Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namaku Martin. Aku adalah seorang pria. Usiaku... Mungkin tak usah kutulis ya, yang jelas aku sudah cukup tua untuk merasakan asam garamnya dunia. Orang-orang mencapku sebagai orang ‘antik’ karena pemikiranku yang berbeda dengan kebanyakan orang. Aku tak ada masalah dengan hal itu sebenarnya. Toh ini hidupku, aku yang menjalaninya, kenapa aku harus ambil pusing dengan perkataan orang lain?
Ah iya, ngomong-ngomong tentang hidup. Apa kau tahu apakah hidup itu sebenarnya? Untuk apa seorang manusia hidup? Atau, untuk apa sebenarnya kehidupan itu? Apakah hidup hanya mengenai kematian? Apakah hidup hanya untuk mati? Kalau iya, untuk apa kita menjalani hidup ini, bila suatu saat secara pasti kita akan berpisah dengan semuanya yang masih hidup?
Untuk apa aku hidup dengan semuanya, bila suatu saat aku harus berpisah selamanya dengan mereka yang kukenal dan kusayang...? Apakah lebih baik jika aku tak punya orang yang kukenal maupun orang yang kusayang, sehingga ketika aku mati nanti, aku tidak punya penyesalan sedikitpun mengenai dunia fana ini?
Bagi sebagian orang beragama, mereka punya keyakinan akan kehidupan setelah kematian. Tapi apakah itu benar-benar ada? Maksudku, apakah benar kita bisa bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi yang telah lebih dulu berangkat ke alam kematian? Apakah ada yang pernah membuktikannya? Atau, itu hanyalah penghiburan bagi kita yang masih hidup supaya tidak terlalu berlarut dalam kesedihan? Marx bilang agama adalah candu. Candu atau opium digunakan sebagai obat penenang, bukan? Jadi apakah pemikiranku itu benar?
Ya ya, begitu banyak orang juga yang mencapku tak bertuhan karena berpikir seperti ini. Tapi jika Tuhan menciptakan manusia dengan segala akal budinya, apakah salah apabila aku berpikir demikian? Ia yang menciptakanku dengan kemampuan berpikir seperti ini, apakah aku salah jika aku menggunakan karunia-Nya semaksimal mungkin?
Semua pemikiranku ini dimulai ketika aku kehilangan orang yang paling kusayangi. Ayah dan ibuku meninggalkan kami semua yang masih berziarah di hidup ini saat usiaku masih belasan tahun. Saat itu, tentu aku sedih, marah, kesal, dan banyak emosi negatif lainnya. Namun aku tak bisa melakukan apapun. Mereka sudah meninggal, tak ada yang bisa kulakukan untuk membuat mereka kembali. Saat itulah aku mulai mengutuk kehidupan ini. Untuk apa aku hidup jika pada akhirnya aku harus kehilangan semuanya? Untuk apa aku hidup jika pada akhirnya aku hanya menyisakan kepedihan di hati orang yang kutinggalkan? Orang-orang di sekitarku selalu mencoba menjelaskannya padaku, hingga pada akhirnya mereka menyerah karena aku begitu keras kepala.
Saat itu pulalah aku mulai untuk menjauhkan diriku dari ikatan-ikatan fana yang mereka sebut dengan ‘pertemanan’. Setiap orang yang mau berteman denganku, silahkan saja tapi jangan harap aku akan membalas itikad baik kalian. Aku tak ingin berteman dengan siapapun, aku tak ingin siapapun memiliki hubungan denganku. Siapapun yang mendekat, tak akan kucegah tapi aku akan tetap diam sehingga hubungan itu tak berjalan ke manapun.
Karena itulah, orang-orang mencapku juga sebagai orang yang asosial. Banyak juga capku ya, heh heh. Itu belum seberapa, aku masih punya cap-cap lain yang tak akan kuceritakan di sini. Kembali ke ceritaku, pamanku bahkan pernah membawaku ke seorang psikolog. Namun, sekeras apapun mereka berusaha, hasilnya sia-sia karena aku sendiri tak punya keinginan untuk berubah. Semenjak kehilangan kedua orang tuaku, hidupku terasa kosong. Aku begitu menyayangi mereka, namun begitu cepat mereka direnggut dariku. Bagiku, lebih baik aku tetap kosong supaya aku tak lagi merasakan sakitnya ketika ‘isi’ku diambil, ketika apa yang sudah kumiliki direnggut dariku. Aku yang tak punya apa-apa, tak mungkin akan merasakan sakit ketika ada yang diambil dariku, karena mereka tak bisa mengambil apapun.
