Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
HIJAU SEBELUM MENGUNING
3
Suka
86
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

HIJAU SEBELUM MENGUNING

 

Sebelum Menguning

Padi belum merunduk, sudah dihargai,

bulirnya masih susu, sudah ada yang menimbang.

Di pematang yang basah oleh embun subuh

seseorang berjanji pada sesuatu yang belum ada.

Uang datang lebih dulu dari butir,

lebih ramah dari hujan,

lebih cepat dari doa.

Ia mengetuk pintu dengan salam,

membawa gula, membawa amplop,

membawa ingatan tentang siapa yang dulu menolong.

Maka tanah mengajar kami berhitung:

bahwa ada utang yang tak tercatat di buku,

ada budi yang tak bisa dilunasi,

dan ada timbangan

yang jujur pada angka

tetapi tidak pada orang.

Di ujung musim, siapa yang menguning?

Padi, atau mereka yang menunggunya?

 

I. SUBUH DI PEMATANG

  Darto sudah berdiri di pematang ketika azan subuh dari musala Al-Hidayah masih menggantung di udara, serak oleh pengeras suara yang bocor. Kabut tipis menempel di permukaan sawah. Ia berjongkok, menyibak rumpun padi dengan dua jari, lalu memeriksa batangnya seperti bidan memeriksa perut perempuan hamil: pelan, penuh hormat, sedikit takut.

Padinya sedang bunting. Bulir-bulir hijau pucat menggembung di dalam pelepah, belum mau keluar sepenuhnya. Lima puluh hari lagi, kira-kira, kalau hujan tidak telat dan wereng tidak datang. Lima puluh hari, dan pupuk di gudang kecil di belakang rumahnya tinggal seperempat karung.

“Sudah isi ya, Dar?”

Darto tidak perlu menoleh. Suara itu ia kenal seperti ia mengenal bunyi pintu rumahnya sendiri: berat, lembut, selalu terdengar seperti baru selesai membaca doa. Haji Mansur berdiri di jalan tanah di ujung pematang, bersarung kotak-kotak dan berkopiah putih yang agak miring, sebelah tangannya menenteng kantong plastik hitam. Di belakangnya, pick-up bak terbuka dengan cat putih yang mulai mengelupas diparkir miring, mesinnya masih berdetak pelan.

“Bunting, Pak Haji. Alhamdulillah,” jawab Darto sambil berdiri. Lututnya berbunyi.

“Alhamdulillah.” Mansur berjalan menyusuri pematang tanpa tergelincir sekali pun, langkah orang yang dulu lebih sering di lumpur ketimbang di kursi. Ia menyodorkan kantong itu. “Ini, bakpao dari pasar kemarin. Buat Ardi. Anak sekolah harus makan enak.”

Darto menerimanya. Plastiknya masih hangat. Dan seperti selalu, ada rasa yang sulit ia beri nama, semacam terima kasih yang menempel pada sesuatu yang lain, seperti kerak di dasar panci.

Mereka berdiri berdampingan, memandangi sawah yang pelan-pelan berubah dari kelabu ke hijau. Mansur tidak langsung bicara. Itu salah satu kepandaiannya. Orang-orang kampung bilang Haji Mansur tidak pernah menagih; ia hanya berdiri di dekatmu sampai kau sendiri yang membuka mulut.

“Pupuknya cukup?” tanya Mansur akhirnya, matanya tetap ke arah sawah.

“Cukup, Pak Haji.”

“Katanya yang subsidi telat lagi di kios Pak Rohim.”

“Iya. Telat.”

“Ya Allah.” Mansur menggeleng, dan keprihatinannya terasa tulus, itulah yang membuat Darto makin tak enak hati. “Padi itu seperti anak, Dar. Telat makan seminggu, nanti kecil-kecil bulirnya. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan. Pintu rumah saya tidak pernah dikunci buat orang sini.”

“Matur nuwun, Pak Haji.”

“Ngomong-ngomong,” kata Mansur, seakan baru teringat, “Ardi tahun ini lulus SMP, to?”

Di situlah, Darto tahu, percakapan yang sebenarnya dimulai.

“Iya. Nilainya bagus. Diterima di SMA negeri kota.”

“Pintar anak itu. Menurun dari ibunya.” Mansur tersenyum kecil. “Sayang kalau tersendat gara-gara urusan uang. Anak pintar itu tidak boleh berhenti di tengah jalan. Dulu saya…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya menepuk-nepuk pelan bahu Darto, dua kali, seperti menenangkan kerbau yang gelisah.

