Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
I am a tea, You are a coffee
0
Suka
49
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Cut!” suara tegas yang menggema di udara menandakan satu adegan telah selesai. Malam dingin yang diselimuti oleh pekatnya kegelapan membuat suasana di penghujung hari sangat melelahkan. Para staf mulai merapikan barang-barang agar di adegan terakhir mereka bisa segera beristirahat. Aku merasa adegan terakhir performaku kurang. Sembari melihat kembali lembaran dialog yang kini mulai koyak, aku melangkah menuju lokasi sutradara untuk menanyakan hal ini.

Lĭ Zŏng[1], tadi sepertinya performaku kurang, boleh lihat lagi adegan tadi nggak?” ucapku untuk memastikan hasil yang didapat baik atau kurang.

”Hei, Xiăo Yŭ Ān[2], boleh sini kamu lihat sendiri di monitor. Menurutku sudah pas, mungkin performamu yang kurang itu malah bikin makin cocok dengan suasana adegannya.” jelas Li Zong saat aku menghampirinya. Para staff di sana juga mengatakan hal yang sama, namun bagiku secapek apapun aku harus memastikan para penggemar tidak menyadari cela kecilku itu.

Li Zong dan kru video memutar kembali adeganku, kurang lebih tidak ada masalah dan apa yang disebutkan Li Zong ada benarnya—aku hanya tampak sedikit kelelahan. Karena waktu sudah larut, aku hanya berharap hal kecil ini tidak menjadi masalah. Aku mengambil minum lalu beristirahat sejenak sebelum take adegan selanjutnya dimulai.

“Hah…” tanpa sadar helaan napas keluar dari mulutku. Tanganku mengusap seluruh wajah demi mendapat rasa segar kembali. Saat wajahku menengadah ke arah langit, sebuah tangan datang menjitak kepalaku. PLAK!

”Akh...! Hei,” sambil menahan sakit aku mencari arah jitakan itu.

”Nih bekal dari mama, dia nyuruh aku ngasi kamu kalau sudah selesai syuting. Tapi karna setelah adegan terakhir kita ada rapat jadinya aku kasi kamu sekarang aja.” suara tak mengenakkan itu berasala dari Shen Nian—adik perempuanku. Ia menyodorkan sebuah kotak bekal silver yang masih hangat. ”Aku pergi dulu.” lanjutnya lalu pergi menjauh. Meski caranya kejam, aku hanya memandanginya berjalan kembali. Dalam hal ini aku bersyukur memiliki saudara sepertinya.

Waktu istirahat telah berakhir dan langit semakin tenang, adegan selanjutnya pun segera dimulai.

***

Shanghai bangun tanpa suara besar—padat, tertib seperti kota yang bergerak dalam ritme yang sama setiap menitnya. Syuting hari ini akan di mulai sore hari, maka pagi ini aku memiliki cukup waktu kosong. Saat wajah dan segalanya telah terasa segar, aku berniat menelponnya.

Wei[3], Song Ge[4]?” panggilku sambil menaruh handuk di tempat yang tidak beraturan.

“Wei, Xiao Yu An, ada apa kau menelepon?” jawabnya diseberang sana.

“Song Ge, untuk sarapannya aku simpan saja. Karena hari ini cukup senggang, aku berencana makan siang diluar lalu berangkat ke lokasi syuting sendiri saja.” ucapku dengan nada yang begitu percaya diri.

Terdengar sedikit helaan nafas sejenak seperti seseorang yang memutuskan hal secara pas-pasan, lalu ia berkata, ”Aku sih boleh saja, tapi kamu tetap harus berhati-hati jangan sampe ada yang mengenali mu.”

”Dan ingat, jika sesuai urutan, adeganmu lah yang pertama mulai jadi aku harap kamu sampai tepat waktu.” lanjutnya dengan sedikit penegasan diakhir kalimatnya.