Hingga suatu ketika, aku dihadapkan pada keinginan manusiawiku. Naluriku untuk berkembang biak bergelora saat aku bertemu dengan seseorang. Aku bertemu dengan seorang wanita yang begitu mempesona, baik penampilan luarnya maupun seluruh tindak-tanduk dan pemikirannya. Prinsip hidupku yang telah kupraktikkan selama bertahun-tahun mendapatkan sebuah tantangan, apakah aku akan tunduk dengan naluri kemanusiaanku atau aku akan mempertahankan pegangan hidupku? Pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan kebimbangan seperti ini. Prinsip hidup yang sudah tertancap dalam, mulai merasakan hantaman gelombang.
Pada akhirnya, aku pun takluk. Aku mencoba berkenalan dengan wanita tersebut. Namanya Kiara, seorang wanita sekantor denganku yang begitu rupawan. Meski prinsipku yang sudah kutancapkan dalam-dalam kini telah hancur oleh ulahku sendiri, anehnya aku merasakan sukacita yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata setelah aku berhasil berkenalan dengannya. Orang-orang sekitarku yang mengetahui hal ini tentu saja terkejut karena mengetahui seorang yang asosial dan anti-pertemanan sepertiku mau berinisiatif membangun sebuah hubungan dengan seseorang.
Karena Kiara, perlahan hidupku pun berubah. Aku mulai mencari-cari tahu tentangnya dari rekan-rekan kerjaku. Tentu saja hal ini hanya bisa kulakukan apabila aku juga menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan kerjaku. Perlahan, aku tak hanya bisa mendekati Kiara tapi aku bisa benar-benar ‘berteman’ dengan rekan-rekan kerjaku. Mereka mau menerimaku meski mereka kadang masih menganggapku orang aneh karena pemikiranku yang tidak biasa.
Semua berjalan dengan begitu lancar, hingga pada suatu ketika, semua itu berbalik. Seolah-olah sebuah karma yang kuterima karena aku meninggalkan prinsip hidup yang selama ini kupegang. Kiara menikah dengan orang lain. Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Dia yang selama ini sudah mulai membuatku bersedia untuk ‘mengisi’ hidupku. Dia yang sudah mengubahku menjadi orang yang lebih peduli dengan orang lain. Dia yang sudah membuatku meninggalkan prinsip hidup yang kupegang erat, kini malah berlalu dariku yang terjerembap ke dalam lubang karma ini.
Sejak saat itu, aku mulai bertekad kembali. Kubangun kembali dinding yang sudah kuhancurkan. Tak lagi-lagi kutinggalkan prinsip hidup yang sudah kutancapkan. Mungkin Kiara bukanlah penyelamat, tapi ia adalah seorang penguji, dan aku telah gagal dalam ujian yang ia berikan. Aku telah mendapatkan pelajaranku dan aku takkan mengulangi kesalahan yang sama.
Namun dasar manusia, ia sering sekali goyah hanya karena hal-hal remeh. Melihatku yang tak lagi sama, salah seorang rekan kerjaku mungkin merasa iba denganku. Ia berusaha menghiburku dengan berbagai tindakannya. Namanya Amanda, ia bahkan bekerja satu ruangan denganku. Setiap hari ia selalu menyapaku, tak lelah-lelahnya ia mengajakku bicara meski ia melihat gestur tubuhku yang menunjukkan ketidaktertarikan untuk mengobrol. Sebagai seorang yang baru kembali membangun temboknya, mendapatkan serangan-serangan bertubi-tubi tanpa henti seperti ini tentu saja akan sangat melelahkan. Pernah sekali kubentak dia di hadapan banyak orang saat jam istirahat. Aku harap dengan sikapku yang seperti itu ia akan berhenti menggangguku. Namun siapa sangka ia malah balas membentakku sambil menangis. Ia berkata kalau ia khawatir denganku. Aku tidak paham, kenapa dia khawatir? Apa yang sudah kuperbuat padanya? Seingatku kami juga tidak begitu dekat, hanya sebatas rekan kerja biasa. Kukatakan padanya untuk menjauhi diriku, jangan pernah berhubungan denganku lagi. Namun ia tetap bersikeras.