Sebelum pergi, ia sempat jongkok di tepi petak, menyentuh sehelai daun padi, lalu mencium ujung jarinya. “Wangi ya. Wangi padi bunting itu wangi rezeki.” Ia berdiri, merapikan sarungnya. “Kalau panen nanti bagus, saya siap ambil semua, Dar. Soal harga, kita omong enak-enak. Kita ini bukan orang lain.”

Pick-up putih itu batuk dua kali sebelum menyala, lalu pergi meninggalkan debu tipis yang menempel di embun.

Darto masih memegang kantong bakpao. Ia memandangi padinya sekali lagi. Hijau, pikirnya. Padi ini baru hijau dan sudah ada yang bilang siap mengambilnya. Ia sudah dihargai, padahal belum menguning.

 

II. SURAT DAN SYARAT

Malamnya, rumah Darto hanya diterangi satu bohlam kuning dan cahaya televisi tabung yang volumenya dikecilkan. Sri duduk bersila di tikar, menjahit ujung seragam lama Ardi yang akan diwariskan ke sepupunya. Ardi sendiri mengerjakan sesuatu di atas dipan, menulis dengan pensil pendek, menunduk terlalu dalam seperti anak yang tidak mau mengganggu.

“Ini daftar ulangnya, Pak,” kata Ardi akhirnya, menyodorkan selembar kertas fotokopi yang sudah lecek. “Kata Bu Guru, paling lambat tanggal dua puluh.”

Darto membacanya di bawah lampu. Seragam putih abu-abu dua stel. Seragam olahraga. Seragam batik. Buku paket. Iuran komite. Totalnya, kalau ia benar menjumlah dengan bibirnya yang komat-kamit, dua juta tiga ratus ribu.

“Lumayan,” katanya pelan.

Sri tidak mengangkat kepala dari jahitannya. “Kemarin Mbak Tuti bilang, katanya ada KUR dari bank di kecamatan. Bunganya kecil.”

“Sudah saya coba, Sri.”

“Kapan?”

“Hari Selasa. Waktu kamu ke pasar.”

Sri akhirnya menengadah. Darto mengambil napas. Selasa itu ia memakai kemeja batik yang biasa dipakai kondangan, naik motor tua ke kecamatan, duduk di kursi plastik biru selama dua jam menunggu antrean. Petugas bank, pemuda ramah yang namanya ia lupa, menjelaskan syaratnya dengan sabar: KTP, kartu keluarga, surat usaha dari desa, dan agunan.

“Agunan apa, Mas?”

“Sertifikat tanah, Pak. Atas nama Bapak sendiri.”

Di situ semuanya berhenti. Sawah setengah hektare itu memang milik keluarganya sejak zaman kakeknya, tapi dokumennya masih berupa letter C atas nama almarhum bapak Darto. Belum pernah dibalik nama. Ada ongkos, ada saudara-saudara yang harus tanda tangan, ada kakak di Kalimantan yang entah di mana. Dulu bapaknya selalu bilang, nanti, kalau ada uang. Uangnya tidak pernah ada, dan suratnya tetap di laci, makin kuning.

“Jadi tidak bisa,” kata Sri datar.

“Bisa. Kalau suratnya beres. Kata Mas-nya, mengurus itu tiga sampai enam bulan.”

“Ardi daftar ulang tanggal dua puluh.”

Hening. Dari televisi, seorang pembawa berita berbicara tentang harga beras, tanpa suara.

Dua hari sebelumnya ada penyuluhan di balai desa. Ibu Lestari, penyuluh dari dinas, perempuan muda berjilbab yang selalu membawa map hijau, berdiri di depan dua puluh petani dan menerangkan dengan semangat. Pemerintah sedang memperkuat Bulog, katanya. Bulog turun langsung ke sawah. Gabah kering panen dibeli Rp6.500 sekilo, harga pembelian pemerintah, dan tidak ada yang boleh membeli di bawah itu.

“Kalau kadar airnya tinggi, Bu?” tanya Darto waktu itu, dari barisan belakang.

“Maksimal dua puluh lima persen, Pak. Kadar hampa maksimal sepuluh persen.”

“Punya saya biasanya dua puluh tujuh, dua puluh delapan. Kalau habis hujan.”

“Dijemur dulu, Pak. Dua hari cukup.”

“Dijemur di mana, Bu?”

Bu Lestari terdiam sebentar. Semua orang di ruangan itu tahu satu-satunya lantai jemur desa dipakai bergantian oleh sepuluh keluarga, dan di musim panen antreannya lebih panjang daripada antrean zakat. Ia tersenyum dengan wajah orang yang tahu jawabannya tidak memuaskan. “Nanti kita upayakan, Pak.”

