Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Ibuku Bukan Wanita Malam
0
Suka
1,836
Dibaca

Fajar masih enggan menyapa, namun suara azan Subuh telah memecah keheningan yang dingin, merayapi setiap sudut rumah. Di antara selimut mimpi yang tebal, Marina Fardina bergerak gelisah. Bukan dingin yang menusuk tulangnya, melainkan bayangan yang terus menari di pelupuk matanya—bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Sambil menarik napas dalam, ia bangkit dari sisi Fariz, suaminya, yang masih terlelap. Sebuah kewajiban suci memanggilnya, juga sebuah harapan kecil yang selalu ia simpan: mendekatkan diri pada Kiky.

Ia berjalan hati-hati menapaki lantai kayu yang terasa dingin, aroma kopi pagi belum menyebar, hanya semilir wangi melati yang samar dari halaman belakang. Tujuan Marina adalah kamar Kiky, anak sulung Fariz dari pernikahan sebelumnya. Setiap langkahnya terasa berat, diiringi degupan jantung yang tak beraturan. Hubungan mereka, selama lima tahun terakhir, bak gumpalan benang kusut yang tak kunjung terurai. Kiky, dengan segala amarah dan kekecewaannya atas kepergian ibu kandungnya, tak pernah sekalipun menerima kehadiran Marina.

Marina mengetuk pintu kamar Kiky pelan, seraya berdeham, mencoba mengumpulkan keberanian yang kerap kali luruh di hadapan remaja berandal tersebut. "Kiky... Nak, bangunlah. Sudah Subuh," ucapnya lembut, suaranya seperti embusan angin pagi yang malu-malu. Tak ada respons. Hanya keheningan yang lebih pekat, diselingi dengkuran halus dari dalam kamar.

Ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Kiky... waktu shalat Subuh tidak lama lagi, Nak."

Tiba-tiba, suara kasur berderit, lalu pintu terbuka kasar, menghentak daunnya membentur dinding dengan keras. Sosok Kiky muncul di ambang pintu, rambutnya acak-acakan, matanya merah dan bengkak seperti orang y...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Ibuku Bukan Wanita Malam
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
Manusia Dan Mesin
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
MENUJU JALAN SETAPAK
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Bronze
Harapan dari Sepiring Nasi
Saifoel Hakim
Cerpen
Bronze
Selayaknya Ampas Kopi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Bronze
Satu Kali Lagi
Jasma Ryadi
Cerpen
Melukis Masa (Yuu)
Godok
Cerpen
Meletus Sebelum Januari
Muhammad Irsyad
Cerpen
Cinta yang Menenggelamkan
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Si Pendidikan Negeri Sipil Bag-1
spacekantor
Cerpen
Bronze
Berhitung
hyu
Cerpen
KARBAK 85
Sky Melankolia
Cerpen
Bronze
Masakan Ibu
Drezzlle Alexandar
Cerpen
Bronze
Pertemuan dengan Takdir
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pahlawan Tanpa Tanda Apa-apa
Wina Alda
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Ibuku Bukan Wanita Malam
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
KAU KHIANATI AKU, KUBATALKAN PERNIKAHAN
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
BERLIAN YANG TERCAMPAK
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
KASIH TERPAUT DI DERMAGA CINTA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
RAHIM TERLARANG
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
PAPA UNTUK SONI DAN RANIA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
Lukisan Luka Ciwidey
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
PATAH HATI DI UJUNG ADAT
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
RENDANG UNTUK IBU MERTUA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
JALAN HIDAYAH DI BALIK SENJA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
TERTAWAN SANG KETOS
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
PELANGI USAI BADAI
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
BERKHIANAT DEMI SI BULE
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
RANTAU RAMADHAN PERTAMA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
JODOHKU, IBU SATU ANAK
ari prasetyaningrum