Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Icak-icak
2
Suka
20
Dibaca

Aku bukan seorang komedian. Aku hanya seorang karyawan yang kebetulan mempunyai beberapa bawahan. Tidak banyak, hanya lima orang. Tapi lima orang itu rata-rata mempunyai anak buah setidaknya tiga puluh orang. Ah... aku cukup beruntung punya bawahan sedikit, jadi tidak terlalu repot mengaturnya. 

Setiap kali aku berbicara, entah kenapa semua orang merasa terhibur dengan apa yang aku bicarakan. Padahal aku tidak berniat melucu. Apa memang aku berbakat menjadi komedian? 

Seperti dulu, aku melihat proses panel sensori dari produk yang kami jual. Masuklah beberapa orang dengan wajah yang menurutku kurang menarik. Mereka duduk dengan kepala menunduk.  

Dengan tersenyum, aku berbicara pada fasilitator, “Kalau nyari peserta sensori jangan orang yang laparan, nanti isinya cuma ‘enak’ atau ‘enak banget’.” 

Semua orang tertawa, aku tak menyangka mendapatkan respons seperti itu. 

Aku juga merasa mereka senang, setiap kali kuberikan pendapat di luar urusan pekerjaan. Seperti saat salah satu bawahanku gagal berinvestasi, dia mengalami kerugian yang cukup besar. 

Aku sampaikan pendapatku di depan banyak orang sembari tertawa. “Kamu bodoh sekali.” 

Semua orang tersenyum mengangguk, ada beberapa orang yang tertawa saat aku bicara ‘bodoh’, dan ketika aku mengulangi kata itu lagi, mereka kembali tertawa. Aku merasa bermandikan rasa bahagia, lebih dari rasa senang ketika aku mencapai target penjualan. 

Mereka juga haus akan kata-kata mutiaraku, beberapa kali aku mengisi kelas pelatihan, selalu saja pertanyaan yang aku jawab sekitar kiat-kiat sukses menjadi Head Sales sepertiku. Ya, aku adalah seorang kepala tenaga penjual yang bertanggung jawab langsung pada pemilik perusahaan. 

Sejujurnya aku bosan menjawab pertanyaan receh seperti itu, pasti jawabannya hanya sekitar: tekun, pantang menyerah, bla-bla-bla, atau setidaknya aku memasukkan riwayat hidupku dengan bumbu-bumbu agar tidak terlalu hambar rasanya. Padahal aku merasa apa yang aku berikan tak akan berpengaruh banyak pada hidup mereka. Pasti mereka hanya senang mendengarkanku bicara.

Dahulu, ketika aku merintis semuanya, aku banyak mengikuti kelas pelatihannamun tak pernah ada yang benar-benar dapat diterapkan pada jalur karierku. Aku hanya mengangguk dan tetap saja menjalani semua dengan kepalaku sendiri. Para pembicara itu hanya bicara soal pengalaman, yang pasti beda kasus maka akan beda jalan keluarnya. 

Dan sekarang aku ada di posisi itu, semua ucapan yang keluar dari mulutku adalah suatu kebenaran dan tidak ada yang menyanggahnya. Mereka belum sepadan untuk berdebat tentang pencapaianku yang sudah terlalu banyak ini. 

Aku merasa sudah saatnya menjadi seorang motivator. 

Seorang komedian dan motivator, tak pernah terbayangkan dalam hidupku bisa menjadi seperti ini.  

Aku terus menceritakan hobiku pada semua bawahanku. Agaknya mereka sudah banyak tahu. Aku membagikan hal ini agar dapat menjadi panduan ketika mereka sukses nanti, dan mereka tidak hilang arah menentukan kegemaran di saat waktu luang. Salah satunya adalah liburan ke luar negeri. Semua orang menyukainya. 

Aku baru saja bertanya pada kelima kaki tanganku, perkara negara tujuan untuk liburan musim panas nanti?  

Mereka saling tatap dan menggelengkan kepala, aku juga turut menggelengkan kepala, “Sudah pernah ada yang ke luar negeri?” Mereka kompak kembali menggelengkan kepala. Aku sangat yakin, jika mereka saja belum pernah, apalagi bawahan mereka. 

Maka dari itu, aku senang sekali membagikan panduan liburan pada lima orang bawahanku beserta ratusan bawahan mereka. 

Di suatu momen briefing bulanan kami di aula gedung, aku menjelaskan satu per satu dari dua puluh negara yang pernah aku kunjungi selama hidupku yang sudah enam puluh tahun ini. Aku berbicara secara detail dan memberikan peringkat negara mana saja yang harus mereka kunjungi, setidaknya sekali seumur hidup. 

Aku bertanya dengan lantang pada mereka. Siapa yang mau ke luar negeri? Semua orang mengangkat tangan.  

Aku bertanya lagi. Siapa yang mampu ke luar negeri? Tak ada satu tangan pun ke udara.  