Darto membawa pulang kata nanti itu seperti membawa pulang batu: berat, tidak bisa dimakan.

Sekarang, di bawah bohlam kuning, Ardi sudah kembali menunduk ke bukunya, pura-pura tidak mendengar. Sri menggigit benang dengan giginya, memutusnya, lalu berkata tanpa menatap siapa pun, “Haji Mansur tadi pagi ke sawah, ya? Mbak Tuti lihat mobilnya.”

Darto tidak menjawab. Tapi bakpao di meja, yang tak seorang pun menyentuh, sudah mulai mengeras.

 

III. BUKU CATATAN HAJI MANSUR

Haji Mansur memiliki dua buku catatan. Yang pertama bersampul biru, berisi utang-piutang resmi, rapi, dengan tanggal dan paraf. Yang kedua bersampul batik cokelat, dan buku inilah yang ia buka tiap malam setelah Isya, di meja makan, ketika istrinya Hajah Rukmini sudah masuk kamar.

Di buku batik itu tidak ada angka. Hanya nama dan kalimat pendek. Pak Sukir, anaknya sunat. Bu Painem, atap bocor. Kang Wardi, motor mogok, minta antar ke Mojosari. Setiap baris adalah kebaikan. Setiap kebaikan, ia tahu, adalah simpanan.

Ia tidak menganggap dirinya licik. Itulah yang tidak dimengerti orang-orang yang menyebutnya rentenir di belakang punggungnya. Ia sungguh-sungguh menolong. Ia mengantar orang sakit tengah malam, meminjamkan uang tanpa surat, menghadiri tahlilan dengan amplop yang tebalnya pantas. Ia hanya tidak pernah lupa mencatat. Dan mencatat, bagi Mansur, bukan perkara dagang. Mencatat adalah cara mengingat bahwa tidak ada kebaikan yang jatuh ke tanah kosong.

Ponselnya bergetar di samping buku. Nama di layar: Pak Wibisono UD Sumber Rejeki.

“Assalamualaikum, Pak Haji.” Suara di seberang muda, licin, dan terdengar seperti orang yang sedang menyetir mobil bagus. “Saya mau konfirmasi saja. Minggu depan gabah dari sampeyan masuk berapa ton?”

“Belum panen raya, Pak Wib. Mungkin sepuluh ton, paling banyak.”

“Oke. Harga saya jangan dibayangkan sama dengan di televisi ya, Pak Haji. Gabah sekarang kadar airnya macam-macam, dan alat saya yang menentukan. Kalau kadar airnya naik, potongannya ya naik. Itu bukan saya yang bikin, itu hukum alam.”

“Saya paham.”

“Oh iya, soal modal muter yang kemarin. Sudah masuk rekening sampeyan, dua ratus juta. Jangan lupa setoran gabahnya ya.”

“Insya Allah.”

Telepon ditutup. Mansur memandangi layar yang menggelap. Ia teringat bahwa tiap rupiah yang ia pinjamkan ke petani, sebelumnya adalah rupiah yang dipinjamkan Wibisono kepadanya. Rantai ini tidak berhenti di dia. Ia hanya mata rantai yang berada paling dekat dengan lumpur, sehingga ia saja yang kelihatan.

Ia menutup mata. Dan seperti tiap kali sendirian, ia melihat sebuah sawah kecil di tahun 1979. Ia dua belas tahun. Bapaknya, Pak Kasdi, berdiri di pematang dengan caping lusuh, sementara seorang juragan berbaju safari berjalan di sebelahnya sambil mengelus-elus bulir padi yang masih hijau. Juragan itu bilang, dengan suara persis seperti suara Mansur sekarang, Saya tolong dulu ya, Kang, nanti urusan harga kita omong enak-enak.

Tiga musim kemudian, sawah itu bukan milik Pak Kasdi lagi. Tidak ada yang merampas. Semuanya sah, semuanya dengan salam, semuanya dengan teh manis. Ia ingat bapaknya duduk berjam-jam di teras tanpa bicara, memandangi tanah yang kini ditanami orang lain, dan satu-satunya kalimat yang pernah ia ucapkan tentang itu hanyalah, “Bapak ini bodoh, Man. Bapak percaya orang baik.”

Mansur bersumpah malam itu, dalam hatinya yang masih bocah, bahwa ia tidak akan pernah jadi korban lagi. Ia tidak pernah bersumpah untuk tidak menjadi juragan itu. Ia hanya tidak sempat memikirkannya.

