Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
His Humor Vitreous- Side story of Joshua
0
Suka
2,232
Dibaca

"Dan mulai sekarang kalian telah resmi menjadi suami istri." Ucapan pastor disambut tepuk tangan orang yang datang ke pernikahan Nonna dan Joshua. Bukan dari keluarga, karena keduanya tak memiliki keluarga. Satu-satunya yang mereka anggap keluarga hanya Ryu. Teman masa kecil Nonna sekaligus teman yang baru dikenal Joshua ketika remaja. Selain Ryu, ada banyak pengawal Ryu dan Nonna yang kali ini datang layaknya tamu undangan. Tak ada lagi tamu lainnya.

Tatapan Ryu tak bisa digambarkan, melihat wanita yang dicintainya tersenyum bahagia menatap lelaki yang baru dikenalnya itu, sahabat Ryu. Hati Ryu seolah ditimpa besi ratusan ton, tak ada air mata, tak ada benci, Ryu bahkan tak bisa menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini. Kakinya seolah terpaku dengan lantai gereja yang terletak jauh dari keramaian itu. Sampai langkah kaki mungil, wanita yang dicintainya itu perlahan mendekat.

Nonna memeluk erat Ryu, sementara Joshua tersenyum lembut memandangnya dari belakang.

"Ryuu, Nonna bahagia sekali hari ini," ucap Nonna sambil memeluk erat Ryu. Ryu memandang wajah Joshua di balik punggung Nonna, senyum teduh yang tak akan bisa membuat Ryu membencinya, walaupun dia sadar Joshua telah merebut wanita dalam pelukannya ini.

Mengangkat tangan, Ryu membelai lembut punggung Nonna.

"If you're happy, then enough for me," kata Ryu.

"Non, aku ke sini mau pamit sekalian, aku harus ke luar negeri cukup lama," kata Ryu sambil memeluk Nonna, membuat Nonna menjauhkan pelukannya, menatap tak percaya Ryu.

"Kemana? Ryu enggak pernah ninggalin Nonna," ucap Nonna.

Memaksakan senyum, Ryu memberi isyarat pada Joshua untuk mendekat, menarik tangan Joshua untuk menyatukannya dengan Nonna.

"Selama ini aku enggak kemana-mana karena aku selalu khawatir ninggalin kamu sendiri. Sekarang kamu udah ada Joshua, aku lebih tenang," kata Ryu.

"Aku akan selalu ada buat kamu Non, kapan pun butuh, aku akan langsung datang. Kamu tahu kan, hemm?" ucap Ryu memaksakan diri agar suaranya terdengar biasa, walaupun kini ia semakin yakin bahwa cintanya pada Nonna memang tak sedangkal itu.

Melihat Nonna menitikan air mata, Ryu menghapus dengan ibu jarinya lembut. Telapak tangannya membelai lembut pipi Nonna, mungkin untuk terakhir kali, untuk terakhir kali. Ryu mencium punggung tangan Nonna, "I'll always be around you, just call me whenever you need me ya?" ucap Ryu akhirnya.

Menatap Joshua, Ryu kemudian berucap, "Josh, ini jalan yang kamu pilih, aku udah peringatin kamu, kamu harus siap dengan konsekuensinya kalau nanti sampai terjadi apa-apa sama Nonna, aku enggak akan tinggal diam." Joshua yang saat itu tak sadar bahaya sebesar apa yang ada di depannya, mengangguk mantap.

"Aku janji akan jaga Nonna, seperti kamu jaga dia," janji Joshua.

"Aku percaya kamu Josh. Call me whenever you need me then," pesan Ryu yang sebenarnya begitu ragu, tapi mencoba menyembunyikan itu semua, mencoba untuk kali ini percaya akan ada orang yang bisa menjaga Nonna.

====

Sejak memutuskan pindah ke apartemen milik Joshua, Nonna bukan tak bahagia, hanya saja ia merasakan lubang besar dalam hatinya yang tak pernah ia ketahui penyebabnya. Tapi Joshua tahu pasti alasan istrinya itu sering melamun di dekat jendela, atau bahkan terkejut ketika Joshua memanggil namanya. Joshua tak pernah menyangka hal ini akan terjadi.

Mencoba untuk mengingat kembali momen yang buatnya jatuh cinta pada Nonna, Joshua sadar kilau yang ia suka adalah senyum Nonna, dan senyum itu muncul karena Ryu. Nonna memang tak pernah blak-blakan membicarakan Ryu di depannya, tapi itu yang justru membuat Joshua merasa hubungannya dengan Nonna semakin kosong.

"Baby, can we talk a moment please?" tanya Joshua dengan suara lembut.

Nonna yang sedang menghadap laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai desainer interior itu langsung menghentikan pekerjaan dan menghadap Joshua. Memutar kursinya, Nonna belum melepas kacamatanya.

"Of course baby, what's wrong? Kamu bosan ya, kita libur tapi di rumah aja? Maaf ya, klien aku yang ini rewel, minta revisi terus," ujar Nonna berbicara tanpa jeda.

Joshua yang tersenyum mendengar suara istrinya, meraih tangan Nonna.

"It's okay baby. As long as you're with me, I'm okay with anything," kata Joshua lembut sambil menatap penuh cinta Nonna.

Hal-hal seperti ini yang membuat Nonna pada akhirnya tak pernah bisa lepas dari Joshua, apa pun yang dilakukan, selalu tampak sempurna di mata Joshua. Selama tiga tahun menikah, Joshua tak pernah sekali pun berlaku atau berkata kasar padanya. Tapi selama itu juga Nonna hampir tak pernah bertemu Ryu, teman masa kecil, sahabat sehidup semati, pria yang dianggapnya seperti kakak itu. Ryu selalu beralasan sibuk atau sedang di luar negeri.

Satu-satunya kehadiran Ryu adalah saat Joshua menghubunginya, memberi kabar duka Nonna baru saja keguguran. Joshua menceritakan kondisi Nonna yang buat Ryu lagi-lagi merasakan jantungnya berhenti.

"Ryu, maaf aku harus hubungi kamu. Kamu di mana? Kamu bisa ke sini? Nonna butuh kamu," kata Joshua dalam pesan singkatnya.

"Nonna kehilangan bayinya. Dan aku tahu harusnya aku bisa menenangkan dia, tapi aku gagal. Senyumnya palsu, Nonna enggak bisa terbuka, sikapnya palsu," jelas Joshua saat Ryu menghubunginya.

Ryu yang saat itu sedang berada di Swiss langsung meminta Gabriel untuk mencari tiket kembali ke Jakarta secepatnya. Bahkan jika harus menyewa private jet lakukan! pesan Ryu tegas. Ryu tak peduli dirinya di Swiss sedang meninggalkan bisnis miliaran dollar, Ryu bahkan tak peduli jika harus meninggalkan seorang wanita yang baru saja bisa membuat hatinya terbuka. Baginya Nonna lebih penting dari itu semua.

Dan hati Ryu hancur melihat Nonna kini di kamar sedang tertidur pulas. Tampak tenang, damai, walaupun Ryu yakin ada badai besar dalam hati dan pikiran wanita ini.

Hanya memandang Nonna dalam diam, sementara Joshua juga ada di sebelah Ryu.

Keduanya kemudian keluar dari kamar dan berbicara.

"Kenapa bisa keguguran?" tanya Ryu.

"Kondisinya terlalu lemah, dokter bahkan sudah kasih peringatan dari awal buat kita enggak terlalu berharap," jelas Joshua.

"Dan kamu tahu kondisinya, tetep izinin dia hamil" tanya Ryu tanpa menatap Joshua.

"Kamu tahu Nonna paling enggak bisa ngerasain kehilangan," ujar Ryu lagi.

Joshua tersenyum pedih dan berkata "dan kamu ninggalin dia juga."

Satu ucapan Joshua yang buat Ryu terdiam. Sahabatnya itu memang paling mengenal Nonna dan Ryu. Tapi entah apa yang akhirnya membuat mereka dalam situasi seperti sekarang. Ini bahkan terlalu kusut dari benang yang terendam air.

Ryu memilih pergi untuk menghisap rokok di balkon dan tak melanjutkan percakapan itu. Sementara Joshua memilih tetap duduk di ruang tamu apartemennya yang cukup luas.

"Baby, aku kayak denger suara Ryu.." ucap Nonna saat keluar kamar tiba-tiba dan mengejutkan Joshua.

"Baby kamu udah bangun?" jawab Joshua dengan senyum lembutnya dan berjalan mendekati Nonna, menyambut tangannya.

Mata Nonna masih menyiratkan tanya, dan hal itu cepat disadari Joshua.

"Iya, Ryu datang," jawab Joshua.

"Mana?" tanya Nonna cepat.

"Ada di balkon, dia tadi mau ngerokok katanya," jawab Joshua.

"Dia ngerokok lagi?" tanya Nonna heran. Sementara Joshua hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.

Belum sempat kaki Nonna berjalan sepenuhnya menuju balkon apartemen mereka, pintu bergeser dan langkah ringan Ryu yang dihapal Nonna terdengar. Bergerak cepat ke arah balkon, mata Nonna bertemu dengan sosok Ryu yang sudah beberapa bulan ini tak tertangkap penglihatannya. Ada rasa rindu, lega melihat sosok itu berdiri di dekatnya.

Ryu melebarkan kedua tangan, seolah siap memeluk Nonna seperti yang biasa ia lakukan setiap kali wanita itu bersedih.

Nonna tersenyum dan segera melangkah ke pelukan Ryu.

"Ryu kamu di sini, kamu datang," kata Nonna teredam suaranya dalam dekapan dada Ryu.

Ryu membelai rambut Nonna yang tak lagi panjang.

"Aku udah janji kan, aku selalu ada buat kamu, kamu aja yang enggak pernah hubungin. Mentang-mentang punya suami," goda Ryu yang membuat Nonna mencubit pinggang Ryu.

Melihat interaksi keduanya, Joshua hanya tersenyum, ada rasa lega, cemburu, tapi di atas segalanya, dia bahagia melihat Nonna kembali tersenyum. Senyum yang bukan dipalsukan.

"Pada akhirnya, hanya pelukan Ryu yang buat kamu tersenyum lagi baby"

Sempat tinggal di Indonesia selama beberapa hari, Ryu kembali berpamitan pada Nonna dan Joshua. Kali ini sebenarnya Ryu bukan akan pergi ke luar negeri, melainkan tetap di Indonesia karena mulai ada petunjuk tentang orang yang membunuh orangtuanya dan orangtua Nonna dulu.

Ryu hanya berbagi sedikit informasi itu pada Joshua agar Joshua berhati-hati menjaga Nonna.

"Josh, I'll be around. And you should always pay attention with your surround. Anything that seems suspicious, tell me," pesan Ryu.

Joshua mengangguk sebagai janjinya pada Ryu.

Sampai akhirnya datang momen ini, ketika Joshua yang sedang menatap Nonna, tiba-tiba menyampaikan niat untuk piknik di salah satu sumber air yang ada di hutan.

Nonna yang menghentikan pekerjaannya dan menatap Joshua, tak sabar menantikan hal yang akan disampaikan suaminya.

"Jadi mau bicara apa baby? Aku nunggu nih," kata Nonna menyadarkan Joshua dari lamunannya.

Teringat akan pesan dari Ryu, tapi di satu sisi dia merasa perlu memperbaiki hubungan dengan Nonna. Menurutnya piknik ke hutan adalah hal tepat, tak mungkin ada yang menyakiti Nonna di sana, pikirnya.

"Aku udah rencanain liburan ke hutan, besok. Kita berangkat pagi ya sayang," kata Joshua.

"Kamu bisa main air kayak waktu dulu kamu ketemu aku di panti," lanjutnya.

Senyum bahagia dan ekspresi Nonna yang tak pernah dilihatnya sejak mereka menikah itu membuat Joshua tersenyum lembut. Merasa rencananya berhasil.

"I'd love it baby, thank you so much," kata Nonna, beranjak dari kursinya dan melompat memeluk Joshua.

Memeluk erat Joshua, Nonna kemudian mengecup pipi Joshua. "Makasih sayang," kata Nonna sambil menatap Joshua.

Jarak yang begitu dekat, membuat Joshua yang tersenyum lembut kini perlahan mengikis jarak antara mereka dan menyatukan belah bibir keduanya. Tak ada yang terburu-buru, ciuman lembut itu membuat Nonna lupa sesaat akan perasaan bimbangnya.

"I love you baby, always," kata Joshua di depan bibir Nonna sebelum kembali menyatukan bibir keduanya lagi.

--------------

Dalam perjalanan menuju hutan yang memang merupakan tempat camping itu, Joshua berkendara sambil sesekali meraih tangan Nonna, menciumnya.

"Are you happy?" tanya Joshua saat menatap Nonna yang hari ini tampak lebih cantik dari biasanya.

"Happy. Kamu happy?" tanya Nonna balik.

"I've tell you baby, as long as you're happy, you're around me, enough for me," ucap Joshua, mencium tangan Nonna sebelum kembali fokus berkendara.

