Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
IBU MELAHIRKAN TUAN
1
Suka
25
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tidak pernah terfikirkan dalam kehidupanku akan kejadian seperti ini. Menjalani hidup seolah-olah seperti orang yang sudah mati. Usiaku 58 tahun. Dua tahun lagi, pada usiaku ke 60 aku akan pensiun sebagai guru sekolah dasar.

Waktu demi waktu telah berlalu. Tapi hidupku seakan berhenti di satu waktu, ketika aku masih berusia 33 tahun. Dunia ku ikut pergi bersamanya. Dia yang sangat kucintai seumur hidupku. Dia membawa separuh jiwaku. Dan untuk waktu yang sangat lama ini, aku bisa bertahan dengan separuh jiwa yang dia tinggalkan.

Separuh jiwaku kini sudah berusia 30 tahun. Aku membesarkannya seorang diri, menyusun kembali retakan hati yang sudah berkeping-keping hancur karena ditinggal mati. Saat itu dia masih sangat kecil untuk mengerti tentang kematian. Dia tidak paham ayahnya sudah meninggalkan kami berdua untuk selamanya. Anak seusianya tidak tahu apa artinya kehilangan. Di pikirannya hanya bermain, tapi di sisi lain, dia juga mencari sosok yang selalu bermain dengannya.

Kadang dia menangis memanggil-manggil ayahnya. Dia juga sering bertanya, "Ayah pergi ke mana. Kenapa tidak pulang-pulang?"

Saat itu, kenapa ayah tidur tidak bangun-bangun? Kenapa saat tidur ayah dimandikan? Kenapa mama menangis? Kenapa orang-orang datang ke rumah dan berdoa? Kenapa ayah memakai baju tetapi tidak seperti baju? Ayah dililit kain putih. Kenapa ayah dibawa pergi padahal dia sedang tertidur? Kenapa?

Dia bertanya terlalu sering sampai bosan. Aku menjawab sebisaku. Walaupun dia tidak mengerti, aku berusaha untuk menjelaskan semampuku. Namun, perlahan-lahan dia tahu karena aku selalu membawanya ke makam ayahnya.

"Mama ... kalau kita berdoa, ayah dengar suara kita kan?" Kepalanya menoleh ke arahku.

"Tentu saja, sayang. Ayah dengar kalau kita datang ke sini mendoakannya." Aku membelai rambut anakku, Aiman.

"Aiman kangen ayah, Ma. Tahun ini Aiman sudah 9 tahun. Kangen saat ayah ngerayain ulang tahun Aiman waktu masih TK dulu." Ia mengusap bulir air mata yang jatuh di pipinya.

"Kalau Ayah masih ada, pasti kita masih bisa merayakan ulang tahun bareng-bareng."

Kami sudah melewatinya bersama-sama. Seiring bertambahnya usia Aiman, aku semakin protektif. Semestinya aku tidak harus memperlakukannya istimewa layaknya seorang tuan.

Aiman tidak pernah keluar dari rumah. Baik bekerja atau mencari kesibukan lain. Dia hanya makan, tidur dan bermain game di kamarnya. Di usianya yang sekarang, aku merasa seakan gagal mendidiknya. Aku telah gagal menjadi seorang ibu

Saat membuka kamarnya, aku melihat sekeliling, lemarinya terbuka juga komputernya yang masih hidup dan baju kotor yang berserakan. Dia terlelap diatas kasur hanya memakai celana boxer. Hari sudah siang, tapi dia belum juga bangun. Aku masuk dan mengambil pakaian kotor untuk dicuci.

Saat sedang memasak, Aiman datang dengan keadaan yang sangat berantakan.

"Masak apa Ma? Laper nih," tanyanya.

"Ikan goreng sambal, kesukaan anak mama," jawabku sekenanya.

Selesai aku memasak dan Aiman juga sudah selesai mandi. Dia langsung datang menghampiri meja makan dan menyantap masakanku.

Aku memandangi wajahnya. Sebenarnya dari mana semua ini dimulai?

Aku teringat, sewaktu dia kecil. Tidak pernah ku benarkan dia mengerjakan semuanya seorang diri. Kalau tali sepatunya lepas, akan aku ikatkan. Saat dia lupa mengerjakan tugas dari sekolah, aku akan begadang untuk mengerjakannya. Kalau dia melakukan kesalahan aku tak pernah memarahinya. Aku tak ingin dia hidup dengan penuh tekanan. Jadi aku berpikir, "Nanti kalau sudah dewasa Aiman pasti mudah untuk melakukan apapun".

Tapi ternyata salah. Hari demi hari berlalu. Sampai aku sadar dia bukan lagi anak kecil. Setelah lulus kuliah dia mencoba untuk bekerja. Awalnya baik-baik saja, tapi siapa sangka dia tidak terbiasa. Aku selalu membantunya melakukan apapun. Dia gagap didunia kerja. Dia marah dan protes. Dia merasa diperlakuan layaknya seorang pembantu. Disuruh kesana kemari, kalau ada masalah dia yang dimarahi. Dan hanya lima bulan dia bisa bertahan.