Ada satu halaman lain di buku batik yang lebih sering ia buka daripada yang lain. Tertulis di sana, dengan tinta yang sudah memudar: Darto, istrinya melahirkan. Tengah malam. Antar ke bidan Yu Sumi. Malam itu hujan, jalan desa becek sampai ke betis, dan Darto mengetuk pintunya sambil menangis tanpa suara, memeluk istri yang sudah tidak sanggup berdiri. Mansur menyalakan pick-up tanpa bertanya. Ia mengemudi seperti orang kesetanan, sementara Darto duduk di bak belakang, memeluk Sri, memayungi perempuan itu dengan jaketnya sendiri. Bayi itu, Ardi, lahir sepuluh menit setelah mereka tiba.

Mansur tidak minta uang bensin. Tidak minta apa-apa. Dan ia tidak pernah lupa bahwa ia tidak minta apa-apa.

Hajah Rukmini muncul di pintu dapur dengan daster dan wajah mengantuk. “Pak, sudah malam. Tidur.”

“Sebentar, Bu.”

“Sampeyan ini. Buku itu terus.” Ia menggeleng, kembali masuk.

Mansur menutup buku batik, mengusap sampulnya dengan telapak tangan, dan membisikkan sesuatu yang bukan doa dan bukan juga hitungan.

 

 IV. AKAD

Darto datang pada hari ketujuh belas, menjelang magrib. Ia sudah menimbang itu semua selama tiga hari tiga malam, dan pada akhirnya timbangannya sendiri yang memutuskan: dua juta tiga ratus ribu untuk Ardi, ditambah ongkos pupuk, ditambah cicilan motor yang belum lunas.

Teras rumah Haji Mansur lebar dan bersih, berlantai keramik putih yang membuat sandal Darto terasa kotor. Hajah Rukmini membawakan teh dan kue lapis, lalu menghilang ke dalam dengan kebijaksanaan istri yang tahu kapan laki-laki butuh sendirian.

“Silakan, Dar. Diminum.”

Darto meminumnya. Manis sekali. Lidahnya terasa lengket.

“Saya… saya mau bicara soal yang kemarin, Pak Haji.”

“Soal apa, Dar?”

Ia tahu Mansur pura-pura. Dan Mansur tahu ia tahu. Keduanya duduk dalam kebohongan kecil yang sopan itu, seperti dua orang yang sepakat mengenakan baju yang sama.

“Soal pupuk. Dan Ardi.”

“Oh.” Mansur mengangguk panjang. “Berapa yang kamu perlukan?”

Darto menyebut angka itu dengan suara hampir tak terdengar. Mansur tidak terkejut. Ia bahkan tidak berpikir. Ia merogoh saku kemeja kokonya, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah tebal, dan meletakkannya di meja di antara cangkir-cangkir teh.

“Tiga setengah juta. Biar ada lebihnya, buat jaga-jaga.”

“Saya… ini…”

“Tenang. Ini bukan utang.”

Darto mengangkat wajah.

“Ini uang muka gabah, Dar. Saya beli gabahmu sekarang, kamu kirim nanti saat panen. Sesuai syariat, kan, ada akadnya. Salam namanya.” Mansur tersenyum, dan senyum itu begitu tenang sampai Darto nyaris percaya bahwa kata salam yang ia dengar berarti sama dengan yang ada di kitab. “Harganya kita sepakati sekarang. Lima ribu sekilo.”

Angka itu jatuh ke meja seperti koin. Darto tahu, dengan sebagian dirinya yang masih sempat berhitung, bahwa itu terlalu rendah. Ia sudah mendengar dari Bu Lestari. Enam ribu lima ratus, itu harga pemerintah. Tapi bagian lain dirinya, bagian yang kemarin melihat wajah Ardi menunduk di atas kertas daftar ulang, bertanya dengan suara lebih keras: Dan kalau harga turun? Kalau gabahmu rusak? Kalau hujan?

“Pak Haji, harga sekarang kan…”

“Saya tahu, Dar.” Mansur mengangkat tangan dengan lembut. “Saya paham apa yang ada di pikiranmu. Dengar baik-baik. Kalau harga pasar nanti turun, saya tetap bayar lima ribu. Kamu aman. Kalau harga naik, kamu merasa rugi. Itulah adilnya akad ini. Semua orang menanggung risiko. Saya menanggung risiko turun, kamu menanggung risiko naik. Rezeki itu bergiliran, Dar.”

Ia mengatakannya seolah itu kalimat dari sebuah kitab. Mungkin memang begitu. Mungkin Mansur sendiri sudah lama percaya pada kalimat itu, sampai ia lupa bahwa orang yang sedang terdesak tidak pernah ikut menentukan siapa menanggung apa.