Rasa senang seketika menyelimuti seluruh tubuhku, aku tidak tahu sejak kapan bisa mendapat kesempatan senggang seperti ini. ”Siap ge, aku pastikan sampai di sana bahkan 15 menit sebelum take pertama di mulai.” jawabku penuh semangat. Tidak terasa suaraku menjadi begitu girang saat menutup teleponnya. Walau hanya beberapa saat tapi waktu ini sangat berharga untukku.

Di Shanghai orang-orang akan berjalan tanpa saling menatap. Bukan karena acuh, melainkan karena setiap orang membawa hidupnya sendiri. Di kota ini kamu bisa berdiri ditengah keramaian dan tetap merasa sendirian—tidak akan ada yang menganggapanya aneh. Setidaknya itulah yang membuatku berani menerjang keramaian kota ini.

Persiapanku telah selesai, masker dan topi tidak kulupakan demi keamanan selama perjalanan. Langit siang sangat mendukung waktu bebasku dengan penuh kehangatan namun tidak membakar kulit. Aku terus berjalan menyusuri trotoar, membaca papan-papan kecil yang tergantung di atas kepala. Sampai sebuah plang kecil muncul di antara bayangan bangunan. Plang itu tidak mencolok, tapi cukup untuk membuatku berhenti—So Your Coffee&Tea. Tidak ada rasa ingin berseru, hanya keyakinan kecil yang mengatakan aku tidak salah alamat. Rasanya tentram dan damai, menyatu dengan konsep natural yang menjadi ciri khas café ini.

Nĭ haăo[5], satu teh susu hangat dan satu blueberry cheesecake untuk dimakan sini.” ucapku memesan menu terlaris yang disebut oleh beberapa media.

Udaranya sejuk dengan setiap jendela menampilkan langit Shanghai yang syahdu. Aku duduk setelah menggantung asal jaketku di sandaran kursi. Teh susu hangat dan sepiring blueberry cheesecakeku tiba dalam beberapa menit kemudian. Aku mengaduk minuman tanpa niat, sesekali menyeruput lalu kembai memandang jendela. Namun aku tidak menyadari bahwa terlalu santai selalu punya harga.

”Permisi, maaf...” suara perempuan muda terdengar di ujung telingaku. Demi terasa lebih santai, masker dan topi sudahku buka sejak awal duduk disini. ”Kamu... mirip banget sama—” ucapannya terhenti saat aku menoleh ke arahnya.

Tunggu, ini bukan akhir yang ku bayangkan. Batinku saat melihat satu ponsel terangkat.

Bisikan kecil menyebar cepat, seperti api yang menemukan angin. Sekali lalu dua kali aku bisa menanggapi, namun semakin kursi bergeser orang-orang akan cepat berganti. Kali ini ruang yang tadinya tenang tak lagi memberikan tempat bersembunyi. Aku menarik napas pendek lalu berpamitan pada waktu santai kesayanganku itu.

”Shen Yu An!” Suara itu menyusul, diikuti langkah-langkah lain yang terus berkejaran. Berjalan tenang tidak bisa menyelematkanku.

“Hai, Terima kasih sudah datang.” Teriakku menyempatkannya dalam pelarian tak menentu ini. Mereka terus bergerak cepat, ponsel terangkat dan suara mereka memanggil namaku semakin keras.

“Harusnya aku pesan take away saja.” Ucapku menyesali apa yang telah kulakukan.

Aku mengikuti arah yang tampak kosong, berbelok tanpa rencana namun mereka tetap menemukanku sejauh apapun jarak yang ada. “Bagaimana ini?” ujarku dengan wajah yang tidak ternilai paniknya. Napasku mulai tersengal, aku berhenti sejenak demi udara yang ku rasa semakin menipis. Tetapi, tak berselang lama rombongan mereka mulai terlihat diujung jalan. Pikiranku kosong, sebuah gang kecil muncul dihadapanku tanpa basa-basi kakiku melangkah masuk ke dalam. Genangan air dan bau lembab sangat menyengat, aku berharap mereka tak sampai sejauh ini mengejar.

