

"Jika sudah saatnya, kau akan tahu."

"Selalu seperti ini! Kau tidak kasihan padaku yang penasaran ini? Ah jangan lupakan para pegawai yang lain juga! Kau tahu mereka yang memintaku menanyakan tentang ini padamu. Mereka tidak berani bertanya langsung padamu."

"Jadi alasanmu ke sini karena ini?"

Asistenku terkekeh lalu mengangguk! Tapi beberapa saat kemudian ia menggeleng. "Bukan hanya itu, sebenarnya aku ingin menyerahkan ini juga!" ujarnya sembari berjalan ke arah meja dan menyerahkan map yang ada di tangannya padaku.

Aku membaca lembaran kertas dalam map itu. Aku menghela napas lalu menatapnya. "Aku akan melewatkan yang satu ini. Aku ingin istirahat sejenak. Menikmati waktu liburku dengan tenang."

"Padahal ini salah satu kompetisi yang cukup bergengsi, Kak," ujarnya heran. "Kau yakin?" tanya asistenku sekali lagi.

Aku mengangguk pasti. Sudah cukup dengan kompetisi itu. Kompetisi yang cukup membuatku kecewa pada diriku sendiri karena belum bisa maksimal di babak akhir. Aku ingin beristirahat sejenak sembari menata hatiku yang cukup jenuh dengan semua tentang pekerjaanku saat ini.

"Baiklah! Aku akan mengurusnya!"

"Terima kasih!"

"Aku kembali ke mejaku!" ujarnya lalu berlalu setelah aku memberi anggukan.

***

Tap

Aku menghela napas sesaat pintu tertutup. Meletakkan tas kerjaku di atas meja dekat pintu. Meregangkan tubuhku yang terasa kaku setelah bekerja seharian. Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru kamar. Mendapati tas lain di sofa juga pakaian yang berhamburan di ranjang. Aku menghela napas lagi melihat itu. Meski begitu, aku tetap melangkahkan kakiku ke arah ranjang. Mengambil beberapa potong pakaian yang tergeletak di sana lalu meletakkannya di tempat pakaian kotor di dekat pintu kamar mandi.

Tidak bisakah aku langsung istirahat saja setelah pulang?

Hah!

Tidak ada gunanya mengeluh. Ini sudah resiko yang harus kuterima karena memilih bekerja di bidang ini. Jika ingin istirahat, aku harusnya cepat menyelesaikan urusanku bukannya mengeluh seperti ini. Setelah itu, aku langsung menuju meja rias. Membersihkan wajahku dari debu dan kotoran yang mungkin menempel. Tidak butuh lama melakukannya karena aku tidak memakai riasan apa pun.

Aku ingin segera mandi untuk menyegarkan tubuhku lalu berencana memasak makanan sederhana untuk makan malam lalu pergi tidur. Itulah yang aku rencanakan sebelum sepasang tangan memelukku dari belakang membuatku memekik pelan karena kaget. Seharusnya aku tidak terkejut lagi dengan hal ini, tapi tetap saja tidak biasa bagiku.

Napas hangat menyapu leherku dengan lembut. Bisa kurasakan kecupan kecil di sana. Mengantar geli yang terasa di kulitku.

"Kau terlambat lagi!" bisiknya di telingaku.

"Aku harus berlatih lagi! Aku tidak ingin kalah untuk yang ke sekian kali. Aku ingin kembali seperti dulu, saat gelar juara itu menjadi milikku," jawabku tak kalah berbisik. Aku menahan suaraku yang hampir pecah karena kecewa lagi-lagi datang saat mengingat kekalahanku di kompetisi terakhir yang kuikuti.

Aku bisa merasakan pelukan di tubuhku mengerat. Mataku menatap bayangan kami di cermin. Bibirnya melukis senyum dan maniknya menatapku dengan teduh. Mengantar rasa nyaman di hatiku. Inilah yang aku suka saat ia memelukku. Ia selalu bisa meredakan kegundahan hati dan memberikan ketenangan untukku. Ia tahu apa yang aku butuhkan. Belum lagi tatapan teduh dari manik legamnya membuat buncahan bahagia memenuhi relung hatiku.

"Tidak apa-apa! Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau itu hebat bisa berdiri lagi di podium."

"Tapi bukan podium tertinggi," bantahku lirih.