Baginya, melihat senyum Nonna jauh lebih berharga, Joshua tak paham bahaya yang sedang ada di depannya dengan membawa Nonna ke ruang terbuka. Joshua bahkan mengangap remeh peringatan Ryu. Joshua merasa di hutan tentu tak akan ada yang mengusik Nonna, lagi pula, dari tiga rumah camping, dia sudah membooking semuanya, sehingga tempat itu pasti aman. Joshua terlalu naif untuk menyadari seberapa besar bahaya yang mengincar Nonna.

Hari pertama mereka lalui dengan aman, Joshua semakin merasa percaya diri bahwa dia juga bisa melindungi Nonna. Malam itu, sambil memeluk Nonna, Joshua mulai merasa risau, entah kenapa sejak sore tadi dia merasa ada mata yang mengamati mereka. Tapi Joshua tak mau merusak momennya dengan Nonna sehingga mengabaikan instingnya.

Saat pagi tiba, Joshua membawa secangkir kopi untuk Nonna yang masih tidur dengan nyenyak setelah aktivitas mereka semalam. Untuk pertama kalinya, ya untuk pertama kali sejak Nonna keguguran dan menghindar untuk menyentuhnya, semalam mereka kembali melakukan kegiatan panas itu. Kebahagiaan Joshua hari ini benar-benar tak pernah akan bisa dia lupakan.

"Morning baby," ucap Joshua setelah mengecup lembut bibir istrinya dan sebelah tangan mengukung tubuh Nonna.

"Coffee?" tanya Joshua sambil menunjukkan cangkir kopi pada Nonna. Nonna bangun dari tidurnya, masih berselimut tebal untuk menutup tubuhnya yang masih polos tanpa selembar kain pun itu. Tampak warna merah yang mulai kebiruan sisa kenikmatan semalam membekas di beberapa tubuh putih Nonna.

"Makasih sayang," ucap Nonna, meraih cangkir kecil berisi americano kesukaannya.

"Habis ini kita masak sarapan di luar ya, nanti sore kita pulang," ucap Joshua yang dijawab dengan anggukan kepala Nonna.

"Ya udah kamu siap-siap ya, aku siapin bahan-bahan di luar," kata Joshua sambil mengecup kening istrinya itu.

Berbagi tugas, Joshua yang melihat hanya tinggal menunggu matang sayurnya, memilih untuk merapikan tempat mereka sarapan pagi ini. Sesekali ia melirik ke arah Nonna yang ada di belakangnya. Entah kenapa hatinya terasa was-was. Dan ketika Joshua melihat keempat kalinya, Nonna tak ada lagi di belakangnya.

"Baby..." ucap Joshua memanggil dengan lembut.

"Baby...jangan becanda gini, aku enggak suka," kata Joshua.

Tak kunjung mendapat jawaban, langkah kakinya mulai gemetar ketika membuka pintu tempat camping dan tak mendapati sosok istrinya di manapun.

Dengan tangan gemetar, Joshua menekan angka satu di layar ponselnya. Matanya tak berhenti menatap ponsel Nonna yang masih terpasang charger di kamar.

Dalam kepanikannya, Joshua hanya ingat satu nama, Ryu. Dengan tangan masih gemetar, Joshua membuka kontak dan menekan nama Ryu yang memang tersimpan paling atas dalam daftar kontak.

"Ryu....," ucap Joshua dengan suara tercekat. Sementara di seberang sana Ryu mulai tak tenang dengan nada bicara Joshua.

"Nonna kenapa Josh?" tanya Ryu berusaha tenang.

"Ryu...Ryu maafin aku, maafin aku Ryu," kata Joshua sambil menangis.

"Hei, ada apa? Whatever," kata Ryu tak sabar dan menyalakan pelacak handphone Nonna, hal yang selama ini dia lakukan untuk mengawasi Nonna, tapi lama tak ia gunakan sejak Nonna menikah.

"Are you out of mind!!" suara bentakan Ryu terdengar di telinga Joshua.

Joshua yang masih tak bisa kembali pada kesadarannya, hanya bisa terus menerus mengucap maaf.

"Lo bisa balik sendiri apa perlu anak buah gue jemput? Ah nevermind, gue suruh anak buah jemput lo. Gue cari Nonna," teriak Ryu.

Ryu segera memerintahkan anak buahnya menjemput Joshua, sementara ia dan Gabriel, sahabat sekaligus orang kepercayaannya di geng, mencari jejak Nonna.

"F**k, F**k!! ucap Ryu frustasi. Otaknya sebenarnya tak bisa berpikir benar saat ini. Marah, kalut, khawatir semua bercampur menjadi satu " arrrrghhhh, f**k!!" teriak Ryu saat matanya melihat rekaman CCTV.

