Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ting!
Sebuah notifikasi masuk di ponselku. Aku yang sedang merapikan rambut di depan cermin kamar kos sontak menoleh. Kulihat nama Ovi, adikku yang masih duduk di bangku SMA, tertera sebagai pengirim pesan.
“Kak Ola, ibu mulai lagi, deh. Apa nggak malu didengar orang? Tiap hari ada aja yang salah, heran. Apa nggak bosan ngoceh terus? Aku dengernya aja bosan. Nah, dengar sendiri ocehannya,” tulis Ovi.
Aku memencet pesan suara yang dikirimkannya. Rekaman suara Ibu yang sedang marah-marah pun terdengar.
“Sudah pagi, nggak ada yang mau bergerak! Kalau bukan aku, nggak akan terhidang sarapan atau sekadar piring bersih!”
“Raja sama ratu semua penghuni rumah ini! Nggak ada yang boleh masuk dapur!” lanjutnya. Terdengar suara kuali besi beradu dengan spatula. “Sebutir nasi aja nggak mateng kalau bukan aku!”
“Bantulah ibu,” balasku.
“Aku mau mandi. Kesiangan ke sekolah kalau bantuin Ibu dulu. Aku udah pernah coba bantu, tetap saja kena oceh. Katanya nasiku keras, lauk nggak ada rasa, apalah. Ya mending aku nggak usah bantu.”
Aku terdiam melihat ke layar, bingung mau membalas apa. Aku pun dulu pernah di posisi adikku, serba salah. Jadi, aku tidak mau menasihati apa pun, karena aku pun bingung menghadapi Ibu waktu itu.
Kata-kata Ibu masih sama, seperti template yang dipakai berulang-ulang. Entahlah, aku tidak mengerti mengapa ibuku pemarah, tidak seperti ibu-ibu temanku atau ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalku.
Sedikit kesalahan saja, ibuku langsung meledak. Jika pun tak ada yang salah hari ini, ia akan mengungkit kesalahan yang mungkin sudah satu dekade berlalu sebagai topiknya.
Meski mulutnya tak pernah diam untuk mengoceh, ia tetap melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Namun, tetap saja rasanya setiap apa yang dilakukannya terasa seperti utang untukku.
“Udah, ah! Aku mau berangkat. Capek lama-lama di rumah.” Tulis Ovi.
Aku mematikan ponsel, memasukkannya ke dalam tas, lalu berangkat kerja. Jarak kos dan tempat kerjaku sangat dekat, hanya sekitar lima menit berjalan kaki.
Aku sengaja berangkat lebih awal, bukan karena aku rajin, tetapi karena ingin sarapan dulu di warung nasi langgananku yang berada dekat kantor. Makanannya murah, cocok dengan kantong anak kos sepertiku.
Waktu seakan berjalan cepat. Aku masuk ke kantor bersamaan dengan beberapa rekanku. Pekerjaan pun dimulai seperti biasa.
Aku duduk di depan komputer, mulai mengerjakan pekerjaan administrasi bagian finance seperti memeriksa invoice, menginput data transaksi, dan merapikan berkas-berkas pembayaran.
Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan dan bersandar sejenak di kursi. Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar, sebuah pesan dari Ovi masuk lagi.
“Aku dimarahin Ibu. Aku lupa angkat jemuran karena ketiduran, basah semua baju,” tulisnya. Aku tidak mengetik apa pun untuk membalasnya, hanya membaca, lalu beralih ke pesan berikutnya.
“Ibu bilang aku nggak berguna, di rumah cuma makan tidur aja. Aku juga nggak tahu, namanya juga ketiduran. Aku capek habis pulang sekolah, mana tadi habis olahraga buat ambil nilai,” keluhnya.
“Ibu juga lihat aku mukanya kayak benci gitu! Bikin nggak betah aku di rumah, semua serba salah, capek aku!” tambahnya.