Aku tertawa, mereka juga sama, bahkan mereka lebih meriah hingga terpingkal. Ratusan orang itu tidak terlihat memiliki beban hidup. 

Lihatlah, bagaimana aku mampu membuat mereka bahagia! Dan aku menjadi bagian dari tawa mereka. 

Aku juga sangat menyukai antusiasme mereka. Seperti dulu ketika di kantor aku membawa sesuatu.  

“Saya tadi nemenin istri beli kalung. Eh, malah tidak sengaja beli kotak begini,” ucapku pada kelima bawahanku. 

Aku lihat wajah mereka begitu senang memperhatikan barang bawaanku, sebuah kotak yang berisikan banyak logam mulia.  

Aku benar-benar merasa begitu diberkahi dapat membuat orang bahagia. Terkadang aku merasa kehadiranku benar-benar seperti cahaya di tengah kehidupan mereka. 

Di kantor ini pun aku tak pernah merasakan kesepian. Aku tak pernah meminta anak buahku untuk menemaniku, tapi mereka selalu mengiringiku. Bahkan aku harus mengusir mereka untuk mendapatkan waktu sendiri. Sepertinya memang mereka sangat nyaman berada di dekatku.  

Aku senang dapat menjadi bagian dari hidup mereka, menjadi pemberi bahagia, pemberi kiat sukses, memberikan mereka rasa nyaman, dan memberitahukan mereka nilai satu kotak emas itu lebih dari kendaraan operasional yang mereka terima. 

Dan aku memang bukan seorang komedian. Aku hanya kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua orang putri. Anggota keluarga cuma sedikit, tapi aku tak mampu membuat mereka tersenyum ketika aku membuat senang semua orang di kantor. Hingar-bingar bawahanku tak terbawa sampai ke rumah. Di rumah yang sepi ini, hening adalah sebuah hal normal. 

“Kakak... kamu itu sudah besar. Makannya pelan-pelan saja, jangan kayak orang laparan.” 

Tak ada yang tertawa seperti di kantor, bahkan kekehan si bontot pun tidak terdengar. Padahal aku bicara dengan nada yang sama seperti waktu itu, tapi tak ada yang memperhatikanku.

“Pasti dia akan berlatih tidak jadi laparan.”   

Suatu hari aku mendapatkan telepon dari guru yang menjelaskan anak bontotku ketahuan menyontek pada saat ujian kenaikan kelas dan ia harus mengikuti remedial. 

Aku menarik napas pelan dan memanggil si bontot. Dengan lembut aku bilang, “Bodoh.” 

Dia diam menatapku dengan matanya memerah dan badannya yang bergetar. 

Ketika aku melihat ke arah anak sulungku yang tak ada aura bahagianya, si bontot berlari meninggalkanku sendiri di ruang keluarga.

Sendiri adalah hal yang tak pernah kualami di kantor.

“Bukannya itu perkataan yang normal untuk membuat orang tertawa? Pasti ada yang salah dengan selera humor anakku.” 

Dari mereka berdua, tak ada yang meminta kiat-kiat sukses dariku. Mereka sepertinya memang mau menciptakan jalan sukses sendiri. Mereka tak mau menjadi seorang tenaga penjual sepertiku yang sukses menjadi ujung tombak perusahaan. Mereka lebih banyak berbicara pada istriku dan meminta pendapatnya sebagai ibu rumah tangga. Ya, ibu rumah tangga juga baik, meski jenjang kariernya tidak akan setinggiku. 

Di rumah, aku tak pernah berbagi cerita mengenai liburanku ke luar negeri. Sebetulnya semua liburan itu adalah pilihan mereka—anak-anakku dan ibunya. Kami selalu mengeluarkan negara pilihan yang hendak kami kunjungi mendekati liburan. Dan pilihanku tak pernah menjadi tujuan. Pilihan mereka hanyalah pilihan pelancong amatir dan mereka tidak akan cocok dengan pilihanku yang dewasa dan menantang. 

Emas yang membuat binar mata karyawanku, aku serahkan semuanya pada istriku. Ia juga senang melihat emas sebanyak itu.  

“Hah, dasar istriku, seperti tak pernah merasakan hidup bahagia.” 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Hidupmu
Yukina Gelia
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh
Munkhayati
Cerpen
Bronze
Tumbler Yang Tertukar
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Sarah Choice
wia ukhrowia
Cerpen
Sobari
Soerja HR Hezra
Cerpen
Cinta yang Tersisa
SURIYANA
Cerpen
Bronze
Malu
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Sirkus Parlemen
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Misi Minggat- Gagal total
Novita Ledo
Cerpen
Waktu yang Tak Pernah Padam
Meliawati
Cerpen
Bronze
Semesta Cinta Sheila
Bisma Lucky Narendra
Cerpen
Bronze
Bintang Kecil di Jendela
Novita Ledo
Cerpen
Maaf, aku terlambat tahu.
Fianaaa
Cerpen
Bronze
Ulang Lahir
Shinta Larasati Hardjono
Rekomendasi
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes