Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
Hening
0
Suka
17
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku memikul ransel dengan kaki yang berjalan gontai melewati rumah demi rumah dengan model fasad yang terlihat mirip. Hanya beberapa rumah saja yang mencoba menjadi beda. Wajar saja, di area komplek perumahan memang begitu. Semakin semarak dengan terangnya lampu yang menghiasi. Mudah bagiku untuk berjalan kaki sendirian di malam hari. 

Langkah kaki tiba-tiba terhenti saat mataku melihat rumah yang hendak aku tuju juga terlihat terang dengan pagar yang sedikit terbuka begitu juga dengan pintu utamanya. Aku terdiam sejenak sambil menerka-nerka siapa yang sedang  bertamu. Aku melirik ke pergelangan tanganku melihat angka pada jam analog yang melingkar di sana. Masih belum terlalu larut ternyata.  

Rasa malas muncul. Aku jadi malas pulang lebih awal. Ya memang kenyataannya di hari yang berbeda, aku jarang pulang lebih awal ke rumah yang kini berjarak beberapa langkah saja dari tempat aku berdiri. Aku memilih duduk di perpustakaan atau pun berada di tempat lesku. Namun alasan itu rasanya tidak masuk akal bila aku gunakan sekarang. Mengingat kini telah memasuki masa liburan akhir tahun.  

Dengan berat aku menghela napas panjang. Ingin rasanya berbalik dan mencari tempat untuk menginap setidaknya untuk malam ini. Walau aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Isi kepala hanya menghendaki satu hal, tidak ingin bertemu siapa pun yang berada di rumah. Kaki pun siap bila diajak lari menjauh.  

Di detik-detik yang krusial, kaki memutuskan mengikuti keinginan hati. Bergerak beberapa langkah ke belakang, dan kemudian berbalik arah. Namun langkahku terhenti dengan sebuah teriakan yang datang dari arah rumahku.  

“Hening!” suara seorang remaja putri seusiaku yang terdengar girang.  

Aku menoleh pada sosok itu. Firasatku benar. Aku harusnya pergi secepat yang aku bisa. Namun rasanya kini semua itu telah terlambat. Dita sudah terlanjur melihat keberadaanku. Apa mau dikata, aku tidak ada pilihan lain selain menghadapi gadis yang selalu terlihat gembira itu yang kini telah bergerak menghampiriku.  

“Eh Dita, kapan datangnya? Apa kabar?” aku mencoba untuk berbasa-basi walaupun aku tahu kalimatku terdengar sangat basi apalagi dengan nada suaraku yang memang dibuat-buat.  

świetnie,” sahut Dita dengan bahasa Polandia, lengkap dengan aksen yang meniru orang-orang dari negara eropa tengah itu. Dia juga mengekspresikan dirinya lebih dari pada kondisi yang lebih dari kata baik. “A u ciebie?” Dita menanyakan kabarku masih konsisten menggukan bahasa yang sama.  

Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. “Jako tako,” sahutku juga dengan menggunakan bahasa dari negaranya Andrzej Duda yang mengatakan aku dalam kondisi biasa saja. 

“Tadi itu mau kemana?” dia mengandeng tanganku mendekati pagar rumahku dengan kembali berbahasa Indonesia.  

“Tadi itu aku tiba-tiba saja pengen makan batagor di depan, makanya aku berbalik.” Aku menjawab asal pertanyaan Dita. Yang terpenting bagiku dia tak mengangguku lagi.  

“Nanti saja makan batagornya. Di rumah sudah banyak makanan. Mubazir tidak bagus loh!” Dita menanggapi sambil menarik aku masuk ke dalam rumah yang di sana tampak Mamanya Dita dan ibuku.  

Aku menghela napas seraya melirik sekilas pada perempuan yang telah melahirkan aku ke dunia ini. Matanya yang menyorot tajam padaku membuat sebagian jiwaku ciut. Kembali aku merasa terintimidasi walau tanpa suara yang terdengar telinga.  

“Wah Hening apa kabar? Makin cantik saja,” sapaan ramah yang terucap dari mulut ibunya Dita. 

Akh... perempuan itu masih saja seperti dulu. Sejak aku pertama kali mengenalnya. Rasanya tak ada hinaan yang pernah keluar dari mulutnya. Wanita dengan aura positif yang menyenangkan. Aku memilih untuk memfokuskan perhatian padanya. 