Keesokan harinya, Amanda izin tidak masuk kerja. Aku mendengar dari yang lain kalau ia sakit. Rekan-rekan kerjaku menyarankanku untuk pergi menjenguknya. Mereka pikir kalau Amanda itu hanya ‘sakit pikiran’ karena kami bertengkar kemarin. Alasan konyol macam apa itu. Bukan salahku kalau ia memikirkanku, itu adalah salahnya sendiri karena berusaha untuk membangun sebuah hubungan denganku. Akibatnya, ia menjadi sakit karena menerima kenyataan pahit. Tapi setelah kupikir, kami mulai ‘berteman’ saat aku mulai membuka diriku. Ia mungkin mulai peduli padaku karena perbuatan cerobohku. Karena merasa bertanggung jawab, aku akhirnya memutuskan untuk menjenguknya.
Ia tinggal sendirian di sebuah kos-kosan khusus perempuan. Aku menemuinya di ruang tamu setelah penjaga kos memanggil Amanda keluar. Seperti yang mereka pikirkan, Amanda sama sekali terlihat sehat. Ia tidak lemas, wajahnya tidak pucat tapi ada sedikit kantung di matanya. Melihatku menjenguknya sendirian, ia terkejut. Kami berdua lalu mengobrol cukup lama di situ. Ia terlihat begitu lega setelah mengobrol denganku. Apa yang ia pikirkan sebenarnya? Setelah obrolan berakhir, aku berkata padanya untuk tidak mendekatiku lagi. Aku tidak ingin membangun hubungan apapun dengan siapapun. Ia tampak tidak mengerti, ekspresinya terlihat iba, tapi lebih ke bertanya-tanya.
Kujelaskan semua yang kupegang selama ini. Bagaimana kematian ini merenggut semuanya, bagaimana kehidupan adalah sebuah ilusi fana yang tak memiliki arti. Setelah kujelaskan semua itu, kupikir ia akan mengerti, tak kusangka ia tertawa. Kurang ajar sekali pikirku. Beraninya ia menertawakan prinsip hidup yang sudah kupegang selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, ia bahkan berjanji padaku untuk selalu peduli padaku. Ia berjanji akan mengubah pemikiranku mengenai hal ini. Aku yang kehabisan kata-kata mendengar perkataan Amanda, langsung beranjak dari kos-kosannya. Seperti anak kecil yang kalah berdebat, aku kabur dari situ.
Sesuai dengan perkataan Amanda, keesokan harinya ia lebih buas saat menyapaku. Ia bahkan tak segan-segan untuk memberiku kotak makan siang untuk dimakan bersama. Kubiarkan saja, toh selama ini aku berpikir siapapun silahkan mendekat, tapi jangan harap aku membalasmu. Begitu terus hingga akhirnya aku pun luluh. Aku mulai terbuka kembali. Aku mulai mengajaknya bicara sesekali. Saat itu pula ia selalu menunjukkan ekspresinya yang berbinar-binar dan senyuman ejekan karena merasa menang dariku.
Beberapa waktu kemudian, aku dan Amanda resmi menikah. ‘Teman-teman’ ku dan teman-temannya banyak yang hadir, tak lupa juga keluarga dan kerabat kami. Kulihat semua anggota keluarga besarku yang tersenyum melihat pernikahan kami berdua. Kusambut senyum mereka dengan senyum terbaikku. Prinsip hidup yang kupegang sudah benar-benar tumbang. Kini aku mulai menjalani hidupku dengan sebuah ikatan yang sangat kuat. Ikatan dengan wanita yang kucintai, Amanda.
Kami dikaruniai 2 orang anak kembar. Bertambah pula ikatan yang kumiliki. Anak-anak yang begitu lucu dan membanggakan. Aku tak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Hidup yang dipenuhi oleh gairah dan tenaga. Kami semua pun akhirnya hidup bersama hingga saatnya anak-anak kami berpisah dari kami dan rumah yang mereka tinggali selama bertahun-tahun. Mereka menikah dan kami dikaruniai cucu. Bertambah pula ikatan yang kumiliki.
Hingga pada saatnya akupun tutup usia, aku telah membangun begitu banyak ikatan dalam hidupku. Meski pada akhirnya aku meninggalkan mereka, tapi aku meninggalkan makna di hidup mereka, makna supaya mereka bisa hidup dengan sungguh-sungguh dan mengalami arti hidup yang sebenarnya.
Baiklah, demikianlah kisah hidupku.
Apa? Kau masih bertanya-tanya mengenai pertanyaan yang kuajukan di awal? Yah... Aku sendiri tidak yakin dengan jawaban pastinya. Tapi, aku sudah berhasil menemukan jawabanku sendiri mengenai semua itu. Bagaimana denganmu?