"Jangan berkecil hati. Kesempatan itu akan datang lagi. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri. Yakini dirimu bisa bangkit lagi. Seperti yang kau ucapkan padaku saat aku terpuruk dulu. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Aku yakin kau bisa."

"Benarkah?"

"Tentu saja!"

Bibirku menyungging senyum setelahnya. "Terima kasih!" ucapku berbisik.

Lagi-lagi aku melihat senyumnya. Senyum yang selalu menjadi candu untuk kulihat, karena dari sanalah aku tahu, aku tidak sendiri di sini. Ada ia yang selalu untukku. Meyakinkan jika aku mampu berdiri sendiri. Meyakinkanku jika ada orang yang menggenggam tanganku di saat aku terpuruk dan memberi dekapan hangat yang membuatku nyaman.

Ia terkekeh mendengar perkataanku. Ia mengusak rambutku pelan. "Bukan hanya kau yang harusnya berterima kasih. Tapi aku juga! Terima kasih karena telah menemaniku. Berjalan beriringan denganmu membuatku tetap bertahan di tengah persaingan yang ada. Terima kasih!" ujarnya.

Tentu saja perkataannya membuat jantungku berdebar dengan kencang. Aku tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Alih-alih menanggapi perkataannya, aku justru tertegun dengan semburat merah menjalar di pipi.

"Jika seperti ini, aku bisa lagi dan lagi jatuh cinta padamu. Kau manis!" ujarnya sembari menatapku dengan lekat. Perkataannya menyadarkanku dari lamunan.

"Jangan menggodaku!" seruku lalu melepaskan pelukannya. "Aku mau mandi," ujarku sebelum berlari kecil ke kamar mandi. Tidak ingin ia lebih lama melihat semburat merah di pipiku. Bisa kudengar kekehan dari bibirnya Ia senang sekali menggodaku.

Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Tapi tidak lama, aku membuka pintu lagi. Bisa kulihat ia mengernyit saat aku membuka pintu. "Apa ada yang tertinggal?" tanyanya.

Aku menggeleng sebagai jawaban lalu tersenyum. "Kau benar!" ujarku. Bisa aku lihat kebingungan di wajahnya mendengar perkataanku. "Benar tentang apa?"

"If there's no you, there's no me!"

Setelah mengatakannya, aku kembali menutup pintu. Menyandarkan tubuhku di sana. Menetralkan debar jantungku yang menggila. Jujur! Aku sendiri tidak menyangka akan mengatakan hal itu. Aku malu! Namun, aku tidak menyesal. Kenyataannya memang seperti itu, aku tidak akan berada di posisiku sekarang jika bukan ia yang berjalan di sisiku. Sama-sama berjuang untuk meraih mimpi kami. Bersama membangun nama masing-masing untuk sebuah pembuktian diri. Jatuh bangun tapi kami tetap bangkit. Tidak peduli akan cemooh dan nyinyiran dari orang-orang saat kami gagal. Pada akhirnya memang kami melakukannya. Membuktikan jika kami bisa bertahan dan meraih mimpi itu di tengah semua yang menghalangi jalan kami.

Bibirku kembali menyungging senyum lagi. Aku bisa meraih mimpi itu. Meski belum sepenuhnya tapi cukup membuatku bangga pada diriku sendiri. Pun dengan dirinya yang juga meraih mimpinya sama sepertiku.

Benar!

"If there is no you, there is no me!"

***

Aku tiba sedikit terlambat hari ini. Saat aku tiba, para pegawaiku sudah bergerombol di depan pintu ruanganku. Seolah ada sesuatu yang menarik di sana. Tidak biasanya! Ada apa?

Aku menepuk bahu asistenku yang juga berdiri di sana. Ia tampak terkejut sebentar sebelum memekik senang. "Akhirnya kau datang!"

Tentu saja itu membuat pegawaiku yang lainnya kompak menoleh dan membuka jalan untukku. "Ada apa? Kenapa kalian berdiri di sini?" tanyaku heran.

Tidak ada yang menjawab, mereka saling pandang tanpa membuka suara. Aku kembali mengalihkan pandanganku pada asistenku. "Ada apa?" tanyaku sekali lagi.

"Itu ... "

Ia menjeda perkataannya, tampak ragu menjawab pertanyaanku. Tapi aku menatapnya dengan tegas. Seolah memberi perintah agar ia bicara.