“Terima kasih. Tante juga semakin kelihatan cantik,” ujarku yang melontarkan pujian yang sama. 

“Hening ini diam-diam menghanyutkan. Diam-diam prestasinya mentereng. Tante dengar kamu ikut olimpiade ya? Tante ikut bangga loh.”  

“Sudah jangan disebut-sebut hal itu, Kak.” Ibuku langsung beraksi. “Hening kurang keras belajarnya jadi gagal pada kesempatan yang terbaik.” 

“Bukannya Hening masuk dalam tiga besar?” Ibu Dita mengeritkan dahinya. “Itu sudah posisi yang luar biasa. Terlebih itu tingkat nasional.” 

Pandangan meremehkan muncul jelas disorot mata ibuku. Dita sepertinya mengerti dengan cepat merangkul bahuku dan dengan nada suaranya yang riang, dita berseru, “Hening, ayo kita beli batagor!” 

 

 

Malam yang gelap kadang tidaklah menakutkan dari terangnya hari dengan semua mata yang melihat kearah satu titik. Dan satu titik itu adalah dirimu. Aku pun merasa gila saat mata-mata itu tersorot padaku. Satu kali terpeleset saja bisa meruntuhkan nilai yang selama ini dibangun. Semuanya jadi sirna. Tapi siapa yang peduli. Aku sudah ada puncak itu.  

Bulat sudah tekad itu, rencana pun telah aku siapkan dengan rapi. Ketidakhadiran menjadi jawabannya. Aku akan menempuh jalan senyap itu. Entah suatu hukuman atau pun kebebasan, aku sudah tak lagi ingin memikirkannya. 

Dibawah sorot lampu aku menarik sebuah pena. Benda kecil berwarna hitam, mulai aku gerakan di atas secarik kertas. Sebuah tulisan yang aku tulis dengan perasaan dan penuh kesadaran. Sederet huruf membentuk kata hingga terangkai menjadi kalimat yang sepadan rasa di lubuk hati.  

 

Hening tidak berarti memberikan ketenangan. Tapi Hening kadang hadir dalam bentuk yang mencekam dan juga bisa mengancam hidup yang engkau pikir tenang.  

 

Aku tersenyum menatap tulisan itu. Pena yang aku gunakan, kembali aku letakkan di atas kertas. Tekad yang ada di dada, membuat aku berjalan dengan gagah keluar kamar. Saat semua penghuni di rumah itu tertidur lelap.  

Dia yang sudah aku kunci sebagai target aku keluarkan tanpa suara. Tanpa daya tak ada perlawanan tubuhnya aku seret. Tangan yang lemah mengikuti gerakan yang aku pandu. Tak ada lagi rasa iba dalam hatiku. Aku ingin keheningan benar-benar mampir dalam hidupku. Dia menjadi masalahnya akan aku singkirkan.  

Tubuh itu meliuk-liuk. Berhenti sejenak saat aku membuka pintu belakang yang memang menjadi pilihanku untuk keluar rumah tanpa ada yang mengetahui. Aku bernapas lega hingga ditahap ini semunya masih dapat aku kontrol. Sosok yang dengan kain penutup kepala hingga bagian leher, kembali aku tarik hingga mendekati sebuah pohon yang berada di taman belakang rumah.  

Aku sandarkan tubuh itu di batang pohon. Sebuah kursi juga aku dekatkan pada tubuhnya. Tali yang sudah aku sembunyikan di balik pohon aku tarik perlahan. Dengan sisa kekuatan yang masih aku miliki, aku mengayunkan tali tambang itu ke bagian dahan pohon. Setelah terikat kuat dan sempurna aku kembali berbalik melihat sosok yang akan menjadi sesuatu yang pertama dan aku pastikan merupakan hal terakhir yang aku lakukan.  

Kepalaku mendongak menatap langit yang gelap dengan hanya beberapa bintang saja yang terlihat hadir malam itu. Tak lama aku kembali melirik ke sosok yang membuat hidupku bagai di neraka. Aku mengutuk ketidakberdayaan dalam memperjuangkan diri. Terlalu lemah memang untuk melawannya. Sebentar lagi aku akan merasakan bagaimana menjadi seperti burung elang yang terbang bebas di cakrawala luas.  

Sebuah balok kayu aku ambil. Tanpa aba-aba, aku ayunkan ke arah kepala milik sosok kaku. Tak ada perlawanan. Dia benar-benar sudah lumpuh. Tidak berhenti di situ. Aku kembali melayangkan pukulan hingga mendengar rintihan pilu dibalik pembungkus kepalanya. Darah juga terlihat mulai membasahi kain.  

Ada rasa kepuasan dalam lubuk hatiku. Dia tersiksa aku pun merasakan rasa bahagia itu. Dopamine dalam tubuhku meletup-letup. Ingin aku tertawa terbahak-bahak. Namun aku tahan. Aku tidak mau mereka menyadari keberadaanku bersama sunyinya malam.  

Bagian akhir dari pertunjukkan malam pun telah tiba. Tali yang telah aku siapkan menjadi tempat terakhir sebelum sang raga berpisah dengan jiwa. Kencang tali itu menjerat leher. Menghentikan aliran darah yang mengalir di sana. Dalam keheningan malam, aku hening tersenyum bahagia. Menutup mata dalam ketenangan yang hakiki.  

Detik berganti saat aku yang riang membuka mata. Sebuah padang hijau terbentang luar di hadapan. Pohon-pohon tinggi menyapaku dengan ramah. Angin pun ikut mendekap rasa kesendirian pun sirna. Keberadaan Elang yang bertengger di sudut dahan menawarkanku untuk terbang. 

“Mari kita lihat dunia bersama.” Itu yang elang ucapkan.  

 

** 

 

“Hening...Hening...” 

Teriakan ibu di pagi hari terdengar di depan kamar. Tak ada yang menjawab. Hanya sepi yang terdengar.  

“Ini anak, bisa-bisanya bangun terlambat di hari libur,” Ibu kembali ngedumel.  

“Sudah biarkan saja,” Ayah yang lewat menanggapi. “Biarkan Hening untuk beristirahat sejenak.” 

Ibu menggelengkan kepalanya, “tidak bisa. Ayah, tolong dobrak pintunya.”  

Ayah menatap istrinya tak percaya, “yang benar saja?” 

Ibu yang tak sabaran meraih gagang pintu. Dia bersiap akan membuka paksa pintu kamar putrinya. Tapi dengan gerak lembut tangannya menggerakkan gagang pintu dan terbuka. Pintu itu tidak dikunci. Dia segera masuk diikuti suaminya yang dari belakang yang mencoba mencegah tindakannya.  

Mereka berdua saling bertatapan saat berada di dalam kamar. Tak ada Hening yang berbaring di tempat tidurnya. Bahkan kasur itu tampak rapi dengan bantal-bantal yang tersusun dan selimut yang terlipat. Seperti belum tersentuh di sepanjang malam.  

“Kemana dia?” wajah Ibu semakin terlihat kesal.  

Ayah tak sengaja melihat secarik kertas di atas meja belajar sang putri. Hatinya mulai berdegup kecang penuh kecurigaan. Ayah mengambil kertas dan menunjukkannya pada ibu. “sayang, ini.” Kertas yang ditulis dengan tulisan tangan Hening yang sangat keduanya kenali.  

Ibu membacanya dan dia mengerutkan dahinya. “Apa lagi maksud anak nakal itu?” tanya sang ibunda merobek kertas. “Drama sekali!” 

“AAAAAKKKKKKKHHHHHHH....” 

Terdengar teriakan dari arah belakang rumahnya. Itu suara asisten rumah tangga mereka. Pasangan itu pun segera keluar. Ada perasaan was-was yang menghampiri hati ibu yang juga masih diselimuti amarah. Berbeda dengan pikirannya mulai dipenuhi ketakutan.  

Sebuah sosok tergantung di dahan pohon belakang rumah. Kain hitam menutupi wajah sosok kaku, membuat hati bertanya-tanya identitas sang pemilik tubuh. Namun kepanikan menyeruak keluar. Tubuh ibu bergetar hebat melihat pemandangan itu. Tubuh tangguhnya selama ini roboh.  

“Hening.” Bisiknya lirih. “Maafkan ibu...” 

Dengan tangan yang bergetar ayah menurunkan tubuh kaku dengan perlahan dan penuh kehati-hatian. Ayah juga dipenuhi rasa ketakutan. Tangannya kehilangan energi saat sosok itu berhasil dia baringkan di atas tanah. Dia menatap sosok yang terasa dingin beberapa saat. Kemudian dia menoleh pada istrinya yang terduduk ketakutan. Takut akan kenyataan hanya harus mereka lihat.  