“Perkiraan panenmu berapa?”

“Dua ton delapan ratus, kalau Allah mengizinkan.”

“Kita catat dua koma delapan ton.” Mansur membuka buku biru, menulis sesuatu dengan pulpen tintanya yang mahal. “Tidak usah tanda tangan. Saya percaya sama kamu, kamu percaya sama saya. Kita ini saudara. Kalau tanda tangan, nanti kelihatan seperti tidak saling percaya.”

“Bismillah ya, Dar.”

“Bismillah.”

Darto menerima amplop itu dengan kedua tangan. Tebalnya terasa lebih berat daripada seharusnya, seperti memegang anak ayam yang masih hangat. Ia berpamitan, mengucapkan terima kasih tiga kali, lalu berjalan pulang melewati sawah-sawah yang gelap. Di setiap petak yang ia lewati, ia melihat padi-padi hijau yang bergoyang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa seolah padi-padi itu menatapnya balik, menyebut namanya.

Ia merasa lebih ringan. Dan lebih berat. Dua perasaan itu berjalan berdampingan di jalan tanah itu, seperti dua orang yang tidak akan pernah bisa saling menyapa.

 

V. ANGKA DI WARUNG KOPI

Panen jatuh pada hari kelima puluh tiga, lebih lambat dari perkiraan Darto karena hujan turun tiga hari berturut-turut di minggu terakhir. Tapi padinya bagus. Terlalu bagus, kata orang-orang, untuk sawah sekecil itu: bulirnya penuh, merunduk berat, kuning keemasan sampai ke ujung pematang.

Sepanjang minggu menjelang panen, di warung kopi Yu Tin, kata yang paling sering diucapkan adalah angka.

“Enam tujuh ratus di tempat Pak Wibisono,” kata Sukir sambil mengaduk kopinya. “Katanya gabah lagi dicari-cari.”

“Bulog enam lima. Kemarin saya setor sepuluh karung, tiga hari uangnya cair,” sahut Karjo. “Cuma syaratnya rewel. Kadar air, kadar hampa, macam-macam.”

“Tapi enam lima, Kang.”

“Enam lima.”

Darto duduk di ujung bangku panjang, memegang gelas yang sudah kosong sejak tadi. Ia merasa seluruh warung sedang tidak memandangnya dengan sangat sopan.

“Kamu ijon sama Pak Haji ya, Dar?” tanya Karjo akhirnya, pelan, nyaris tanpa nada.

“Cuma uang muka.”

“Berapa sekilo?”

Darto tidak menjawab. Tapi Yu Tin yang sedang menuang air panas tiba-tiba berhenti, dan bunyi air itu pun berhenti, dan dalam keheningan kecil itu semua orang menghitung sendiri. Tidak ada yang mencela. Tidak ada yang mengasihani. Seseorang di sudut hanya berkata, “Rezeki itu bergiliran,” dan kalimat itu, yang terdengar begitu bijak dari mulut Haji Mansur, di warung kopi terdengar seperti bisikan orang yang sedang menghibur dirinya sendiri.

Hari panen datang dengan langit putih. Mesin pemanen sewaan meraung di petak, mengunyah padi dalam hitungan jam yang dulu butuh tiga hari dengan sabit. Gabah mengalir ke karung goni, lima puluh enam karung, berjejer di halaman rumah Darto seperti prajurit yang kelelahan. Sri berdiri di pintu dengan wajah tegang yang berusaha tampak gembira. Ardi, yang libur, menghitung karung dua kali.

Pick-up putih Haji Mansur masuk halaman pada pukul sepuluh. Ia turun dengan sarung yang rapi dan senyum yang rapi, membawa sebuah alat kecil berwarna kuning di tangan kanannya.

“Alhamdulillah, bagus sekali, Dar. Bagus sekali.” Ia menyalami Darto dengan kedua tangan. “Kita cek dulu ya. Biar adil.”

Ia menusukkan alat itu ke segenggam gabah dari karung pertama, menekan tombol, menunggu. Layar kecil berkedip. Ia mengerutkan dahi dengan ekspresi tabib yang menerima kabar buruk.

“Dua puluh delapan koma empat.”

“Tiga hari ini panas sekali, Pak Haji. Saya jemur sejak kemarin.”

“Alat tidak bisa bohong, Dar.” Mansur mencoba karung kedua, ketiga. Angkanya naik-turun tipis. “Basah ini. Di penggilingan nanti potongannya malah lebih gede. Saya kasih susut lima persen saja. Itu pun saya ringankan.”