"Itu ... itu ada rival kakak di dalam. Ia memaksa masuk meski aku dan beberapa pegawai sudah menahannya. Ia bilang ingin bertemu denganmu. Padahal kami sudah bilang kalau kau belum datang!"

Aku menghela napas mendengarnya. Salahku juga tidak bilang padanya, jika aku ada pertemuan di pagi hari. Saat itu aku menyadari pukul sudah menunjukkan hampir lewat dari janji yang ditentukan hingga aku tergesa dan meninggalkan rumah begitu saja tanpa memberi tahunya.

"Tidak apa-apa! Aku akan menemuinya!" jawabku lalu memberi anggukan pada para pegawaiku yang tampak khawatir dengan kedatangannya. Aku segera masuk ke ruanganku. "Kau tidak mengabariku jika kau akan datang ke sini!" ujarku langsung pada orang yang menungguku.

Ia berdiri menghampiriku yang sedang meletakan tas di atas meja. Tanpa aba-aba langsung merangkulku. "Harusnya kau yang bilang padaku lebih dulu jika kau mau pergi!" ujarnya.

Aku melepaskan rangkulannya di pinggangku. Menatapnya penuh sesal! "Aku minta maaf! Aku lupa memberi tahumu."

"Tidak apa-apa! Aku hanya khawatir kau belum sarapan. Jadi aku ke sini membawa sarapan. Aku yakin tadi pagi kau buru-buru hingga tidak sempat sarapan," tukasnya sambil menarikku ke arah sofa. Di sana aku melihat beberapa makanan sudah tersaji di meja.

"Kau tidak harus melakukan ini," gumamku.

"Memang! Tapi aku ingin melakukannya!" ujarnya.

Ia memang selalu seperti ini. Selalu bisa membuatku tersenyum dan selalu merasa dicintai dengan perhatian-perhatian kecil darinya. Aku beruntung orang sepertinya berada di sisiku.

"Terima kasih!"

Mata kami bersitatap dan terpaku. Menyelami momen sederhana yang menyelimuti kami. Memberi senyum satu sama lain.

Bruk

Sampai suara itu menyadarkan kami. Menoleh ke arah sumber suara. Ternyata aku lupa menutup pintu tadi. Di sana di depan pintu, beberapa map sudah berhamburan di lantai. Asistenku sudah dipegang oleh pegawai lainnya. Pun beberapa pegawaiku juga menatap kami dengan mulut menganga. Mungkin syok dengan apa yang mereka lihat.

Ya siapa yang menyangka! Orang yang dianggap rivalku. Sainganku di setiap kompetisi yang kuikuti bisa memperlakukanku seperti seorang kekasih.

Ah ya! Aku lupa! Aku tidak pernah memberi tahu mereka. Tidak pula mengumbar apa aku sudah memiliki orang spesial atau belum.

Mereka tidak pernah tahu, orang yang selama ini mereka anggap rivalku adalah kekasihku. Pasangan hidupku.

Alasanku bahagia? Tentu saja karena ia. Orang yang berhasil menjuarai kompetisi itu. Ia yang berhasil mengalahkanku, bukan orang lain. Aku bangga karena itu, aku pun bahagia karenanya.

End

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Surat Cinta Tanpa Nama
Bentang Pustaka
Cerpen
If There's No You, There's No Me
Asihdias
Novel
Bronze
Saga dan Senja
Kartika kurniati
Novel
The Ingredients of Happiness
Steffi Adelin
Novel
URANUS
Cahaya Aisyah
Cerpen
Alamatnya salah Han..
Amayearr
Novel
Bronze
Jungkir Balik Dunia Anna
inna
Novel
Gold
Happy Birthd-die
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Ze & Zi
nuna sun
Novel
Bronze
GADIS TOMBOY SEBELAH
DAVIT RIYANTO
Flash
CERITA CINTA DARI SMA KU
Mu Xuerong
Cerpen
Arkan & Agatha (Love Story)
Nasyafaav
Cerpen
Bronze
MATAHARI BIRU DI LANGIT LEBARAN
Sri Wintala Achmad
Novel
Kapiten Sekolah
budidanasariputra
Cerpen
Bronze
Perayaan Mati Rasa
Sleplesswriter
Rekomendasi
Cerpen
If There's No You, There's No Me
Asihdias
Flash
Maafkan Aku, Tuhan!
Asihdias
Novel
Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang
Asihdias
Cerpen
Ketika Kunti Punya Idol
Asihdias