“Sayang...” Ucapnya lirih.  

Air mata sang istri tak bisa terbendung lagi. Jatuh begitu saja tanpa bisa dia tahan. Semua kenangannya bersama Hening selama ini muncul dihadapannya. Perempuan itu menangis histeris. Asisten yang berada di dekatnya segera mendekap ibu dari satu putri. Tapi masih tak cukup menenangkannya.  

Suami yang juga merasakan hal yang sama bergerak perlahan mendekati sang istri. Asisten mereka mengerti dan mundur membiarkan kedua orang itu berbagi rasanya bersama. Menangis bersama tanpa ada keberanian untuk memastikan. Hanya bayang-bayang yang pernah mereka lewati bagai rekaman yang ter-rewind

Bunyi alunan nada over the rainbow terdengar dari saku celana panjang yang dikenakan sosok itu. Ayah dan ibu berhenti menangis. Keduanya menetap sosok kaku itu. Perlahan keduanya mendekati sosok itu. Ayah memberanikan diri menarik handphone yang bernyanyi dari saku celana putih yang kini berbalut warna merah. 

“Itu handphone-nya Hening.” Bisik sang ibunda. 

Sederet tulisan muncul pada layar handphone yang berlatar belakang hitam. Semuanya tampak telah di-setting sang pemilik. Ayah menggeserkan handphone yang telah ada ditangannya. Memastikan istrinya dapat melihat apa yang tertulis di sana. 

 

Maaf, aku memilih menyerah sebagai putri hebat kalian. Tetapi tenang saja, aku tidak pernah menyerah menjadi seorang manusia. Oh ya, orang bijak bilang kadang ketidakhadiran adalah cara yang terbaik untuk menikmati sebuah pertunjukan

 

Ayah menyingkirkan handphone dari tangannya. Segera dia melepaskan kain penutup kepala sosok yang terbaring di dekatnya. Cairan berwarna merah menutupi permukaan wajahnya. Tanpa rasa takut seperti sebelumnya, laki-laki itu meraih bagian pundak sosok itu. Dia menyeka cairan merah yang telah mengering di wajah sosok itu.  

“Ini boneka.” bisiknya dengan suara yang bergetar. 


-the END-

 

Note:

świetnie : Sangat baik

A u ciebie? : Bagaimana denganmu?

Jako tako : Seperti biasanya

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Cerpen
Hening
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Rumah Pantai
Ishmaly Hana Hamdi
Novel
Rahasia Tante Nina
Johanes Gurning
Novel
Edge of the Jungle
JAI
Novel
7 rooms
Anita Tasyara
Novel
DJAHOEL
Hendra Wiguna
Novel
Gold
Angels and Demons (Republish)
Mizan Publishing
Novel
The Wintergreen
Iis Susanti
Novel
Secret
Mahardika Widi
Novel
Bronze
Find You
Sonya Mega Flourensia
Cerpen
Dogma
Linggarjati Bratawati
Novel
Kamar Bernapas
Imajiner
Novel
Salah Rumah
Ajis Makruf
Novel
Bara Segara
Tsugaeda
Novel
Bronze
Terra
aksara_g.rain
Rekomendasi
Cerpen
Hening
Lady Mia Hasneni
Flash
Saat Tangannya Menyentuh Ujung Jilbabku
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Baling Kipas Angin Yang Berputar
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Mr. Melancholic dan Subscriber-nya
Lady Mia Hasneni
Flash
FULL DOT
Lady Mia Hasneni
Flash
Parang
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Gelanggang Di Bulan Mei
Lady Mia Hasneni
Flash
ADZAN
Lady Mia Hasneni
Flash
POHON PEPAYA
Lady Mia Hasneni
Flash
Matahari Senja Pergi
Lady Mia Hasneni
Skrip Film
MANIPU(LUV)ION
Lady Mia Hasneni
Cerpen
MISTERI CEMPEDAK KAKEK
Lady Mia Hasneni
Cerpen
Bronze
Menuju Negeri Cahaya
Lady Mia Hasneni
Cerpen
ANAK LELAKI DI ATAS KURSI
Lady Mia Hasneni
Flash
Habitat
Lady Mia Hasneni