Mendengar keluh kesahnya, akupun menyuruhnya untuk resign. Aku bilang ke dia, "Kalau butuh uang, mama ada. Mau apapun, mama bisa belikan," ucapku menenangkannya. Mungkin memang belum saatnya dia bekerja.

Namun aku salah. Aku sadar semuanya sudah terlambat. Bahkan sampai detik ini dia tetap kukuh dengan pendiriannya, selagi aku masih hidup, masih ada yang diandalkannya. Hal remeh yang pernah aku suruh untuk dia lakukan seperti membuang sampah atau mencuci piring saat selesai makan pun, dia tak mau.

"Kapan kamu mulai cari kerja lagi?" tanyaku memulai percakapan.

"APAAN SIH, MA? NGAPAIN NANYA KAYAK GITU?" dia membentakku. Seakan-akan malu karena dia sudah menganggur cukup lama.

"Mama cuma tanya," jawabku gugup.

"BIKIN GA SELERA AJA!" Dia membanting piringnya yang masih ada nasi dan juga lauk ke lantai.

Remahan nasi berserakan begitu juga pecahan piring dan air mataku hanya bisa mengalir diatas pipi yang sudah keriput ini. Sakit rasanya anak yang kusayangi membentakku, hanya karena pertanyaan sepele. Seandainya dia tidak ku manja. Mungkin dia tidak akan jadi seperti ini.

Selesai semua kubersihkan. Aku masuk ke kamar mandi. Ku basahi seluruh tubuhku. Dalam guyuran air aku hanya bisa menangis. Sampai kapan Aiman akan jadi seperti ini. Sungguh aku tak sanggup membiarkan dia hidup dalam kekosongan. Seandainya suamiku masih hidup, mungkin Aiman tidak akan jadi begini. Bisa saja dia ini terjadi karena kurangnya sosok ayah didalam dirinya. Aku gagal, aku gagal.

Bugh!

Aku terpeleset di kamar mandi. Kepalaku terhempas duluan menyentuh lantai keramik.

"Arrgghhh ..." jeritku sekuat tenaga.

Air shower mengalir deras diatas tubuhku. Jantungku berdegub kencang. Aku merintih kesakitan.

Tiada siapa yang bisa menyangka. Dalam waktu yang singkat, aku mengalami stroke seluruh badan. Aku tidak bisa lagi bicara, tangan bahkan kakiku tidak bisa lagi aku gerakkan. Aku lumpuh total. Di situasi ini, adikku dari kampung datang merawatku, tapi sampai kapan aku bergantung padanya. Memang keluargaku cuma dia seorang. Aku semakin bersalah, aku tidak bisa apa-apa. Dua minggu sudah aku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Hari ini aku pulang kerumah.

Ketika memasuki rumah, dadaku rasanya sangat sesak sekali. Entahlah, aku hanya bisa bersedih. Bagaimana keadaan anakku sekarang. Lama sudah aku tidak melihat wajahnya. Disaat seperti ini, aku cuma memikirkan dia. Apa makannya teratur, apa dia punya baju bersih untuk dipakainya.

Saat aku dirawat dia tidak pernah datang menjenguk. Menyakitkan memang. Kata Mita dia selalu mengurung diri dikamarnya. Saat pulang mengambil barang kerumah mereka tidak pernah berjumpa. Piring kotor banyak dan sampah sisa makanan ditaruh sembarangan. Mita membersihkan rumah dan mencuci semuanya, baik piring dan juga baju kotor Aiman.

Aku terbaring di atas kasurku. Sudah tidak bisa lagi aku menikmati hidup ini. Sayup-sayup aku mendengar suara pertengkaran Mita dan juga Aiman.

"Kenapa kau ga pernah nengokin mama kau di rumah sakit?" suaranya pelan, tapi aku bisa dengar. Logat Medannya terasa sekali saat dia bicara. Sepertinya mereka akan berdebat.

"Aku malas. Mama tu jahat. Dia terlalu menekan aku untuk kerja. Emang pantes dia stroke!" Aiman membentak Mita dengan suara tinggi. Mendengar itu, air mataku berdesakan keluar. Sakit sekali.

PLAK! Suara tamparan sangat keras. Mungkin saja Mita menampar pipi Aiman.

"ANAK KURANG AJAR!"

"SALAH AKU EMANGNYA, KALAU DIA STROKE? LUMPUH? SALAH AKU? DIA SALAHIN AJA TUHAN, KAN TUHAN YANG UDAH BIKIN DIA KAYAK GITU! NGAREPIN APASIH SAMA AKU?AKU GAK BISA APA-APA! YANG AKU BUTUHKAN ITU DUIT ... DIA SAKIT AKU JADI SUSAH MAU MAKAN, BAJUKU KOTOR SEMUA GAK ADA YANG NYUCIIN!"