“Lima persen.” Suara Darto mendatar. “Waktu akad tidak disebut soal potongan, Pak Haji.”

“Dar.” Mansur menurunkan alatnya, menatap Darto dengan kesedihan yang tampak sungguh-sungguh. “Kita ini bicara akad, bukan hitung-hitungan sampai ke gram. Masa kita mau ribut soal kadar air? Saya ini membantu kamu waktu kamu butuh. Saya tidak minta bunga. Saya tidak minta jaminan. Saya cuma minta gabahnya, sesuai janji.”

Di pagar, beberapa tetangga berdiri pura-pura lewat. Sri meremas ujung jilbabnya.

Bunyi sepeda motor mendekat, lalu berhenti. Dua orang turun: seorang pemuda berseragam cokelat dengan lambang Bulog di dadanya, dan seorang bintara Babinsa yang mengangguk kikuk ke arah halaman. Pemuda itu membawa map plastik dan senyum yang terlatih.

“Bapak Darto? Kami dari Bulog, jemput bola. Kata Pak RT ada gabah panen di sini.” Ia menatap karung-karung itu. “Harga pembelian pemerintah enam ribu lima ratus, Pak. Kadar air maksimal dua puluh lima persen. Boleh kami cek?”

Darto tidak bisa menjawab. Mansur juga tidak. Pemuda itu mengambil alat sendiri, mengukur, dan wajahnya yang terlatih tidak berubah. “Dua puluh delapan, Pak. Dijemur dua hari lagi, saya yakin masuk. Nanti kami jemput. Pembayarannya paling lama seminggu.”

Angin yang tadi diam mulai bergerak. Di barat, di atas atap-atap rumah tetangga, awan gelap sedang menumpuk dengan ketekunan orang yang tahu ia akan datang pada waktunya.

Darto menoleh ke arah Mansur.

Haji Mansur tidak berkata apa-apa. Ia berdiri di sana dengan sarungnya, dengan kopiahnya yang miring, dengan tangan di depan perut. Wajahnya bukan wajah orang yang menang. Lebih mirip orang yang sedang menahan napas.

“Terserah kamu, Dar,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Saya tidak pernah memaksa siapa pun.”

Dan itulah, Darto sadar, kalimat paling kejam yang pernah ia dengar, karena benar.

Tiga setengah juta itu sudah menjadi seragam batik, pupuk, buku paket, dan cicilan motor. Bulog baru membayar seminggu lagi. Hujan bisa turun malam ini. Ia memikirkan pintu rumah yang tidak pernah dikunci, tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan siapa yang akan membukanya kalau ia memilih lain. Ia memikirkan Ardi yang menghitung karung dua kali.

“Saya sudah janji, Pak Haji,” katanya.

Pemuda Bulog itu menunduk sopan, menyelipkan kartu namanya ke tangan Darto, dan pergi. Mansur mengucapkan terima kasih, terlalu cepat, dan dengan suara yang aneh. Buruh-buruh mulai mengangkat karung ke bak pick-up. Tidak ada yang bicara.

 

VI. TIMBANGAN

Penggilingan UD Sumber Rejeki berdiri di pinggir jalan raya, berpagar tinggi, dengan silo besi mengilap yang tampak dari dua kilometer jauhnya. Di halamannya, antrean truk dan pick-up memanjang sampai ke jalan. Debu sekam melayang seperti kabut yang tidak pernah turun. Mansur sudah ke sana ratusan kali. Hari itu, untuk pertama kali, ia memperhatikan timbangannya.

Timbangan jembatan itu besar, digital, dengan layar merah di pos kecil. Di sampingnya, seorang operator berkaus oranye memegang alat kuning yang sama dengan miliknya, dan menusukkannya ke gabah dari truk Mansur dengan gerakan lelah yang sudah terlatih.

“Dua puluh enam koma delapan. Hampa dua belas.”

“Dua belas?” kata Mansur. “Biasanya delapan, Mas.”

“Musim ini lain, Pak Haji. Potongan tujuh persen.”

Ia masuk ke kantor berpendingin udara. Wibisono duduk di balik meja kaca, kacamata hitam terangkat ke dahi, ponselnya telungkup, secangkir kopi yang aromanya mahal. Ia menyambut dengan salam yang benar dan tawa yang renyah.

“Enam ribu seratus, Pak Haji. Setelah potongan.”