Ujung gang terlihat lebih hidup, akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega. Aku berharap senyumku sempat mereka lihat—ada perasaan kecil yang sulit disangkal bahwa keberadaanku penting bagi mereka.

”Topi ini nggak guna, maskernya juga terlalu jelas.” gerutuku saat memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

Namun, hanya berjalan beberapa langkah suara lantang kembali menggema, ”SHEN YU AN.” kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. Apakah shanghai yang ku tahu memiliki perbedaan sejauh ini? Percuma semua penyamaran kalau satu pasang mata bisa membawa rombongan seperti bumi memuntahkan isi perutnya. Pikirku.

Akhirnya langkahku kembali berlari tanpa arah, tanpa pandangan yang jelas. Hingga sebuah bahu menghantam dada, saat itu dunia seakan berhenti sepersekian detik. Seorang perempuan yang terlihat seumuran denganku yang sedang berjalan santai menuju jalan diatas sana.

Xiăo Jiě[6], maaf aku tidak melihatmu tadi, aku sedang buru-buru.” ujarku cepat sambil menundukkan badan. Habislah aku nih, mana waktuku sudah mepet. Batinku.

Perempuan itu mengangguk dengan tangan melambai. Ia tersenyum seakan kesalahanku bukanlah masalah besar untuknya.

”Ni hao, maaf juga teman saya jalannya terlalu kete—” teman perempuan itu seakan mewakili sebuah maaf untukku, namun saat kalimatnya belum selesai kerumunan penggemar di ujung jalan terdengar semakin riuh. Menyadari itu, aku hendak kembali berlari tapi belum sempat kakiku melangkah tangan perempuan itu menarikku pelan lalu berjalan menuju jalan setapak di depan kami.

”Xiao jie, maaf ada apa ya?” dengan perasaan yang masih terkejut, aku memastikan kenapa perempuan itu menarik lenganku seperti ini dan kita mau kemana sebenarnya. Ia tidak menjawab apapun, tarikannya tidak keras namun menyiratkan aku harus mengikutinya.

Aku harus bagaimana ini? Batinku. Teman Perempuan itu terlihat terus menanyakan tujuannya, atau mereka memang merencanakannya? Kami semakin berjalan ke dalam, menyusuri rumah-rumah warga dan terlihat para penggemar itu masih berjuang mencari keberadaanku. Oh tuhan, aku tidak bermaksud menjadikan mereka seperti orang jahat. Setelah melewati perumahan tersebut kami tiba di sebuah lahan yang berada di antar kedua gedung. Perempuan itu berkata,

”Maaf membawamu sejauh ini, tapi kamu bisa berdiam disini tanpa berkata apapun. Percayalah.” ia mendorongku masuk diantara celah lalu berdiri membelakangiku.

Suaranya lembut saat terucap, keberaniannya memancing rasa penasaranku. Ia tampak memakai tudung merah kecoklatan diatas jaket denim yang selaras dengan rok putih berendanya. Dua perempuan itu berwajah asing. Keduanya memegang segelas ice coffee yang hampir habis, sembari mengamati sekitar mereka berperan seperti dua sahabat yang sedang menceritakan sebuah memori hangat di depan celah gelap dan lembab? Mungkin itu kebiasaan mereka. Sekilas aku berpikir mereka orang aneh.

Derap langkah tak beraturan terdengar melewati kami, terus menuju jalan besar diseberang sana. Suara kekaguman mulai meredup dan jepretan kamera menghilang. Aku harap ini telah berakhir.

Setelah beberapa saat memastikan semuanya telah pergi, ia pun berkata ”Kau sudah aman.” Inilah kesempatanku untuk pergi.

”Baiklah, kali ini aku sangat terbantu dengan bertemu kalian.” ucapku penuh rasa haru ”Terima kasih banyak. Semoga hari-hari kalian dapat menyenangkan.” lanjutku yang sekali lagi menundukkan rasa hormat atas bantuan mereka.

”Tidak masalah, bukan hal yang besar karena jalan ini juga menuju penginapan kami. Anda boleh pergi, sepertinya anda memiliki jadwal yang akan dimulai beberapa menit lagi.” jelas teman perempuan itu lalu pamit untuk kembali ke penginapan.

Hăo de[7], ba— tunggu kok kalian tahu aku ada jadwal sebentar lagi?” tanyaku yang sedikit lambat menyadarinya, mereka sudah berjalan lebih jauh. ”Hei, nama kalian siapa?” lanjutku dengan suara yang hampir berteriak, namun suaraku bahkan tidak mencapainya.

Pertemuan seperti ini seharusnya tidak akan terjadi lagi kan, meski aku tidak sempat menanyakan namanya tapi kehadirannya memberi kesan tersendiri di hari yang penuh kejutan ini.

”Ah sudahlah, lebih baik aku segera ke lokasi syuting sebelum Song Ge memarahiku.” ujarku setelah mengacak rambut yang sedaritadi tak beraturan.

***

Di lokasi syuting, orang-orang bergerak cepat tanpa saling menoleh, para asisten akan membawakan naskah, kru kamera berdiri dalam diam dan sutradara berbicara dengan suara yang rendah—seolah ketenangan adalah bagian dari perkerjaan. Setelah hal yang melelahkan siang tadi aku bisa tiba tepat waktu sebelum Li Zong tiba jadi tidak ada keterlambatan yang kulakukan, semua aman terkendali.

”Wei, Song Ge aku beres-beres duluan ya, biar bisa cepat balik.” Ucapku setelah mencolek Song Ge yang masih mengobrol dengan Li Zong.

“Oh Xiao Yu An, kebetulan sekali kami setelah ini akan makan bersama klien dari luar, kamu ikut saja sekalian.” ujar Song Ge yang diikuti dengan anggukan Li Zong.

“Hmm, aku tidak ikut dulu deh, mending istirahat lebih cepat untuk hari terakhir syuting besok.” Jawabku dengan berat hati menolak ajakannya. Aku tidak bisa bilang bahwa siang tadi ada kejadian seperti itu maka aku pun tidak bisa memungkiri hari ini sangat melelahkan.

”Ya sudah kalau itu memang mau mu, nanti minta asisten yang mengantarmu pulang.” sambil menepuk pundakku, Song Ge memanggil beberapa asisten lalu aku pamit kembali ke penginapan.

Hari ini aku menyadari sesuatu yang seharusnya tidak baru untukku—fans bukanlah musuh. Menjadi dikenal selalu datang dari dua sisi, hangat dan melelahkan. Tapi untuk mereka—para penggemar, itu adalah kesempatan untuk dekat terhadap mimpi dan akulah yang berdiri ditengah mimpi itu. Walau tak pernah benar-benar siap dengan perhatian itu, tapi ini membuatku belajar untuk hidup berdampingan dengannya. Meski dunia tidak selalu memberi ruang aman bagi niat yang baik.

Mungkin karena itu, tubuhku mematuhi tarikan tanganya. Tangan yang datang tanpa teriakan, tanpa kamera, hanya dengan niat melindungi. Pikiran ini terus berputar mengikuti pandanganku yang terus memperhatikan kilau Shanghai di malam hari. Tak ada suara keras yang memekikkan telinga, hanya langkah kaki yang kompak terdengar berirama.

***

”Ni hao, saya Asa dan ini rekan saya Nadira, salam kenal.” sambil mengulurkan tangan, Asa mulai memperkenalkan diri.

Dengan membalas jabatan tangannya, Shen Nian juga memberikan perkenalan awal, ”Ni hao, saya Shen Nian an sebagai ketua proyek kali ini, salam kenal juga.”

”Ni hao.” balas Dira sambil menundukkan badan. Perasaannya tak menentu, tangannya basah, detak jantungnya seperti melakukan marathon lima kilometer. Namun ia juga tidak bohong kalau inilah saat yang sangat ia tunggu.