Gabriel yang ada di sana, segera menggantikan Ryu yang sudah dengan cepat menelusuri jejak Nonna dengan meretas cctv sepanjang perjalanan dari tempat camping. Gabriel menyadari dari rekaman di beberapa tempat, Joshua benar-benar lengah, padahal 'mereka' sudah menunggu sejak semalam di sana.

"Bawa Joshua ke sini, cepet!!!" teriak Ryu dengan wajah yang begitu merah karena menahan amarahnya.

Gabriel tak pernah sekali pun melihat Ryu semarah ini, bahkan ketika tahu sahabatnya merebut wanita yang diam-diam dicintai, Ryu memilih tetap diam dan menahan semuanya.

-----

Joshua yang tak berhenti menangisi Nonna, hanya bisa menatap lemah jejak-jejak wanita yang dicintainya.

"Baby, maafin aku," ucap Joshua lirih sambil menggenggam erat handphone Nonna dengan layar foto pernikahan mereka.

Joshua sama sekali tak masalah jika dia menjadi sasaran amuk Ryu, karena dia memang salah. Dia salah karena tak memberitahu Ryu rencananya menginap di luar, sehingga tak ada pengawasan dari anak buah Ryu yang selama ini berjaga di sekitar Nonna.

Joshua sadar semua kesalahannya. Dia bahkan terima ketika Ryu menghadiahinya dengan pukulan di pipi dan perut ketika melihatnya sampai di markas.

Itu adalah momen di mana Joshua untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya merelakan Nonna sebagai istrinya. Kemarahan Ryu, kekecewaan Ryu yang membuatnya, memaksanya menandatangani surat cerai sebagai ganti mencari Nonna menjadi hari kehancuran Joshua.

Saat itu Joshua tak bisa berpikir, baginya yang terpenting Nonna segera ditemukan. Tanda tangan atau apa pun akan dia lakukan asal Nonna ditemukan.

Dan betapa hancurnya hati Joshua ketika melihat Nonna yang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri dan telah dihancurkan seperti itu. Menangis histeris, Joshua hanya bisa memeluk kalungnya dengan cincin pernikahan menjadi liontin.

"You see that?" ucap Ryu.

"Have you see what you're reckles caused?" ujar Ryu mengarahkan kepala Joshua untuk menatap Nonna yang masih ada di dalam ruang ICU. Air mata Joshua tak berhenti mengalir, Joshua sama sekali tak mengelak semua kemarahan Ryu.

Mulutnya terkunci rapat, tak ada satu kata pembelaan pun keluar. Hanya air mata yang tak berhenti menetes dalam diam.

Hati kedua pria itu sama-sama hancur dengan kisah mereka masing-masing.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
SATU TITIK: TANPA BERTANYA NAMA
Wafa Nabila
Cerpen
His Humor Vitreous- Side story of Joshua
Tantan
Skrip Film
Persimpangan Rasa
Naufal Bahauddin Wafi
Cerpen
Bronze
Kalau Saja Orang Itu Dia
Amarta Shandy
Novel
Bronze
YANG TERPILIH
Ratnasari
Novel
Bau Hujan
Dita Sofyani
Novel
Gold
Under the Blue Moon
Noura Publishing
Novel
My Little Evil
Yalie Airy
Novel
The Hiden Lights
Chyntia Putri Yudhistiro
Novel
Bronze
Sound of Spring
MichelleJ
Novel
PUTRI SENJA DAN REMAH ROTI
Maz Li
Novel
Merindu Sewindu
Fitri Handayani Siregar
Novel
Gold
Sembilu
Bentang Pustaka
Novel
Secangkir Teh Kedai Riana
Mambaul Athiyah
Novel
But You
Yaraa
Rekomendasi
Cerpen
His Humor Vitreous- Side story of Joshua
Tantan
Cerpen
Bronze
Her Prayer
Tantan
Cerpen
Bronze
Levanter
Tantan
Cerpen
Bronze
His Humor Vitreous P.2
Tantan
Cerpen
Bronze
Sleeping Under the Rain
Tantan
Cerpen
Bronze
Levanter 2
Tantan
Cerpen
His Humor Vitreous
Tantan
Cerpen
Bronze
Phoebe
Tantan
Skrip Film
Paus dan Kucing
Tantan
Cerpen
Bronze
Ice Americano, Please
Tantan
Cerpen
Tetanggaku Alien
Tantan
Novel
Gading
Tantan