“Di berita, Pak Wib, harga di penggilingan…”

“Berita itu buat gabah ideal. Gabah ideal itu seperti jodoh ideal. Ada, tapi jarang.” Wibisono tertawa lagi, lalu berhenti, dan nada suaranya turun satu tingkat, masih ramah, masih penuh gula. “Pak Haji, modal muter dua ratus juta kemarin itu bukan hibah. Sampeyan paham to? Kalau sampeyan keberatan, saya hormati. Tinggal kita bicara soal modalnya.”

Mansur membuka mulut, lalu menutupnya.

Ia sudah berkali-kali mengatakan kalimat serupa kepada orang lain. Kalau keberatan, saya hormati, Dar. Tinggal kita bicara soal uang mukanya. Ia tidak pernah merasa itu ancaman. Ia merasa itu pilihan. Dan kini ia duduk di kursi tamu yang empuk dan menyadari bahwa dari sudut ini, pilihan terlihat persis seperti apa adanya.

Ia keluar. Di bawah matahari, ia berdiri lama di dekat timbangan jembatan, menyaksikan angka-angka merah di layar naik, kemudian turun setelah operator mengetik sesuatu. Ia menghitung di kepalanya, tanpa kertas: enam ribu seratus dikurangi tujuh persen potongan, ditambah ongkos pick-up, buruh angkut, bunga modal dua ratus juta, dan lima ribu untuk Darto. Sisanya kecil. Sangat kecil. Sedikit lebih besar dari harga bakpao.

Di balik hitungan itu, sebuah suara yang sudah empat puluh tahun tidak ia dengar akhirnya bicara jelas. Bapak ini bodoh, Man. Bapak percaya orang baik. Ia baru mengerti bahwa kalimat itu tidak pernah soal bodoh. Orang baik memang ada. Wibisono baik: salam yang benar, teh yang manis, dua ratus juta tanpa agunan. Haji Mansur baik. Juragan berbaju safari tahun 1979 itu pun mungkin baik. Kebaikan tidak pernah menjadi masalahnya. Masalahnya adalah siapa yang berdiri di sisi mana dari alat kuning itu.

Seorang bapak tua di antrean di belakangnya, dengan caping dan kaus berlubang, sedang menunggu gilirannya dengan sabar. Wajahnya tidak asing. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya wajah yang pernah Mansur lihat berkali-kali, di pematang, di teras, di buku batik cokelat. Tangannya memegang topi dengan cara yang sama, memelintirnya perlahan, seperti orang yang berdoa tanpa kata.

 

VII. SELISIH

Sesudah Isya, pick-up putih itu masuk lagi ke halaman rumah Darto. Lampu depannya menyapu dinding bambu, menyorot ayam-ayam yang terkejut, lalu padam.

Sri yang membukakan pintu. Wajahnya membeku sesaat, lalu ia mundur memberi jalan tanpa suara. Di dipan, Ardi mengangkat kepala dari bukunya, memandang tamu itu dengan mata yang terlalu tua untuk umur lima belas tahun.

Darto keluar dari dapur, mengelap tangan di sarungnya. “Pak Haji. Ada yang kurang?”

“Tidak.” Mansur berdiri di ambang pintu, tidak masuk. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan amplop cokelat, sama seperti dulu, tapi tidak setebal itu. “Ini selisihnya.”

“Selisih apa?”

“Seribu rupiah sekilo. Dua ton delapan ratus. Dua juta delapan ratus.”

Darto tidak menyentuh amplop itu. “Pak Haji, akad kita lima ribu. Saya tidak minta.”

“Saya tahu kamu tidak minta.” Mansur memandang lantai tanah rumah itu, lantai yang pernah ia injak di malam hujan bertahun-tahun lalu. “Ini bukan sedekah. Bukan zakat. Anggap saja… hitungan saya sendiri.”

Hening. Di luar, jangkrik bersahut-sahutan di sawah yang sudah dipanen, sawah yang tidak lagi hijau dan tidak juga kuning, hanya tunggul-tunggul pendek yang menunggu bajak.

“Tadi di penggilingan,” kata Mansur, lambat-lambat, “alatnya bilang dua puluh enam koma delapan.”

Darto memandangnya lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya sesuatu yang sudah dihitung dan disimpan. “Di tempat saya tadi dua puluh delapan koma empat.”

“Iya.”

“Bedanya satu koma enam.”

“Iya.”

“Alat tidak bisa bohong,” kata Darto, dengan suara yang nyaris tanpa nada.

Mansur tidak membela diri. Ia tidak minta maaf. Ia mengangguk sekali, pelan, seperti orang yang menerima vonis yang sudah lama ia tahu akan datang. “Anggap saja alat saya yang salah.”