Presentasi dimulai dengan Dira yang mewakili dari Perusahaan agensi mereka. Ruang rapat di penuhi cahaya putih dari layar proyektor—slide visual drama yang berganti perlahan, alur cerita, strategi promosi dan rencana kolaborasi dipaparkan dengan rapi. Beberapa kru akan bertukar pandang sebelum mengajukan pertanyaan menganai konsep yang diajukan. Dira memaparkan dengan rasa penuh percaya diri dan senyuman keberanian yang tidak luntur dari awal presentasi dimulai.

”Kami sangat mengapresiasi dengan konsep yang dibuat sematang mungkin, terutama untuk Dira yang sudah mempresentasikan dengan sangat jelas.” ujar Shen Nian sebagai perwakilan dari para kru yang juga merasa puas dengan hal ini. ”Konsep ini sangat cocok dengan pemeran utama kami yang saat ini berhalangan hadir, tapi saya yakin dia juga akan suka.”

Pertemuan ditutup dengan senyum tipis, tidak ada Keputusan tertulis tapi semua tahu proyek ini akan berjalan.

***

Hari ini menjadi hari terakhir syuting di Shanghai. Para kru juga sutradara sudah siap sedia sejak tadi untuk memulainya lebih awal. Meski wajah bantal yang masih terasa kebas menyentuh embun malam dipaksa untuk bangun sesegera mungkin. Kini lampu-lampu besar telah menyala, kamera mulai diposisikan satu per satu, bersamaan dengan kru make-up dan wardrobe yang hilir mudik menyiapkan adegan pertama hari ini.

”Song Ge, adegan apa yang aku mulai pertama?” tanyaku untuk memastikan persiapan sesuai dengan urutan, sambil menunggu kostum siap digunakan, aku mencoba untuk berlatih beberapa adegan agar terlihat lebih natural.

”Oke, yang terkonfirmasi yaitu adegan bersama pemeran utama wanita yang bertemu di cafe selebihnya akan mengikut arahan Li Zong lagi.” jelas Song Ge singkat, aku bisa memahami maksudnya. Pada akhirnya Li Zong yang memegang kendali alur cerita.

Aku memulai adegan pertama dengan lancar. Sesekali berdiri lalu berekpresi selayaknya pasangan. Meski terasa tidak ada yang aneh, namun ternyata takdir lebih sering memberikan hal yang mengejutkan.  Mataku tertuju pada seseorang yang sangat ku kenal. Seorang perempuan bertudung jalan ke kanan lalu ke kiri seperti memastikan ceklist pekerjan terlaksana dengan baik. Ia akan terlihat berdiri sisi kru produksi, mengecek jadwal, mencatat perubahan adegan, atau sesekali berdiskusi singkat dengan tim promosi.

Perempuan itu? Batinku. Akan tetapi padatnya jadwal hari ini tidak mengizinkan untuk sekadar bertegur sapa. Meski jarak hanya beberapa meter, tetapi dunia yang di jalani terasa berbeda. Waktu berlalu dalam ritme yang senada, teriakan sutradara dan perpindahan adegan terus berjalan. Kami tetap sibuk, tetap terpisah, seolah pertemuan hari itu hanya sebatas dua orang yang bekerja di tempat yang sama.

”Last take, CUT!” teriakan terakhir dari sutradara menandakan syuting kami hari ini benar-benar berakhir. Semua bersorak ria, tepukan tangan berserakan di udara seakan mereka telah menyelesaikan sebuah ujian masuk universitas. Rasa senang juga tak luput terukir dari wajahku.

”Woohoo.” teriakku ikut bersorak bersama mereka. Sampai pandanganku akhirnya bertemu pada perempuan bertudung tadi. Ia melempar senyuman manis yang ceria seakan ikut bahagia bersama kami. Ia berdiri di sisi set, merapikan catatan kerja saat aku hendak menghampirinya setelah melepas headset dan menuruni panggung syuting. Tetapi sebelum aku mencapainya, beberapa kru kamera menariknya untuk bergabung dalam keramaian.