Aku hanya membaca pesan-pesan itu dan menanggapinya menggunakan emoticon, sekadar memvalidasi perasaannya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, sementara saat berada di posisinya, aku juga merasakan hal yang sama.
Lalu, bayangan itu muncul lagi, berputar di kepala seperti kaset rusak. Bagaimana teriakan Ibu, bagaimana tatapannya, dan bagaimana kata-katanya membuatku merasa tidak disayang. Aku pernah berpikir, sebenarnya aku ini anak kandung atau bukan?
Tidak lama, masuk lagi sebuah pesan dari Ovi. Kali ini berupa pesan suara. Aku segera membukanya, meski rasanya aku hanya akan mendengar kalimat yang sudah hampir kuhafal.
“Seumur hidup cuma habis buat ngurusin kalian aja! Dari kecil sampai sekarang, nggak ada perubahan. Bosan pula hidup cuma buat gini-gini aja. Capek nggak ada habisnya.”
“Masih lanjut, pusing banget aku!” tulisnya.
“Sampai-sampai nggak keurus lagi sama diri sendiri, mikirin kalian-kalian aja. Semua habis untuk kalian, tapi ternyata ... kalian nggak punya pikiran!”
“Sama kayak ayahnya! Nggak mikir dan cuma buat susah aja. Nurun seratus persen ke anaknya sifatnya, plek ketiplek, nggak ada buangan!”
“Nggak mau nurut omonganku dulu, makanya gini, hidup susah di hari tua.”
Pembicaraan mulai bergeser kepada Ayah dan mengungkit masalah yang sudah lama berlalu. Entah kesalahan apa yang pernah Ayah lakukan kepada Ibu dulu. Aku pun mungkin sudah ratusan kali mendengar kalimat-kalimat itu.
“Dulu masih muda, masih gagah, nggak mau repot-repot sampai harta sendiri terbuang. Habis, nggak ada sisa. Sekarang apa? Luntang-lantung bergantung sama orang. Bodoh! Dibilangin istri nggak bisa, itulah akibatnya.”
Setelah selesai, kulepas headset yang menempel di telingaku, lalu mengembuskan napas berat.
“Kenapa, La?” tanya temanku.
“Enggak apa-apa,” sahutku singkat sambil memasukkan benda tersebut ke dalam tasku.
Ingatanku melayang pada apa yang disampaikan HRD beberapa jam lalu. Ia memberitahuku bahwa hak cutiku sudah keluar karena aku sudah dua tahun bekerja di sini.
Aku tidak tahu harus senang atau tidak. Kuperhatikan, ketika rekan-rekan yang lain mendapat jatah cuti, mereka sangat senang, seperti mendapat hadiah. Aku? Rasanya biasa saja.
Aku pun bingung mau menggunakan hak cuti itu untuk apa. Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk mengambil cuti saat hari raya saja. Namun, sekarang aku goyah. Hari raya masih lama, bahkan puasa pun belum. Terlalu lama pulang kampung jika harus menunggu hari itu.
Tapi kalau pulang kampung sekarang? Perasaanku biasa saja. Aneh? Aku tidak merasa senang ataupun sedih. Aku juga seperti tidak merindukan siapa pun di kampung. Rasanya hampa saja. Padahal, bukankah seharusnya aku merasa rindu setelah dua tahun tidak pulang?
Setelah menimbang selama beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cuti minggu depan. Entah mengapa, hatiku seperti terpanggil. Namun, bukan karena rindu. Aku tidak tahu.
Hari-hari berganti, minggu depan datang dengan cepat. Kini, aku sedang berada di dalam bus yang membawaku menuju kampung halaman.
Setelah kurang lebih tiga jam, akhirnya aku tiba di kampung halaman. Aku disambut ibuku yang terkejut karena kedatanganku tiba-tiba. Para tetangga yang melihat pun menyapa.
“Ola ...! Kenapa nggak ngabarin dulu?” kata ibuku. Ia sedang menyapu halaman.
“Sengaja, Bu, kejutan,” sahutku sambil berjalan masuk ke rumah. Ibu menghentikan pekerjaannya dan ikut masuk ke rumah.
“Ibu nggak masak apa-apa, cuma ikan asin goreng, sambal goreng, dan pucuk singkong rebus saja,” kata Ibu. Padahal, aku belum menuju meja makan.
“Wah! Enak dong!” kataku, terlihat antusias. “Di kota aku jarang makan begitu. Bosan juga dengan menunya,” tambahku.
“Makanlah,” titahnya.
Sekitar pukul dua siang, Ovi pulang sekolah. Ayah sebenarnya sudah pulang sejak siang tadi, tetapi setelah makan, ia kembali lagi ke kebun untuk memetik nangka muda. Ibu hendak memasak sayur nangka untuk lauk makan malam nanti.
“Huh, capek!” Aku sempat mendengar keluhan ibu sebelum masuk ke kamar.
Ovi tampak senang dengan keberadaanku. Di dalam kamar, aku mendengarkannya bercerita tentang dirinya yang dimarahi Ibu dengan suara pelan dan hati-hati. Ceritanya kemudian merambah ke sekolahnya dan cowok-cowok yang diperkirakan menyukainya.
Aku mendengarkan dan sesekali memvalidasi perasaannya. Tak banyak yang bisa kulakukan selain itu.
Tak terasa, sudah berapa lama kami mengobrol di kamar. Obrolan kami terhenti ketika mendengar suara Ayah di luar. Aku melirik jam, sudah pukul empat lewat. Kami segera menuju sumber suara, di rumah bagian belakang. Kami berdiri di ambang pintu.
“Wah, besar sekali,” ucap Ovi spontan, melihat buah nangka yang dibawa Ayah.
“Iya, Vi. Lagi rezeki hari ini,” sahut Ayah sambil meletakkan nangka di dekat sumur untuk dikupas.
Kulihat, piring dalam baskom yang tadi kotor kini sudah bersih, terletak di dekat sumur. Apa karena kami terlalu asyik mengobrol hingga tak mendengar ocehan ibu, atau hari ini ibu sedang libur ngoceh?
Kulihat juga, tak jauh dari sumur, di dekat pohon lapuk ada tumpukan barang pecah. Beberapa piring, gelas dan mangkuk.
“Loh, sudah dicuci piring, Bu?” kataku saat Ibu muncul dari belakang dapur. Tangannya membawa beberapa bumbu, seperti kunyit, lengkuas, jahe, dan serai.
“Ngarepin orang lain, sampai tahun depan nggak akan bersih itu piring,” kata ibu. Rasanya, itu seperti pembuka sebelum rentetan kalimat lainnya menyusul.
“Jangankan nyuciin piring, bekas makan sendiri aja nggak mau megang,” lanjut Ibu.
Ovi yang tadi berdiri di sampingku langsung masuk ke dalam dengan wajah cemberut. Mungkin ia merasa tersindir dengan ucapan Ibu.
“Ibumu ini ngoceh terus tiap hari,” kata ayah sangat pelan saat lewat di sampingku, hendak masuk ke rumah. Terdengar helaan napas berat darinya.
Ibu mengupas dan membersihkan nangka, sementara aku menyiapkan air untuk merebusnya. Tak kudengar Ibu mengoceh, hanya suara pisau beradu dengan talenan saja. Biasa.
Apa karena aku sudah jarang pulang sekarang, makanya Ibu tak mengocehiku lagi? pikirku. Aku merasa sedikit lega.
Setelah nangka direbus, Ibu menyiapkan bumbunya. Setelah dicuci, ia mulai menggiling menggunakan cobek.
“Blender itu rusak gara-gara Ovi minggu lalu. Disuruh marut kelapa, malah pakai blender. Kelapanya nyangkut, pisaunya nggak bergerak. Setelah kelapanya dikeluarin, blendernya nggak bisa dipakai lagi. Ibu coba nyalain, siapa tahu masih bisa. Eh, malah meletup, keluar asap!” ucapnya seraya tangannya lincah mengulek.
Aku hanya diam mendengarkan. Ternyata, hari ini Ibu tidak benar-benar libur ngoceh. Sepertinya, ini baru dua langkah dari yang tadi.
“Nggak ada yang awet, barang rumah ini!” kata Ibu. “Kaca rak piring pecah, saringan bolong, blender rusak, panci bolong!” lanjutnya.
Aku terdiam, merasa tersindir. Kaca rak piring dan saringan itu ulahku, tetapi kejadiannya sudah sangat lama, saat aku masih SD. Begitu juga panci bolong itu sudah lama, ulah Ovi saat masih SD juga.
“Nggak usah punya barang, makan pakai daun pisang aja harusnya. Habis makan buang, nggak perlu cuci piring segala!”
Napasnya memburu, seolah menyimpan dendam atas kerusakan barang-barang itu. Aku masih setia mendengarkan, meski rasanya aku ingin lari dari sana.
Tiba-tiba, seorang teman Ibu muncul dari dapur. Ia mengatakan ada keperluan dan meminta Ibu untuk ikut bersamanya. Ibu pun menghentikan aktivitasnya dan ikut pergi bersama temannya.
Setelah kepergian Ibu, kulanjutkan semua pekerjaan Ibu, termasuk menggiling bumbu tadi. Entah berapa lama, akhirnya bumbu selesai, santan sudah diperas, dan nangka sudah kutiriskan airnya. Ibu belum juga kembali. Lama juga, pikirku.
Aku pun lanjut memasak nangka itu. Untung saja dulu aku sering masak, jadi aku tahu bagaimana cara memasaknya.
Di pertengahan memasak, Ibu pulang. Ia melihatku sedang memasak nangka, lalu duduk di kursi seperti mengawasi.
“Dari mana, Bu?” tanyaku sambil menoleh sekilas.
“Wak Ina minta bantuin urut kakinya. Katanya keseleo karena kepleset di tangga,” kata Ibu.
“Ibu kapan hari itu juga terpeleset di dekat sumur. Sakit banget pinggang. Beberapa hari nahanin. Ibu coba urut-urut sendiri, akhirnya sembuh,” Ibu mulai bercerita.
“Hati-hati, Bu. Licin memang,” sahutku.
“Sudah hati-hati, tapi masih saja. Baskom terlepas dan barangnya ada yang pecah.”
Aku mengingat kembali tumpukan barang pecah yang kulihat di bawah pohon lapuk tadi. Kukira Ibu membantingnya.
“Besok kita beli batu sama semen aja. Disemen aja jalannya biar nggak licin lagi,” kataku.
“Ada toko bangunan, nggak jauh dari minimarket,” sahut ibu, memberitahu apa yang sudah ada di desa itu.
Aroma gulai nangka menguar di udara, sepertinya sebentar lagi matang. Aku mengecilkan api, lalu menambahkan penyedap rasa.
“Bu, coba cicipi. Pas nggak?” kataku sambil menyodorkan sendok berisi kuah. Ibu menyeruputnya.
“Enak! Sudah pas ini,” katanya. Aku tersenyum senang.
“Ya udah, tinggal tunggu matang aja,” gumamku.
“Ibu mau mandi dulu,” pamitnya sambil berlalu ke dalam. Sepertinya hendak berganti pakaian atau mengambil handuk.
“Iya,” sahutku, menatap ibu hingga tak terlihat lagi.
Terkadang, kita hanya bisa melihat bekas luka di kulit seseorang yang membuatnya tampak mengerikan, tanpa pernah tahu seberapa banyak sayatan yang telah membentuknya.
TAMAT