Sri, di belakang suaminya, mengulurkan tangan, mengambil amplop itu, dan menyimpannya di balik kainnya tanpa berkata apa-apa. Ardi di dipan kembali menunduk, tapi pensilnya tidak bergerak.

“Matur nuwun, Pak Haji,” kata Darto, dan entah mengapa kalimat itu terdengar seperti dua hal sekaligus: terima kasih, dan sesuatu yang lain yang tidak punya nama.

Mansur membalikkan badan menuju pick-up. Di tengah halaman, ia berhenti.

“Musim depan, Dar,” katanya tanpa menoleh, “Sampeyan mau tanam apa?”

“Padi lagi.” Darto menarik napas. “Saya mau urus surat tanahnya, Pak Haji. Kata Bu Lestari, kalau sertifikatnya jadi, bisa ajukan KUR. Bunganya kecil.”

Punggung Mansur tidak bergerak. Lama. Lalu bahunya naik sedikit dan turun, dan ketika ia menoleh, ia sedang tersenyum, senyum yang sama persis dengan yang ia pakai di pematang pada suatu subuh, hanya saja sekarang matanya tidak ikut.

“Bagus. Itu bagus, Dar.” Ia berhenti sejenak. “Kalau seandainya belum keburu cair… pintu rumah saya…”

“Tidak pernah dikunci,” kata Darto. “Saya tahu, Pak Haji.”

Keduanya tersenyum. Itu senyum dua orang yang mengerti persis apa yang baru saja dikatakan dan apa yang tidak.

Pick-up itu mundur, memutar, dan lampunya menyapu sawah sekali lagi sebelum menghilang di tikungan. Darto berdiri di teras sampai suara mesinnya benar-benar hilang. Di langit, awan yang tadi menggantung tidak jadi menurunkan hujan. Ia masih memegang kartu nama pemuda Bulog itu, yang sejak sore ia remas tanpa sadar sampai lecek.

Utang tidak selalu datang dengan wajah jahat, pikirnya. Kadang ia datang dengan bakpao yang hangat dan salam yang benar. Kadang ia pulang dengan amplop dan tidak sanggup menjelaskan dirinya.

Di ujung musim, siapa yang menguning? Ia tidak tahu. Sawah di depannya sudah kuning, lalu kosong. Yang menunggu di baliknya hanyalah musim berikutnya, yang akan datang, seperti biasa, dalam keadaan hijau. Dan sudah ada yang menawarnya.

 

Sidoarjo

o, 26 Oktober 2026

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Dare to Love
Anik Ives
Novel
Bronze
Seusai Reda
Siti Ulumiah
Novel
Perjalanan Ke Neraka
Pebriyatna Atmadja
Cerpen
HIJAU SEBELUM MENGUNING
Prasetya
Komik
Hot Daddy VS Cute Baby
deetata
Skrip Film
Mother's timeless love
Radifan Bayu Putra
Flash
SUATU HARI NANTI
Neng Neng
Flash
Bronze
Caramel and Banana, Meal Only I Wanna
Silvarani
Flash
Bronze
Sepotong Roti Bakar Untuk Alisha
Moycha Zia
Cerpen
Alexithymia
Chie Kudo
Novel
BusterBee
Tama Neio
Novel
Back To 1945!
Quenjee
Novel
Semesta di Antara Dua Kehilangan
Alicia Siti Amanah
Flash
Satu Pagi di CGK
annastasia
Flash
Cottage Florist
winda nurdiana
Rekomendasi
Cerpen
HIJAU SEBELUM MENGUNING
Prasetya
Novel
PROTOKOL NUSANTARA
Prasetya
Cerpen
Bronze
SAHABAT YANG PULANG TERLAMBAT
Prasetya
Novel
BUKAN MAIN SAHAM
Prasetya
Cerpen
DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU
Prasetya
Novel
Bronze
Santri di Jalan Khidmah
Prasetya
Novel
Bronze
SANTRI PINGGIRAN
Prasetya
Cerpen
Bronze
KELAPA-KELAPA YANG BERLAYAR
Prasetya
Novel
Cahaya Senja
Prasetya
Novel
SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH
Prasetya
Cerpen
Bronze
Cangkul yang Tidak Pernah Merdeka
Prasetya
Cerpen
Bronze
NAMAKU SETYOWATI
Prasetya
Cerpen
Bronze
NAIK SEBAGAI PENUMPANG, TURUN SEBAGAI MEMPELAI
Prasetya
Cerpen
Bronze
JEJAK SUNYI DI TENGAH BISIK DUNIA
Prasetya
Cerpen
Bronze
KETIKA TANAH BERHENTI MENJADI RUMAH
Prasetya