”Xiao Yu An? Ngapain berdiri saja, ayo gabung.” Suara Song Ge tiba-tiba mengagetkanku. Aku tetap melangkah untuk bergabung dalam perayaan kecil mereka. Sampai ketika hiruk-pikuk yang mulai mereda, untuk pertama kalinya hari itu mereka saling menatap tanpa terganggu kesibukan. Mereka berdiri bersebelahan, tidak sebagai idola dan penggemar—hanya dua orang yang dipertemukan secara tak terduga.

”Terima kasih.” Ucapku pelan dengan sedikit mendekatkan diri ke arahnya. Sebuah jeda terbentuk sampai ia memalingkan wajahnya ke arahku. Parasnya manis dengan sudur bibir yang menyiratkan kebahagiaan, ia menjawab ”Bu ke qi.” lalu diakhiri anggukan kecil darinya.

Malam itu sinar bulan tampak mengintip diantara tumpukan awan gelap. Di ikuti taburan bintang membantu langit Shanghai menjadi lebih cerah. Meski aku memiliki banyak pertanyaan, namun kehadirannya saat ini bahkan sudah menjawab pertanyaan terakhir. Aku tahu ini mungkin pertemuan terakhir, tapi ini cukup untuk menutup cerita yang hangat.

[1] Nama keluarga (marga) Zŏng singkatan dari Zŏngjīnglĭ yang berarti manajer umum, dierektur, atau pimpinan tertinggi. Istilah digunakan sebagai panggilan hormat dalam lingkungan kerja atau bisnis di tiongkok.

[2] Xiăo paling umum berarti kecil, muda, atau sebagai panggilan akrab/sapaan untuk seseorang yang lebih muda. Yŭ Ān merujuk pada nama karakter.

[3] Wèi arti: Halo, digunakan hampir secara eksklusif saat mengangkat telepon.

[4] Sòng merujuk pada nama karakter. Ge—gēge berarti kakak laki-laki.

[5] Nĭ hăo adalah sapaan standar dan formal yang paling sering digunakan untuk menyapa seseorang secara langsung, artinya “Halo” atau “Apa kabar”.

[6] Xiăo paling umum berarti kecil, muda, atau sebagai panggilan akrab/sapaan untuk seseorang yang lebih muda. Jiě merujuk pada Wanita muda secara sopan. Xiăo Jiě berarti nona muda.

[7] Hăo de menunjukkan suara konfirmasi, sama dengan ”yakin” atau ”ok”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
I am a tea, You are a coffee
faridhachacha
Cerpen
Perempuan yang Membenci Matahari
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pemuda Berkepala Anjing
Toni Al-Munawwar
Cerpen
Guru Anganmu Luas, Loyalitasmu Tanpa Batas
Sistiani Wahyuningdiyah
Cerpen
Bronze
Manusia Dan Mesin
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Catatan Harian sampah keluarga #1
E. Karto
Cerpen
Titik Balik di Halte Bus
Niam Muhammad
Cerpen
Bronze
Hilang Akal
Yuli Harahap
Cerpen
Foto Terakhir Ayah
zain zuha
Cerpen
Pada Akhirnya Kita Sendirian
Esde Em
Cerpen
Bronze
Dua Puluh Dua Desember
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Pergi Dengan Angin
Viona fiantika
Cerpen
Bronze
MANAJER BABI
Toni Al-Munawwar
Rekomendasi
Cerpen
I am a tea, You are a coffee
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Rumah Lila
faridhachacha
Cerpen
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
faridhachacha
Cerpen
Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik
faridhachacha
Cerpen
Matcha-IN You
faridhachacha
Cerpen
Angin Sore dan Pohon Kehidupan
faridhachacha
Cerpen
Gadis Pagi Bernama Nara
faridhachacha