"MAKANYA KAU KERJA LA! MAMA KAU ITU UDAH TUA. SAMPAI KAPAN KAU NGANDELIN DIA? DIA SAKIT JUGA KARENA KAU, ANAK BIADAP! GAK ADA OTAK KAU MEMANG,"

Pertengkaran mereka semakin hebat. Bahkan suara Mita juga serak bercampur air mata. Aku bisa merasakan dia sedang menangis. Ingin rasanya aku menjerit, menghentikan mereka yang sedang adu mulut. Hancur sudah hatiku mendengar Aiman bicara selantang itu.

Mita, adikku. Maafkan kakak yang gagal mendidik anak. Maafkan kakak juga menyusahkan mu sekarang. Maafkan kakak Mita.

Pintu rumah di banting. Aiman sepertinya keluar. Aku mendengar dia pergi naik motor. Kemana anak itu pergi. Dia tidak punya siapa-siapa untuk dituju. Aiman ... pulang nak. Jangan pergi.

Mita menangis disampingku. Dia merasa kasihan padaku.

"Kak Lyn ... kak ... aku gak tahan sama sikap Aiman lho kak ..." keluhnya padaku.

Apa yang harus kulakukan. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sungguh menyesal. Menyesal sekali. Aku terlalu menyayanginya. Yang kupandangi saat tertidur bukan lagi Aiman yang berusia 5 tahun, bukan. Sungguh aku keliru. Kasih sayang tanpa batas yang aku berikan bukan hal yang baik. Aku tidak bisa melindunginya, aku yang membuat dia menjadi beracun.

Kami menangis bersama-sama. Dalam waktu yang cukup lama, ponsel Mita berdering. Itu nomor telepon dari Aiman. Mita pun mengangkat panggilan tersebut.

Sungguh kabar yang menyakitkan. Itu ternyata telepon dari polisi. Anakku Aiman tertabrak mobil sedan yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Dia meninggal di tempat kejadian.

Tangis Mita pecah, meraung memanggil nama keponakannya. Namun di atas ranjang ini, suaraku terkunci di tenggorokan, menjelma menjadi sesak yang membakar dada. Aku tidak hanya kehilangan Aiman. Aku kehilangan dia di saat kata terakhir yang dilemparkannya kepadaku adalah bentakan penuh amarah. Cinta buta yang kupelihara selama dua puluh lima tahun ini ternyata bukan pelindung, melainkan tali yang menjerat leher anakku sendiri hingga dia melangkah ke luar rumah dengan hati yang ringkih dan penuh kebencian.

​Pandanganku mengabur, menatap langit-langit kamar yang sunyi. Kini, "Tuan" kecil yang kulahirkan telah pergi menemui ayahnya, meninggalkan aku yang lumpuh dalam penyesalan yang abadi. Aku yang mengikat tali sepatunya, aku yang mengerjakan tugas-tugasnya, dan aku pula yang perlahan-lahan menuntunnya menuju kehancuran. Air mataku terus mengalir tanpa bisa kuusap, meratapi sebuah kenyataan pahit: aku adalah seorang ibu yang berhasil merawat ego anaknya, tetapi gagal mendidiknya menjadi seorang manusia.

Aiman anakku ... Aiman ... maafkan mama nak, maafkan mama.

Tamat

Hancur banget nulis bab ini... 😭 Menurut kalian, apakah kasih sayang tanpa batas seorang Ibu itu anugerah atau malah jadi racun buat masa depan anak? (jawab di kolom komentar beibb)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Hujan yang Dibenci
Rii Hanyiezd
Novel
Sang Multitalenta : Tahun Pertama
M. Ferdiansyah
Novel
Diskoneksi
Lovaerina
Novel
Batu Nisan Untuk Paman
Topan We
Novel
KALI INI AKU
ericawidiani
Skrip Film
Merayan Dibalik Jemari
Diah Pitaloka
Skrip Film
Bulan Tak Pernah Berdusta (Sebuah Skenario Film)
Imajinasiku
Skrip Film
Penghakiman Fani
Dixon Arsyad Putra
Flash
Di Balik Jari-jari
Martha Z. ElKutuby
Cerpen
IBU MELAHIRKAN TUAN
Icha Sinaga
Novel
Untuk Apa Aku Bertahan??
Aisyahhh
Skrip Film
Kondangan Yuk!
Herman Siem
Flash
LABU
Mahmud
Novel
Beautiful Gadis
Anggia Novkania
Novel
Miserably 30
Angela Loewi
Rekomendasi
Cerpen
IBU MELAHIRKAN TUAN
Icha Sinaga
Cerpen
MATA DARI IBU
Icha Sinaga